Awan kelabu, membuat langit kini lebih tampak seperti hamparan perak. Angin Musim Semi mulai tercium, namun tampaknya salju masih enggan untuk meninggalkan bumi. Terbukti dari beberapa salju yang masih merintik terbawa angin. Siang di Musim Dingin memang sedikit dingin, namun kau tidak perlu mengkhawatirkan perihal kulit yang menghitam di bawah terik Matahari seperti Musim Panas di Bulan Agustus.
Entah Bhanu paham atau tidak. Yang ia tahu, saat ini ia berada di atas pundak seorang Sam. Kedua lengan mungilnya mengapit leher Sam erat dengan kedua kaki berselimut Bot merah yang menjuntai diantara tubuh pemuda berstatus sahabatnya itu.
Angin bertiup dan jalan semakin menanjak dengan Sam yang terus bercerita perihal mata pelajaran di sekolah. Mengatakan bahwa mata pelajaran di kelas akhir begitu sulit dengan libur yang lebih sedikit.
“Mereka membuat tugas tambahan untuk murid, ku fikir itu tidak adil sebab aku tidak punya cukup banyak waktu untuk bermain game. Bhanu tahu? Para guru kadang kala tidak mengerti arti libur yang sebenarnya. Di Musim Panas pun aku memilki kelas tambahan,”ujar Sam tidak terima.
Cara bicaranya yang menggebu membuat Bhanu terkikik kecil, kepalanya ia tumpuhkan di pundak Sam. Menatap bagaimana garis wajah Sam dari samping yang selalu tampak tegas. Bhanu pernah melihat Sam marah ketika ia tidak sengaja melupakan makan siang, garis wajahnya akan mengeras dan entah mengapa itu menjadi hal yang paling di sukai Bhanu selama bersahabat dengan Sam.
Tanpa Bhanu sadari, hanya hal sederhana seperti Bhanu yang bersandar di pundaknya telah membuat jantung Sam berdegup kencang dengan aliran darah yang kini berdesir. Pemuda tujuh belas tahun itu tidak membutuhkan kamus untuk tahu perasaan apa yang kini melandanya, ia sudah cukup besar untuk mengerti apa itu ‘cinta’.
“Bhanu, kau tahu kalau bintang tetap bersinar walaupun di siang hari?” tanya Sam.
“Eum? Memangnya ada ya?”
Sam mengulas simpul, ia mengangguk sebagai jawaban. Wajahnya yang tampak sedikit pucat karena angin yang berhembus, tidak mengurangi sedikit pun ketampanan yang ia miliki. Di mata Bhanu, Sam layak di sandingkan dengan Peri.
“Tentu mereka ada, hanya saja Mentari terlalu terang, hal itu yang mungkin membuat bintang tidak terlihat di siang hari.”
Bhanu mendongak, menatap hamparan langit yang berwarna kelabu. Iris mata bulat menatap senduh bagaimana langit menggelap akhir-akhir ini, dan pemandangan itu tak luput dari penglihatan Sam.
“Sam,”
“Hm?”
“Apa siang hari juga ada bintang jatuh?”
Langkah Sam terhenti, ia ikut menatap langit dengan gumpalan awan yang bentuknya berbeda. Lalu, pandangannya berlabuh pada sosok Bhanu yang enggan melepas pandangan dari arah langit. Satu simpul terlukis, tatapan yang mampu menggetarkan hati di tunjuhkan oleh Sam untuk Bhanu.
“Bisa jadi. Mungkin ada ratusan bintang jatuh ketika siang hari, dengan itu kau bisa membisikkan permohonan kapan saja.” Ujar Sam sebelum melanjutkan kembali langkahnya menaiki anak tangga. Pemuda itu membenahi posisi Bhanu yang sedikit melorot dari gendongannya, membuat si gadis mungil itu terkejut dan spontan mengeratkan pelukan di leher Sam.Pipi Bhanu bersemu, memilih mengalihkan pandangan pada hamparan bunga berkuntum putih yang berjejer di setiap sisi anak tangga.
“Sam, bunga!” seru Bhanu semangat. Senyumnya terukir dengan tipis.
“Heum!” Sam mengangguk dan masih dalam keadaan menggendong Bhanu, Sam membersihkan sebuah bangku kayu ketika mereka sampai di puncak bukit. Membiarkan Bhanu duduk di bangku tersebut sedangkan ia berjalan mendekat ke arah bunga yang di lihat Bhanu. Kali ini jumlah mereka lebih banyak dari yang berjejer di tangga tadi.
Ia memetik beberapa tangkai bunga, angin bertiup ketika Sam kembali berjalan ke arah Bhanu dengan senyuman. Pemandangan itu mampu membuat si gadis enam belas tahun itu bersemu di tempatnya duduk kini.
“Galanthus,” ujar Sam menunjukkan bunga itu pada Bhanu. “Genus kecil dari sekitar 20 spesies tanaman herba abadi bulat dalam keluarga Amaryllidaceae, akrab di sapa Snowdrop. Ada banyak makna di balik bunga ini, Bhanu tahu?”
Bhanu menggeleng, ia mengambil bunga itu dari tangan Sam dan menciumnya. Menemukan sebuah keharuman yang dingin, persis seperti bau Musim Semi dan salju yang basah. Bunga ini memiliki dua daun linear dan satu bunga berbentuk lonceng putih kecil tunggal, dengan enam tepal seperti kelopak di dua lingkaran dengan kelopak dalam yang lebih kecil berwarna hijau.
Sam ikut duduk di samping Bhanu, tersenyum ketika Bhanu menatap bunga di tangannya dengan tatapan berbinar. Seutas senyum tipis terlukis dari wajah mungil yang selalu bersemu itu.
“Snowdrop mengumumkan datangnya musim semi, mereka adalah salah satu tanaman yang muncul ketika tanah masih tertutup oleh salju,” jelas Sam.
“Mereka kuat!”
“Heum! Snowdrop adalah simbol penghiburan dan harapan. Cocok jika disandingkan dengan nama Bhanu yang memiliki arti sinar,”
Bhanu terkekeh, pandangan keduanya berlabuh pada bunga-bunga Snowdrop yang melambai mengikuti arah angin yang berhembus. Tepat saat itu juga, Bhanu terpukau. Sebuah hamparan dari hijaunya hutan di belakang bukit ia saksikan dengan matanya sendiri, dan ada danau yang tampak indah di tengah hutan itu. Sebuah danau di tengah hutan.
“Danau? Aku tidak pernah tahu kalau kota kita memiliki danau di tengah hutan seperti ini,” ucap Bhanu tak percaya. Darahnya berdesir menikmati keindahan yang memanja matanya kini.
“Masih beku, aku tidak bisa membawamu ke sana.” Sam menimpali, ia melepas ranselnya dan mengeluarkan syal hijau lalu di kalungkan ke leher Bhanu.
“Memangnya kita boleh ke sana?” tanya Bhanu
Sam mengangguk, “Ada jalan raya di sana,” Bhanu ikut menatap ke arah di mana Sam menunjuk sebuah jalan di sisi lain hutan. Berani bersumpah, ia lebih dulu tinggal di kota ini dari pada Sam, namun sahabatnya ini seperti sudah mengenal seluk beluk dari kota mereka.
“Aku bisa membawamu ke sana ketika Musim Panas tahun depan tiba, banyak pengunjung yang akan menaiki Bus umum ke danau itu. Walaupun harus mendaki dulu, tapi aku bisa membawamu ke sana.”
Bhanu terdiam, ia menatap Sam yang masih memandang ke depan. Snowdrop di tangannya ia genggam dengan erat ketika linguid bening meluncur begitu saja di pipinya, “A-aku rasa itu tidak perlu, Sam.”
Sam tersentak, ia bangkit dan berjongkok di hadapan Bhanu lalu langsung menangkup kedua telapak tangan kecil yang masih menggenggam Snowdrop. “Bhanu, aku tidak bermaksud! Aku benar-benar ingin membawamu ke sana, jangan berfikir kau akan menyusahkanku!”
Si gadis menggeleng pelan, ia mengusap pipinya yang basah. Di saat seperti ini, ia masih saja menjadi anak yang cengeng. “Sam tahu aku tidak bisa berjalan, orang-orang akan melihat kau menggendongku ke atas bukit, mereka akan mengolokmu seperti kebanyakan orang di sekolah.” Kata Bhanu. Mendengar hal itu entah mengapa membuat Sam marah.
“Bhanu,”
“Ya?”
“Bukankah aku pernah mengatakan perihal keinginanku mengajakmu keliling dunia?”
Bhanu mengangguk kecil, hal itu mengundang senyum tipis di wajah Sam. Tangannya naik membelai lembut pipi tembam kesukaannya, menghapus jejak air mata di sana.
“Aku mengatakan hal itu, karena kau adalah harapanku. Seperti Snowdrop yang hadir membawa kabar tentang musim semi, kau juga seperti itu bagiku. Aku tidak membutuhkan kakimu untuk berjalan beriringan bersamaku hingga di masa yang akan datang nanti, hanya dengan hadirmu saja ku rasa sudah cukup membuatku bersemangat!” Sam mengulas senyum lebar, seolah menjadi mentari di antara kelamnya langit.
Hal itu kian membuat Bhanu merasa tersentuh dan menangis. Sam hanya terkekeh dan menenangkannya, sesekali mengusap surai Bhanu yang terkena oleh salju.
“Kenapa kau begitu manis?”
“Aku bukan gula, aku Sam.”
Bibir Bhanu berkerucut, ia mendorong bahu Sam pelan. Membuat yang lebih tua terkekeh dan merasa gemas sebelum mencubit pipi Bhanu.
“Kau terlalu banyak berfikir hari ini. Kemari, ulurkan tanganmu!” ucap Sam sembari meraih tangan Bhanu, keduanya membentuk Pinky Promise dengan ukiran senyum yang kian melebar ketika Sam bergurau enggan melepas tautan kelingking mereka.
“Tidak mau sebelum kau berjanji untuk terus bersamaku!”
“Iya! Aku berjanji, lagi pula siapa yang tidak ingin bersama mu? Kau ini tampan, bisa saja ketika aku gagal menikah kau yang akan ku nikahi nanti,”
“Kalau begitu, kita menikah saja sekarang!”
“Sam!”
Tawa Sam meledak, ia sampai memegang perutnya sebab merasa begitu geli dengan ucapan Bhanu barusan. Membuat Bhanu ikut tertawa bersama dengan turunnya salju yang kian melebat. Angin berhembus, menerbangkan bulir salju yang entah mengapa terasa hangat seiring tawa kedua insan yang seolah lupa bahwa dingin menyelimuti mereka.
Cinta dan kebahagiaan adalah simbol dari harapan. Kau tidak perlu seseorang yang sempurna untuk kau ajak berjalan bersama, ketika kau memiliki harapan yang sempurna. Maka, perjalanan itu tidak akan terasa berat sebelah. Sebab manusia tak mampu menyempurnakan cinta tetapi, cintalah yang menyempurnakan manusia.