Setiap kita berkunjung ke manapun di daerah manapun biasanyai ada kisah baru yang membuat suasana hati jadi berbeda.
Apa lagi lokasi yang kita kunjungi mungkin asal kelahirannya, saat masa remaja atau di masa kecil kita pernah mengukir sebuah kisah atau pernah terukir tanpa sengaja kisah itu sehingga terbawa sampai saat ini.
diantara kisah itu bahkan ada yang membekas sampai dengan kita dewasa bahkan sampai menjelang tua usia kita.
pulang kampung dan bisa pulang ke kampung halaman memang pengalaman yang tidak bisa dilupakan dalam sepanjang hidup seseorang apalagi saat pulang kampung kita sudah menjadi seseorang yang sangat berbeda jauh dengan masa lalu kita saat kita berada di desa itu.
desa kelahiran kita tercinta.
sama halnya dengan aku, setelah berpuluh tahun panjangnya waktu berlalu liku-liku kehidupan yang mengakibatkan aku tidak berpikiran untuk bisa pulang ke kampung saat itu. tapi yang namanya tanah kelahiran ada peribahasa setinggi-tinggi bangau terbang dia akan pulang ke kandangnya.
mungkin peribahasa itu mengenai diriku saat ini.
semua tergambar semua teringat semua membekas dalam lingkaran kehidupan yang tersimpan di dalam memori hatiku.
kini di kampungku sudah sangat jauh berbeda kenapa, kampungku terbelah oleh ruas jalan tol yang begitu megah gagah dan mulus nampak menjulur membelah desa kami.
otomatis semua kenangan yang ada di rumahku tergusur habis tidak ada bekas lagi tapi sisa-sisanya masih sangat terasa Aku mengunjungi beberapa temanku yang mengira aku adalah hantu.
iya bahkan sempat menghindari perjumpaan denganku karena mereka menganggap aku hantu.
separah itukah kabar yang tersiar tersebar di telinga mereka karena berpuluh tahun aku tidak pulang ke kampungku.
ada yang menatapku dengan situs ada yang menatapku dengan manis ada yang merindukan kisah masa lalu itu bisa terjalin lagi dengan mereka yang pernah ada di sekitaran hidupku saat itu saat masa kecil dulu.
di mana kita pernah main bola bersama pertandingan antar kampung antar klub kampung dan aku menjadi jurinya aku menjadi suporter mereka aku menjadi sponsor mereka aku menjadi pemimpin mereka.
kisah-kisah itu masih membekas dalam otak dan pikiranku karena memoriku masih sempurna mengingat semuanya.
sayangnya aku harus membuat klarifikasi agar aku bisa diterima di kampung itu di kampung tempat.
susah payah aku menceritakan tentang kisah selama masa perantauanku.
mungkin mereka mengira aku adalah manusia gagal yang merantau berpuluh tahun pulang hanya dengan senyum dan kata-kata bualan saja.
Aku pun tidak mau menceritakan tentang siapa diriku saat itu walaupun aku menceritakannya mereka kan tidak akan pernah percaya karena mereka tidak pernah melihat kehidupanku yang sebenarnya di saat aku merantau waktu itu.
dan itu tak penting bagiku Aku tak butuh mendapat sanjungan ataupun pujian ataupun ejekan ataupun hinaan sekalipun tentang diriku.
yang jelas aku harus mengklarifikasi tentang siapa aku.
bahwa aku adalah manusia yang dulu pernah dilahirkan di sini kemudian aku pergi merantau meninggalkan semua tentang masa laluku di sini kemudian aku sudah menjadi tua dan kini sudah berubah tangga beranak-pinak bahkan sudah mempunyai beberapa cucu yang cantik dan gagah seperti masa aku remaja dulu.
sungguh manis, kenangan di hadapan mereka saat aku mengklarifikasi tentang keadaanku saat ini bahwa aku adalah teman teman kamu semua yang dianggap sudah tiada bahkan sudah dianggap meninggal dunia.
mereka juga tidak percaya sebenarnya bahwa aku memang masih hidup dan sekarang ternyata bisa berbicara di hadapan mereka dengan bukti bahwa tubuhku masih ada bayangan tubuhku di bawah sinar matahari ataupun Sinar lampu.
mereka baru meyakinkan diri bahwa aku adalah manusia yang dulu pernah mereka banggakan mereka mereka puji-puji aku saat aku menjadi seorang pemimpin sebuah organisasi remaja yang bernama karang taruna dengan beberapa keberhasilan.
diantaranya adalah ketika aku menjadi seorang pemimpin klub sepak bola menjadi suporter sepak bola menjadi pendana dari semua klub sepak bola yang ada di desaku.
maka canda tawa pun pecah bersama mereka yang dulu pernah bersamaku bahkan menjadi musuh-musuhku musuh dalam organisasi klub sepak bola bukan musuh sebagai konflik antar remaja yang biasanya sering terjadi akibat dari kecemburuan sosial yang terjadi di antara remaja pada umumnya.
tapi tidak terjadi padaku, Aku adalah teman mereka yang sampai kini pun masih menjadi idola.
idola pertama masa kecilku masa remajaku bersama mereka.
di mana kami hujan-hujanan bersama di mana kami keceburan mandi-mandian di sungai di depan rumahku.
indah sekali masa-masa kecilku bersama mereka yang kini sudah sangat jauh berbeda, penampilan dan gaya hidup mereka. mereka kini sibuk mencari bagaimana mempertahankan hidup dan kehidupan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.
kisah-kisah masa kecil hanya diceritakan saat kita berkumpul bersama dalam acara pendurian seperti yang aku lakukan saat ini.
aku memang tipikal orang yang suka pamer saat itu pamer kemampuan yang memang waktu itu aku mampu melakukannya, sehingga aku seolah orang yang paling bisa memimpin di antara mereka yang pernah memimpin organisasi i kisah-kisah itu rupanya tidak pernah lupa dari ingatan mereka.
"ingat nggak kak Adin saat kita grebek orang yang sedang apel di rumah telembuk "
tiba-tiba suara talib.salah satu teman paling kecil dan paling berani juga paling jago jadi penjaga gawang dalam club' sepak bola kami saat itu .
"hahaha kamu kok ingatnya sampai ke situ sih?"
"ya karena itu yang paling gampang diingat kak Adin hahaha... bapak-bapak itu ketakutan digerebek sama kita? saat itu? ternyata bapak-bapak itu seorang anggota ABRI. sampai dia ngasih uang rokok ke kita semua? ahaha..."
teman-teman yang hadir dalam acara kendurian yang aku buat saat itu sekaligus sebagai syukuran pertemuan antara aku dengan mereka yang menganggap bahwa aku sudah tidak ada karena kepergianku yang begitu lama dari kampung ini.
ini usia kami sudah tidak bisa dikatakan muda lagi bahkan di antaranya sudah menjadi kakek, seperti aku juga.
tapi watak dan perilaku mereka masih tetap sama seperti saat kami remaja dulu.
memang sih kampung kami dulu itu banyak sekali wanita-wanita nakal yang menjajakan dirinya sampai dibawa ke rumahnya sendiri..
akibat dari kesempitan perekonomian keluarga yang rata-rata hidup dengan kemiskinan.
sayangnya mereka yang mempunyai anak perempuan yang berwajah cantik banyak
yang dijadikan sebagai sumber kehidupan perekonomian orang tuanya.
keadaan seperti itulah yang membuat aku menjadi gerah entah kenapa keadaan lingkungan saat itu sangat bertentangan dengan nalar dan pikiranku yang sehat.
dari situlah aku selalu mendapat konflik dengan warga sendiri terutama dengan para orang tua yang merasa tersinggung dengan apa yang aku lakukan dalam lingkungan organisasi remajaan kami saat itu.
"kak Adin masih inget nggak waktu itu kak Adin berantem dengan caslan? sayangnya casan kini sudah nggak ada meninggal. jadi nggak sempat lihat masa tua kak Adin ya? semoga dosa-dosanya terampuni Al Fatihah buat teman kita caslan.."
suasana kemudian menjadi sepi mengenang semua kejadian yang pernah terjadi di antara kami saat remaja.
caslan memang terkenal Badung nakal dan maaf dia seorang gigolo.
sedangkan nama suhara.. dia sangat pandai sekali bersilat bermain silat boleh dikatakan dia adalah jagonya untuk soal urusan bela diri.
anak ini pintar tetapi sayang dia tidak lulus sekolah SD saat itu.
suara selalu menjadi penengah saat ada konflik di antara remaja antar kampung.
sifatnya yang bijaksana itulah yang disukai oleh ku
dan juga teman-temanku yang lain.
"kak hara ingatkan semuanya apa yang diceritakan kang Adin hahaha semua itu terasa masih jelas di dalam pemikiran kita ya teman-teman.."
lengkapnya suhara kini dia duduk di sudut ruangan itu dia nampak lebih tua daripada aku suara senyum-senyum entah apa yang dipikirkannya tapi kadang juga dia terlihat menghapus air matanya dengan tisu yang ada di depannya yang memang aku sediakan untuk mereka karena usai makan-makan tadi.
yang lebih banyak cerita adalah Thalib ia menceritakan semua tentang perilaku aku..
aku di kupas habis di hadapan teman-teman yang kini sudah mulai percaya bahwa aku adalah Adin yang dulu mereka benar-benar percaya dengan gosip yang tersebar di kampungku entah siapa yang menyebarkannya bahwa aku sudah meninggal di rantauan.
Di antara teman kami yang berkumpul malam ini adalah
Talib,chaha,suhara ,Jono,Darso,Ipin, Tarso,..
begitu manis kenangan itu diceritakan diingat kembali...
sayang sekali kini mereka harus berjibaku dengan kehidupan mereka masing-masing.
ada yang masih bertahan untuk bisa mendapatkan makan untuk memenuhi kebutuhan keseharian?
ada yang sudah menjadi juragan?
ada yang sudah menjadi pejabat desa?
ada yang masih menjadi seorang petani klutuk.
ada yang sudah menjadi pengusaha.
bahkan ada yang sudah menjadi preman pasar.
aku menarik nafas panjang di atas jalan tol yang membentang membelah desa kami.
mataku menatap seorang wanita berwajah cantik.usianya sama denganku Dia menjadi gadis idaman di kampungku. kulihat dia baru saja pulang dari tandur buruh menanam padi.
mata wanita itu sepertinya ingin menghindar dari tatapanku Apa mungkin juga dia tidak tahu bahwa ini adalah aku temannya yang dulu pernah bersama-sama mandi-mandian berdua di sungai depan rumahku.
mencari kayu tebu bersama-sama dengan, bahkan mencuri tebu milik perkebunan tebu. bersama-sama. dia tidak paham lagi dengan aku. bisa jadi begitu.. aku juga harus paham dan mengerti adat istiadat yang ada di desa ini.
seorang laki-laki tidak boleh memanggil wanita dari jarak jauh.
itu dianggap tidak sopan..
maka aku pun mencoba mendekatinya jarak lebih dekat Tarini. tidak sendiri.. dia bersama kakaknya yang perempuan yang juga baru pulang tandur buruh tanam padi. mungkin sekalian menjemput anaknya yang pulang sekolah.
"Tarini ...kamu Tarini kan"
wanita itu kaget dia seperti ketakutan melihat kehadiranku.
"kamu siapa mas? siapa kok tiba-tiba ada di sini tolong jangan ganggu kami. dunia kita sudah berbeda kalau saya ada salah sama kamu Saya minta maaf ya mas Nadin!!"
kata-kata yang sama juga diucapkan oleh kakaknya atau Mbak Yu nya .
"maaf kalau kamu benar Tarini .saya Nadinsaya masih ingat yang bersamamu itu mbakyumu Jamilah kan? Tarini aku memang digosipkan bahwa saya sudah meninggal.. coba perhatikan. mana ada hantu nongol di siang hari seperti ini .kamu ini gimana sih tar ? masa nggak bisa bedakan mana hantu mana orang beneran?.. aku Nadine temanmu yang dulu teman kecilmu dulu."
"astagfirullah Nadine jadi kamu masih hidup subhanallah maafkan saya benar-benar tidak percaya kalau kamu benar-benar masih hidup..?
aduh ya Allah Alhamdulillah temanku masih hidup lalu sekarang bagaimana keadaanmu Din?
maafkan kami ya Din aku sekarang percaya kalau kamu itu benar-benar masih hidup.
"ya yang seperti kamu lihat saat ini aku masih hidup memang aku digosipkan sudah meninggal dunia semalam baru saja saya klarifikasi dengan acara kendurian di rumah bibiku..
"oh iya kalau aku ketemu kamu kalau aku ingat kamu kamu masih ingat nggak cilok pedas buatanku? hehehe maaf ya aku masih ingat terus karena aku ngerjain kamu dulu. Aku tahu kamu tidak suka pedas makanya aku simpan cabe di dalamnya untuk ngerjain kamu hahaha ingat nggak?"
Arini dan Jamilah tertawa terbahak kok tiba-tiba hari ini menceritakan tentang cilok pedas aku saja hampir lupa kalau dia tidak mengingatkan.
akhirnya kami mencoba mencari sebuah warung makan aku ajak mereka bersama anak-anaknya Anak Jamilah dan anak tarinya di sebuah warung makan.
"aduh saya malu Din kan pakaian saya masih seperti ini habis kerja tandur.?"
"gak apa-apa lah kan ada mbak Jamilah Mbak Jamilah juga kan pakainya sama .udah sih nggak apa-apa, sesekali lah traktir kalian untuk membuktikan bahwa aku memang masih hidup hahaha..? mana ada hantu ngajak makan di siang hari hahaha"
akhirnya kami menyadari bahwa apa yang telah dilakukan tari ini itu tidak pernah bisa dilupakan.
oleh karimu sendiri
pada saat itu kami belajar masak-masak diantaranya membuat cilok.
aku memang laki-laki yang paling takut dengan yang namanya cabe.
tapi aku sangat menyukai dengan namanya makanan bernama cilok itu.
biaya pembuatannya pun saat itu turunan.
"aku sampai kasihan lihat kamu saat itu Din hahaha kamu cantik teriak nangis minta air minum banyak sekali itu Mbak Jamilah yang ngasih ciloknya aku yang masukin cabenya di dalam cilok"
di sela-sela makan obrolan itu tetap berlangsung dengan begitu saja kami seolah-olah berada di dalam kisah masa lalu.
"Adin ingat nggak kalian kan sudah menikah dengan karini hahaha..."
hari ini nampak senyum-senyum mungkin dia ingat sesuatu
"kalian berdua dulu cocok sekali aku yang merias wajah tarini aku juga yang memasangkan mahkota yang kubuat dari daun daun nangka?? Di kepalamu dengan daun nangka kalungnya menggunakan daun singkong aku yang membuatnya semua aku juga yang mengumpulkan teman-teman seolah-olah kita sedang berpesta menikahkan kamu dan tarini i,masih ngat nggak ?.
Tarini memukul-mukul tangan Mbak Yu nya.
seolah ia merasa malu kalau diingatkan kembali saat-saat itu.
padahal aku sendiri tidak ingat Jamilah yang mengingatkan memoriku kembali bahwa tari ini kecil pernah menikah dengan ku dengan pesta-pestaan yang semuanya terbuat makanannya dari tanah kemudian juga rumput-rumputan yang dimasak seolah-olah memotong daging yang terbuat dari jantung pisang yang dipotong-potong kemudian dimasak dan dibagi-bagikan ke teman-temanku.
astagfirullah pikiranku melayang jauh pada masa-masa itu.
hari ini memandangku sambil menyembunyikan senyumnya dengan gelas berisi air minum.
sehingga dia tersedak karena tak tahan menahan rasa lucu dengan mengingatkan pada masa lalu masa kecil dulu.
"terima kasih ya Din akhirnya kita berjumpa lagi dengan waktu dan gelombang yang berbeda hahaha"".
gaya bahasanya seperti seorang penyiar radio ketika mengakhiri sebuah acara siarannya.
aku pun memberikan beberapa lembar uang kepada anak-anak mereka sebagai pejingan atau tanda kasih perhatian kepada mereka.
"kapan mau pulang lagi sebelum pulang mampir dulu ke gubuk ku ya nanti ku kenalkan pada suamiku? kang Ta'lim diyakini sudah tidak bekerja maklum usia pernikahan kami jauh beda Dia sekarang sudah tak bisa apa-apa."..
"iya nanti kalau masih ada waktu aku akan mengunjungi rumahmu oh ya rumah kamu di mana sekarang? semenjak ada jalan tol ini aku juga tidak tahu lagi di mana tempat tinggal kalian?
"nanti kamu tanya nano saja dia tahu kok minta diantar. kan dia sekarang jadi pejabat desa?
Acara makan siang di warung itu pun berlalu begitu saja karena mereka memang sudah berumah tangga dan sudah mendapatkan kebahagiaan hidupnya bersama suami mereka masing-masing.
aku terkejut saat aku ditawari bantal oleh seorang pramugari kereta ini. Aku baru sadar aku masih dalam kereta untuk menuju pulang ke daerah perantauanku lagi....
kereta yang ditumpangi dari stasiun Ciledug menuju ke stasiun Kutoarjo telah meninggalkan semua kenangan dan menjelang harapan kehidupan baru yang lama kujalani.