Senja sudah berganti malam, dan langit seakan tersenyum padaku. Awan kelabu yang samar dan bintang-bintang yang mulai bersinar. Keduanya seakan memberi senyum sekaligus sendu. Keduanya mengingatkanku akan dirinya. Dia yang selalu tersenyum untukku. Dia yang selalu menangis karenaku.
Suara detik jam memenuhi ruang kamarku yang sepi, sangat memaksa untuk melirik jarumnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 dini hari. Pikiranku kembali melayang padanya. Sudah satu jam berlalu, sejak aku duduk termenung menatap keluar jendela yang berembun. Butiran kapas kecil mulai berjatuhan mewarnai jalanan kota dengan lembutnya warna suci. Salju kecil yang turun membuat malam ini sedikit berwarna dan menyenangkan.
Aku selalu menyukai salju, dan tadinya bibirku melengkung senang, lalu perlahan menyamar. Pikiranku melayang lagi tertuju padanya. Apa dia baik-baik saja? Apa dia masih menungguku? Perlahan rasa gelisah menyelimuti tubuhku yang dingin, atau mungkin hatiku. Semakin besar rasa itu, membuatku merasa tak menentu.
Aku tahu dirinya masih menungguku. Dan aku tahu, dia tidak sedang dalam perasaan baik. Aku tahu dan merasa yakin. Tapi kenapa aku masih duduk di sini? Tidak bergerak dan hanya merasakan rasa gelisah yang menggali hatiku semakin dalam. Rasa khawatir mulai mengisi lubang dihatiku.
Segera aku menyambar jaket panjang, dan syal merah kesayanganku. Menggunakannya menyelimuti tubuhku, dan membawanya ke luar bersamaku. Langkah kecil di tumpukan salju tipis, perlahan semakin melebar. Aku berlari tanpa memerdulikan angin dingin, dan salju yang menerpaku. Perasaan ini sudah membuatku merasa cukup hangat, berharap dirinya masih menungguku.
Semenit terasa seharian. Aku berusaha berlari lebih cepat. Tetap saja, rasa ingin bertemu ini membuatku merasa seperti siput yang sedang mengikuti perlombaan marathon. Sedetik terasa sejam, semenit terasa seharian. Tidak bisakah aku berlari sedikit lebih cepat?
Akhirnya, aku melihat bayangnya. Perlahan ku hembuskan napas untuk membuatnya kembali normal. Kakiku melangkah kecil mendekat padanya.
Dengan memeluk perutnya, dia terduduk dikursi panjang taman ini. Dari baliknya, aku dapat melihat uap yang dibuatnya. Aku menghentikan langkah kecilku, menatapnya. Pria itu mengacak rambutnya yang disinggahi oleh salju lembut, membuatnya sedikit berantakan.
Ku hela napas kecil dan berusaha menyebut namanya. Aku menunduk, menyadari pria itu tidak mendengarku. Aku menatap kedua kakiku yang melangkah kecil, mendekat padanya.
"Pat..." ujarku kembali menyapa. Aku segera mendengak saat melihat sepasang sepatu berhenti di hadapanku. Pria itu kini berdiri di hadapanku dengan seulas senyum.
Belum sempat aku berkata, dia sudah menimpali, "Aku tahu kamu pasti datang... Hanya perlu menunggu sedikit..."
Aku tak bisa menahan mataku untuk memicing menatapnya yang tersenyum.
Sedikit? Jangan bodoh. Aku tahu berapa lama dia menunggu.
Tanpa bicara, aku duduk di kursi panjang itu. Aku menatap lurus ke depan tanpa menyadari dirinya yang masih membeku. Aku baru mendongak saat merasa dia masih belum duduk di sisiku. Dia masih di sana, pada posisi sebelumnya saat tersenyum padaku. Masih membeku dengan uap putih yang mengepul tiap kali dia menghembuskan napas. Bibirku yang terbuka, kembali tertutup ketika melihatnya menghela napas. Terlihat sangat lelah.
"Kamu masih sama... Tidak berubah..."
Sesaat setelah mengucapkan omong kosong itu, dia duduk di sampingku dengan jarak. Mau tak mau Aku menghela napas panjang menatap jarak di antara kamu. Tidak biasanya dia duduk menjauh dariku. Jujur saja, aku merasa sedikit... kecewa.
"Kenapa aku harus berubah? Aku ya aku." ujarku tegas tanpa menatapnya.
"Kamu tahu ini terakhir kali kita bisa bertemu, bukan?"
Mataku melebar mendengarnya. Aku buru-buru buang muka, berharap dia tak sedikit pun melihat sekelebat raut wajahku yang terkejut.
Benarkah? Aku tidak pernah tahu ini kesempatan terakhirku.
"Mungkin... Aku hanya tidak tahu kapan aku akan kembali... Maaf..." ujarnya pelan. Setidaknya itu dapat membuatku bernapas lega.
Aku kembali menatap ke depan. Meski sangat ingin, aku tidak bisa menatapnya. Aku takut dua mengetahui perasaanku yang sebenarnya.
Keheningan sempat menyeka. Tak ada satu pun dari kami mengeluarkan suara. Banyak yang ingin ku katakan. Sangat banyak. Entah apa yang membuatku terdiam. Hanya saja sesuatu menahanku untuk berbicara.
"Anne... Kamu tahu aku menyukaimu, kan? Aku selalu menunggumu. Meskipun hanya aku yang tersakiti... Terkadang membayangkan kita bersama sudah cukup membuatku tersenyum kembali..."
Aku terdiam mendengarnya yang berkata dengan cepat. Dengan cepat pula gundah gulana menusuk tubuhku. Mebembus hati hingga jantungku. Rasanya hampir tak dapat bernapas. Mendengarnya yang selalu tersakiti, karenaku. Mendengarnya yang selalu menungguku.
"Patrick..."
"Sebenarnya, aku berharap kamu berubah. Bukan kamu, tapi perasaanmu. Aku ingin kita bertemu agar kamu bisa memertimbangkannya. Jika kamu mau menunggu, aku akan pulang lebih cepat. Tapi sepertinya kamu tidak berubah..."
Rasa sakit itu kini menjalar ke seluruh tubuhku. Aku tak sanggup lagi mengangkat kepalaku. Hanya menunduk, berusaha mencekat air mata yang siap mengalir.
"Katakan sesuatu, kenapa diam saja? Aku tidak mau menangis di sini. Jadi aku mohon, katakan kamu akan menungguku..."
Suara yang awalnya keras, perlahan semakin mengecil. Dan aku hanya membisu. Aku tidak bisa mengatakan sepatah katapun dengan bibirku yang membeku. Aku takut dia mendengar suara lirihku. Aku takut dia mengetahui tangisku. Perlahan ku biarkan air mata ini mengalir bebas di pipiku. Dengan sedikit napas yang ku hela. Ku harap dapat menenangkanku.
"Aku... Tidak akan berubah..." kalimat itu muncul begitu saja. Meski sedikit kecewa, aku tidak dapat memerbaiki pikirannya. Dia akan berpikir sebaliknya. Berpikir bahwa aku tidak akan meunggunya. Dan dirinya tidak akan kembali.
"Baiklah... Mungkin memang lebih baik aku tidak kembali. Tidak ada yang menungguku..." suaranya terdengar bergetar. Ia bangkit dari duduknya dan berkata, "Terima kasih Anne... Setidaknya aku bisa melihatmu sebelum aku pergi..."
Aku hanya menunduk, menyembunyikan isakanku dan berusaha menangis dalam diam. Meski sangat perih, melihat langkahnya yang perlahan hilang. Sesaat setelah Patrick pergi, air mataku mulai mengering. Dengan gemetar, ku paksakan tubuhku untuk bangun, hedak meninggalkan tempat itu. Aku masih menunduk sampai sepasang sepatu hitam berhenti di hadapanku. Ku angkat kepalaku perlahan, memastikan itu dirinya.
"Biarkan aku pergi..." ujarnya pelan dengan matanya yang berair. Senyumnya tak terlihat lagi. Mata yang awalnya memancarkan cahaya, kini terlihat sangat redup. Jujur aku sedikit tidak mengerti dengan ucapannya. Aku tidak menahannya untuk pergi. Dan dia kembali seakan ada sesuatu yang memaksanya untuk tinggal.
"Kenapa kamu selalu mengikutiku?! Kenapa aku tidak bisa berjalan selangkahpun tanpa memikirkanmu?! Kenapa aku tidak bisa bertahan sedetikpun tanpa melihatmu?! Kenapa kamu tidak melepasku?!" dia berkata dengan keras. Air matanya kini sudah mengalir membasahi pipinya.
Apa yang harus aku lakukan? Dia membuat rasa sakit yang memudar ini datang kembali dan menyebar dengan cepat. Gundah gulana kembali menusukku. Kali ini aku benar-benar tidak dapat menahannya. Bulir air mata akhirnya jatuh dengan bebas membentuk sungai kecil di pipiku. Ini pertama kali aku melihatnya menangis pilu. Kenapa rasanya sangat sakit. Seketika aku merasa bersalah karena selalu menangis di hadapannya. Rasanya sangat perih, melihat orang yang sangat kamu sayangi menangis dengan rasa sakit.
"Aku tahu yang ku rasakan bukan suka. Tapi cinta. Makanya aku..." kalimatnya terputus begitu mendongak dan melihatku yang tampak menyedihkan, "Aku benci melihatmu menangis..." ujarnya dengan suara lirih.
Kedua tangannya terangkat menyentuh lembut pipiku dan menghapus air mataku dengan jemarinya. Detik berikutnya, dia segera mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan. Setelah menghela napas, dia kembali menatapku.
"Don't cry..." ujarnya pelan sembari memaksa bibirnya untuk melengkung.
"Menangislah jika kamu mau menangis." aku menatap matanya yang kelam. Tak memancarkan sinar sedikitpun. Aku tidak suka melihat bibirnya yang tersenyum tanpa sinar dimatanya. "Kenapa memaksakan senyum seperti itu?" lanjutku betanya.
"Aku... Harusnya tidak menangis dihadapanmu..."
"Pergilah... Dan kembali... Aku menunggumu..."
Patrick menatapku tak percaya. Aku tahu ini gila. Tapi aku tidak boleh hanya diam. Membiarkan dirinya pergi dan tak kembali. Meski harus dengan paksaan, yang terpenting aku harus mengatakan bahwa aku mencintainya.
Aku menarik napas dan membuangnya. Kakiku berjalan selangkah, mendekat padanya.
"Aku... tidak mau berubah... Aku tidak mau membencimu. Aku akan... terus mencintaimu..."
Kini aku melihat secercah cahaya muncul dimatanya. Dingin yang tadinya menyelimutiku, perlahan berganti menjadi hangat. Aku melepas syal merah dari leherku, dan mengenakan padanya. Dia termenung. Aku bahkan tak mampu mengartikan cahaya matanya.
"Kenapa baru sekarang?" suaranya terdengar normal.
Aku menutup mulutku, tak beniat untuk menjawabnya. Akupun tak tahu jawabannya. Aku sudah memaksa diriku untuk mengatakannya lebih awal. Tapi tak bisa. Aku tidak pernah bisa.
Sesaat, tawa kecil mulai terdengar. Dia tertawa. Pria itu melebarkan senyumnya, dengan sinar dimatanya. Tangannya terangkat menggaruk kepala dengan telunjuk.
"Aku tidak akan lama... Tunggu aku... Sebentar saja... Aku akan akan datang saat liburan musim panas..." dia berkata dengan senyum lebar dibibirnya. Kedua tangannya terangkat. Dengan ragu, dia menepuk kedua bahuku degan tangannya.
"Terima kasih..."
Kepalaku sedikit terangkat menatapnya. Bibirku melengkung, memberinya seulas senyum. Tangannya masih menepuk bahuku, sebelum kemunidan menarikku dalam dekapannya. Awalnya aku takut. Aku takut dia merasakan detak jantungku. Tapi setelah merasakan kehangatannya, aku pikir tidak apa-apa. Aku juga merasakan detak kencang jantungnya. Menyenangkan bisa merasakannya.
Hangat yang tidak pernah kusangka bisa senyaman ini.
***
SELESAI
***