Suara guntur saling bersahutan, petir menyambar-nyambar memecah kelamnya langit malam. Angin berembus kencang di atas luasnya amukan laut disertai dengan hujan deras yang dapat melukai kulit siapa pun.
Gelombang laut semakin keras bergerak menghempas apa pun yang berada di permukaannya, termasuk dua kapal besar perompak yang saling berdempetan, terus bergerak cepat seakan-akan mengejar arah tujuan.
Namun, kedua kapal itu tidak bergerak lurus begitu saja, tetapi bergerak berbelok ke satu arah mengikuti arus gelombang laut yang berputar pada satu obyek. Obyek itu ialah lubang besar di tengah-tengah hamparan lautan, menganga lebar disertai gemuruh keras menyahut amukan petir di langit.
Mulut seekor Kharibdis semakin liar menghisap isi lautan di tengah amukan badai, tak peduli jika suatu pertarungan terjadi di atas kedua kapal bajak laut yang sebentar lagi akan ia telan.
‘UGRRRRAAAAHHH!!!’
Kedua kapal perompak itu masih berdempetan, bergerak berbelok makin dekat dengan mulut Kharibdis. Seluruh pasukan perompak masih bertarung di geladak kapal, tak peduli angin menggoyahkan keseimbangan mereka dan gelombang laut terus berusaha membuat oleng kapal.
Yang mereka pikirkan adalah berusaha membunuh lawan mereka apa pun yang terjadi.
“Hakh!”
“Hargh!”
Dua pedang logam berdenting keras disertai percikan kecil ketika saling dibenturkan, mencari celah tepat tuk saling melumpuhkan. Dua kapten dari masing-masing kelompok perompak beradu pedang dengan sengit di atas cabang horizontal salah satu tiang kapal.
Tak peduli dengan sambaran petir yang dapat mengancam mereka kapan saja, keduanya tetap sengit bertarung, saling melumpuhkan, hendak saling membunuh.
Satu kapten perompak yang memakai jubah mantel merah dengan rambut cokelat berantakan sempat bersalto ke belakang, menghindari serangan dari kapten perompak lainnya yang terlihat memakai jubah ungu dan memiliki tubuh lebih besar dengan wajah yang begitu sangar.
Kapten merah itu mendarat dengan posisi berlutut di atas batang tiang layar kapal, menatap tajam sang musuh lewat netra peraknya dengan nafas tersengal karena lelah.
“Kali ini, kau tidak akan bisa lolos kemana-mana lagi, Leonash!” Sang kapten ungu menodongkan ujung pedangnya. “Kau terkepung bersamaku dalam amukan laut. Sudah saatnya kau dihakimi di sini atas segala tindakan tercela yang kau perbuat!”
Ia melanjutkan dengan mata merah melotot, “Akan kurebut posisimu sebagai Kaisar Perompak di dunia ini! Tidak akan kubiarkan manusia tengil sepertimu semakin menginjak-injak karirku sebagai perompak terhebat di SeaTale!”
Ekor mata Leonash sempat melirik ke samping, tepatnya di bagian laut yang jauh dari posisi mereka sekarang. Terlihat pertarungan sengit antara dua monster raksasa beda spesies di tengah badai laut. Satunya merupakan seekor monster ular raksasa yang sangat besar dan panjangnya hampir keseluruhan lautan ini, sedangkan satunya merupakan seekor naga biru-hitam yang terbang di atasnya.
Ular Jormungand dan Naga Solarus, keduanya begitu sengit bertarung, saling menyerang satu sama lain, ditambah dengan kilat petir menyilaukan yang semakin membuat pertarungan keduanya terasa mencekam bagaikan kiamat monster. Solarus beberapa kali menerjangnya disertai aura biru di kedua sayap dan cakar, sedangkan Jormungand berusaha tuk menggigitnya.
Kalau dilihat dari situasi sekarang, memang tidak ada celah lagi bagi Leonash dan kelompoknya tuk bisa lolos dari maut. Ada banyak jenis maut yang mengancamnya sekarang, dimulai dari badai deras yang entah kapan redanya, Kharibdis yang terus berusaha menghisap kapal mereka, Jormungand yang terlihat makin liar melawan Solarus, dan diri Leonash sendiri yang berhasil dipojokan oleh musuh.
Namun, walau sudah di tengah-tengah maut begini, pria itu masih bisa santai memasang ekspresi remeh pada sang lawan.
“Kau sendiri sama tercelanya sepertiku, Kapten Oragon yang ‘sok’ hebat,” hina Leonash sambil bangkit berdiri. “Aku bisa sampai di posisiku sekarang berkat kerja kerasku selama lebih dari 20 tahun sebagai perompak. Aku sudah hebat dari berbagai hal sejak lama.”
“Tidak sepertimu yang kebetulan bisa setara denganku sekarang hanya karena kekuatan instan hasil penanaman Kristal Keabadian di jantungmu. Dasar pecundang!”
Mata merah Oragon makin melotot hendak keluar dari tempatnya, giginya bergemeletuk, emosinya makin memuncak ketika dihina sekasar itu oleh Leonash.
Dia tidak akan membiarkan harga dirinya jatuh oleh perompak tengil seperti Kapten Leonash, sang pemimpin Kelompok Perompak Besar Aurora.
“Biadab kau, Leonash!!!”
Oragon melesat, mengayunkan pedangnya tepat ke arah Leonash. Disertai seringai, Leonash cukup mundur sedikit menghindari serangan itu. Dalam serangan-serangan berikutnya, Leonash menepis semua serangan Oragon dengan lebih mudah, apalagi di saat pria bertubuh tinggi-besar itu dalam keadaan emosi seperti ini, gerakannya makin tidak karuan.
“Kenapa, huh?” Leonash menahan serangan pedang Oragon dengan pedangnya. “Gerakanmu sudah tak karuan. Apa tubuhmu kelebihan beban dosa, Pak Tua?”
“Kau...!”
Oragon makin liar mengayunkan pedangnya pada Leonash, tak sabaran hendak memenggal kepala pria tukang ejek itu. Dan dengan mudah pula Leonash menghindarinya.
“Marahlah! Aku sangat senang melihat babi hina sepertimu mendengus liar. Sangat jelek, dan sangat hina!”
“Cukup, Leonash!!!”
Kali ini, Oragon melapisi pedangnya dengan aura ungu, menghempaskannya ke arah Leonash hingga menciptakan aura sabit ungu.
Leonash pun menghindar dengan cara terjun dari tiang, lalu meraih salah satu tali pada tiang layar, dan mulai berayun ke arah lain.
Selama berayun menuju tiang lain, Leonash sempat melihat pertarungan masif di geladak kapalnya. Di sana sudah banyak mayat berserakan di sembarang tempat, bahkan ada yang sudah jatuh dari kapal, entah itu dari pihaknya maupun pihak Oragon.
Di saat itu pula Leonash sempat berpikir, mungkin memang sudah tidak ada harapan lagi bagi kelompoknya untuk lolos.
Leonash berayun dengan kencang ke atas tiang layar yang lain dan berhasil mendarat di cabangnya. Di saat itu pula, sosok Oragon muncul begitu saja, melesat dengan pedang beraura ungu siap menusuk.
Reflek Leonash menghindar dengan cara melompat tinggi dalam posisi terbalik dengan satu tangan bertumpu di bahu Oragon, melayang melewatinya dan mendarat agak jauh hampir mencapai ujung cabang tiang.
Oragon sudah beberapa kali menggunakan kemampuannya. Sudah saatnya Leonash membalas dengan kemampuannya juga.
Leonash sempat mengayunkan pedang antik kesayangannya. Sebuah pedang keras berlapis kaca patri kuat dengan warna hijau-biru mendominasi, dan warna-warna kecil seperti merah dan kuning sebagai corak.
Satu tangannya perlahan mengelus badan pedang mulai dari bagian gagang, menciptakan aura biru yang melapisi senjata tersebut. Seiring aura biru melapisi pedangnya, samar-samar gelombang cahaya warna menyerupai aurora bermunculan di sekitar Leonash.
“Ah?”
Namun sayangnya, aurora kecil itu lenyap begitu saja, sama halnya dengan aura biru pada pedang patrinya.
Leonash langsung sadar penyebab mengapa ia tidak bisa menggunakan kemampuan auranya. Dia kembali menoleh ke arah pertarungan antara Solarus melawan Jormungand. Pertarungan itu kini terlihat makin intens karena badai semakin keras menerjang dan gelombang laut makin meninggi dalam amukan.
“Ular itu....” Leonash menyipitkan mata peraknya curiga.
Leonash menyadari bahwa penyebab aura miliknya tak bisa digunakan adalah Jormungand. Ketika tubuh monster ular raksasa itu semakin membesar, maka tubuhnya akan mengeluarkan racun mistis yang dapat merusak aura maupun mana milik orang lain yang bukan pemiliknya. Racun itu akan semakin masif menyebar saat terjadinya kekacauan alam, seperti badai laut ini.
Dalam pertarungan monster itu, Jormungand membuka mulutnya lebar, mengumpulkan partikel-partikel ungu dalam satu bola besar, lalu disemburkannya menjadi semburan aura ungu yang sangat besar tepat ke arah Solarus.
“Solarus!”
Naga biru raksasa itu sempat menciptakan perisai magis tuk melindungi tubuhnya. Akan tetapi, perisai itu perlahan retak, tak sanggup menahan semburan aura ungu Jormungand yang sangatlah kuat.
Pada akhirnya, perisai itu hancur dan semburan aura Jormungand berhasil menelan seluruh tubuh Solarus, bahkan semburan itu pula berhasil menembus langit hingga menciptakan lubang besar di kepulan awan gelap badai serta berhasil menyebabkan petir-petir semakin liar menggelegar di atas sana.
‘GRRRAAAAAKKKH!!!’
Solarus meraung merasakan sakit yang luar bisa menggerogoti seluruh tubuhnya. Aura ungu Jormungand terasa membakar, mencincang tubuhnya sampai lenyap dalam cahaya ungu.
Ketika semburan aura itu makin menipis menjadi garis, sosok Solarus sudah hilang dari langit sana. Jormungand pun meraung keras atas kemenangannya, membuat seluruh lautan bergetar, menciptakan gelombang laut yang cukup tinggi di sekitarnya dan membuat beberapa petir semakin sering menyambar-nyambar.
Sudah tidak ada harapan lagi bagi Leonash tuk bertahan. Banyak awak kapalnya telah gugur, Solarus telah tewas, dan dia juga tidak bisa menggunakan kekuatannya sama sekali.
Sungguh, Leonash benar-benar terpojok sekarang. Belum pernah ia berada dalam situasi seburuk dan serumit ini selama ia menjadi seorang pemimpin perompak.
“Kau lihat, Leonash!”
Leonash menatap tajam ke arah Oragon yang tengah memberikan seringai lebar padanya.
Seringai yang terlihat sangat menjengkelkan, membuat Leonash ingin merobeknya sampai hancur kalau bisa.
“Familiarmu telah tewas, dan kau juga tidak bisa menggunakan kekuatanmu. Akui saja kekalahanmu sekarang. Kau tidak bisa kemana-mana selain pergi menuju jalan kematian.”
Oragon mengayunkan pedangnya ke bawah, menembakan aura sabit ke geladak kapal. Dari serangan aura itu, terciptalah berbagai macam roh makhluk-makhluk buruk berwarna ungu yang keluar dari setiap permukaan kapal. Mereka semua menyerang para awak kapal yang masih hidup, menggigit dan mengunyah mereka sampai hancur.
Jeritan kesakitan terdengar nyaring di telinga Leonash, semakin nyaring lagi ketika makhluk-makhluk itu melahap habis tubuh mereka hidup-hidup.
Tak sampai di situ saja. Puluhan roh buruk juga ikut muncul dari dalam batang tiang di sekitar mereka. Beberapa di antaranya berhasil menahan kedua kaki Leonash, dan yang lainnya menahan seluruh tubuh hingga kepala sang kapten perompak sampai benar-benar tidak bisa bergerak. Pedang patri kesayangannya pun lepas dari genggaman dan jatuh tenggelam dalam lautan.
“E-ergh....” Leonash berusaha melepaskan diri, tapi tak bisa.
Oragon melangkah mendekati Leonash dengan pedang beraura ungu siap tuk menghabisinya di waktu itu juga.
“Kau... sudah tidak bisa apa-apa lagi Leonash.” Oragon menyeringai semakin lebar. “Andai saja para perompak dari seluruh SeaTale melihat keadaanmu sekarang, mereka pasti akan menertawakanmu.”
“Kapten Leonash dari Perompak Aurora tak berdaya dalam kuasa seorang Kapten Oragon yang terkenal kejam dan berkuasa ini. Mulai sekarang, kau bukan lagi Kaisar Perompak. Akulah yang berada di posisi tertinggi itu.”
“Lagi pula, jika kau mati, apa yang bisa kau lakukan? Jadi, tidak sepantasnya gelar itu masih merekat dalam jati diri orang mati sepertimu.”
Leonash akui, ia memang sudah kalah telak sekarang. Dia hanya bisa menunggu ajal menjemput, tapi bukan berarti ia mati dalam keadaan lemah di hadapan orang semenyebalkan Kapten Oragon.
“Jika aku mati, setidaknya aku masih bisa menggentayangimu sampai kau mati ketakutan.” Leonash balas memberi seringai remeh.
Oragon membelalak murka kembali, bahkan genggaman tangan pada gagang pedangnya juga nampak bergetar saking kuatnya.
“Camkan ini, Wahai Kaisar Perompak Oragon Yang Agung dan Perkasa! Walaupun ragaku mati, tapi jiwaku akan tetap terus menggentayangimu, memberikanmu ketakutan tak berujung. Dan jika saatnya tiba, aku akan mengejarmu dengan jiwa kekalku ini, Oragon!”
“Aku akan mengejarmu bahkan sampai ujung neraka sekalipun!”
“Haaaarrrghhh!!!”
Oragon meraung dalam amarah, langsung menusuk tubuh Leonash menggunakan pedang tepat di ulu hatinya.
Mulut Leonash seketika memuntahkan darah. Walau dalam rasa sakit menunggu ajal, Leonash masih saja dapat menyunggingkan senyum khasnya.
“Se-selamat... atas kenaikan takhtamu, Kapten... Oragon.... Sampai berjumpa lagi... di neraka...!”
Tubuh lemah Leonash dijatuhkan ke laut. Dalam keadaan seperti itu, dia masih tak menampakan sisi lemahnya. Leonash tetap tersenyum, bahkan satu tangannya sempat mengacungkan jari tengah sebelum akhirnya dilahap gelombang laut.
“Biadab kau Leonash!”
Di saat itu juga, mata merah Oragon kembali membelalak sempurna ketika menyadari sesuatu. Dia mencoba merogoh dan meraba-raba sesuatu dari dalam saku pakaiannya, tapi hasilnya nihil.
Dia tidak menemukan hartanya. Harta yang sangat berharga untuknya.
“Dia merebutnya....” Nada bicara Oragon bergetar. “Dia merebutnya, bahkan di detik-detik ajalnya...!”
Kedua tangan terkepal begitu erat, nafas tersengal mulai tak teratur, kepalanya terasa berdenyut tak dapat menahan panasnya luapan amarah yang terus makin memuncak hanya karena pengaruh Leonash.
Dalam ajalnya pun, Leonash tetap berhasil membuat Oragon semurka ini. Sangat menjengkelkan!
“LEONASH!!!”
Dalam derasnya amukan badai, Oragon meraung marah pada sosok yang berhasil ia bunuh sendiri.
Petir masih nampak saling menyabar di atas langit, hujan makin deras berjatuhan, dan gelombang laut semakin meninggi. Sosok Jormungand terlihat berenang mendekati kedua kapal tadi demi menyelamatkan tuannya dari hisapan Kharibdis.
Walau sudah berhasil mendapatkan takhta dan telah membunuh musuh bebuyutan, tetap saja hati dan pikiran Oragon merasa tak tenang. Apalagi ketika teringat akan ancaman Leonash terakhir kali sebelum kematiannya.
Benarkah demikian?
~*~*~*~
Note : Sebenarnya, ini prolog novel yang saya bikin. Tapi, yaaaa.... Dah keburu buntu otak saya (untung kagak jadi dipublish) :v