#Malam Menakutkan Halloween
Ini adalah kisah yang kualami saat hari hallowen, hari itu merupakan malam yang gelap, aku bersama adikku yang masih berumur 10 tahun menyusuri setiap rumah untuk mengucapkan kata yang khas pada malam halloween yaitu “trick or treat??” teriak kami setelah seorang perempuan paruh baya membukakan pintunya pada kami yang mengetuk pintu rumahnya beberapa kali.
“wah.. manis sekali.. ini bawalah!” ucap perempuan paruh baya tersebut dengan senyum mengembang. Wajahku dan adikku tidak kalah mengembangnya melihat jumlah permen yang dimasukkannya ke dalam kantung berwarna coklat pengganti keranjang yang kami bawa. “yeyy” ucap kami girang setelah saling menatap.
Sebenarnya awalnya aku pikir halloween itu sedikit tidak sopan, kami seperti sedang merampok setiap rumah yang kami datangi dan mengancam mereka untuk memberikan permen atau kami jahili. Tapi setelah melohat senyuman dari pemilik rumah aku pikir aku salah, merampok itu mengambil sesuatu dengan paksa dan pemilik rumah memberi dengan tidak iklas, sedangkan halloween pemilik rumah memberi sesuatu dengan iklas, entah mengapa menerima sesuatu dari orang yang iklas membuat kami bahagia, mungkin karena itu halloween menjadi sangat menyenangkan, dimana orang orang memberi dan menerima dengan senang hati.
Suasana kota saat itu terlhat sangat meriah, dapat di lihat banyak Jack O’Lantern yang menyeramkan menghiasi beberapa rumah yang kami lewati. Hiasan lain seperi sarang laba-laba, sapu, tengkorak,dan lain-lain yang berhubungan dengan penyihir tak kalah memamerkan dirinya dan menambah kengerian pada malam haloween itu.
Aku dan adikku melanjutkan perjalan kami di tengah kota yang gelap ini dengan hanya ditemani lentera lampu yang aku genggam. Setelah cukup banyak mendapatkan permen dari beberapa penghuni rumah yang datangi, kami sampai di sebuah tempat yang cukup sepi dibanding tempat sebelumnya.
“Sekarang.. kita kemana kak Dion?” tanya adikku dengan nada sedikit ketakutan, “hmm.. ah.. kesana!” ucapku tersenyum sambil menunjuk sebuah rumah yang terlihat tua di hadapan kami.
Rumah tersebut berbeda dengan rumah lainnya tidak ada hiasan halloween satu pun di rumah tersebut, bahkan Jack O,Lantern yang merupakan ciri khas halloween tidak menunjukkan batang hidungnya, tapi jaring laba laba asli yang terlihat tergantung di beberapa tempat di atas rumah tersebut membuat suasana halloween yang mengerikan pada rumah tersebut.
“krrtkk”.
Bunyi tangga pada rumah tua itu sedikit mengganggu kami saat menaikinya, setelah menaiki beberapa tangga rapuh tersebut, kami sampai didepan pintu besar yang terlihat kusam dan menutupi rumah tersebut.
“huwaa..aku takut!” tangis adikku sambil menarik ujung bajuku setelah kami mengetuk pintu tersebut berali kali tapi tidak ada jawaban. Suasana sepi dan dinginnya malam membuatnya semakin ketakutan. Aku kemudian menjongkokkan kakiku dan mengelus kepala adikku “kalalu begitu kamu disini saja” ucapku sebelum membuka pintu yang tidak terkunci kemudian masuk ke dalam rumah tersebut.
“halo?? Apa ada orang?? Trick or treat!” ucapku di tengah ruang tamu yang sepi dan gelap gulita itu. Untungnya cahaya bulan yang masuk melalui jendela memberi kami sedikit bantuan untuk melihat sekitar, ruang tamu ini cukup kuno, semua benda terlihat berumur tua dengan ukiran yang rumit.
Aku merasakan genggaman tangan yang erat pada ujung bajuku, ternyata itu adalah adikku. “huft.. kamu yakin ikut kakak?” tanyaku sambil mengehela nafas dan melirik adikku yang tidak terlihat jelas karena gelap. Dia hanya diam dan mengikutiku menyusuri ruangan.
“uhuk” debu disana membuatku batuk beberapa kali. “kamu nggak apa-apa?” tanyaku pada adikku yang dari tadi menempelkan wajahnya ke bajuku, mungkin itu caranya untuk menghindari debu yang memenuhi ruangan ini pikirku.
Setelah kami menyusuri ruang tamu yang besar terebut, kami sampai disebuah lorong panjang yang sangat gelap, kaena cahaya bulan tidak dapat menembus tembok tebal yang menutupi lorong tersebut.
“krieett”.
Suara pintu terbuka mengagetkanku dan membuat jantungku berhenti berdetak beberapa saat. “ha.. halo paman?” tanyaku sambil melihat pintu di sebelah kiri lorong tersebut yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri, secuil cayaha lampu terlihat keluar dari kamar tersebut dan menerangi lorong tersebut. Suara langkah kaki mulai tersengar menghampiri kami dari kamar tersebut dengan perlahan kemudian berhenti.
“krieett”.
Pintu kamar itu kembali berbunyi dan terbuka lebih lebar dari sebelumnya, aku yang penasaran mendekati ruangan tersebut dengan perlahan bersamaan dengan adikku yang tetap menempel didekatku, “pa..man?” ucapku pelan sambil menelan salivaku.
“klik”
"Trick or Treat??" Ucapku samblil memperlihatkan kantung permenku.
Seketika ruangan menjadi terang benderang setelah seseorang menyalakan lampu di lorong yang dari tadi mati tersebut.
“.. Dion? kamu datang malam malam kesini lagi?? “ ucap seorang pria paruh baya yang tidak asing bagiku. “hehehe trick or treat paman??” ucapku dengan gembira. “trick or treat palamu!” ucap paman sambil memukul kepalaku dan sontak membuatku menjawab “aduh!!”. “ini sudah sudah yang keberapa kali paman katakan? Paman biasa tidur pukul 19.00 kamu ingat kan??” ucap paman sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 20.00.
“hehe habis paman selalu menyediakan permen yang enak sih!” jawabku cengengesan. “hah.. paman lupa sekarang hari halloween.. jadi Paman sekarang tidak punya permen..” jawab Paman sambil memandangku sedih.
“emm.. kamu sendiri?” tanya paman sambil melihat sekelilingku.
“hah? Aku bersama adikku kok! Ini di..lho??” jawabku bingung melihat adikku yang tadi menggenggam bajuku tidak ada.
“ah.. disana kamu rupanya!” jawabku melihat adikku yang memiliki rambut panjang tersebut. “kamu bawa adikmu juga?” tanya paman sambil melihat adikku yang hanya diam.
“iya! Dia takut yang seram-seram tapi tetap mengikutiku..” ucapku sambil mengelus kepala adikku yang dari tadi menunduk. Paman lalu mendorong kami dengan lembut menuju pintu keluar “ini sudah malam.. sebaiknya kalian pulang..”.
Sesampainya di depan pintu aku melihat adikku yang ketakutan berlari dan memelukku “Kak Dion aku takut! Ayo kita pulang!!” ucap adikku sambil menarikku tanganku. “tung.. tunggu.. paman aku pulang dulu ya!” ucapku pada paman yang terlihat bengong.
“Adikmu.. kembar?” tanya paman melihat kedua adikku yang memiliki wajah serupa tersebut.
“haha iya! Perkenalkan ini Remi dan ini Risa” jawabku sambil menunjuk Remi yang dari tadi menarik tanganku dan Risa yang menunduk dan menggenggam erat bajuku. Remi kemudian sedikit menunduk sedikit sambil berkata “sa..salam.. kenal paman” tanpa melihat paman yang berdiri di hadapannya, sedangkan Risa tetap diam dan hanya menatap paman sekilas kemudian menunduk sambil meremas bajuku.
“wah kalian manis banget.. satunya punya rambut pendek dan satunya panjang” ucap paman dengan senyum ramah.
“hehe iya mereka loli kesayangaku” jawabku sambil memeluk kedua adikku itu.
“lolimu! Dimana kamu belajar kata kata itu.. umurmu masih 12 tahun kan?” ucap paman sambil memandangku risih.
“sudah.. pulanglah.. maaf Paman tidak bisa memberimu permen” ucap Paman dengan wajah tidak bersemangat dengan senyuman kecil tetap terpasang sambil melambaikan tangannya.
“iya.. tidak apa apa paman..” jawabku sambil memandang Paman yang tersenyum ramah.
“ah.. aku sebenarnya mau memberi ini untuk paman!”ucapku sambil memeluknya dan berbisik padanya "Paman tahu adikku tidak berani hal seram tapi mereka tetap menemaniku.. mungkin keluarga Paman akan melakukan hal yang sama..". Aku kemudian memberi kantung permenku dan tersenyum lebar.
“Dah paman!” aku berlari sambil melambaikan tanganku pada Paman bersama adikku dan meninggalkan paman yang menatap kami sambil tersenyum.
Di perjalan pulang langkahku terhenti, “Kak Dion.. kakak tidak apa-apa?” tanya Remi padaku sambil melihat wajahku yang ingin menangis. “sudah kak.. paman pasti senang dengan hadiahnya” lanjutnya sambil menghapus air mataku. Risa yang tadi diam kemudian memelukku “paman pasti lebih bahagia disana.. kita sudah mengumpulkan banyak permen untuknya” ucapnya dengan nada pelan. Aku hanya menangis sambil menghapus semua air mataku yang berjatuhan.
Besoknya aku mendatangi rumah paman lagi tapi hari ini banyak orang yang datang sambil mengangkut semua barang di dalam rumah tua milik Paman. Ya kemarin adalah hari terakhir paman tinggal di kota ini. Aku kemudian memasuki ruangan yang sudah beberpa kali aku masuki itu menuju ruangan tempat paman tidur kemarin malam.
Paman tinggal sendiri di kota ini jauh dari keluarganya, katanya karena mengejar cita-cita. Rumah tua ini adalah rumah yang di kontrak paman selama 3 tahun sebagai tempat beristirahatnya setelah bekerja. Setiap kali aku datang bermain paman selalu marah karena aku suka mengambil barangnya tanpa izin, bukan mencuri hanya suka mengambil dan membuatnya berantakkan.
Setelah sampai di kamar dimana aku dan adikku bertemu paman kemarin, langkahku terhenti melihat sesuatu yang sangat berati begiku tergeletak di tempat tidur paman. Satu hal yang paling membuatku menyukainya adalah Paman yang selalu menyambutku setaip hari hallowen dengan permen enak yang hanya di jual di kota seberang. “Paman bodoh.. kenapa sampai pergi membeli ini di kota seberang.. ” ucapku sambil mengambil permen lollipop besar dengan surat di dekatnya yang bertuliskan “terima kasih untuk treatnya”.