Bagiku dalam kehidupan ini menemukan ataupun mengucapkan sebuah kata Bahagia adalah hal paling rumit bahkan teramat sangat sulit...
Bagi Sany seorang gadis yang hidup penuh dengan keterpaksaan, sepertinya Kebahagiaan itu tidak pernah berpihak kepadanya, seumur hidupnya senntiasa dirundung kesulitan kepedihan dan kelukaan.
Begitu juga dengan kali ini...
Ketika dia harus menikah dengan seorang Pria yang tidak dikenalnya sama sekali, lagi-lagi tuntutan keluarga menjadi hal yang tidak bisa dipungkiri oleh Sany.
"Kamu ini tidak berguna, jadi untuk kali ini kamu ikuti apa yang kami mau menikahlah dengan laki-laki itu maka kamu akan menjadi aset yang paling berharga bagi kami!"
Suara gelak tawa Ibu tirinya begitu mencekam bagi Sany...Tangisan yang menghiasi wajah Sany yang telah terbalut makeup.
Ketika pernikahan berlangsung tak henti-hentinya Sany meneteskan air mata, hatinya begitu sakit seumpama diiris oleh sembilu.
"Pergilah nak hiduplah dengan bahagia karena Ayah tidak bisa membuat hidup kalian lebih baik, maafkan Ayah karena harus mengorbankanmu"
Sany menatap wajah Ayahnya dengan begitu lekat sebelum akhirnya diseret masuk kedalam mobil oleh suaminya.
Sesampainya dirumah sang suami...
"Pergi kamu ke dapur bersihkan rumah dan siapkan makan untukku!"
"Baik suamiku!"
"Berhenti kamu, dan ingat ini aku membeli kamu hanya untuk jadi pembantu dan pelayan saja jadi berhenti memanggilku suami mu, panggil aku Tuan!"
"Ba... ba... baik Tuan!"
"Apa aku tidak dengar?!"
"Baik Tuan!"
"Kalau ngomong yang keras pake tenaga!"
"Iya tuan!!!"
"Kamu berani membentakku?"
"Ti...ti...tidak... tuan..."
Plak sebuah tamparan mendarat di pipi Sany.
Sany tersungkur kelantai
"Bangun kamu babu, dan siapkan makan untuk ku!"
Sany bangkit dan tergesa-gesa kedapur masih dengan gaun pernikahanya, sany menyiapkan sarapan dengan air mata yang berlinangan di pipi sesekali dia menyeka nya dengan tangannya.
"Silhkan tuan!"
Suami sany mencicipi makanan yang dihidangkan Sany, kemudian meludahkannya di atas piring"
"Makanan apa yang kamu buat ini hah?!"
"Maaf... ma... maaf tuan!"
"Kamu ingin membunuhku apa?!"
"Ti... dak tuan, tidak...!"
"Sial sudah aku beli mahal-mahal kamu justru tidak berguna, minggir kamu bersihkan semua ini aku akan cari makan keluar!"
"Baik tuan!"
"Aku pulang semuanya sudah bersih paham kamu?!"
"Paham tuan!"
Suami Sany keluar rumah, Sany menangis tersendu-sendu di meja makan.
Setelah senja datang suami Sany pulang.
"Sany...! Sany...!"
Tidak ada jawaban dari Sany, suami Sany naik ke lantai dua menggunakan tangga kemudian membuka pintu kamar dan melihat Sany tengah tertidur pulas di atas kasur.
"Kamu ini memang cantik tapi sayang tidak berguna,lihat dia berani-beraninya dia tidur di kamar tidurku,hey bangun pembantu bangun!"
Suami Sany menendang Sany yang tengah tertidur pulas sampai ambruk terjatuh ke lantai.
"Awwwww!"
Teriakan Sany terdengar kesakitan
"Bangun kamu bodoh, kamu sudah siapkan aku makan?!"
"Su,,,su,,,sudah tuan!"
"Mana tunjukan sekarang.!"
Sany turun dengan masih memegangi perut bagian Kanan nya.
"Cepat lelet banget sih kamu!"
"I... iya tuan."
Sany membuka tudung saji diatas meja makan dan disana sudah tersaji masakan mewah.
"Dari mana kamu dapat semua bahan makanan ini?!"
"Dari kulkas tuan.!"
"Kamu memasak semuanya?!"
"Iya tuan!"
"Kurang ajar kamu, kamu pikir ini untuk dimakan sekali saja?!"
"Maaf tuan saya salah apa lagi?"
"Pake nanya lagi kamu, sekarang kamu makan semua ini kamu habiska!"
"Tidak tuan terimakasih¡"
Suaminya menyeret Sany untuk duduk di sampingnya. Suaminya mengambilkan secungkil nasi kemudian menaruh beberapa sendok sambal di atas nasi tersebut dan memberinya satu potong tempe.
"Makan tuh cepat habiskan!"
"Ta...ta...tapi tuan saya...!"
"Kamu tidak mau makan dengan suamimu,mau kuhajar kamu?!"
"Ba...baik tuan!"
Sany terpaksa memakan satu demi satu suapan sambil di tertawakan oleh suaminya.
4 bulan berlalu sejak pernikahan Sany dan suaminya, Sany hanya di bolehkan makan dengan beberapa sendok sambal dan sepotong tempe sebagai lauknya dia di haruskan menyelesaikan pekerjaan rumah yang begitu berat...
Seperti pagi ini...
"Sany...! Sany...!"
Panggil suami Sany setengah berteriak-teriak.
"I...i...iya tuan...!"
"Kenapa dengan kamu?"
"Saya-saya hanya kurang enak badan."
"Kamu ini malas saja...banyak alasan!"
"Ma... af... tuan!"
"Buatkan aku sarapan aku mau ke kantor!"
"Ba... baik tuan."
"Cepat sana lelet banget sih!"
Sany bergegas kedapur dan membuatkan makanan cepat saji.
"Silahkan tuan!"
Sany terpogoh-pogoh berniat duduk di kursi meja makan, tapi suaminya menendang kursi yang akan di duduki Sany membuat Sany ambruk dan pingsan.
"Hey bodoh bangun kamu!"
Suami Sany tertawa terbahak-bahak melihat Sany tertidur di lantai.
"Hey sany...! bangun kamu!"
Suami Sany beberapa kali menggoyangkan Sany menggunakan kaki nya namun tidak ada pergerakan sedikitpun dari Sany,membuat Suaminya bangkit dari duduk dan jongkok didekat tubuh Sany berkali-kali di guncangkan tubuh Sany tetap saja tidak ada pergerakan membuat Suaminya panik kemudian berlari mengambil telpon dan menelpon Ambulance.
Sesampainya di Ruang IGD Sany langsung di periksa dan dipasangkan alat-alat penunjang kehidupanya, dokter keluar dan diluar ruang IGD sudah ada keluarga dari Sany dan suami Sany.
"Suami Pasien?"
Tanya dokter
"Saya dokter,bagaimana keadaan istri saya?"
"Pasien koma karena terkena kanker nasofaring, semua itu diakibatkan oleh Pasien terlelu banyak mengkonsumsi makanan pedas sementara tubuhnya juga kurang istirahat!"
"Apa bisa di selamatkan dok?"
"Kemungkinannya sangat kecil karena Pasien sudah berada di ambang batas kesadaranya jika pasien tidak sadarkan diri sampai besok pagi, dia tidak akan bisa sehat seperti semula"
"Apa istri saya akan meninggal dok?!"
"nyawanya hanya akan bergantung pada alat-alat itu jika dilepas maka pasien akan meninggal"
Suaminya tertunduk lesu dan terduduk di lantai dia mengingat semua perlakuanya terhadap Sany selama ini, begitu kejam dan keji nya dia.
"Aku mencintaimu hanya saja aku terlalu malu mengakuinya, semua yang aku lakukan semata-mata hanya untuk mendapatkan perhatianmu San,maafkan aku karena telah membuatmu seperti ini"
Keluarga Suami Sany kecewa mendengar pengakuan dari perlakuan Anaknya terhadap Sany dan akhirnya memutuskan melaporkan anaknya kepada polisi.
Kini Suami dan Ibu tiri Sany mendekam di dalam penjara demi menebus semua kesalahan-kesalahan nya, sementara Sany sudah Bahagia di Alam sana...
"Hargai segala sesuatu sebelum ia tinggal!"