"Akh... kau jangan ke rumahku dulu! Apartment ku sedang di renovasi!"
Damian langsung mengerang kesal dan disambut tertawaan kikuk Benji. Sudah 20 kali Benji bilang kalau apartmentnya di renovasi. Benji yang menampilkan gigi putihnya yang tersusun rapih berkata, "Ada retakkan agak banyak di ruang tamu, jadi... aku minta pekerja kembali untuk memperbaikinya"
"Pekerja yang kau suruh abal-abal kali!" tuduh Damian yang hanya dibalas lambaian tangan penolakkannya.
Damian dan Benji berteman ketika 1 tahun yang lalu mereka bertemu di halte. Damian bekerja sebagai freelance bagian design grafis dan Benji bekerja sebagai pegawai disalah satu cafè yang tidak jauh dari halte tempat mereka bertemu. Pembahasan film serta hal-hal berbau horror menyatukan mereka yang saat itu terjebak hujan pada jam 3 dini hari.
Damian tidak menyangka, Benji yang selalu terbuka dan tidak peduli pada detail sudah melakukan renovasi berkali-kali. Bahkan ketika membicarakan apartmennya, Benji lebih kalem dari biasanya. Memang ada apa di apartmennya?
Benji bukan orang perfeksionis, tapi mendengar bahwa dia renovasi karena retakkan yang Damian pikir hanya retakan kecil, membuat Damian merasa aneh. Sikapnya juga agak kalem jika sedang membicarakan apartmennya. Memang di apartmennya ada apa?
"Hah... ya sudah! Setelah ini pasti kau akan bilang bahwa kau tidak ingin diganggu karena sedang mengikuti program meditasi. Malam ini aku tidak bisa mengajakmu minum di bar" ucap malas Damian.
Benji menjentikkan jarinya, "Tepat sekali! Kau memang tahu aku! Aku janji, 2 minggu lagi kau bisa ke apartmentku dan kita bisa bermain game yang kupunya seperti biasa!"
"Seperti biasa??? Aku baru ke apartmenmu 2 kali! Satu kita bermain game dan satunya lagi hanya saat aku membalikkan payungmu! Sepertinya sekarang aku tampak seperti bocah rewel menyebalkan tapi, Ben..." Damian menghela napasnya pelan dan menyentuh lengan Benji, "... jika kau menghindariku karena aku menyebalkan dan tidak asik, bilang saja. Aku tidak apa-apa!"
"Hey... kau itu kenapa sih? Aku tidak ada niatan ingin menghindarimu! Kau nanti akan tahu setelah renovasi selesai" Benji membenarkan sweeter turtlenecknya dan menelan salivanya berkali-kali. Ia mengusap wajahnya dan menatap lurus Damian, "Maafkan aku dan aku pergi dulu! Waktu istirahatku sudah habis!"
Benji langsung pergi dari luar cafè, meninggalkan Damian yang menatapnya aneh agak lama sambil mengikuti pergerakan Benji yang terlihat di dalam etalase cafè. Laki-laki itu menghela napas, Benji lupa kalau sebelum membicarakan tentang apartment, mereka berniat makan siang bersama.
"Benji, makin lama kau makin aneh... aku rasa jika kau tiba-tiba pindah apartment setelah berkali-kali renovasi, aku tidak kaget" Damian langsung pergi menuju tempat tinggalnya, melewati angin dingin peralihan musim gugur menuju musim dingin.
2 minggu kemudian, Damian selesai dengan projectnya dan menganggur menunggu kontrak baru. Setelah pertemuan mereka, Benji sulit di hubungi. Beberapa pesannya bahkan tidak dibaca. Mungkin tebakannya benar mengenai Benji pindah, atau dia menjauhinya? Damian merasa bosan saat ini karena siapa yang ia harus hubungi? Ia tidak punya orang tua, teman-temannya yang lain juga pasti sibuk. Benji menjadi seseorang yang paling sering menemuinya dan bercengkramah selama setahun terakhir. Padahal Damian punya teman dekat lain saat ia sekolah dulu tapi berbeda dengan Benji. Ia merasa ada ikatan lain meskipun pertemanannya terhitung sebentar.
Ide terlintas dari otak Damian. Kenapa ia tidak datang ke apartment Benji? Mungkin sekarang bukan saatnya, tapi dia bisa bertanya pada security mengenai renovasi apartment Benji dan menyelinap kesana. Ia tidak peduli jika Benji mengusirnya, Damian hanya khawatir dan penasaran dengan apa yang Benji lakukan hingga tidak menghubunginya akhir-akhir ini.
Apartment Benji tidak jauh dari rumah sewaan kecil miliknya. Hanya 5 halte bus dan berjalan 50 meter. Damian pun bersiap-siap dan membeli beberapa kaleng bir untuk Benji di minimarket yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Jika Benji masih belum bisa ditemui, ya... Damian minum. Baru saja Damian membawa kaleng bir tersebut keluar dari minimarket, kepalanya tiba-tiba nyeri hingga seluruh indra Damian terdistraksi. Tubuhnya limbung dan bersimpuh sambil memegang kepalanya.
Damian sering merasakan sakit kepala dan melupakan niatannya untuk ke rumah sakit. Ia bisa gila di rumah sakit karena bau khas tempat itu yang makin membuatnya sakit. Saat ringisan bertubi-tubi keluar dari mulutnya, perlahan sakit kepalanya mereda. Damian bisa menghela napas lega setelah melewati durasi yang menyiksa itu.
20 menit kemudian, Damian sampai di apartment Benji. Saat ia berjalan menuju pos security, ia disambut oleh pria berumur 60 tahun dengan postur tubuh krempeng dan rambut penuh uban yang masih berdiri tegap. Damian membalas dengan senyuman tipis.
"Aku baru melihatmu lagi! Ada yang bisa aku bantu?"
"Kau masih mengigatku?" Damian terpukau.
Pria tua itu tertawa kecil, "Meskipun aku se-tua ini, aku masih mengingatmu karena Benji. Dia selalu membicarakanmu jika aku bertemu dengannya"
Damian terkekeh, "Benarkah? Terima kasih tuan..." ia menyipitkan matanya agar melihat jelas name tag di dada pria tua itu, "... tuan Tank... karena sudah mengingatku!"
"Kau ada pesta?" Tuan Tank memerhatikan 6 kaleng bir di tangan Damian.
"Oh, bukan... hmm... mungkin... Beberapa hari yang lalu Benji bilang rumahnya ada renovasi. Yah... meskipun dia bilang jangan datang dulu ke apartmentnya, aku hanya ingin tahu saja, memang sebagus apa sih apartmentnya sampai berkali-kali renovasi" jelas Damian yang sebenarnya malas menceritakan niatannya saat ini kepada orang lain.
"Benji sudah pergi dari apartment ini 4 bulan yang lalu. Tetangganya mengeluh terganggu dengan suara dan dentuman keras dari apartmentnya. Benji tidak bilang kepadamu?" heran tuan Tank.
Damian terdiam. Kenapa Benji tidak bilang kalau dia pindah? Apa Benji memang benar menghindari dirinya?
"Akh... hahaha... mungkin Benji lupa mengatakan kepadaku! Lalu, apa Benji selalu renovasi sebelum dia pindah?" Damian tertawa kikuk, menghibur dirinya yang saat ini merasa kecewa.
"Benji tidak pernah memanggil tukang renovasi. Dia keluar dari apartment meninggalkan retakkan dan kerusakan hampir semuanya. Aku masih bingung, apartment sekuat itu bisa diretakkan oleh Benji" ungkap tuan Tank terheran-heran.
Damian sedikit kecewa sekarang. Ia merasa di bohongi sangat lama oleh Benji. Damian salah mengira Benji. Ia merasa tidak berguna sebagai teman. Damian harus bertemu dengan Benji sekarang juga untuk mempertanyakan kebohongan ini.
"Tuan Tank, kau tahu sekarang Benji dimana?"
"Aku sama sekali tidak tahu! Aku tidak menanyakan dan ia tidak memberitahu dia akan pindah kemana! Lebih baik... kau telepon dia lagi saja!" ujar pria tersebut sambil beranjak dari sana.
Damian langsung menggenggam tangan Tuan Tank untuk kembali berdiri ditempatnya. Ia menatap tajam pria tersebut dengan wajah kesal. Pria tersebut yang kebingungan mulai menghela napas berat. Wajahnya menampakkan bersalah dan mengenggam tangan Damian.
"Maaf... aku disuruh mengabaikanmu jika kau mempertanyakan keberadaaanya. Dia tinggal di rumah pinggir sungai Arden, satu-satunya rumah disana, 5 km dari sini. "
Damian melepas pelan tangan Tuan Tank dan menunduk hormat seraya pergi dari sana. Ia buru-buru pergi ke alamat tersebut menaiki taksi. Sepanjang jalan, Damian hanya merasakan rasa bersalah dan kebingungan yang menderanya. Apa yang salah dengan dirinya? Apa ia terlalu ingin tahu urusan Benji hingga laki-laki itu menjauhinya?
Menjelang sore dan langit mulai menggelap, Damian sampai disana. Langkah terburu-burunya masih sama dan matanya berputar mencari rumah yang dimaksud. Menurut supir taksi yang ia tumpangi, tidak ada rumah di pinggir sungai Arden. Jika ada, rumah yang di maksud adalah rumah kosong dan tidak dijamah oleh penduduk sekitar.
Pencarian Damian membuahkan hasil. Rumah yang di maksud sudah ada di depannya. Rumah sederhana tanpa tingkat dengan halaman rumput yang sudah di potong. Damian agak meragukan perkataan supir taksi tadi karena penampilan rumah tersebut tidak seburuk yang ada di pikirannya. Tanpa ragu, Damian masuk dan memerhatikan dalam rumah itu. Seperti rumah biasa namun dindingnya penuh retakkan dan noda bocor di langit rumah.
Sreng... Sreng... BRAK!
Sayup-sayup Damian mendengar suara rantai besi yang bergesekkan. Ia agak ragu apakah suara yang ia dengar memang suara rantai atau halusinasinya saja. Damian menajamkan pendengarannya.
"Ahh... hah... BRAK! BRAK! BRAK!"
Pendengaran Damian tidak salah. Malahan suara yang ia dengar berubah menjadi dentuman keras hingga Damian biasa merasakan getarannya meskipun sedikit. Laki-laki itu mulai memanggil Benji lirih hingga kakinya tersangkut oleh sesuatu. Damian tertegun, ada pintu kayu di bawah kakinya. Ia menyisir rambut hitamnya yang agak berkeringat dan pelan-pelan membuka pintu tersebut.
Tangga yang terjejer kebawah dan agak ringkih membuat Damian agak merinding. Bagaimana jika ia jatuh saat baru menginjak satu tangga? Bisa jadi dibawah sana tidak ada Benji dan ternyata adalah tunawisma yang akan hilang kendali melihat manusia lain. Damian menarik nafasnya dalam-dalam dan melawan prasangka buruknya. Ia membawa tubuhnya turun dengan langkah waspada dan ragu-ragu.
Saat Damian turun, pemandangan yang ia lihat membuat jantungnya terasa turun ke perut. Ratusan rantai berkarat menempel di dinding dan terlihat kusut. Damian bukan mempersalahkan rantainya, namun seorang laki-laki berambut blonde berantakkan yang sekujur tubuhnya diselimut peluh serta cipratan darah. Dari postur, rambut, serta kemeja putih lusuh, itu adalah Benji. Namun Damian tidak bisa melihat wajahnya karena laki-laki itu menunduk.
"Benji... tidak..."
Damian yang baru bergerak mendekat tiba-tiba terkejut saat laki-laki itu melakukan pergerakkan. Ia hampir jantungan setelah mendapat reaksi spontan dari seseorang yang mirip Benji.
"Akhirnya kau datang juga..." laki-laki itu bersuara dan Damian percaya bahwa di depannya memang Benji.
"Ben, kenapa kau... tubuhmu... apa yang kau lakukan?" ucap Damian.
Benji menggerak-gerakkan pergelangan tangannya dan merintih tanpa Damian bisa lihat wajahnya. Tanpa diduga, Benji bergerak maju kearah Damian. Laki-laki itu menahan shocknya sekaligus napasnya. Tampilan Benji begitu berbeda. Mulutnya penuh darah kering disertai bibirnya yang pecah-pecah. Wajahnya begitu pucat dan matanya...
... merah darah...
"Ben..." lirih Damian sambil bergerak menjauh.
Benji menyeringai, menampilkan 2 taring panjang yang sangat tajam, "Damian... aku bilang 2 minggu lagi..."
"Kau bukan Benji!"
"Ha... Damian... Damian... kau tidak mau menerimaku sebagai temanmu?" Benji menyisir rambutnya dan berdiri tegak. Laki-laki itu tersenyum manis dihadapan Damian.
"Apa bir itu untukku?"
"Tutup mulutmu!" tekan Damian sambil menatap muak Benji, "Kau tidak tahu, seberapa lama aku menahan kekesalanku! Kau membohongiku, kau meremehkanku, dan kau... menganggap aku seperti bukan siapa-siapa! Dan sekarang... aku tidak tahu yang saat ini aku luapkan di depanku adalah si bajingan Benji atau bukan!"
"Lalu? Kau sudah selesai marahnya?"
"Kau... kau tidak menganggapku serius?"
Benji tertawa tipis dan mulai bersimpuh disana, "Aku sengaja memancingmu kesini dan aku berhasil. Sayang sekali, waktumu menjadi Damian yang sekarang harus selesai disini"
"Apa maksudmu?"
Benji menarik sebilah pisau buah dari saku celana jeansnya lalu memainkannya di tangannya yang penuh noda darah dan karat seraya berkata, "Apa kau tidak merasa pertemuan kita bukan pertemuan biasa? Kau merasakan ikatan itu? Dimana kau merasa selalu membutuhkanku dan aku juga selalu membutuhkanmu. Aku sudah bertemu banyak Damian dan kau Damian yang paling sempurna yang aku cari!"
"Cukup! Jika kau berbicara aneh lagi, aku akan pergi dari sini!" Damian gusar, ia pun langsung melempar bir tersebut ke lantai dan beranjak pergi dari sana.
"Kau sering sakit kepala, kan?"
Damian berhenti. Ia tidak pernah mengatakan keluhan sakit kepala yang makin parah setiap hari. Bagaimana Benji tahu?
"Aku tahu, dan kau juga pasti tahu apa yang aku pikirkan sekarang" Benji mengambil sebilah pisau kecil dan mulai mendekatkan ke lehernya.
"Benji, stop!" teriak Damian sambil berbalik dengan wajah penuh ketakutan.
Benji menyeringai sambil melempar pisau itu jauh darinya. Ia bertepuk tangan dengan semangat, "Ayo Damian! Kau bahkan sudah tahu niatanku sejak awal kita bertemu! Awal dimana aku membicarakan vampir dan menceritakan seorang vampir yang terkenal hilang tanpa ada jasad yang ditemui! Itu kau Damian! Aku mencarimu!"
"Tidak... itu tidak mungkin! Aku bukan khayalan bodohmu!" Bantah Damian dan mulai memegang kepalanya.
"Kau merasakan lagi sakit kepala itu! Itu bukan khayalan, itu dirimu! Kau bertahan berteman denganku karena kau penasaran, bukan? Alam bawah sadarmu tertarik padaku, ingin aku mengeluarkan siapa Damian sebenarnya!"
"Aku bukan... va... vampir... akh..."
"Tidak ada ketakutan yang perlu kita rasakan lagi. Dunia ini sudah tidak takut lagi dengan kita. Sudah tidak adalagi yang memburu kita! Bagaimana jika kita berburu malam ini? Kita tebarkan ketakutan yang dulu kita berikan?"
"Aw! Hah... hah... hentikan... tutup mulutmu... ergh... hah... hah..."
"Rasakan... biarlah dirimu bebas... ini waktu yang tepat... Aku merantai tubuhku hanya untuk dirimu seorang. Menahan hausku agar bisa berburu denganmu... dengan vampir paling tua yang masih ada di dunia ini..."
Suara ringisan Damian tidak terdengar lagi. Ia melepas tangannya dari kepalanya dan menatap lurus Benji. Laki-laki berambut pirang itu melepas beberapa kancing kerahnya.
Damian masih terdiam seakan kejadian tadi hanya angin lalu. Ia berjalan maju dengan pelan tanpa melepas pandangannya dari Benji. Suasana ruangan tersebut menjadi senyap. Mereka sama-sama terdiam namun saking mengerti tanpa ada satu pun kata yang keluar dari mulut mereka. Bahkan di luar, malam yang dingin dengan bulan penuh agak kemerahan memberikan efek magis pada malam ini.
Sekarang, tidak ada lagi Benji si pelayan cafè. Damian si freelance yang mencari temannya beberapa jam yang lalu juga sudah lenyap. Kebohongan yang diciptakan oleh mereka berdua berhenti sampai disini. Dunia akan membuka kembali sejarah yang melupakan bagaimana sesuatu yang dianggap diluar nalar sebagai hal yang tidak mungkin.
Mata Damian perlahan memerah pekat. 2 taring tajamnya menusuk leher Benji dan menikmati darah tersebut dengan rakus. Damian kalap dengan darah di kerongkongannya dan Benji yang menikmati bagaimana darahnya disedot tanpa ampun. Monster dalam diri Damian sudah kembali sepenuhnya. Selamanya.