“Apakah musim panas di Bulan Agustus memiliki arti tanpa dirimu?”
Pertanyaan itu terlontar dari bibir tipis Mira, iris jelaga sekelam malam itu memandang jauh ke depan. Memandang pada hamparan danau yang bergerak tenang mengikuti arah angin. Sedangkan Raka, sosok pemuda bersurai coklat mengukir simpul mendengar penuturan Mira, sahabatnya sejak kecil.
Di hari kelulusan, Mira menjadi sedikit melankolis setelah mengetahui dirinya akan berangkat ke Amerika bulan depan untuk melanjutkan study disana.
“Aku akan pulang setiap libur semester.”
“Sebulan sekali? Setahun sekali? Dua tahun sekali? Atau tidak sama sekali?”
Mira masih menatap danau di hadapan mereka, raut wajahnya pun datar. Raka memperhatikan bagaimana garis wajah Mira dari samping, gadis itu tampak lebih dewasa dengan rambut yang di kuncir.
“Mira, aku akan sering menghubungimu. Bulan lalu bahkan kau tidak peduli ketika mendengar kabar aku akan kuliah di salah satu kampus bergengsi di sana.” Ucap Raka mengalihkan pandangan pada danau, matanya berkedip lebih cepat ketika angin bertiup kencang. Angin musim panas selalu memiliki aroma yang unik.
“Itu beda lagi, Raka! Kau tidak mengatakan akan pergi secepat ini!” kali ini Mira menatap Raka, ia mendengus kesal kemudian bangkit dan berjalan meninggalkan Raka yang masih duduk di pinggir danau. Pemuda itu menatap sejenak punggung Mira yang berjalan menjauh, helaan napas berat keluar dari celah bibirnya. Raka memilih bangkit dan mengikuti Mira dari belakang.
“Mira!” panggilnya. Gadis itu berbalik dengan tatapan datar seolah tak memiliki selera untuk hidup lagi, hal itu mengundang tawa Raka.
“Kau menertawakan apa?!” sewot Mira. Gadis itu hendak berjalan kembali sebelum sesuatu yang keras menghantam punggungnya. “Aduh! Sakit!” ia berbalik dan menatap Raka kesal.
“Maaf.” dan si pelaku berujar seolah tidak bersalah dengan senyum tipis di bibirnya. Raka memilih mendekat, mengikis jarak kemudian membersihkan pundak Mira yang terkena lemparan kerikil tadi, ada sedikit pasir di sana.
“Makanya! Kau jangan marah seperti anak kecil begini. Kau selalu lari setiap marah dan tidak mau bicara, kita bukan anak kecil lagi.” ujar Raka, pemuda itu tersenyum dan mencubit pipi Mira dengan perasaan gemas, kemudian tangannya terulur meraih kedua tangan mungil yang sedari tadi terkepal karena kesal. Raka mengelus punggung tangan Mira lembut sebelum menempelkannya pada kedua pipi Mira, sontak hal itu mengundang semburat merah muda muncul begitu saja.
“Tersenyumlah sedikit, kita berada di tempat rahasia. Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa hanya kebahagiaan yang kita ukir disini?”
Mira terdiam, kepalanya menunduk dan ia menarik tangannya dari genggaman Raka. Gadis itu menghembuskan nafas sedikit kasar sebelum kembali menatap Raka, saat itulah angin berhembus dan membawa sehelai daun terjatuh tepat di atas kepala Raka.
Gadis berkuncir kuda itu langsung saja menjinjit untuk meraih daun yang berada diatas kepala Raka dan seketika raut wajahnya berbinar ketika tahu daun apa yang kini berada di genggamannya.
“Raka! Kau tahu mitos tentang daun Momiji?!” seru Mira bersemangat. Memang benar, orang bergolongan darah A memiliki sifat yang sulit ditebak dan perasaan yang mudah berubah-ubah.
“Tentang harapan yang akan terkabul jika kita berhasil menangkap daunnya sebelum jatuh ke tanah? Daunnya tersangkut di kepalaku, apa itu bisa dihitung bahwa kita bisa mengucapkan harapan?” ucap Raka, gadis dihadapannya ini mengangguk dengan semangat dan mengukir senyum lebar, melihat itu Raka juga ikut tersenyum.
“Ayo, ucapkan harapanmu!”
Daun itu kini berpindah tangan, Raka memandangnya sejenak kemudian membawa daun itu ke arah wajahnya dan menutupi mulut serta hidungnya. Kini, hanya kedua mata Raka yang tampak oleh Mira.
“Mungkin aku harus mengucapkan harapanku seperti ini?” tanya Raka dengan nada jenaka. Mira menggerling malas, ia melipat tangan di depan dada seraya berkata, “Dan mungkin tidak perlu, sebab harapanmu sudah terwujud bulan depan, iya ‘kan?”
Tuh kan, sikapnya berubah lagi. Batin Raka.
“Belum kok,”
“Apanya? Kau kan akan ke Amerika untuk kuliah!”
“Itu cita-cita, bukan harapan. Kau ini sebenarnya masih anak kecil ‘kan?”
“Ku fikir sama saja.”
Raka terkekeh di balik daun yang di genggamnya, ia melirik ke atas sebelum kembali menatap Mira intens. Di balik daun Raka menjilat bibirnya sebelum mengajukan sebuah pertanyaan kepada Mira, “Apa boleh ku sebutkan dengan suara?” tanya Raka dan Mira menjawab berupa satu anggukan.
“Kau percaya dengan hal seperti ini, Mira?”
“Tidak juga, sih.”
“Jika harapanku terwujud, apa kau akan percaya?” manik Raka menelisik ekspresi Mira ketika gadis itu ikut memandangnya. Semilir angin kembali berhembus, membawa aroma khas musim panas yang menggelitik perut bawah Raka, seperti ada ribuan kupu-kupu dibawah sana yang tak sabar untuk terbang keluar.
“Tergantung.” Jawab Mira
Simpul terlukis, gemerisik daun yang saling bergesekan menambah kesan menggebu diantara mereka. Atau mungkin hanya Raka saja yang merasakan hal itu, atau bisa saja Mira juga merasakan hal serupa?
“Harapanku adalah..” ada jutaan rasa yang kian menggelitik dibawah sana, degup jantungnya pun ikut tak bisa untuk diajak kompromi ketika ia mengira suara detakannya itu mungkin mampu didengar oleh Mira.
Sedangkan gadis itu hanya diam, menanti kalimat yang akan Raka ucapkan dan entah mengapa Mira merasa begitu antusias dengan debar di balik rusuknya yang kian bergemuruh. Pandangannya terpaku pada iris coklat yang seolah ikut menyelami jelaga miliknya. Hal itu lagi-lagi membuat Mira tersipu tanpa mampu ia tahan.
“Harapanku adalah..” ada jeda sebelum Raka menghembuskan napas untuk menetralkan degup jantungnya, ia melanjutkan, “Aku ingin Mira mencintaiku seperti aku mencintainya.”
Jika air menyimpan kenangan, maka angin membawa tiap helai harapan dalam dedaunan yang ikut terbang bersamanya. Seolah membawa pelita di tengah gelapnya penantian, Mira kini menyadari bahwa cinta yang ia pendam ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
“Kau tahu, Raka?’ Mira tersenyum, ia membuang pandang ke arah setumpuk daun di pinggir danau, sedikit tersipu malu sebenarnya jika harus menatap Raka.
“Apa?”
“Ku fikir, harapanmu itu sudah terwujud.”
Sore itu, senja yang datang menjadi saksi atas dua senyum yang merekah bahagia. Mira kini ikut paham, tentang apa artinya musim panas di bulan Agustus tanpa hadirnya Raka. Debaran cinta itu akan menjelma menjadi debaran rindu yang akan menumpuk, namun selama masih ada harapan untuk bersama, mungkin keduanya mampu melewati musim panas tanpa harus duduk berseblahan dengan sepiring semangka dingin.