Tepat 1 tahun sudah Rea berkuliah, dia banyak bergaul, beradaptasi dengan baik dan memiliki teman teman baik. Tanisa, Nina, Danu dan Kevin namanya. Pertemanan mereka selalu baik baik saja, mereka berempat tidak pernah membedakan tapi sayangnya Rea tidak pernah berpikir demikian.
Di kantin kampus yang sudah mulai ramai, Rea, Tanisa, Danu, dan Kevin duduk dengan cemilan masing masing ditangan. Danu dari tadi sudah kesusahan sendiri karna harus mengejar matkulnya, sebenernya Kevin juga sama tapi dia mah bodo amat, "matkulnya gampang ini jadi tinggal nyalin aja," kira kira begitu katanya.
"Sumpah sumpah sumpah bantuin please satu lagi!" heboh Danu sambil menepuk bahu Kevin, namun bukannya menanggapi Kevin malah balas menepuk dan marah-marah.
"Apaan si Dan ah elah gue lagi main ML kalah kan!" -Kevin
"Bantuin tugas gue satu lagi!" - Danu
"Gue mana tau!" - Kevin
"Kan soalnya sama!" - Danu
"YA KAN GUE BELOM NGERJAIN! RIBET LO AH TANYA AJA SAMA SI REA GUE LAGI MAIN!" final Kevin dengan membara, lalu setelahnya dia pergi menjauh untuk kembali fokus pada gamenya.
Rea akhirnya menghampiri tanpa dipanggil, Tanisa juga ikut menghampiri Danu berniat membantu temannya yang keliatan sudah frustasi.
"Soal terakhir tinggal disimpulin aja, lo udah cari temanya kan?" Tanisa duluan yang membuka suara.
"Pake yang kemarin gue kasih aja, tinggal lo tambahin kata katanya sedikit. Terus jangan lupa cantumin kata penutup sama tanda tangan." - Rea.
5 menit setelahnya Danu hanya fokus pada tugasnya dan, "SELESAI!!!" - Danu
"Widih udah selesai lo? liat dong hehehe." itu Kevin yang meminta dengan tanpa dosa. Tentu saja Danu tidak memberikan itu, "Enak aja lo gue minta tolong gak ditanggepin, dipukul juga, terus dateng dateng minta contekan. Cakep kali lu begitu?" ya begitulah katanya.
Di sela-sela pertengkaran yang tidak jelas Rea dan Tanisa sibuk pada novel yang sedari tadi mereka baca berdua. Novel itu keluaran terbaru yang lagi ramai-ramainya di media sosial.
"Kan gue bilang juga apa pasti endingnya kaya gini." - Rea
"Iya, gak sesuai ekspetasi gue nyesel deh beli." -Tanisa
Rea tertawa julid, "Untung gue ga beli duluan, lain kali mah Sa kalo mau beli buku jangan cuma liat hebohnya."
"Ya gapapa sih, lebih baik menyesal membeli daripada gak beli." - Tanisa
Rea tak peduli, dia mengambil ponselnya untuk mengecek pesan yang beberapa menit lalu masuk. Ternyata itu Nina yang memberi tahu mereka kalau dia akan segera datang.
"Nina otw, lo berdua berhenti ga ributnya gue pukul nih!" Rea mengancam kedua temannya yang sedari tadi masih saja rebutan buku.
Kevin cemberut, berniat ingin mengadu biar dibantu tapi langsung diurungkan saat Rea dan Tanisa menatap tajam.
"Apa lo? makan tuh ML gak mau kita bantuin lo." ucap Rea dan Tanisa berbarengan.
Danu tergelak meledek habis-habisan Kevin yang misuh-misuh dan pusing sendiri. Dia mana ngerti cara ngerjainnya, maksudnya gampang kan kalo nyalin punya Danu.
"Hai Hai Nina datang!" -Nina bergabung setelah menyelesaikan ujiannya.
"Ko lama banget deh Nin bukannya seharusnya cuma 30 menit?" Tanisa bertanya.
"Tadi ada yang eror makanya undur bentar." Nina menjawab sambil mengeluarkan ponselnya, perhatian keempatnya langsung menuju pada Nina bahkan Kevin yang tadi masih merajuk langsung menganga takjub.
"WOI ITUKAN IPONG KELUARAN BARU?!" -Kevin berteriak heboh, disusul respon lainnya.
"Wah udah gila beneran lo Nin" -Kevin
"Lo kapan belinya please ko tiba tiba udah ada?" - Tanisa
Nina tersenyum bangga, memang niat awalnya ingin pamer aja si. Dia suka melihat respon teman temannya.
Sambil tertawa bangga dia bilang, "Keren kan? gue udah beli ini dari minggu lalu, sengaja aja baru gue bawa."
"Terus hp lo yang lama? itukan juga masih bagus!" Tanisa
"Gue kasih adek gue, Hp dia rusak daripada dia yang beli Hp baru mending gue yakan." Nina
"Licik bener otak lo." Kevin
"Ya harus dong!"
Menit menit berikutnya mereka habiskan dengan berbincang seru. Bukan hanya membahas hal hal random, mereka juga sekalian merancang tugas kelompok yang tenggatnya tinggal 1 minggu. Dan saking fokusnya berbincang mereka melupakan sesuatu, mereka lupa akan keadaan hati Rea.
"Eh udah mau magrib, cabut yuk." Danu merapihkan bukunya saat melihat jam yang sudah semakin sore.
"Yuk, jangan lupa besok di rumah gue. Yang telat traktir ya!" Nina.
"Dih males banget kalo gitu kan pasti gue yang telat." Kevin
"Ya siapa suruh lo lemot." Rea
"Nin gue bareng dong." Tanisa
"Ya ayo." Nina
Pukul 17.00 mereka sudah bersiap ingin pergi namun tidak dengan Rea yang malah asik bermain ponselnya. Danu yang heran pun bertanya, "Lo gak sekalian bareng kita Re?"
"Gue masih nunggu Lisa, kalian duluan aja." Rea.
"Mau kita tungguin ga Re?" Nina
"Gak usah heh, udah otw kesini ko anaknya." Rea
"Ya udah kalo gitu, kita duluan ya Re!"
Setelah semua temannya pergi, Rea langsung misuh misuh sendiri. Dia sebal, dia iri, dia benar benar emosi karna berfikir teman-temannya selalu sengaja memamerkan hal-hal yang tidak bisa ia miliki di hadapannya.
"Apaan si dikira hpnya bagus apa? YA BAGUSLAH PAKE TANYA LAGI! maksud Nina apaan si pamer kaya gitu? di kira cuma dia aja kali yang bisa beli? Ya emang si bener, gue mana mampu utang aja udah bejibun, bayar kos bulan ini aja belum tentu mampu yang ada gue ditempeleng lagi sama si Lisa kalo bulan ini nunggak lagi."
Benar saja, saat lagi enak enak misuh kepalanya ditempeleng dari belakang, siapa lagi pelakunya kalau bukan Lisa.
"Lo sehari ga tempeleng pala gue ga asik ya?" -Rea
"Lah lo sendiri sehari aja ga misuh ga hidup ya?" -Lisa
Amarah Rea sudah di puncaknya. Kalau saja ini bukan kampus dan yang dihadapinya bukan Lisa sudah ia amuk manusia yang mengganggunya.
"Kenapa lagi si Re? tadi siang masih oke aja tau tau misuh." Lisa memilih duduk dihadapan Rea, berniat memberi ruang untuk teman satu kosnya bercerita.
"Gue tuh sebel, SEBEL BANGET SAMPE RASANYA MAU MAKAN ORANG!!" -Rea
"Ya kenapa sebelnya?" -Lisa
"Gue sebel sama Nina. Kesel banget mau gue cabik cabik aja tuh muka Ihhhhh!!" Rea meluapkan emosinya dengan cara meremas Tote bag yang ia bawa. Lisa yang melihat itu hanya menghela napasnya.
Dia tahu, dia jelas tahu kalau Rea sedang iri hati. Pasti Nina habis menunjukan sesuatu yang tidak ia punya, dan kalau benar begitu Rea pasti akan mengamuk menyalahkan dunia karna ia tak mampu seperti teman-temannya.
"Gak jelas lo, kesel kesel doang alasannya gak ada." Lisa
"ADA! siapa bilang gak ada?" Rea
"Lah terus gue tanya kenapa gak dijawab?" Lisa
"kesel gue kesellll banget sama si Nina, dia tadi pamer punya hp baru, mana keluaran terbaru, temen temen yang lain pada muji dia, mana tadi dia juga sok-sokan nawarin rumahnya buat tempat bikin projek katanya rumahnya cocok sama tema yang kita ambil, rumahnya enak, rumahnya gede, banyak makanan segala macem!" Rea
"Terus salahnya dimana? itu kan fakta." Lisa
"IH LISA KO LO NGEBELA DIA SI?!" Rea
"Lah gue mah bukan ngebela tapi itu emang beneran, fakta, nyata. Lonya aja iri." Lisa
"Emang! EMANG IYA EMANG GUE IRI TERUS KENAPA?" Rea
"Rea, gue udah bilang berkali kali sama lo buat berhenti iri sama siapapun. Temen-temen lo itu pada baik banget sama lo, mereka selalu ngebantu lo tapi kenapa lo selalu aja iri sama mereka?" Lisa
"Karna gue gak bisa kaya mereka Lis, gue iri karna nasib gue gak sama kaya mereka. Gue juga mau punya barang barang bagus kaya mereka, punya rumah bagus kaya mereka, tapi kenapa gak bisa?" Rea
"Karna lo miskin, apa lagi?" Lisa
"LISA!!!!" Rea
Lisa terbahak. Dia kenal betul temannya yang satu ini, walaupun hatinya terus iri, Rea adalah pribadi yang baik hati. Dia selalu membantu teman temannya, dia peduli, namun sayang sifat irinya tidak pernah hilang. Dia selalu memaksakan sesuatu yang tidak bisa ia punya sampai menyuruh orang tuanya berhutang sana sini hanya untuk memenuhi semua kemauannya.
Lisa prihatin, dia sudah banyak menasehati Rea untuk berubah tapi memang dasarnya dia keras kepala. Hatinya sudah beku oleh rasa iri dan dengki, tidak mudah untuk merubahnya.
"Udahlah Re, hidup mereka sama lo kan emang beda, lo juga udah sadar akan hal itu dari awal. Kenapa harus iri terus? emangnya kenapa kalo lo gak bisa kaya mereka? emangnya dosa? kan engga." Lisa
"Tapi gue mau juga kaya mereka Lisaaa! gue juga mau jadi kaya raya!" Rea
"Ya kerja, nabung, cari uang yang banyak. Berharap kaya tapi kerjaan lo cuma nyuruh ortu lo utang sana sini mana bisa?" Lisa
"Udah lah, males gue cerita sama lo. Bukannya di dukung malah kena ceramah, ustadzah lo?" Ucap Rea yang bangkit dari duduknya dan hendak pergi lebih dulu namun tertahan karena Lisa kembali menoyor kepalanya.
"Udah dapet ceramah gratis bukan makasih." Ucap Lisa yang masih berusaha untuk mengingatkan.
"JANGAN SUKA NOYOR KEPALA GUE KENAPA FITRAH INI!" Tegas Rea kesal
"Fitrah ngerti, tapi hati iri dengki, waras kah begitu?" Ucap Lisa mengingatkan.
"LISA KURANG AJAR YA LO!" Ucap Rea marah.
Begitulah sifat Rea yang sesungguhnya, arogan, tidak mau kalah dan harus dituruti. Lisa teman kostnya selalu menasehati nya, tapi Rea tetaplah si Rea kepala batu yang terus memaksakan kehendak kepada dirinya sendiri tanpa sadari dia membuat dirinya sendiri terkena tekanan batin.
Mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Mengikuti cara hidup orang yang tanpa sadar malah membuat mereka sendiri tambah menderita.
Maka dari itu, berhenti untuk hidup seperti orang lain. Berhenti egois dan mulai pikirkanlah semua konsekuensi jangka panjang sebelum kalian melakukan suatu hal. Yang kaya belum tentu bahagia. Namun yang hidup tanpa banyak gaya pasti akan sejahtera.