"Jika yang merasukinya ada salah satu makhluk lama dan terkuat, kita bisa celaka," kata Jaka Sura.
"Bagaimana ini bisa terjadi, pak ?" tanyaku.
"Apakah kau masih ingat... apa tujuan kalian naik bus ini ? Nah, emosinya tidak stabil, pikirannya kosong terlebih hatinya masih bertekad untuk mengejar pencopet itu, walau itu sudah tidak mungkin," jelasnya, "Jadi, besar kemungkinan ia bisa keluar dari sini hidup-hidup. Maaf... seperti kataku tadi, aku tidak bisa menolongnya,"
Aku tertegun, memandangi Rafi dalam-dalam, "Lalu, apa yang harus kukatakan pada keluarganya, pak ?"
"Sederhana saja, jika dia bisa menghilangkan perasaan itu, maka, ia bisa selamat,"
"Bagaimana, kalau aku yang keluar dari tempat ini, pak ? Lewat salah satu lorong di kanan kiri ini ?"
"Sama saja. Sekalipun kalian bisa keluar dari bus ini, jiwa kalian akan terjebak dalam dimensi ruang dan waktu... kalian bisa saja keluar... akan tetapi, pastilah lupa akan siapa diri kalian,"
"Asal bisa menyelamatkan Rafi, apapun kulakukan," kataku.
"Anak muda, kau jangan bodoh. Ketahuilah, sekalipun kau menjadikan dirimu tumbal... akan tetapi, mereka hanya menginginkan orang yang sudah dipilihnya. Kalau kau nekad, kau malah akan merusak tembok dimensi ruang dan waktu yang akan membahayakan orang lain. Dia sudah dipilih, maka, kau akan dilempar keluar. Jadi, jangan sampai kau merusak keselarasan dan keseimbangan dimensi ini. Jika itu terjadi, keluarga anak muda yang bernama Rafi itu, juga bakal kena getahnya. Itu adalah peraturan yang ada di tempat ini," tawa Jaka Sura.
Aku tertegun. Jaka Sura kembali berkata, "Kalau kau memang benar-benar sahabat sejati... tentunya, takkan tega melihat keluarganya menjadi korban pula, bukan... Nah, sebentar lagi bus ini berhenti, bersiaplah turun sebelum subuh tiba,"
Lorong-lorong gelap itu perlahan-lahan menghilang dan digantikan oleh sebuah cahaya putih menyilaukan mata. Aku memejamkan mata. Hanya sebentar. Begitu mataku terbuka, aku sudah tiba di sebuah tempat yang asing... Sebuah jembatan.
Jembatan itu terbuat dari beton, di sekelilingku sudah banyak orang berkerumun, mereka menatapku tanpa berkedip. Seorang wanita setengah baya menghampiriku, "Nak, apa kau baik-baik saja ? Mengapa kalian berbaring di tempat ini. Bisa sial kalau tidur disini," tanyanya.
"Ha, dimana ini ?" tanyaku sambil menoleh kesana-kemari, Rafi masih terbaring di dekatku.
Kepalaku berdenyut-denyut, seakan baru saja terbentur suatu benda yang cukup keras. Pusing sekali.
Butuh waktu yang cukup lama untuk mengembalikan kesadaran ku sepenuhnya hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku sudah berada di Jembatan Merah, salah satu jembatan di daerah IM, yang konon terkenal dengan keangkerannya, bagaimana aku bisa berada disini padahal beberapa menit lalu masih berada di dalam bus.
"Yoga," suara itu terdengar tak jauh dari tempatku berdiri, saat aku menoleh, seorang wanita berdiri menatapku heran.
"Nar... Narsih," sapaku.
"Kau mengenalnya, nduk ?" tanya seorang pria paruh baya.
"Iya, paman... dia bernama Yoga dan yang tergeletak di aspal itu Rafi, suami Rofi'ah dari kota L," jawab Narsih.
"Ya, sudah kalau begitu... tolong panggil ambulan, tampaknya, si Rafi itu butuh pertolongan,"
Tak lama kemudian, mobil ambulan datang. Dengan sigap para perawat dibantu dengan para penduduk memasukkan tubuh Rafi ke dalam mobil.
Aku dan Narsih ikut masuk ke mobil beberapa saat kemudian ambulan berjalan meninggalkan tempat itu.
***
"Bisakah kau menceritakan apa yang telah terjadi pada Rafi, mas Yoga ?" tanya Narsih saat menunggu perkembangan Rafi di ruang tunggu.
Aku tersenyum kecut sekalipun menceritakan kejadian yang sebenarnya, bisa jadi aku dianggap orang gila. Maka, aku mencoba untuk menceritakannya tanpa harus menyebut-nyebut bus hantu dan pengalaman aneh yang telah menimpa kami.
"Untung kalian, selamat dan tidak bertemu atau naik ke bus hantu," kata Narsih.
"Bus hantu ?" tanyaku pura-pura terkejut, "Apakah kau pernah melihat bus tersebut ?"
"Pernahkah kau mendengar isu tentang Bus Hantu, mas ?"
Aku menggeleng-gelengkan kepala, sambil tersenyum kecut aku berkata, "Aku sama sekali tak mendengarnya, bahkan tidak mempercayai adanya bus hantu,"
"Mas... aku yakin, kau tidak sepenuhnya berbicara jujur kepadaku. Ketahuilah, rumor tentang Bus Hantu, memang benar adanya. namun, hanya segelintir orang yang mengalaminya karena ... bisa kau bayangkan, bagaimana jika rumor ini diungkap ke publik ?"
Aku memandang wajah Narsih dalam-dalam... ingin aku berbicara jujur, tapi, ragu. Saat itu yang terbayang di benakku hanya satu... Rafi.
Sewaktu pertama kali aku melihat keadaannya tepat saat dimasukkan ke dalam mobil ambulan. Pandangannya tampak kosong, bibirnya bergetar, meracau tidak keruan. Sampai kini keadaannya belum menunjukkan adanya kemajuan. Dokter spesialis pun angkat tangan dan pihak keluarga putus asa berniat membawa pulang Rafi, hari ini.
Narsih balas menatapku, tajam seakan hendak menelanjangi kebohonganku yang berusaha kusembunyikan mati-matian. Hingga akhirnya, dia berkata.
"Mas, kau tak pandai merahasiakan sesuatu. Aku bisa melihatnya di matamu. Kalaupun kau tidak mempercayaiku... tak apa... tapi, aku tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Aku tak menyalahkan sikapmu ini, karena kau punya alasan sendiri. Tapi, setiap orang yang pernah menumpang di Bus Hantu... mereka mengalami gejala yang sama seperti yang dialami oleh Rafi. Kau bisa menipu semua orang, tapi, tidak padaku... karena aku tahu,"
"Apakah kau bisa membuktikannya ? Jika bisa aku akan berterus terang padamu," tantangku.
"Bukti pertama sudah kukatakan padamu. Kau selalu menangis, menyalahkan dirimu dan menyebut-nyebut tentang seandainya aku bisa mencegahmu menaiki bus itu, mungkin ini tidak akan terjadi... itu adalah bukti kedua dan masih banyak bukti lagi yang menyatakan bahwa kalian tanpa sengaja menaiki bus tersebut," jelas Narsih.
"Apakah kau selalu mengawasi ku selama ini ?" tanyaku.
"Bisa dibilang iya, bisa juga dibilang tidak...
Beberapa waktu lalu, saat aku ingin menggantikan mu menjaga Rafi... tanpa sengaja aku mendengarmu menyebut-nyebut bus hantu. Itulah yang membuatku yakin," ujar Narsih.
Aku tersenyum.
"Kau benar, Sih... yah, aku mengaku kalah," kataku kemudian lalu menceritakan kejadian yang kualami bersama Rafi. Narsih mendengarkan ceritaku dengan penuh perhatian hingga akhirnya...
"Mas... beruntung kau bisa selamat. Namun, permasalahannya sekarang adalah, Rafi...."
Aku mengangguk perlahan sambil mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari saku bajuku lalu menyodorkannya kepada Narsih.
"Aku tak tahu, bagaimana amplop berisi uang empat juta rupiah ini bisa ada di dalam kantong bajuku. Setahuku, uang transportasi yang digunakan untuk perjalanan pulang pergi sudah menipis," kataku.
"Mungkinkah, orang yang bernama Jaka Sura itu memberikannya padamu ?"
"Entahlah, sebelum aku keluar dari bus itu... Jaka Sura berkata....
'uang senilai dua juta itu, tidak sebanding dengan nyawamu, nak... kalau kau keluar dari sini, berikanlah apa yang menjadi hak keluarga Rafi. Sementara, Nak Rafi... jika Tuhan menghendakinya, maka, dia akan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya... tapi, sebaliknya, sampaikan pada pihak keluarga ikhlas adalah jalan terbaik untuk mendapatkan sesuatu yang lebih berharga daripada uang senilai dua juta,'.... " kataku.
***
Satu bulan kemudian...
Aku dan Narsih mendengar kabar bahwa Rafi telah berpulang ke Rahmatullah.
Windarti, isteri Rafi mengatakan bahwa... ia bertemu dengan suaminya lewat mimpi. Rafi berkata, "Nduk Ti... kalau dipikir-pikir... apa yang dikatakan Yoga itu benar... mungkin karena aku terlalu menyayangi dan mencintaimu, membuatku gelap mata dan lepas kendali. Aku mendapat pelajaran yang berharga. Jadi, tak perlu bersedih dengan kepergianku. Uang bisa dicari tapi, keluarga yang bahagia hanya sekali dalam seumur hidup. Aku pergi, ya... kita pasti akan bertemu lagi kelak dan saat itu tiba... kita tidak mungkin berpisah lagi,"
Perjalanan Astral yang kami alami, ternyata merenggut nyawa Rafi. Uang senilai empat juta rupiah itu kuberikan pada pihak keluarga dan aku... seandainya bisa menggantikan Rafi .....
Yah, itulah perjalanan yang kualami bersama mendiang Rafi. Cerita tentang Bus Hantu, masih menjadi misteri di kota kami dan sekitarnya.
_____ T a m a t _____
( 28 Januari 2023 )