Pegunungan yang tinggi penuh dengan pohon pinus. Kabut asap nan tebal membuat siapapun yang berada didalamnya tidak bisa melihat apapun di sekitarnya. Angin kencang disertai salju membuat udara semakin dingin. Jejak kaki pun mulai terlihat dibalik tebalnya salju di permukaan tanah.
Hosh
Hosh
Seorang wanita berjaket tebal dengan mata hijaunya yang indah sedang berjalan di tanah bersalju itu. Angin berhembus begitu kencang yang membuat helai rambut birunya bergoyang. Menuruni bukit yang begitu curam. Sendirian tanpa ada seseorang yang menemani wanita itu.
Tap
Tap
Langkahnya terhenti saat melihat sebuah kedai sederhana. Tanpa basa basi ia langsung masuk ke dalamnya. Pintu kayu mulai terbuka perlahan lahan.
Ckrit
Wanita itu mulai berjalan ke sebuah meja dengan tiga kursi yang kosong. Dekat dengan dinding bata berwarna merah. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan. Memanggil pelayan di kedai sederhana tersebut.
" Adakah nona ingin memesan sesuatu? " Tanya dari pelayan lelaki tersebut. Umurnya terlihat satu tahun lebih muda dari wanita itu.
" Ambilkan aku kopi latte satu. Dan juga kue vanila lava. " Ucap wanita itu kembali.
" Dan.. aku memintamu untuk berbincang denganku di tempat biasanya. " Ucap wanita itu setelah menyelesaikan pesanannya.
" Bolehkah aku mengetahui nama anda? Nona? " Tanya pelayan itu.
" Namaku.. Hikana, panggil aku Hikana.. kalau dirimu aku mengetahuinya. Namamu Cloud Oukotsiwa bukan? " Perkenalan itu membuat pelayan itu terkejut. bagaimana wanita itu bisa mengenalinya?
" Baiklah nona Hikana.. saya undur diri.. " Ucap pelayan itu sambil berlalu pergi.
*:・゚✧(=✪ ᆺ ✪=)*:・゚✧
Beberapa bulan kemudian, wanita itu berhasil meningkatkan sihirnya menuju tingkat legenda. Hikana, itulah namanya. Tanpa marga yang berada di belakang namanya. Wanita berusia 22 tahun itu adalah ras manusia kedua yang mencapai tingkat legenda setelah Winchester Wind. yang telah tiada empat puluh tahun lalu.
" Aku tidak akan bisa bertahan dengan kekuatan sebesar ini? apakah aku mampu mengendalikan balik dia? jika aku terus dikendalikan, maka aku akan mati. " gumam wanita itu berkali kali.
Ia akhirnya menahan rasa sakit saat dikendalikan oleh sosok aneh itu. Berusaha untuk tenang. Berusaha agar kekuatannya tidak menggila. Dan berusaha agar iris matanya tidak menjadi putih.
Bertahun-tahun lamanya ia menahannya, ketika umurnya ke 26, ia menikah dengan Cloud Oukotsiwa. pelayan yang pernah ditemuinya pada beberapa tahun lalu. Ekonomi keluarga Oukotsiwa pun telah berkembang pesat. Cloud yang awalnya seorang pelayan, telah menjadi tangan kanan kerajaan elementary.
Satu tahun kemudian Hikana mengandung seorang anak dari Cloud. Lalu melahirkannya dan memberi nama anak itu Hikaru. Hampir mirip persis dengan namanya. Wanita itu terlihat menangis setelah melihat anak itu. Ia kembali berfikir. Apakah dia masih ada waktu untuk mengurus Hikaru? apakah hidupnya sudah tidak jauh dari kematian?
Ia cepat cepat menepis pemikiran buruk itu. Selama ia masih hidup, masih ada waktu untuk membuat perbaikan dari kesalahan yang lalu.
Lima tahun kemudian, peperangan pun kembali terjadi. Spider Windara. Hikana ikut dalam peperangan kali ini. Bukan sebagai prajurit, ataupun armor. Tapi sebagai healer. Tiba tiba ia melihat portal besar di perbatasan antara iblis dan manusia. Cloud terseret kedalam. Tangannya berpegangan pada Tangan Rein. Rein berusaha menarik Cloud keluar dari portal itu.
Tapi hasilnya nihil. Tangan mereka seketika terlepas karena grafitasi portal itu sangat besar. Tangisan tidak bisa terelakkan lagi. Prajurit lain pun ikut masuk ke dalam portal itu. Disaat itulah ia melihat bayangan anak kecil yang turun dari bukit bersama Awan kedalam barisan pertama. Ia samar samar mendengar Awan berteriak.
' Oh.. tuan muda.. janganlah seperti ini!? '
' Jangan gunakan sihir itu!! '
Ia segera melihat ke medan peperangan. Apakah yang ia lihat sekarang!? Anak kecil itu menutup portal sendiri dengan kedua tangannya. Matanya mulai terbuka menampakkan warna biru sapphire yang menawan. Lebih menawan dari para pemilik mata biru lainnya. Bersinar lebih terang diantara permata. Ia mengangkat tangannya ke atas. Kupu kupu berukuran besar tiba tiba berada diatas anak itu. Cahaya biru bersinar sangat terang.
[ Sapphore Fly ]
Hikana tidak mendengar apa mantra dari anak lelaki itu. Tapi ia tahu persis skill apa yang digunakan anak itu. Skill yang tidak bisa ditiru oleh sembarang orang. Kekuatan besar dari dalam anak kecil itu seketika tampak dalam sekejap.
Tunggu..
Jika anak itu bisa menahan serta mengeluarkannya, mengapa ia tidak bisa? Mengapa ia harus menyerah? masih ada waktu untuk mengungkap kebenaran siapa yang mengendalikannya. masih ada waktu untuk mendidik putranya tersebut.
Serangan besar dari anak kecil itu membuat 2000 iblis angin itu terbunuh. Menghilang seperti debu. Seperti kabut di siang hari. Benar benar menghilang. Tiada jejak disana. Anak itu terlihat menunduk dan menangis. Hikana kebingungan. Apakah ada suatu hal yang membuat anak lelaki itu menangis? Itulah yang ada dipikirannya. Samar samar ia mendengar perkataan Awan.
' Tuan muda, janganlah menangis.. ingatlah orangtua dan saudaramu. '
' Ta.. Tapi kakakmu masuk portal.. Ini salahku Aw Chan, seharusnya.. aku lebih cepat untuk menghentikan perang ini.. '
' Kakakku baik baik saja.. biarkan saja dia. '
Tunggu sebentar!? perkataan itu, apakah Awan sudah tidak peduli dengan kakaknya sendiri? Apa yang terjadi?
*:・゚✧(=✪ ᆺ ✪=)*:・゚✧
Tujuh bulan kemudian, bencana kembali terjadi. Tanpa diketahui tiba-tiba kota Windara terkena angin besar. Angin tornado yang berlapis lapis. Hikana melihatnya. Karena ia bekerja sebagai tentara istana Windara. Ia melihat sosok anak berumur delapan tahun.
Tunggu
Anak itu sangat mirip dengan anak kecil di medan perang. Apakah dia anaknya? Iris biru sapphire yang menawan. Rambut hitam coklat yang indah. Dan surai putih kebiruan di rambut depannya. Iris matanya tiba-tiba berubah menjadi putih.
Oh.. jangan jangan, anak itu mencapai tingkat legenda? Di usianya yang masih muda? Apakah dia akan bertahan dari pengendalian sosok aneh itu?
Sekitar dua bulan kemudian. Iblis angin menyerang kediaman keluarga Oukotsiwa, Chiranus dan Torikote. Kebakaran melanda di ketiga tempat itu. Kepulan asap menyerbak ke seluruh ruangan. Angin yang cukup kencang membuat api semakin besar. Semakin melahap kediaman tiga keluarga itu. Rumah Torikote telah hancur beserta penghuninya. Rumah Chiranus juga hancur, namun penghuninya sudah melarikan diri.
Sedangkan Oukotsiwa masih ada beberapa ruangan yang masih utuh. Salah satu ruangan itu ada seorang anak yang tengah terlelap.
Hikaru
Anak itu belum terbangun sama sekali. Para iblis sudah masuk ke area. Hikana menggendong putranya dan menembus masuk kedalam kobaran api yang dasyat. Darah mulai menetes di sekujur tubuhnya. Kobaran api menjadi pedang ditubuhnya.
Sakit
Oh tentu saja sakit. Luka bakar mulai tampak di seluruh tubuhnya. Ia menahannya agar bisa keluar. Agar bisa menyelamatkan putra satu-satunya. Setelah keluar, ia merasakan satu hal.
Lelah dan Sakit
Ia langsung terduduk. Mulutnya tergerak mengatakan sesuatu. Awan yang berada disana langsung mengambilnya Hikaru dan memberikan sebuah obat.
" Lindungi Hikaru.. "
Ia jatuh pingsan saat itu juga. Setelah matanya terbuka, ia merasa tidak dapat menahannya lagi. Ia melangkah menuju hutan Westmin. Sebelumnya ia meminta Awan untuk menjaga putranya.
Ia berpapasan dengan anak kecil yang sama dengan yang di medan perang. Apa yang akan dilakukan anak kecil itu sekarang? Bagaimana dia bisa kesini?
Anak itu terlihat menaburkan sebuah bubuk berwarna biru. Bukan bubuk lagi. Tapi lebih mirip permata yang dihaluskan. Ia berbisik pada Hikana.
' Tidurlah sebentar.. jika tidak, kau akan mati hari ini. jangan khawatirkan putramu.. aku akan melindunginya.. anggap saja aku telah melunaskan kesalahanku di medan perang.. Kau akan dibangunkan di masa depan. '
Kesalahan apa yang dimaksud anak itu? Matanya tiba tiba tertutup. Halusan permata sapphire itu mulai menjadi benang tipis yang melilit Hikana. melindungi jiwa dari wanita itu.