"Kapan nikah?"
Sepertinya, pertanyaan basi ini adalah pertanyaan yang sangat membuat kesal. Namun, bagi perempuan sepertiku yang usianya sudah kepala 3, harus siapkan telinga sekuat baja.
Dalam batinku, aku sering kali menggerutu. "Orang mah mana mau tau. Emangnya mereka yang menentukan jodoh?"
Hello,,, please banget deh. Ini tuh bukan zaman Siti Nurbaya dan Siti lainnya. Yang namanya ketemu jodoh juga nggak semudah mencari mie ayam, bakso, dan siomay.
Huft, hawanya memang semromong. Seperti kebakaran jenggot setiap kali mendengar pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban itu.
Tapi mau bagaimana lagi. Hidup terus berjalan dan akan berinteraksi dengan tipe orang yang berbeda-beda.
Di manapun, pasti akan bertemu orang yang kepo dengan pribadi kita.
So, cukup deh masuk telinga kanan dan keluarkan telinga kiri. Hempaskan mengikuti hembusan angin yang berlalu. Beres kan?
Ikhtiyar dan doa untuk jodoh, pasti. Adapun waktu dan takdir bertemu, hanya Tuhan yang tahu.
***
Sebagai sebuah ikhtiyar, suatu hari aku mendownload aplikasi kenalan di play store. Awalnya, aku cukup ragu, nyari jodoh lewat aplikasi kenalan khusus muslim. Namanya Muzzmet kalau tidak salah.
Ya sudah lah ya, trial and error. Jika aplikasi tersebut malah membuat runyam, ya tinggal delete data, uninstal. Selesai.
Meskipun menurutku, menggunakan aplikasi tersebut adalah pilihan yang berat dan perlu kehati-hatian.
Akhirnya, aku memutuskan menggunakan aplikasi itu.
Seiring berjalannya waktu, banyak tuh member yang menyukai informasiku.
Tak lama kemudian, ada salah satu member yang intens chat via aplikasi tersebut.
Kalau dilihat profilnya, dia merupakan anggota di satuan POLRI.
"Assalaamualaikum..."
Itulah kalimat awalan chat yang ia kirimkan.
Selang waktu beberapa hari, aku baru membuka chat tersebut.
Karena diawali dengan salam, aku membalasnya dengan "Waalaikumussalaam warohmatullaah... "
Tak lama, chat tersebut ditanggapi lagi,
"Kamu dari mana?"
"Aku dari Jawa Tengah"
"Ow, jauh ya"
"Lha kamu dari mana ta?", tanyaku.
"Aku asli Medan, tapi dinas di Batam"
"Wah, jauh juga ya..."
Itulah sekilas chat awal kami hingga pada suatu hari, dia meminta nomer WAku.
Aku agak hati-hati sih ketika harus memberikan nomer WA pribadiku kepada orang yang baru dikenal.
Aku ragu-ragu. "Dikasih nomer WA nggak ya?". Dan datanglah pikiran-pikiran lain. Kalau dikasih nomer WA, takutnya, bla.. bla.. bla... bla...
Banyak pikiran-pikiran negatif yang menghantui keputusan untuk memberikan nomer WA pribadi.
Aku memang belum menanggapi chat tersebut. Tapi akhirnya, aku memutuskan untuk memberikan nomer WA kepada laki-laki itu.
Aku hanya berdoa, "Ya Allah, jika cara ini adalah ikhtiyar yang baik, tunjukkanlah. Jika orang ini adalah orang yang baik, tunjukkanlah. Namun, jika orang ini adalah orang yang tidak baik, jagalah hati ini dalam koridor syariah, dan segera tunjukkanlah perangainya."
Setelah memberikan nomer WA, dia cukup intens menanyakan kabar.
Sekedar bertanya, lagi apa, gimana kabarnya, dan sebagainya.
Tapi, aku masih singkat-singkat dan seperlunya menjawab chat WA dia.
Tiga hari berkenalan, dia sudah meminta foto pribadi.
Dalam benak, aku sudah berburuk sangka. Please, masa baru awal-awal udah minta foto?
Aku tidak menanggapi chat tersebut. Aku mengalihkan dengan seputar tugasnya di satuan POLRI.
Tak lama kemudian, di hari ke lima dan enam, dia tanya lagi. "Boleh minta foto nggak dek?"
Pada waktu itu, aku sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas kantor.
Yang mencengangkan, dia langsung video call.
Aku membiarkan WAku berdering. Karena pada saat itu aku memang sedang melayani tamu kantor.
Aku memang berkomitmen untuk tidak melampirkan foto kepada siapapun. Kecuali profesional kerja dan ikhtiyar taaruf. Karena pengalaman sebelum-sebelumnya, aku memang hanya menyertakan foto ketika proses tukar CV dalam ikhtiyar taaruf.
Aku memberanikan diri untuk menanggapi chat WA dia.
"Maaf Kak, aku sedang pelayanan di kantor. Ada apa ya? "
"Kirim foto dong", jawab dia.
Dengan tegas, aku langsung menjawab,
"Maaf Kak, aku berkomitmen untuk tidak mengirimkan foto kepada lawan jenis. Apalagi lawan jenis yang baru dikenal. Aku mau mengirimkan foto apabila ada keperluan lembaga atau proses ikhtiyar taaruf."
"Hahahaha, apa? taaruf? Siapa yang mau taaruf sama kamu. Kamu penipu ya? Sok alim kamu!!! bla, bla, bla, "
Dan kata-kata fitnah, kotor, menjijikan lain yang tidak pernah aku baca dan dengar.
Aku tertunduk lesu.
Seusia sekarang, aku tidak pernah dimaki-maki dengan kata-kata biadab. Apalagi dari orang yang katanya memiliki kedudukan dan berpendidikan. Seorang abdi negara seenaknya melontarkan kata-kata tidak pantas kepada orang lain.
Kata-kata tersebut membuatku bad mood dan berlinang air mata.
Semudah itu dia mengucapkan kata-kata buruk. Seolah dia tidak pernah dilahirkan dari rahim seorang Ibu.
Aku memberanikan diri menjawab WA yang terakhir kalinya,
"Astaghfirullaah Kak, istighfar. Aku bukan sok alim Kak. Kok Kakak seenaknya melontarkan kata-kata yang tidak pantas. Terima kasih atas silaturahim yang pernah terjalin. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada Kakak. Jazakallaah khair."
Aku langsung menghapus dan memblokir kontak WA dia sambil menangis tersedu-sedu.
Ya, perkenalan kami hanya seminggu. Dengan penutup yang sangat membuat hati membisu.
Bahkan, hingga aku kembali ke rumah sepulang kantor, kata-kata biadab itu masih terngiang-ngiang.
Aku tersadar dan mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat Ashar.
Dalam hati, mungkin ini adalah petunjuk dan teguran Allah untukku.
Seharusnya, aku berkhusnudzon. Karena masih banyak cara yang Allah ridhoi untuk dipertemukan dengan pilihanNya yang terbaik.
Bersyukur, karena aku masih berada dalam penjagaanNya.
Sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik bagi Dia. Manusia hanya berikhtiyar, tetapi ridho Allah adalah yang utama. Jika hati ini tidak dijaga olehNya, bisa jadi hal yang lebih buruk akan datang menghampiri kita.