Oleh: FINA
“Aku mencintaimu, sangat. Bahkan, aku tidak rela jika mata para gadis itu memandang mu walau hanya sedetik saja.” ungkap seorang gadis yang tengah memeluk sang kekasih hati bernama pitari maharani.
“Aku pun sangat mencintaimu kekasihku, aku juga tidak rela jika para pemuda itu menatapmu. Bahkan aku pun cemburu dengan senja yang menerpa wajahmu.” balas seorang pemuda bernama Satria Dimantara yang kini tengah memeluk sang pujaan hati di tepi pantai dengan pemandangan senja.
“Maukah kau berjanji untuk selalu bersamaku?” tanya pita pada sang kekasih.
“Aku berjanji akan selalu bersama mu dan bersumpah hanya kau wanita satu-satunya dalam hidupku setelah ibuku.” ucap satria mencium kening sang pujaan hati.
“Dan aku pun berjanji akan setia padamu dan takkan kubiarkan relung hati ini di isi oleh pemuda lain.” ungkap pita
“Aku bahagia, sangat bahagia. Aku berharap janji dan sumpah kita bisa kita tunaikan di kemudian hari.”ucap pita kembali memeluk sang kekasih.
“Tunggulah aku disini, aku akan menjemput mu di sini. Di hari yang sama aku akan menjemput mu dengan di saksikan senja.” ucap satria.
“Iya mas, aku akan menunggu mu di sini sampai kau datang menjemput ku.” ucap pita tersenyum manis.
Itulah janji dan sumpah yang terucap dari bibir pasangan kekasih yang tengah di mabuk cinta.
Sepuluh tahun berlalu semenjak kepergian satria ke ibu kota untuk mencari pekerjaan meninggalkan pita di desa.
Kini umur pita sudah menginjak 28 tahun, tapi sang kekasih tak pernah menemuinya setelah kepergiannya ke ibu kota.
“Nak, apa kau masih menunggu pemuda itu? Ada banyak lamaran yang kamu tolok. Apa kau tidak ingin menerima lamaran salah satu dari mereka?” tanya seorang wanita paruh baya pada sang putri yang baru saja pulang dari pantai.
“Aku masih menunggunya bu, ada janji dan sumpah yang kami ikrarkan bersama. Aku yakin suatu saat nanti ikrar janji kami akan kami tunaikan bu.” balas pita pada sang ibu.
“Nak, ibu tidak tau sampai kapan ibu akan menemani mu disini. Ibu berharap sebelum ibu pergi kamu sudah bahagia.” ucap sang ibu sedih.
“Semoga ibu selalu sehat.” balas pita memeluk sang ibu.
“Nak, kita ini orang desa, sangat tabu jika anak gadis yang seumuran denganmu masih belum menikah. Ibu takut kamu akan mendapatkan pandangan lain dari penduduk.” ungkap sang ibu sembari membelai lembut rambut pita.
“Ibu, pita tidak perduli dengan ucapan mereka. Pita hanya akan menunggunya hingga nanti kami bersatu bu.” balas pita pada ibunya.
Seperti biasa setiap hari minggu, pita akan berada di pantai seharian menunggu sang kekasih sembari bersenandung mengucapkan sebuah syair.
“Wahai angin bawalah dia kembali
Wahai ombak hantarkan dia kehadapan ku
Wahai burung laut sampaikan salam rinduku
Di tempat ini aku masih menantinya
Dalam kalbu ada banyak rindu yang ingin ku curahkan padanya
Oh laut, oh senja aku merindukannya
Sungguh, aku sangat merindukannya.”
Setelah malam menyingsing menggantikan senja, pita kembali kerumahnya dengan perasaan kecewa karena sang kekasih tak kunjung datang.
“Mas, dimanakah dirimu? Sebenarnya aku sangat lelah menunggu.” ungkap pita menatap sang rembulan di balik jendela kamarnya.
Keesokan harinya, pita memulai aktivitasnya mengurus ladang peninggalan ayahnya yang cukup luas. Ada banyak pekerja yang bekerja padanya menggantungkan harapan pada pita.
“Nduk, kamu kenapa belum menikah? Umurmu sudah cukup untuk menikah.” ucap seorang nenek yang sedang duduk istirahat setelah mengelola ladang perkebunan coklat milik pita.
“Pita sedang menunggu kekasih pita nek, pemuda yang meluluh lantahkan hati pita sepuluh tahun lalu.” ungkap pita tersenyum hambar.
“Jangan bodoh nduk, kau menunggunya disini tapi bisa saja dia sudah menikah di sana.” ucap nenek itu membuat pita tersenyum.
“Aku tidak tau nek, bagaimana keadaannya sekarang. Saat ini aku hanya memegang sebuah janji dan sumpah kami.” balas pita tersenyum walau di hati rasanya ingin menangis.
“Jangan sia-siakan hidup ndu, jangan seperti nenek yang hidup sebatang kara tanpa adanya keluarga.” ucap nenek itu mengelus lengan pita.
“Aku yakin nek, penantian ku ini akan terbalaskan di kemudian hari.” ucap pita yakin.
“Ya sudah, terserah mu lah nduk.” ucap nenek itu.
Saat ini pita berjalan sendiri menuju rumahnya. Ditengah jalan ia mendengar seorang gadis menceritakan kekasihnya yang sebentar lagi akan melamar nya.
“Mas, Bertahun-tahun aku menanti mu di sini, apa kau tidak mengasihani ku? Apa kau tidak melihat betapa aku merindukanmu? Betapa aku ingin melihat wajahmu setalah pertemuan kita yang terakhir? Bahkan semua keluarga mu sudah tidak ada lagi di desa ini, aku ingin menyusul mu tapi aku masih mengingat janjimu yang akan menjemput ku di pantai itu ditemani oleh senja.” gumam pita.
Sesampainya di depan rumahnya, pita melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman rumahnya yang sudah di pastikan jika ada tamu di rumahnya.
“Assalamualaikum bu.” ucap pita diambang pintu.
“Waalaikumsalam nak, sini duduk dulu. Ada yang ingin ibu sampaikan padamu.” ucap ibu tersenyum
“Ada apa bu?” tanya pita setelah duduk di samping ibunya ditemani oleh seorang pemuda dan dua orang paruh baya yang sepertinya itu suami istri.
“Nak, ada yang melamar mu dan ini pemuda itu.” ucap ibu sembari menatap kearah pemuda itu.
Pita melihat pemuda di hadapannya, tampan. Tapi pita sama sekali tidak tertarik.
“Maaf bu, keputusan pita tetap sama. Pita menolak lamaran ini.” ucap pita kemudian berdiri.
“Maaf saya permisi dulu.” ucap pita pergi setelah melihat wajah kecewa ibunya. Sungguh, pita tidak sanggup melihat wajah kecewa ibunya tapi apa boleh buat pita tidak ingin menerima pemuda lain dalam hidupnya kecuali sang kekasih.
“Mas, kau sungguh menyiksaku. Aku tidak sanggup melihat wajah kecewa ibuku tapi aku juga tidak bisa menerima pemuda lain di hati ini selain dirimu.” ucap pita menangis
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Kini usia pita sudah menginjak 30 tahun tapi ia masih menunggu sang kekasih. Setiap hari ulang tahunnya ia akan ke pantai menyendiri sembari menikmati usapan angin yang terasa di seluruh tubuhnya.
“ Sudah dua belas tahun mas, aku menanti mu disini. Kenapa kau tak kunjung menemui ku seperti janjimu dulu.” ucap pita meneteskan air matanya.
“Jika seluruh hidupku, ku habis kan hanya untuk menunggu mu maka aku akan setia dengan itu.”
“Wahai kekasihku, datanglah padaku.
Disini ada hati yang kosong tanpa kehadiranmu
Ada jiwa yang tak lengkap tanpamu
Ada syahwat yang tidak tersalurkan tanpa dirimu.
Sudahi penantian ku wahai kekasih
Aku tidak sanggup menahan rindu yang kian lama kian bergejolak.”
Pita kembali pulang dengan perasaan kecewa hingga ditengah jalan ia melihat seseorang yang ia kenali sebagai teman baik dari sang kekasih.
“Raka, ini kamu raka kan?" tanya pita menghampiri laki-laki itu.
“Iya saya raka. Ini kamu pita kan pita maharani?" ucap raka yang melihat pita yang masih cantik di umur sudah kepala tiga. Jika orang baru melihatnya maka ia akan mengira jika pita masih berumur 25 tahun.
“Iya, saya pita. Kenapa baru sekarang kamu pulang dari rantauanmu?” tanya pita
“Iya, anak dan istriku ingin berkunjung ke rumah orang tuaku.” ucap raka
“Oh iya, dimana suami dan anakmu?” tanya raka membuat pita seketika terdiam.
“Aku belum menikah." ucap pita lirih membuat raka kaget. Bagaimana seorang pita si bunga desa tidak menikah hingga sekarang.
“Oh, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk..” ucap raka kikuk.
“Iya, tidak apa-apa.” ucap pita tersenyum manis.
“Oiya, aku bagaimana kabar mas satria? Kenapa dia belum datang kemari?” tanya pita membuat raka seketika terdiam. Pasalnya ia mengetahui tentang kisah cinta kedua insan ini.
“Keadaannya baik-baik saja, kami berjauhan tapi kadang kami bertemu untuk sekedar mengetahui kabar masing-masing.” ucap raka membuat pita tersenyum hambar.
“Kenapa dia belum kembali kesini?” tanya pita.
“Dia..dia sibuk mengurus pekerjaannya di sana.” balas raka.
“Apa dia tidak merindukan ku?” tanya pita lirih membuat raka membulatkan matanya. Ada apa dengan mereka, batin raka.
“Oh iya, bagaimana kehidupannya sekarang, pasti sudah lebih baik kan?” tanya pita tersenyum yang berusaha menutupi kesedihannya.
“Iya, sekarang dia sudah sukses di sana.” ucap raka tersenyum sembari memperhatikan pita yang sepertinya menyimpan sesuatu.
“Apa dia mengatakan sesuatu padamu untuk di sampaikan padaku?” tanya pita kembali.
“Em tidak ada pit.” jawab raka
“Aku senang mendengarnya jika ia sukses di sana, kalau begitu aku permisi dulu.” ucap pita tersenyum dan meninggalkan raka yang masih menatapnya.
“Sat, andai kau tau jika wanita ini masih menunggumu pasti kau akan sangat menyesal.” gumam raka yang masih melihat punggung pita yang kian menjauh.
Pita semakin sedih dan kecewa dengan kekasih hatinya itu. Bagaimana bisa ia tidak menitipkan surat atau salam padanya.
“Mas, bahkan hanya sekedar mengirimi surat atau salam saja tidak aku lakukan.” ucap pita menangis.
Sudah satu bulan raka dan keluarganya tinggal di desa dan pita juga mengetahui kenyataan pahit kenapa sang kekasih tidak pernah menemuinya walau hanya sekedar mengirimkan surat ternyata sudah menikah dan memiliki keluarga dan di saat itu juga sang ibu meninggalkannya untuk selamanya karena sakit yang di deritanya.
“Mas, kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau tidak menepati janjimu padaku mas.” ucap pita menangis di tepi pantai.
“Kemana janjimu mas? Kemana sumpah mu dulu mas? Kemana?” teriak pita
“Kau kejam mas, kau sangat kejam padaku.” tangis pita semakin kencang.
Usai mengetahui kebenaran yang menghancurkan jiwa nya, kini pita tidak pernah lagi berharap dan menanti sang kekasih untuk menjemputnya. Walau sudah tidak berharap lagi tapi pita seakan mengubur dalam-dalam niatnya untuk menikah. Ia melewati hari-hari nya dengan mengurus perkebunan miliknya.
Hingga di usia pita yang ke 63 tahun, pita masih betah sendiri. Ia juga mengadopsi seorang bayi perempuan 18 tahun lalu yang di beri nama fika maharani. Di usianya kini, pita hanya menghabiskan waktunya mengajar putri angkatnya mengelola perkebunan miliknya serta mengunjungi pantai bersejarah dalam hidupnya.
Sedangkan di lain tempat, seorang pria berumur 79 tahun, kini tengah menatap keluar jendela kamarnya.
“Kek, kakek melamun lagi?” tanya seorang pemuda berusia 21 tahun menghampiri kakek itu.
“Tidak nak, kakek tidak melamun. Kakek hanya menatap bulan dari sini." ucap kakek itu pada cucunya. Yah kakek itu adalah satria bimantara, pujaan hati pita maharani.
“Nak, kakek ingin meminta sesuatu padamu.” ucap sang kakek pada cucunya yang bernama Dika Bimantara.
“Apa kek?" tanya Dika
“Tolong kamu antarkan kakek ke desa kakek. Kakek ingin menghabiskan sisa umur kakek di sana. Orang tuamu tidak pernah ada waktu untuk kakek.” ucap satria sedih pada cucunya. Sangat jelas jika sang kakek menyimpan suatu kesedihan di matanya.
“Baiklah kek, besok kita akan berangkat karena Dika juga sedang libur semester.” ucap dika.
Kini keduanya telah sampai di desa sang kakek. Satria memandang dengan mata berkaca-kaca desa itu, tidak ada yang berubah masih sama seperti dulu.
“Kek kita akan kemana?" tanya dika pada sang kakek.
“Kita akan langsung ke rumah kakek.” ucap satria.
Fika yang habis dari warung melihat orang asing di desanya tentu saja menyapanya.
“Maaf, kalian warga baru yah di sini.” tanya fika sedangkan dika terpesona dengan kecantikan fika.
“Tidak nak, kakek warga sini dulunya. Kakek baru saja pulang dari rantauan.” ucap satria.
“Kakek mau kemana emang?” hanya fika kembali.
“Kakek mau ke rumah di ujung jalan sini.” jawab satria.
“Oh itu rumah kakek yah, ya sudah mau saya antar ke sana kek?” tawar fika yang kebetulan searah dengan mereka.
“Iya nak, jika tidak merepotkan.” ucap satria tersenyum.
“Tidak masalah bagi saya kek, mari.” ucap fika berjalan di samping kiri satria. Sedangkan dika hanya diam sembari mencuri padang kearah fika yang sama sekali tidak menatapnya.
“Namamu siapa nak?" tanya satria di perjalanan.
“Nama saya fika kek, fika maharani." jawab fika membuat satria terkejut. Pasalnya nama belakang fika sangat tidak asing di telinganya.
“Nama ibumu siapa?” tanya satria yang sudah berkaca-kaca.
“Oh, nama ibu saya pita maharani kek." jawab fika membuat satria menghentikan langkahnya menatap dalam fika.
“Kamu anaknya pita?” tanya satria memastikan.
“Cuma anak angkat kek, Kakek kenal dengan ibu saya?” tanya fika
“Iya nak, kakek kenal, kenal sekali.” ucap satria berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya.
“Bisakah nanti kakek bertemu dengan ibu mu?” tanya satria.
“Bisa kok kek, tapi kondisi ibu sedamg tidak baik-baik saja” ucap fika.
“Ibu mu sakit apa?" tanya satria yang cemas.
“Ibu sakit kanker otak stadium akhir kek.” ucap fika menangis. Satria yang mendengar itu tentu saja syok memegangi dadanya.
“Kek, kakek kenapa?" tanya dika dan fika bersamaan.
Ponsel fika berbunyi menandakan panggilan masuk.
“Halo”
“....”
“APA, baiklah bude fika pulang dulu.” ucap fika dengan derai air mata membuat satria dan dika kebingungan.
“Kek, fika pulang dulu, ibu.. Ibu fika hiks hiks." ucap fika tak sanggup melanjutkan ucapannya.
“Kami ikut ke rumah mu.” ucap satria.
Sesampainya di rumahnya, fika segera berlari ke kamar ibunya di ikuti oleh satria dan dika di belakang.
“Ibu, ibu tolong bertahan yah, fika mohon bu hiks hiks.” ucap fika menangis.
“Ibu sudah tidak sanggup lagi nak, ini terlalu menyakitkan bagi ibu." ucap pita membelai lembut rambut fika.
“Pita” panggil satria yang sudah menangis melihat sang kekasih yang terbaring lemah.
“Mas, mas satria." ucap lirih pita.
“Aku datang pita, aku datang. Maaf, maafkan aku." ucap satria menangis mencium kening pita.
“Mas, kamu datang. Aku.. Aku menunggumu mas selama ini tapi kamu malah mengkhianati aku hiks hiks." ucap pita menangis.
“Maafkan aku sayang, maafkan aku.”
“Mas, aku..aku bahagia di saat-saat terakhirku kau datang menemui ku. Janjimu sudah kau tunaikan tapi sumpah mu kau langgar mas.” ucap pita yang sudah sangat lemah.
“Sayang maafkan aku..maafkan aku." hanya maaf yang mampu satria ucapkan kepada sang pujaan hati.
“Tidak mengapa mas, dengan melihatmu pun aku sudah bahagia mas. Aku..a..aku..ba..bahagia." ucap pita terbata-bata dan tak lama kemudian ia menghembuskan nafas terakhir.
Sungguh, satria bagaikan orang kerasukan melihat sang pujaan hati yang meregang nyawa di hadapannya. Penantian pita selama ini berbuah manis walau sumpah sang kekasih yang tidak akan menduakan nya di langgar oleh satria. Hanya ada seribu penyesalan yang tersisa untuk satria, kesalahan masa di masa lalunya membuat sang pujaan hati harus menderita karenanya. Hingga satria memegang dadanya yang terasa sangat nyeri, ia menakutkan jari-jarinya dengan pita sembari berucap.
“Tunggu aku sayang, kita akan bersama.” ucap satria dan tak lama kemudian ia menyusul pita ke alam keabadian.
Janji dan sumpah memang mudah untuk di ucapkan, tapi menepatinya adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan. Berpuluh-puluh tahun lalu ia menyiksa sang kekasih dengan janji dan sumpah nya itu. Menyesal, satria sungguh menyesal hingga di akhir hayatnya.
“Rinduku kini telah terbayangkan, janji yang kini kita ucapkan telah di tepati. Sumpah ku pun untuk setia padamu telah ku tunaikan. Tapi sumpah mu kau langgar wahai kekasihku.”
_Pita Maharani_