Kurasa, masa terberat bagiku itu ketika berada di kelas tahun terakhir sekolah menengah atas. Banyak yang harus kulakukan di masa transisi remaja dilingkungan nyaman ke dunia yang terasa semakin keras memukul dari berbagai arah.
Keluhan pertamaku datang sekitar tiga Minggu yang lalu. Keluhan pertama yang kukatakan pada mamamu tentang kondisi tubuh yang terasa tidak nyaman saat akan pergi ke sekolah. Mama duduk di sampingku, kami sarapan bersama.
"Ma, belakang bahuku terasa sakit." Kutunjukkan pula dimana bagian sakitnya.
Mama menatapku dengan khawatir, "apa mungkin kamu salah tidur? Posisi tidurnya mungkin kurang pas." Mama menyentuh tempat yang sakit, bertanya apa mungkin aku tanpa sengaja terbentur sesuatu.
Aku menggeleng, aku tidak ingat pernah terbentur di posisi itu. Biasanya hanya di bagian kaki ketika membersihkan sekitar kamar. Kujelaskan juga jika sakitnya baru terasa ketika aku menggunakan seragam sekolah pagi itu.
"Apa kamu mungkin merasa stress, Ivy?" Ucapan mama setelah beberapa lama membuatku menoleh sebentar. Apa aku juga bisa merasakan sesuatu seperti itu? Aku terlalu payah dalam menilai sesuatu. Bahkan ketika hal itu kurasakan sendiri.
"Jika begitu, bukankah seharusnya aku merasakannya sejak lama? Aku selalu merasa tertekan dengan sekolahku selama SMA," jawabku main-main.
Lalu keluhanku yang kedua datang setelah rasa sakit di belakang bahuku. Malam harinya kurasakan sakit di bahu bagian depan. Aku bertanya kira-kira ada organ apa disana. "Apa jantung?" Mamaku kurang memahaminya.
Mama kemudian mulai bertanya apa mungkin aku merasa lemas, untuk memastikan apa aku mungkin terserang penyakit jantung. Aku memiliki riwayat penyakit maag, tapi tidak mungkin rasa sakitnya muncul disana.
"Bagaimana rasa sakitnya?" Mama bahkan meninggalkan kegiatan memasaknya sebentar untuk menatapku, "apa saja yang kamu rasakan disana?"
"Rasa sakitnya tidak muncul lama. Rasanya seperti dipukul sekali dan setelahnya sakitnya akan menghilang. Sakitnya hanya muncul ketika aku mengambil nafas dalam ketika menenangkan diri."
Aku tidak berani menatap. Mungkin ada hubungannya dengan kebiasaan burukku dengan memindahkan makan siang ke sore hari dengan posisi sarapan yang tidak begitu banyak untuk orang seusiaku. Mungkin aku akan mendapatkan ceramah panjang karena sikapku yang seperti ingin menyiksa diri.
"Mama tidak tau kamu kenapa, tapi sepertinya ada hubungannya dengan stress, Ivy."
"Memangnya ada hubungannya?"
"Mungkin saja. Akhir-akhir ini kamu banyak mengalami hal berat. Entah karena tugas atau karena teman-temanmu. Terakhir kali mama menemukan kamu sehabis menangis di malam hari. Ada apa sebenarnya denganmu?"
Aku diam, tidak mampu menjawab. Malam itu bukan keinginanku untuk menangis. Malam itu aku tidak sengaja tampak lemah dan tidak bisa menahan gejolak yang sudah lama kusimpan sendiri.
Ada seseorang yang membenci keegoisanku dalam hal memilih kelompok. Padahal yang kudapatkan bukanlah orang-orang yang seirama denganku, tapi orang ini tetap menganggapku egois.
"Aku sudah akan pindah kelompok tadi. Tapi tidak jadi karena Ivy tidak mau." Itu yang dia katakan pada kelompok lain yang dia bantu sementara kelompoknya masih belum melakukan apa-apa.
Aku sudah mengirimkan pesan lebih dulu, mencoba menggerakkan kelima orang yang satu kelompok denganku. Tapi yang kudapatkan hanya kehampaan. Tidak ada yang merespon. Rasanya aku seperti berjalan sendirian.
Kuakui aku buruk dalam hal berteman. Aku akan melakukan apapun agar nilaiku baik-baik saja hingga membuat orang lain merasa tidak suka. Jika belajar dalam kelompok, aku yang akan mengarahkan sebisa mungkin hingga mendapatkan nilai terbaik.
Mungkin kelihatannya tidak ada yang salah dengan itu. Tapi tetap saja, orang-orang hanya akan menilai tabiatku yang egois dan terburu-buru tanpa melihat nilai yang kuhasilkan untuk mereka. Jahat sekali memang. Mereka tidak paham, dan aku terlalu membenci orang-orang yang membuatku terhambat.
Biasanya aku akan melakukan banyak hal sebelum tidur setelah menangis agar efeknya tidak terlihat ketika bangun tidur. Tapi malam itu berbeda. Mamaku terbangun dan melihatku menangis sendirian di tepi tempat tidur.
"Aku sedang menghafalkan bagian presentasi. Bukan masalah serius," gumanku kemudian pergi meninggalkan mama. Tidak mungkin kuiakui jika aku benar-benar buruk dalam hal bersosialisasi meskipun mama sudah tau tentang fakta itu.
Tak berselang lama, aku melakukan kesalahan pada seseorang yang selalu bersamaku setiap hari di sekolah. Tiba-tiba saja dia diam dan tidak ingin berteman denganku tanpa alasan. Aku tidak tahu ada apa dengannya. Dan itu membuatku tertekan.
"Bertemanlah dengan semua orang, Ivy. Cobalah bersosialisasi," saran mama ketika aku bercerita jika aku canggung ketika duduk bersebelahan dengan seorang teman yang tidak begitu dekat denganku.
Dia mungkin sedang dalam emosi yang buruk, tapi ternyata aku salah. Dia hanya begitu padaku dan kembali seperti biasa dengan orang lain. Jadi pertemanan kami yang sudah sangat dekat bukanlah apa-apa untuknya.
Aku menceritakan tentang temanku ini pada mama. Dan katanya mungkin ada sesuatu dariku yang salah. Tapi aku tidak melakukan apapun. Mamaku tidak habis pikir dengan temanku yang satu ini. Sudah, sekarang aku resmi sendirian di sekolah. Tanpa teman dekat seperti sebelumnya.
Aku tidak lagi bicara dengannya selama beberapa Minggu hingga saat ini. Biarkan saja, aku bisa melakukan apa saja tanpanya. Tapi setiap kali melihatnya, aku merasa sangat muak. Dia membuangku tanpa alasan.
Selang beberapa lama, rasa sakitku kembali lagi. Rasa sakitnya masih sama. Seperti dipukul sekali.
Dan lagi, rasa sakitnya muncul ketika aku ingin menenangkan diri setelah tau jika orang tuaku tidak akan datang ke acara penting di sekolahku. Aku merasa tidak terurus karena kedua orang tuaku jarang datang ke acara sekolahku sejak awal. Aku tidak habis pikir dengan mereka.
Rasa sakitnya tetap datang bahkan ketika aku akan pergi tidur. Rasanya semakin menyakitkan setiap jamnya. Kurasa aku mulai percaya jika aku mungkin sedang mengalami gangguan hati.
"Cobalah untuk lebih bahagia, Ivy. Cobalah untuk lebih bersabar dan membuat hidupmu menjadi lebih bahagia. Jangan dikit-dikit merasa tertekan. Mama merasa jika kamu sedang stress."
Aku terkekeh mendengar kesimpulan mamaku setelah kurasakan rasa sakit waktu itu hingga saat ini. Memang benar jika bagian itu tidak terasa sakit ketika aku merasa bahagia.
"Bagaimana caranya menjadi bahagia?" tanyaku dengan bibir bergetar, "selama ini aku sudah mencobanya. Aku mencari nilai tinggi agar bisa masuk universitas terbaik hingga kalian bangga padaku. Aku sudah berusaha bersosialisasi seperti saran mama."
"Sudah kulakukan semua yang bisa kulakukan untuk menjadi bahagia. Sudah kulakukan semuanya. Sudah. Tapi rasa sakit ini tetap saja datang ketika aku mencoba untuk menenangkan diri. Bahkan ketika aku menahan tangisanku setiap malam karena tertekan, bukan hanya tenggorokan ku yang terasa tercekik. Bahuku ini juga berkontraksi."
Mama memelukku erat, mengelus surai panjangku dengan satu tangan. "Kalau begitu katakan semua yang kamu rasakan pada mama. Jangan lagi berusaha sendirian agar dadamu tidak sakit lagi, Ivy."
Aku mengerti apa yang coba mama lakukan untuk anak pertamanya ini. Tapi bukannya membuatku merasa lebih baik, mama justru membuatku menangis. Membuat dadaku terasa semakin sakit dari sebelumnya.