Ketika Jeffry membuka kedua mata, Jeffry pikir semua akan selesai dan hari sebelumnya bisa terlupakan. Jeffry membuang nafas pelan menatap cincin yang tersemat di jari manisnya. Cincin perak sederhana ini tampak elegan dan dibawah terdapat ukiran inisial nama pasangan.
J&N
Jeffrey mengusap foto pernikahannya yang sudah terjalin selama 20 tahun. Dia beranjak dari kasur dan keluar dari kamar. Langkahnya masuk dalam ruang dapur. Kedua tangannya mengambil celemek dan memasangkan pada badannya.
Dia akan membuat sarapan pagi seperti rutinitas sehari-harinya. Sarapan yang dia siapkan merupakan kesukaan sang istri. Dia memanggil kedua putrinya untuk makan.
"Ayah janji akan mengantar kita ke sekolah, 'kan?"
"Tentu saja, nak. Nah, makanlah yang banyak!"
"Aku berangkat sendiri saja."
"Carla, kamu tidak perlu lagi berangkat sendiri. Ayah akan mengantar kalian berdua."
"Tidak usah! Lakukan saja seperti yang ayah lakukan sebelumnya."
"Carla!"
"APA?! ...Ayah tidak perlu memberikan perhatian pada kami. Sebelum ibu meninggal, memangnya ayah pernah memperhatikan kami? Tidak, 'kan? Ya, sudah!"
"Kak Carla! A-aku ikut kakak!"
Hestia beranjak dari meja makan dan menyusul Carla.
Jeffrey tersentak dan tertohok dengan perkataan putri sulungnya. Dia tidak membantah karena itu memang benar. Nyatanya, Jeffrey sama sekali tidak memberikan kasih sayang pada kedua putrinya bahkan pada sang istri pun dia abaikan.
Pernikahan paksa yang dilakukan keduanya. Sang istri, Niyetri, wanita polos dan murah senyum yang menyatakan cinta dengan tulus setelah menikah. Niyetri melakukan semua tanggung jawab sebagai istri sebagaimana mestinya.
Jeffrey merasa sangat bersalah mengingat bagaimana dia memperlakukan wanita itu.
"Selamat datang kembali, sayang! Pasti kamu capek, ya. Aku sudah siapin makan malam."
Niyetri tersenyum hangat mengucapkannya.
Jeffrey menatapnya dengan dingin, "Makan saja sendiri. Aku sudah makan bersama rekan kerja."
"Ah ... baik...." lirih Niyetri
Jeffrey langsung pergi ke kamar tanpa ragu. Niyetri hanya memandanginya dengan diam.
Ke esokannya, Jeffrey terlambat kerja dan buru-buru berpakaian namun saking cemasnya dia sampai ribut dengan dasi kerjanya.
"Dasar dasi murahan!"
Niyetri yang melihat Jeffrey kesulitan langsung bergerak cepat. Dia membantu memasangkan dasi di kerah kemeja Jeffrey.
"Tenang sedikit, sayang. Aku bantu ya."
"...."
Jeffrey mengernyitkan kedua alis dan tampak jelas dia tidak menyukai situasi ini. Melihat Niyetri membantunya malah membuat dia merasa jengkel.
"Sudah!"
Niyetri tersenyum hangat.
"Minggir! Ini salah kamu! Aku jadi kesiangan."
"...."
---
Jeffrey melamun di kantor kerjanya. Perkataan Carla terngiang-ngiang di otaknya. Bahkan kepalanya terasa pusing memikirkan keadaan keluarganya ini. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan kedua putri. Namun, apalah daya ini adalah karma untuk dirinya yang sudah mengabaikan keluarga kecilnya.
Dia sangat menyesal. Penyesalan yang terlambat. Dan baru menyadarinya setelah kematian Niyetri.
Terlebih lagi, dia belum sempat meminta maaf pada wanita itu. Bahkan tidak dapat membalas perasaannya.
Jeffrey menelungkupkan wajahnya.
"Andai saja waktu bisa diputar. Aku ingin bersama Niyetri lagi."
DRRT! DRRT!
Jeffrey mendengar suara dering ponsel segera mengangkatnya. Dia mendapat telpon dari kepala sekolah tempat Carla dan Hestia.
"Pingsan?! Baik, aku segera kesana."
"Jeff, kamu mau kemana?"
"Ke sekolah Carla dan Hestia."
"Buat apa? Kamu lagi sama aku, nanti saja."
Jeffrey menatap wanita yang menjadi CEO tempat dia bekerja.
"Tidak bisa. Kedua putri saya sedang dalam masalah. Saya ijin permisi, bu."
"Tunggu, Jeff! Kamu kenapa panggil aku bu? Aku itu kekasih kamu!"
Jeffrey menghela nafas kemudian membungkuk sopan.
"Halangi Jeffrey di pintu masuk! Jangan biarkan dia pergi!" Ucapnya pada petugas keamanan
Ketika hampir keluar dari gedung kerjanya, Jeffrey dihadang oleh tiga petugas keamanan.
"Apa-apaan ini? Menyingkir!"
"Nyonya Charlotte memberi perintah. Anda harus kembali!"
"Hah! Kembali? Tidak!"
Jeffrey dengan cepat menghajar ketiga petugas keamanan menggunakan seni bela diri yang pernah dia pelajari sejak bersekolah.
Dan untungnya itu berguna sekarang.
Jeffrey langsung masuk ke mobilnya dan menjalankannya untuk pergi ke sekolah kedua putrinya.
DRRT! DRRRT!
"Saya sedang dijalan, pak!"
"...."
"Kejang-kejang?!"
"...."
"Dimana rumah sakitnya?!"
"...."
TUUT
Telpon kembali ditutup.
"Carla ... Hestia ... Ayah mohon kalian harus tetap hidup!" gumamnya
Mobilnya melaju kencang melewati kendaraan lain. Dengan perasaan yang gundah, dia tidak bis berhenti berdoa untuk kedua putrinya agar selamat dan tetap hidup.
Dia sudah bertobat dan tidak ingin mengulangi hal yang sama. Sebelumnya, ketika mendengar Niyetri sakit parah sampai masuk rumah sakit dia tidak memercayainya dan malah bersenang-senang dengan selingkuhannya yaitu nyonya Charlotte, atasannya sendiri.
---
Rumah Sakit.
Jeffrey berlari sangat kencang dan menabrak beberapa orang di lorong. Nafasnya terengah-engah dan dadanya naik turun.
Begitu dia sampai di ruangan tempat kedua putrinya dirawat, ada kepala sekolah dan orang itu segera menjelaskan kronologinya setelah Jeffrey mengatur pernafasannya dengan stabil.
"Saya diberitahu para murid bahwa Hestia menjadi korban bully dan itu berlangsung lebih dari 2 tahun. Pembully ini dipimpin oleh salah satu alumni sekolah kami. Beberapa ada dari anak kampus yaitu teman-temannya dan sebagiannya masih murid sekolah kami juga. Mengenai Carla, dia berusaha melindungi Hestia namun ikut kena bully."
"Para pelaku sudah ditangkap oleh pihak kepolisian tadi. Mereka akan dihukum sesuai undang-undang. Apa Carla dan Hestia tidak pernah cerita pada anda?"
"Sejujurnya, saya sangat marah tetapi, Hestia dan Carla sudah seperti ini. Bagaimana saya bisa menebusnya?!"
"Tenanglah, pak! Hestia dan Carla adalah anak yang kuat. Mereka murid yang pintar sekali. Mereka meraih banyak piala dalam kejuaraan olimpiade dan dunia olahraga. Kalau begitu, saya permisi undur diri."
Jeffrey frustasi akan keadaan ini. Dia tidak tahu sama sekali perubahaan sikap dari putri-putrinya. Lagi-lagi terlambat. Dia selalu saja terlambat untuk menyadarinya.
Tak lama kemudian, dokter keluar dan menghampirinya.
"Bapak si pasien?"
"Iya, dok. Bagaimana keadaan kedua putri saya?"
"Nona Carla akan segera membaik dan dipindahkan ke ruang inap. Lukanya tidak terlalu parah. Akan tetapi...."
"Kenapa dok?"
"Nona Hestia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Luka lebamnya sangat banyak di tubuhnya. Dan dia overdosis karena obat yang tak seharusnya dikonsumsi itu membuat kondisinya semakin memburuk. Juga, sisi psikisnya sangat kacau."
Jeffrey menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Dok, detak jantungnya semakin melemah!"
Sang dokter langsung masuk kembali ke ruang Hestia yang kondisinya memprihatinkan dan lebih buruk.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan putri saya! Berikan saya satu kesempatan terakhir untuk menebus kesalahan saya sebelumnya!"
Jeffrey pun tidak dapat menahan air mata untuk jatuh. Dia menangis dan menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Badan besarnya gemetar ketakutan. Dia tidak ingin kehilangan anggota keluarganya lagi.
"Niyetri, maafkan aku! Maafkan aku! Aku tidak bisa menjaga putri kita."
Dia menatap cincin pernikahannya dengan berderai air mata.
"Aku sudah gagal jadi seorang ayah untuk anak kita, Niyetri."
TAMAT