Delia membuka mata perlahan saat hembusan angin terasa menyapu wajahnya. Ia menyipitkan mata dan mengedip-kedipkannya untuk sesaat. Kemudian hembusan angin yang meluncur di wajahnya terasa lagi. Kepalanya menoleh pada tirai jendela yang berkelabit karena dorongan angin dari balik jendela.
Lalu tak disangka angin bertambah kencang dan membuat jendela membuka dan menutup dengan suara terbanting yang hebat. Tirai terangkat ke atas bagai disibakkan oleh kekuatan yang tak terlihat.
Delia tersentak melihatnya, ia bangun dan langsung bangkit dari ranjangnya. "Perasaan tadi jendela sudah aku kunci, kok bisa kebuka ya?" Delia lalu mengintip sejenak sebelum menutup kembali jendelanya.Ia melihat kearah jalanan yang ada di samping asrama sekolah yang ia tempati.
Pepohonan yang ada di sana diam tak bergerak sama sekali, seperti tak ada angin yang menggoyangkan mereka, padahal baru saja angin besar hampir memecahkan kaca jendelanya. Perasaan aneh muncul di benak Delia, namun saat itu ia menghiraukannya.
"Suara apa tadi?" Pertanyaan dengan suara parau yang keluar dari mulut Lisa mengagetkan Delia yang hendak naik ke tempat tidur. Ia tidur di sebelah Delia dengan ranjang yang terpisah oleh sebuah lemari meja.
"Angin, cuma angin...," Balas Delia. "Ngomong-ngomong tadi kamu buka jendela sebelum tidur ya?" Tanya Delia setelah terdiam beberapa saat. Namun pertanyaannya itu tak terbalas karena kemudian suara dengkuran tipis Lisa terdengar di heningnya malam.
...
Besoknya di sekolah Delia membicarakan hal itu dengan Lisa dikantin yang saat itu hanya ada ibu kantin yang sudah tua, rambutnya sudah beruban, dan raut wajah ramahnya mulai melorot.
"Eh Del, aku ke kamar mandi bentar ya," Ucap Lisa yang langsung minggat saking kebeletnya.
Lalu setelah Lisa pergi ibu kantin mendekati meja Delia dan dengan wajah kepo ia menanyakan hal itu. "Kalian tinggal di asrama ya?"
"Iya Bu," Balas Delia lembut.
"Di kamar nomer berapa?" Pandangan ibu itu semakin dalam menatap Delia.
"Nomer 103 Bu,"
"Berapa orang yang bersama kamu?"
"Hanya saya dan Lisa, kebetulan kami ini siswa susulan."
"Kalian harus hati-hati, dulu pernah ada kejadian tragis yang menimpa siswi di kamar 103." Ibu itu semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Delia.
Alis Delia bertemu di tengah karena bingung dengan apa yang di bicarakannya. "Maksudnya bagiamana ya Bu?"
"Dulu pernah ada siswi yang bunuh diri, loncat dari jendela kamar dan meninggalkan dunia, kepalanya pecah waktu itu," Katanya. "Semua isi kepalanya keluar." Bu kantin bergidik ngeri saat mengingat kejadian itu.
"Yang bener Bu?" Wajah Delia pucat dan terlihat tak enak.
"Iya, Nak. Tapi itu kejadiannya lima tahun lalu. Dan setelah kejadian itu kamar 103 konon berhantu, dan beberapa siswa yang menempati kamar itu tak betah tinggal karena dihantui oleh arwah siswi itu." Jelas Bu kantin sambil menggosok lengan tanpa sebab. "Makannya selama ini ibu dengar kamar itu ditutup. Tapi ibu heran kenapa di buka lagi?"
...
Delia merenung dan merinding saat memasuki kamarnya. Namun Lisa yang tak tahu akan cerita tadi, ia langsung naik ke ranjangnya dan berbaring santai sambil mengumpat akibat pelajaran matematika yang membuat pusing.
Tidak! Aku tidak akan menceritakan hal ini pada Lisa, dia pasti akan ketakutan dan ribut semalaman. Lagi pula aku juga tidak percaya pada hantu.
...
Sore berganti malam, setelah menyelesaikan semua tugasnya mereka berdua pergi bersiap untuk tidur. Seperti biasa Delia mengecek apakah jendelanya sudah terkunci rapat, kemudian ia pergi tidur. Tak butuh waktu lama untuk mereka berdua terlelap dalam lautan mimpi.
Jam menunjukkan pukul sebelas lebih sepuluh menit saat hidung Delia terasa dingin. Hembusan angin itu terus menerus mengganggu tidurnya. Suara ketukan jendela membuatnya membuka mata. Kelebatan tirai kembali melambai padanya. Suara derak jendela mulai memecah kehangatan malam.
Delia masih memperhatikan tiai itu lekat-lekat sambil teringat pada cerita ibu kantin tadi. Namun segera ia buang jauh-jauh pikiran negatif itu. Ia bangun dan hendak turun untuk membetulkan jendela, namun angin malah menerbangkan tirai lebih kuat, dingin sekali, sangat dingin hingga ke tulangyang paling dalam.
Tanpa disadari keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit Delia. Tubuhnya gemetar, dan matanya penuh bara ketakutan. Ia kemudian menggoncang tubuh Lisa yang tengah pulas tidur. Samar-samar sosok serem mulai terbentuk di balik tirai. Siluet tangannya yang kering dan kuku panjang dan tajam membuat Delia semakin kuat mengguncang Lisa.
Lisa terbangun dan langsung terperanjat dengan apa yang dilihatnya. "Apa ini nyata!" Teriakan yang mengandung ketakutan itu terselimuti hawa dingin yang menusuk disekitar kamar.
"Ayo kita keluar diri sini! Cepat!" Mereka bangkit dan menuju pintu kamar. Langkah mereka kesandung-sandung.
Angin berhembus lebih kencang hingga tirai terlepas dari kaitannya. Dibalik itu ada sosok wanita yang duduk di emperan jendela dan terlihat mengancam. Rambutnya yang panjang tergerai menutupi sebagian kepala yang sudah tak karuan lagi. Kepala belakangnya hancur, memperhatikan untaian organ otak yang keluar dari tengkoraknya. Darah membanjiri wajah dan lepuhan nanah yang ada di kepalanya membuat bau anyir semakin terasa.
Sosok itu lantas berdiri menatap dua gadis yang tengah bersusah payah membuka pintu yang terkunci. Ia bangkit dan mengangkat kuku panjangnya yang hitam dan tajam. Lisa menangis dan mengepalkan tangannya di depan dada sambil berdoa pada Yang Maha Esa.
Hantu itu meluncur cepat, secepat kecepatan angin yang berhembus di ruangan itu. Tanpa kesabaran hantu itu langsung menyerang keduanya dengan kukunya yang tajam. Ia berhasil melukai perut Delia hingga darah terlihat menembus kaos yang ia kenakan malam itu. Sedang kan Lisa masih terus menangis dan terluka di bagian pahanya.
Delia mencoba untuk menggandeng Lisa, tetapi gerakan hantu itu lebih cepat darinya. Kuku-kuku tajam menghujam dada Lisa, membuat gadis itu kejang sesaat sebelum ia mengeluarkan begitu banyak darah yang membanjir.
Ingin rasanya berteriak, tapi suara Delia seperti tertahan di tenggorokannya.
Delia segera berdiri menahan sakit di perutnya, berlari menembus rasa takut dan ...
Anak itu melompat dari jendela kamar.
Lisa kehilangan nyawanya, sedang Delia terbujur koma di rumah sakit dengan luka tusukan di perut dan beberapa tulang patah yang melumpuhkannya.