Pernahkah kalian mencintai seseorang karena ilmunya tapi di sisi lain kalian juga ikut mencintai seseorang karena sifatnya? Ya, itulah yang dirasakan oleh Ruby Fenandy Zebina seorang gadis belia yang baru menginjak usia 16 tahun.
Kisah ini di adaptasi dari kisah seorang gadis SMA yang baru merasakan apa itu yang dinamakan dengan cinta.
Kisah ini bermula ketika seorang gadis remaja bernama Ruby Fenandy Zebina mulai menyukai teman sekelasnya yang bernama Leon Stuart Collin dan teman masa kecilnya yang bernama Charles Darwin Anderson.
Pada suatu hari ada seorang gadis remaja yang tidak begitu cantik dan tidak begitu jelek tapi dia memiliki rasa penasaran yang begitu besar, baik hati, serta ceria.
Gadis itu bernama Ruby Fenandy Zebina, dia memiliki paras yang lumayan, matanya berwarna hitam cerah dan rambutnya berwarna hitam pekat. Dia tidak pendek tidak juga terlalu tinggi. Dia juga tidak terlalu gemuk ataupun terlalu kurus.
Saat Ruby mulai memasuki masa-masa remaja di SMA, dia mulai tertarik dengan yang namanya cinta. Dia pun juga ingin merasakan apa yang dirasakan oleh teman-teman SMP nya.
Akhirnya setelah dia memasuki SMA, dia pun mulai menyatakan perasaannya kepada teman masa kecilnya yaitu, Charles Darwin Anderson. Ya walaupun Ruby dan Charles hanya sekedar kenal karena mereka pernah satu sekolah sewaktu kecil, tapi hubungan mereka tidak lebih hanya sebatas teman saja.
Karena Ruby sudah lama mengagumi Charles jadi mau tidak mau akhirnya dia memutuskan untuk menyatakan perasaannya kepada Charles lewat WeChat.
"Hai Charles, sebenernya aku suka sama kamu, kau tahu?! hehe." Ucap Ruby memulai percakapan pada teman masa kecilnya senada malu.
"Oh." Jawab Charles singkat sehingga menimbulkan tanda tanya yang besar di pikiran Ruby.
"Kenapa 'oh' saja jawabnya?" Tanya Ruby dengan perasaan yang gundah nan kecewa.
"Terus aku harus bilang apa?" Tanya Charles senada kesal dan sedikit risih.
"Maaf ya, anggap saja aku tidak pernah bilang seperti itu ya jangan di ambil hati, sekali lagi aku minta maaf." Ucap Ruby dengan perasaan yang menyesal dan bercampur aduk.
"Lah malah minta maaf santai saja, Ru." Ucap Charles mencoba menenangkan perasaan Ruby.
"Iya." Ucap Ruby sambil tersenyum walaupun hatinya tidak sanggup menahan rasa sakit untuk yang pertama kalinya bagi dia.
Setelah Ruby menyatakan perasaannya kepada Charles, teman masa kecilnya, akhirnya Ruby pun berusaha untuk melupakannya dengan cara menceritakan kembali apa yang dialaminya kepada teman sekelasnya yang bernama Leon Stuart Collin.
Ruby menceritakan apa yang dirasakannya kepada Leon lewat WeChat, karena saat itu sekolah mereka sedang melakukan study from home, hal itu dikarenakan adanya sebuah virus yang sangat mematikan.
"Eemmm... Leon, aku mau curhat boleh gak?" Tanya Ruby memulai percakapan di WeChat-nya.
"Silahkan." Ucap Leon singkat.
"Boleh nih??" Tanya Ruby sekali lagi.
"Iya boleh." Ucap Leon meyakinkan Ruby.
"Baiklah jadi begini, kan aku pernah menyatakan perasaan ku ke laki-laki, tapi saat aku bilang suka padanya dia hanya bilang 'oh' doang dah." Ucap Ruby sedih.
"Sok cuek banget gak sih dia?" Tanya Ruby meminta pendapat.
"Beuhh kalau kayak gitu mah susah emang, Ru."
"Tapi kalau kamu pantang menyerah itu tidak masalah." Ucap Leon memberikan pendapatnya.
"Benar juga."
"Mau move on juga susah soalnya dia rumahnya dekat, sekolah bareng dari kecil, dan sekarang dia juga les di tempat aku les juga lagi." Ucap Ruby sesal.
"Nah, iya lebih baik kamu, deketin lagi, tapi kalau dia tetap seperti itu lebih baik kamu mundur saja, Ru." Ucap Leon menyarankan.
"Iya."
"Ngomong-ngomong maaf ya aku jadi menceritakan yang seharusnya tidak aku ceritakan padamu, Leon." Ucap Ruby meminta maaf.
"Iya gpp, Ru."
"Ya, namanya cinta tidak selamanya indah seperti itu kan?!" Ucap Leon mencoba menenangkan perasaan Ruby.
"Iya, kadang indah kadang tidak, sama halnya seperti roda yang berputar kadang di atas kadang juga berada di bawah." Ucap Ruby
"Iya, Ru benar, aku juga pernah merasakan hal itu, rasanya memang sakit, seperti dicabik-cabik hatiku." Ucap Leon yang ikut menceritakan kembali kepada Ruby apa yang pernah dialami olehnya dulu.
"Kita sama-sama merasakan sakit hati ya." Ucap Ruby dengan percaya dirinya.
"Iya benar sama-sama merasakan. Dan itu pasti hancur banget rasanya." Tambah Leon.
"Iya." Ucap Ruby singkat.
"Hemm... Ngomong-ngomong bagaimana ya caranya untuk bisa move on darinya ya??" Tanya Leon kepada Ruby yang baru pertama kali merasakan hal itu.
"Entahlah." Jawabnya Ruby.
"Kamu sendiri tau caranya move on?" Tanya Ruby balik.
"Tentu saja tau." Jawab Leon puas.
"Ah?! Bagaimana caranya?" Tanya Ruby penasaran.
"Caranya cukup mudah yaitu, cari orang baru dan berusaha untuk akrab dengannya."
"Nanti lama-kelamaan kamu akan lupa dengannya." Ucap Leon menjelaskan.
"Seperti kita ya." Celetuk Ruby.
"Hahaha, benar juga." Ucap Leon setuju.
"Iya kan?" Tanya Ruby sekali lagi.
"Iya, Ru."
"Tapi kamu masih kepikiran dengannya?" Tanya Leon penasaran.
"Iya, masih. Terlebih kalau dia sedang mengerjakan tugasnya aku suka melihat kearahnya. Mana mata aku di buat tidak fokus pada materi yang kasih oleh guru les ku lagi." Ucap Ruby menjelaskan.
"Eemmm... Susah banget tahu untuk melupakannya, dan itu juga butuh waktu yang lama untuk mengobati hati yang tersakiti." Ucap Leon.
"Iya, kau benar Leon." Ucap Ruby kembali sedih.
"Tapi bukankah itu seru?!!" Tanya Leon pada Ruby.
"Seru katamu?!" Bantah Ruby.
"Haha, tidak bukan begitu." Balas Leon.
"Kan kita sudah terlatih dalam hal patah hati." Ucapnya.
"Hahahahaha, benar juga ucapanmu." Jawab Ruby kembali bersemangat.
" Sumpah, aku penasaran banget dah!!" Ucap Leon secara tiba-tiba di WeChat nya.
"Penasaran karena hal apa?" Tanya Ruby yang ikut penasaran.
"Tentang kehidupannya." Jelas Leon.
"Maksudmu kesehariannya begitu?" Tanya Ruby.
"Iya, Ru." Jawab Leon singkat.
"Dia itu orangnya baik, perhatian, pintar pula." Ucap Ruby sambil mengingat kembali tentang Charles.
"Tidak, bukan dia yang aku maksud." Ucapnya.
"Lalu siapa?" Tanya Ruby
"Yang aku maksud itu keseharian dia (perempuan)." Ucapnya
"Keseharian aku? Atau siapa? Aku tidak paham dengan apa yang kamu maksud, Leon." Ucap Ruby yang semakin kebingungan.
"Aku penasaran banget dengannya, dia jarang banget buat status di WeChat soalnya." Jelas Leon menghilangkan rasa penasaran Ruby.
"Siapa? Temanmu yg perempuan?" Tanya Ruby semakin menjadi.
"Iya." Ucap Leon singkat.
"Owh... Mungkin saja dia sudah punya yang lain terus kamu di privat olehnya. Tapi aku juga tidak tahu, karena ini hanyalah pendapatku saja." Ucap Ruby memberikan pendapatnya kepada Leon.
"Huwa jangan bilang seperti itu." Jawabnya sedih.
"Kan bisa jadi, kita kan tidak tau kesehariannya." Ucap Ruby berusaha menenangkan perasaan Leon.
"Benar, jadi penasaran aku." Ucap Leon yang merasakan sedikit terhibur.
"Iya." Jawab Ruby menutup percakapan mereka di WeChat.
Waktu pun terus berputar, dan kini Ruby sudah kelas XI SMA, setelah dia melakukan study from home selama kurang lebih satu setengah tahun, dia banyak menceritakan kesehariannya kepada Leon yang sudah dia anggap sebagai teman laki-laki yang paling spesial baginya.
Lalu karena bentuk perhatian serta sifat Leon yang begitu baik, membuat Ruby semakin nyaman dengannya dan perlahan menaruh rasa suka padanya. Setelah beberapa bulan berlalu akhirnya Ruby pun memutuskan untuk menyatakan perasaannya sekali lagi kepada orang yang berbeda, orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah teman sekelasnya yaitu Leon Stuart Collin.
Karena Ruby merasa malu untuk menyatakan perasaannya secara langsung kepada Leon akhirnya dia memutuskan untuk berbicara dengannya lewat WeChat.
"Leon, kamu tahu ternyata di kelas kita juga ada yang suka sama kamu, kau tahu?!" Ucap Ruby secara tiba-tiba di WeChat.
"Hah?? Memangnya siapa??" Tanya Leon terkejut saat membaca WeChat dari Ruby
"Ada tahu, kalau kamu penasaran tanya saja ke Theresa dan Grace, mereka berdua tahu bagaimana ceritanya." Ucap Ruby yang masih tidak ingin memberitahukannya kepada Leon.
"Hemm siapa ya??" Tanya Leon yang di buat bingung oleh Ruby.
Beberapa hari pun berlalu dan Ruby pun menanyakan hal itu kembali kepada Leon lewat WeChat.
"Leon, kamu masih penasaran dengan yang waktu itu aku bilang??" Tanya Ruby yang secara tiba-tiba menanyakan kembali hal itu kepada Leon.
"Ya begitulah." Ucap Leon.
"Eemmm... Kalau kamu ingin tahu aku akan memberitahu mu clue nya, nama dia itu memiliki arti permata merah." Ucap Ruby yang memberi clue kepada Leon.
"Ruby??" Tanya Leon.
"Ya, menurut kamu di kelas kita yang namanya memiliki arti 'permata merah' siapa lagi?!" Tanya Ruby tidak sabaran.
"Ya, tidak ada lagi." Ucap Leon yang mulai tahu maksudnya Ruby.
"Sekarang kamu sudah tahu kan siapa yang menyukaimu di kelas." Ucap Ruby dengan sangat percaya dirinya.
"Jadi selama ini kamu suka padaku???" Tanya Leon.
"Eemm.... ya bisa di bilang sudah beberapa bulan yang lalu aku menyukaimu." Ucap Ruby menjelaskan.
"Hemm... Baiklah jadi bagaimana ini??" Tanya Leon pada Ruby untuk memastikan perasaannya.
"Aku tidak tahu. Maaf."
"Terserah kamu saja. Leon."Ucap Ruby yang mulai malu-malu dan bingung disaat yang bersamaan.
"Waduh bagaimana ya hehe..." Ucap Leon yang tidak tahu harus berbuat apa kepada Ruby.
"Aku tidak tahu, aku juga bingung." Ucap Ruby tambah bingung.
"Hmmm... jadi gini Ru, sebelumnya aku minta maaf ya, aku itu hanya menganggapmu hanya sebagai temen tidak lebih dari itu. Sebenarnya aku juga sudah tahu kalau kamu suka sama aku, itu karena dari sikap mu sudah kelihatan, tapi aku pura-pura tidak tahu saja, mangkanya aku diamin, semoga kamu dapat yang lebih baik dari aku ya, Ru. Tapi aku masih bisa mengganggap kamu sebagai teman, sekali lagi aku minta maaf ya." Begitulah kata Leon saat Ruby menyatakan cintanya pada Leon di WeChat.
"Huuwaaa... Tapi tak apa, dan terima kasih ya sudah jadi teman yang baik untukku, teman yang mau dengerin seluruh keluh kesahku, teman yang paling spesial buatku, pokoknya kamu tidak ada dua nya, terlebih sulit sekali bagiku untuk mendapatkan teman yang mau dengerin seluruh keluh kesah ku seperti dirimu di dunia ini."
"Ya, pokoknya terima kasih banget ya. Tapi aku mohon untuk kedepannya jangan terlalu canggung ya kalau bicara denganku, ini juga untuk diriku juga sebenarnya." Ucap Ruby sedih sekaligus tidak kuat untuk menahan air matanya karena harus merasakan sakit hati untuk yang kedua kalinya.
"Hemm... Iya, Ru, tidak masalah, dan terima kasih ya karena kamu sudah menyukaiku untuk waktu yang cukup lama."
"Dan sekali lagi aku juga minta maaf ya, aku juga akan berusaha untuk tidak merasa canggung denganmu." Ucap Leon yang ikut merasakan sedih.
"Iya, tidak masalah, Leon. Terima kasih ya." Ucap Ruby mengakhiri percakapan mereka di WeChat.
Setelah hari itu Ruby pun memutuskan untuk berhenti menyukainya walaupun masih ada rasa suka padanya, walau itu hanya sedikit saja.
Hati yang hampa serta benak yang kacau, kini Ruby akhirnya menutup hatinya, Ruby percaya bahwa tuhan akan memberikannya yang lebih baik dari mereka berdua. Tapi ada satu hal yang membuat Ruby yakin, yaitu bahwa suatu saat nanti akan datang masanya dimana hati seseorang akan datang berlabuh pada dirinya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, dan kini Ruby pun sudah lulus dari sekolahnya, walaupun masa SMA yang seharusnya penuh dengan cinta dan gelak-tawa tidak dapat dia wujudkan.
Ruby pun akhirnya bisa melupakan mereka berdua walaupun harus menghadapi berbagai tantangan yang ada. Ruby tahu kalau dia mengharapkan cinta pada seseorang itu sangatlah sulit, jadi Ruby pun memilih untuk menerima sebuah cinta dibanding memberikan sebuah cinta kepada seseorang dan berakhir dengan rasa penyesalan.
Waktu pun berlalu hingga akhirnya dia diperkenalkan oleh keluarganya kepada seseorang ahli agama. Setelah beberapa bulan mengenalnya akhir Ruby dan pria tersebut menikah, saat itu usia Ruby telah menginjak 25 tahun.
Segera setalah menikah Ruby dan pria tersebut membentuk sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia yang didalamnya terdapat unsur-unsur agama, adab, serta sopan-santun. Tidak lama setelah Ruby melahirkan anak ke limanya, dia pun menghembuskan nafas terakhirnya. Sesaat sebelum Ruby meninggal dia menghubungi kedua orang yang pernah dia sukai dan mengatakan kepada mereka berdua sesuatu yang telah dia pendam selama ini.
"Jika aku mau, aku akan memilih untuk mencintaimu. Karna disitu aku mengerti bahwa aku benar-benar bisa setulus itu untuk mencintaimu."
"Karena memilikimu sama halnya dengan fatamorgana, nyata namun halusinasi itulah yang dinamakan dengan cinta. Kamu yang akan ku sebut sebagai masa depan akan selalu ku kenang didalam hatiku. Terima kasih karena telah singgah di hatiku, dan kau, Leon, kau adalah teman yang paling spesial bagiku. Sekali lagi aku minta maaf kepada kalian berdua dan terima kasih untuk semuanya yang telah kalian berikan padaku. Lalu, selamat tinggal semua." Itulah kata-kata terakhir Ruby kepada kedua pria yang berada tepat di depan ranjang rumah sakitnya sebelum dia menutup usianya yang saat itu baru saja menginjak usia 50 tahun.
Terima kasih pada dirimu yang telah singgah di hatiku, kau adalah orang pertama yang ku anggap paling spesial di dalam hatiku, semua kenangan yang telah kita lalui bersama tidak akan aku lupakan dan hal itu akan tetap tersimpan di dalam hatiku.