BAB 1 PERTENGKARAN
"Bude tau kamu marah, apalagi kamu juga sudah kerja bantu bude sama bapakmu cari uang." Bude menghela napas pelan sembari meletakkan napan berisi pisang goreng ke atas meja. "Tapi abangmu masih kuliah Le, dia juga butuh uang. Bude nggak habis pikir buat nyekolahin kalian berdua ... pening kepala bude, Le," gusar Bude menatap dengan pandangan lelah ke arahku sekadar meminta pengertian.
Wanita paruh baya itu kemudian melenggang pergi, setelah sebelumnya menyuguhkan pisang goreng yang asapnya masih mengepul di atas meja makan. Meninggalkanku yang betah memantung di tempat tak berniat bicara. Cengkeraman di rok panjang yang kukenakkan semakin mengetat, menahan bulir air mata lolos dari pelupuk. Aku paham bude tak berniat menyakiti perasaanku, bude pasti sangat sayang kedua anaknya--aku dan Bang Alvin--hanya saja kali ini keputusan bapak dan bude tak mudah untuk diterima begitu saja. Ingin mengenyam pendidikan tinggi dengan usaha sendiri nyatanya masih tak membuat mereka luluh. Bekerja serabutan pun tak mampu menggerakkan hati mereka, pundi-pundi rupiah yang kuhasilkan kadang bahkan diberikan pada Bang Alvin untuk biaya kuliahnya. Entah kenapa, aku tak lagi merasa kasihan pada lelaki itu.
"Dek, lo kenapa?" Lelaki berpakai kemeja biru itu membuyarkan lamuanku. Bening air mata yang tiba-tiba jatuh bergulir di pipi segera kuhapus kasar. Ah, ternyata Bang Alvin baru pulang dari kuliah.
"Nggak!" Aku segera beranjak dari duduk, berniat berlalu. Namun, Bang Alvin gegas menggenggam lenganku kuat.
"Gue tanya lo kenapa? Kenapa lo nangis?" Pertanyaan bertubi-tubi dari lelaki jangkung itu kubalas dengan bungkaman. Sudah malas untuk saling adu mulut, sayangnya kedua orang tua pun kadang tak memihakkku. Selalu mengutamakan Bang Alvin atas segalanya, alasan karena lelaki itu adalah anak pertama sering kutelan mentah-mentah.
"Lepasin! Aku mau ke atas!" bentakku sembari melepas cengkeraman di lengan.
Aku terus menunduk, mengontrol amarah dengan mengalihkan pandangan ke sekitar.
Melihat tingkah yang tak bersahabat, Bang Alvin akhirnya membiarkanku melengang pergi di hadapannya. Melesat menjauh membawa sakit hati yang kini datang merundung
******
Aku menatap cermin di depanku, gadis sederhana terpampang jelas di sana. Rambut hitam terurai panjang, lekung tubuh lansing, dan tinggi sekitar 165 cm.
Aku tersenyum kecut, teringat kata orang-orang kala itu bahwa aku pantas dijadikan model saja. Didukung oleh rupa yang katanya cantik dan sederhana. Sungguh, aku benar-benar ingin tertawa mengingatnya. Bagimana bisa menggapai cita-cita itu? Bahkan mau kuliah saja kini terhambat ekonomi yang tidak memungkinkan aku bebas melangkah.
[Haii Zea. Gimana? Lo melanjut nggak?]
Bunyi notifikasi membuatku beranjak meraih gawai. Pesan dari Riska--teman sekolah--muncul beberapa detik lalu. Aku menggeram kesal, lalu membiarkan pesan itu basi ditelan waktu. Bukan tanpa alasan bertingkah begitu padanya, rasa malu yang menggerogotiku tak mampu mengatakan yang sejujurnya pada Riska. Kehidupan kami yang jauh berbeda itu menjadi faktor utama. Anak wali kota seperti Riska tentu tak perlu repot-repot mencari tempat yang cocok untuk sekolah. Sekali sang ayah bertindak. Aku yakin Riska bisa kuliah di tempat mahal mana saja.
Kuletakkan gawai di atas nakas, membiar notitiikasi dari Riska menumpuk, deretan pesan yang menanyakan tetangku. Sebenarnya bingung harus mengatakan apa dalam keadaan sedih seperti ini.
"Le, ayok makan!" teriak Bude dari luar. Pintu kamar memang sengaja kubiarkan terkunci, semata agar mereka tak melihat bagaimana kondisi kamar yang kini kubuat porak-poranda lantaran melampiaskan kekesalan yang mengunung ini.
"Iya, Bude!" balasku segera melompat dari peraduan. Melirik cermin sekilas untuk menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel di sudut mata.
Sejurus kemudian, tatapanku bersiborok dengan mata tajam sesaat mendorong pintu kamar untuk keluar. Bang Alvin ternyata sedari tadi berdiri di depan sana menungguku.
"Ngapain?" tanyaku tak suka, menghindari tatapan kosong yang lelaki itu layangkan.
"Gue mau ngomong berdua sama lo. Kayak ada yang harus--" Ucapan Bang Alvin terpotong ketika melihatku berlalu dari hadapannya. Gegas menuruni tangga menyusul Bude dan Bapak yang kini duduk di meja makan.
"Dimana abangmu, Le," tanya Bude sibuk mengisi piring satu per satu dengan nasi. Sedangkan Bapak masih fokus dengan koran di tangan.
"Di atas," balasku seadaanya seiring dengan langkah kaki yang terdengar mendekat.
Aku diam ketika piring milikku diisi nasi oleh Bang Alvin, biasanya lelaki itu tak akan memusingkan hal sekecil ini sebelumnya. Bahkan sibuk dengan layar gawai dan membiarkan Bude mengurus semuanya. Dari dulu, Bapak dan Bude memang sangat memanjakan Bang Alvin. Jadi, melihat tingkahnya yang berbeda seperti ini, mungkin karena sebuah niat terselubung padaku.
"Gimana kuliahnya, Nak?" Bapak akhirnya bersuara ketika Bang Alvin datang.
Lelaki itu menggeser kursinya di dekatku dan mendarakan tubuhnya, sebelum menjawab pertanyaan Bapak.
"Baik, Pak," balas Bang Alvin meletakkan piring yang sudah diisi nasi. Saat aku hendak mengambil lauk, lelaki itu gegas mengambilnya terlebih dahulu untuk menaruhnya di atas piring milikku.
"Ya, sejauh ini masih aman-aman ajalah, Pak. Jadwal kuliah juga semakin padat. Jadi, aku kayaknya bakal pulang telat akhir-akhir ini," terang Bang Alvin. " Tugas juga menumpuk."
Bapak terlihat mengangguk bangga, padahal menurutku itu hal yang biasa saja. Namun, melihat kedekatan Bapak dan Bang Alvin kadang menyulutkan api cemburu di dalam sini. Hal sekecil pun kadang tak lepas dari pandangan Bapak, memuji lelaki itu berlebihan. Sedangkan aku? Bagai dianaktirikan oleh mereka. Tidak pernah jadi pusat perhatian.
"Bu, udah bilang. sama Zea?" tanya Bapak sesaat pandangan kami bertemu. Aku tahu maksud Bapak. Semalam tak sengaja mendengar pembicaraan antara Bude dan Bapak yang memutuskan agar aku tak melanjut seperti kebayakan teman-temanku. Lulus SMA, aku disuruh untuk mencari kerja apa pun. Sedangkan anak lelaki lebih diutamakan.
Bude mengangguk pelan, ada rasa penyesalan yang kudapati di bola mata itu membuat netranya tampak berkaca-kaca. Di lain sisi memaksaku harus memahai keadaan.
"Aku nggak lanjut, Pak? Aku gimana?" Tak tahan lagi, aku mengangkat suara melihat mereka semua mendadak terdiam, meski harus dengan suara bergetar dan sedikit dipaksakan.
"Neng ... bukannya bapak nggak mau kamu sekolah, bapak tau Eneng pengen kuliah kayak abangmu. Tapi ekonomi kita, Neng. Nggak memadai, terpaksa kamu ganggur dulu," jelas Bapak pelan memberi pengertian.
"Tapi kan, Bang Alvin juga bisa kerja?! Kenapa Bang Alvin nyantai ajah selama ini? Pak, dia udah besar, seharusnya udah bisa jadi tulang punggung keluarga. Menarik adiknya agar sukses. Bukannya cuman nunggu uang dari Bapak sama Bude!" tungkasku menahan agar tak sampai menangis saat ini juga.
Keadaan langsung hening seketika, hanya terdengar bunyi kursi yang berdecit menyentuh lantai lantaran digeser oleh Bude. Wanita itu berlalu terlebih dahulu pergi, sempat terdengar isak tangis Bude yang membuatku meringis pelan. Ingin rasanya juga meluapkan rasa yang tertahan.
Bapak terlihat bungkam, juga tak menyentuh makanan di depannya. Mungkin sudah tak enak lagi untuk dicerna. Bagiku juga demikian, rasanya hambar hingga hanya bisa kuaduk-aduk sampai tak berbentuk. Namun, berbanding terbalik dengan lelaki di sampingku. Suapan demi suapan membuat nasi di piring miliknya tinggal sisa.
Ah, rasanya sakit ... melihat Bang Alvin abai dengan keadaan.
"Dek, Ikut gue." Aku langsung terlonjak kaget tatkala lelaki itu menarik tanganku cepat dan pergi menjauh. Entah apa yang sebenarnya ingin ia katakan.
Bersambung....