Untuk menghindari hal yang tidak di inginkan sengaja aku datang setengah jam lebih awal dari jadwal penerbanganku ke bandara. Berkat perburuanku mencari tiket pesawat dalam Aplikasi Travel. Akhirnnya aku mendapat tiket dengan biaya lebih rendah dari harga yang berlaku namun harus di jadwalkan penerbangan di malam hari. Setelah melakukan check-in dan pemeriksaan semua barang yang kubawa lalu duduklah aku seorang diri di barisan bangku keberangkatan. Sesekali aku merapatkan Jaket Denim, sengaja kupakai menghindari cuaca dingin yang melanda kota Solo malam ini.
Aku merenungkan kembali keputusanku. Perihal kepergianku dengan segala pertimbangan yang sudah mantap kutetapkan namun tidak menghapus rasa cemas yang kurasakan. Memilih mengindahkan fokus pikiranku, retinaku menjelajahi bandara yang baru kusadari cukup ramai walau bukan terjadwal hari libur.
Sekali lagi aku tidak bisa mengenyahkan pikiranku. Ada sesuatu yang tertinggal yang akan membekas di hatiku mungkin akan berjalan mengikuti langkah hidupku bahkan setelah kepergianku dari sini. Ini perihal kebodohanku sendiri dalam memilih romansa yang kunikmati. Yah aku bukanlah penikmat romansa yang nyata melainkan penikmat bayangan fatamorgana. Ini tentang rasa benci yang kutanam, kupupuk dengan dendam, ku siram dengan kegusaran yang sengaja kurawat dengan hikmat. Hingga aku sadar jika akulah pemilik dari lahan yang kutanam. diam-diam aku memiliki rasa itu, sehening angin malam , sesunyi dan sesenyap mengagumi dan memujanya dengan ketakutan yang teramat mendalam.
Ketidak berdayaanku untuk menyadari semunya membuatku memilih pergi begitu saja meninggalkan tanggapan hati yang entah aku saja tidak tahu tempatnya berhenti. Kendati demikian itu tidak mebuatku putus asa. Aku masih bisa menguatkan diri untuk menyadari tidak semua yang kuinginkan akan aku dapatkan.
Aku menghembuskan nafas berat, kegelisahan mulai merundungiku tidak seharusnya aku seperti ini harusnya aku mulai melupakannya, menghapusnya, kalau perlu menghilangkannya walau perlahan setidaknya mencoba walaupun gagal. Alih-alih menguatkan diri nyatanya aku tak kuasa menahan diri untuk menumpahkannya di sini. Aku memeriksa lagi informasi yang tertera di layar segi empat besar itu menampilkan jam penerbanganku yang menunjukan pengunduran waktu keberangkatan yang artinya penerbanganku akan delay. Suara nyaring berasal dari tas kecil dipangkuanku. Tertera nomor tidak dikenal di layar Handphone. Pasti temanku mau mengucapkan selamat atas kelulusanku atau sekedar berbasa-basi memberikan kata perpisahan.
“ Halo Marissa....” bibirku terkatup rapat, untuk sesaat aku berhenti bernafas karena tercekat, aku mengerjapkan mata berulang kali lalu menormalkan keadaanku yang mulai mengatur ritme jantungku berdetak cepat, sekali lagi aku harus benar-benar memastikan suara itu, suara berat disebarang sana menyebut namaku! . Untuk pertama kalinya tanpa ada nada permusuhan sebagaimana halnya selama ini.
“ Ha...hai...”. Hanya itu yang dapat ku ucapkan setelah mendapatkan kembali suaraku.
“ Marissa...aku ” aku mendengar suara nafas berat di seberang sana sebelum dirinya melanjutkan ” Barusan aku membaca surat...yang kamu sisipkan di rangkaian bunga hadiah kelulusan kita “
Semilir angin suasana bandara yang terbuka menerpa kulitku yang terasa panas seketika. Perlahan hawa itu menjalar ke wajahku yang mungkin sudah pucat. Aku memejamkan mataku mengendalikan situsiku sendiri.
“ Mar aku harus ngasih tau sesuatu sama kamu...kamu dimana sekarang...?”
Aku terkejut dirinya menanyakan keberadanku sekarang, yang memang tidak pernah melihat ku ada selama ini
“ kamu ngelakuin ini hanya untuk menghiburkukan, percayalah aku pandai memahami ” aku tersenyum menguatkan diri mempertahankan kekuatanku untuk tidak menumpahkan tangisku.
“ Aku serius Mar kamu dimana...? Aku cari dikosan kamu nggak ada “
Air mataku meluruh seketika, aku menutup wajahku takut orang sekitar melihat drama menyedihkan dari diriku yang tidak tahu diri ini untuk mengontrol emosi. Sebuah pertanyaan ringan namun mampu membuat sesuatu diperutku menari-nari riang.
Seorang Elvan, lelaki tampan, pintar dan cerdas pujaan seluruh mahasiswi, selalu mendapat mendapat perhatian yang berlebihan di jagat kampus karena dirinya memang memiliki bakat untuk di kagumi. Elvan dengan seluruh kelebihan yang di dambakan itu tidaklah pernah kurasakan. Dirinya selalu menatapku dingin penuh kebekuan. Dirinya yang selalu mematahkan argumenku ketika berdebat mampu membuatku terdiam, sedangkan dirinya mendapat tepuk kagum dan pujaan. Dirinya yang selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Dirinya yang selalu menjadi perhatian mampu membuatku tersisihkan. Dirinya yang selalu berhasil menyingkirkanku sebagai sasaran. Aku merasa dirinya tidak menyukaiku. Berbeda dengan perlakuannya yang manis dengan seluruh gadis. Aku merasa dirinya sangat membenciku, mungkin itulah awal diriku membencinya.
Awal aku mengutarakan perlawanan padanya walaupun tidak pernah kurasakan dirinya mengiyakan. Segala perselisihan yang terjadi pada kami selama ini amat sangat kurasakan, aku tidak tahu padanya. Mungkin dirinya begitu sangat menikmati kegagalan yang kuhasilkan dari permainan yang kubuat sendiri. Walau begitu sebuah pelajaran yang kudapatkan bahwa aku selalu mendapat posisi yang cukup baik dalam hal apapun dibalik semua persaingan diantara kami selama ini dan mau tidak mau aku mengakui jika dirinya memang lebih hebat dariku.
Dua hari lalu tepat di hari wisuda kami aku membuat pengakuan atas semua perasaan yang kupendam selama ini. Namun bukan kata permintaan maaf atas perdamaian yang kucurahkankan di kertas itu melainkan perasaan ketidaktahu dirianku yang memuja dan mengaguminya dari kejauhan, dibalik semua kata menyakitkan yang kuucapkan melawan dirinya yang teduh selama ini. Tersimpan sedikit kata yang memepermainkan diriku, yang melululantahkan perasaanku, yang tidak bisa membuatku membencinya seberapapun dirinya menyakitiku, mempermalukanku, dan memberikan yang selalu menyayat hatiku.
Disurat itu aku menuliskan semuanya, menumpahkan perasaanku kedalam kata demi kata. Mengakaui jika aku mencintainya sampai kapanpun, mengaguminya dalam geraknya, memujanya dalam bayangnya. Segalanya sudah terungkap di secarik kertas itu dalam tulisan tangan yang kutorehkan dalam dan malu-malu. Lalu ku sisipkan ke rangkaian bunga yang sengaja kubeli cukup mahal untuk mengimbangi suratku yang menyedihkan. Lalu aku memberikannya melalui gadis kecil yang kuketahui adalah adiknya. Kukatakan ini perwujudanku sebagai rivalnya selama ini sekaligus sebagai tanda ucapan karena berhasil membawa namanya menjadi mahasisa terbaik dalam lulusan wisuda tahun ini.
Bohong jika aku tidak mengaharapkan dirinya hari itu, karena tidak ada hal yang kutunggu selain ucapan selamat darinya walau hanya dalam sepatah kata yang singkat. Namun hari itu aku tidak menemukannya, hanya melihatnya dari kejauhan itupun sudah terlalu biasa bagiku. Aku tidak tahu dimana dirinya untuk menanyankannya pun aku membisu, untuk mencarinya pun aku tak mampu. Cukup surat itu saja yang sudah cukup mewakili semua perasaanku. Yahh hanya perasaanku.
Dan malam ini adalah malam kepulanganku menuju halaman kampungku di Palembang. Sebenarnya bisa saja aku menetap lebih lama lagi di sini mengingat jadwal kostku masih panjang dan sekaligus mencari pekerjaan, namun aku memilih pergi tepatnya pulang meninggalkan sebuah rasa kesalahan yang mungkin setibanya aku di sana akan kembali normal. Karena itu sebuah harapan.
“ Aku di bandara...aku akan pulang Elvan, penerbanganku sedikit lagi ”. aku menghapus air mataku yang tumpah begitu saja. Aku tahu jika Elvan juga merasakan kesakitan yanng kurasakan.
“ tunggu aku akan kesana...” ujarnya sedikit gelisah. Aku terkejut tidak mungkin dirinya akan sampai kesini sebelum penerbanganku tiba mengingat medan yang cukup jauh.
“ Katakan apa yang akan kau sampaikan... ?” tanyaku penasaran.
“ Tidak bisa... aku harus ketemu kamu dulu...” aku semakin merasakan dirinya mengeram cemas.
“ Katakan saja....” Aku merasakan dirinya menggeram putus asa.
“ Marissa...aku juga mencintaimu, aku juga mengagumi senyummu, memujamu dalam keadaan apapun. Aku juga sangat mengharapkan kamu menyapaku. beginilah aku Marissa yang mencintai seseorang dalam diam, seperti inilah aku mencintai seseorang yang tidak bisa aku ungkapkan maka aku akan memilih memeperlakukannya berbeda dengan yang lain. Terkadang aku membenci diriku sendiri yang tidak bisa memahami situasi untuk mendekatimu, meraihmu lalu memilikimu dengan tenang. Aku kadang merasa sedih kenapa kau sangat membenciku, yang semakin membuatku semakin gagal mendapatkanmu. Sungguh aku juga menginginkanmu Marissa...”
Aku terdiam untuk sesaat memahami perkataan Elvan yang bisa disebut pengakuan itu. Entahlah aku merasa bahagia atau sedih untuk mencerna kembali dan meresapi pengakuannya. Hening sejenak aku malas untuk berpikir dan meratapi kisah romansa yang diperumit dengan keadaan dan lelah untuk kembali lagi kemasa itu masa yang menyakitkan untuk kuungkit dan untuk kusegarkan kembali.
“ Apa yang telah kita lalui selama ini adalah jalan kita untuk mengenal satu sama lain, untuk pertama kalinya aku mencintai seseorang yang menginspirasiku banyak hal, aku tidak pernah menyesal mencintaimu. Satu hal yang kutahu jika aku tidak membencimu saat itu mungkin aku hanya dikenal mahasiswa yang biasa-biasa saja bukan mahasiswa musuhnya Elvan yang cerdas...” aku mendengar gelak tawa getir disana. “ Terima kasih atas semuanya...Terima kasih atas rasa gugup yang selalu melandaku ketika hendak masuk kelas ...dan selamat atas pertunanganmu “. Sesak yang berkecamuk didadaku membuat mataku kembali panas. Air mataku jatuh kembali.
“ Ya..aku juga akan selalu mengingatmu sampai kapanpun, kamu adalah musuh terbaikku. kali ini kamu memang Marissa “
Aku tertawa sumbang, semuanya terasa serba salah bagiku. Menang atas pengakuannya dan kalah tidak mendapatkannya.
“ Hati-hati Mar diperjalanan semoga penerbanganmu aman dan selamat “
“ Terima kasih “. Entahlah dalam kalimat terakhir ini aku tersenyum hangat serasa Elvan juga melihat itu.
Aku mengakhiri sambungan dengan alasan penerbanganku sudah siap. Aku tidak berbohong karena memang waktunya untukku Boarding.
Semuanya sudah terjawab dengan adanya sambungan telepon beberapa menit yang lalu, semuanya terasa lega, semuanya terasa terpenuhi. Sekarang hati tak perlu lagi meratap sedih dan mengeluh pilu karena kesalahpahaman ini dan menyalahkan diriku sendiri.
Elvan lelaki yang sangat kucintai,yang ternyata juga mencintaiku kini hanya sebuah kenangan indah yang mungkin akan selalu ku ingat dalam hidupku. Kami saling mencintai hanya saja ketetapan keadaanlah yang membuat kami tidak menyatu dan berjauhan tapi tidak menutup kemungkinan jika kami saling menghargai keadaan itu walaupun terlambat untuk menyadari.
Mungkin inilah yang disebut dengan keadaan menerima lebih dari cukup. Menghembuskan nafas pelan aku tersenyum lega. Aku tidak dapat menahan senyumku yang mengiring langkah jalanku. Tibalah waktunya penerbanganku, aku menyeret koperku menuju pesawat yang akan membawaku terbang mengudara malam ini, mengantarku ke kehidupan yang baru. Mungkin masih ada secerca harapan untukku memiliki lagi kisah cinta yang akan membuatku kembali merasakan romansa yang sebenarnya. Entahlah yang kutahu ini adalah sebuah pelajaran bagiku yang akan membuatku menjadi lebih baik lagi dalam memahami situasi dan keadaan.