Namaku adalah Tamina. Aku adalah seorang Perawan Suci, gadis yang memiliki kasta tertinggi di Desa Angelonia.
Sebenarnya aku adalah seorang anak yatim piatu. Saat usiaku 8 tahun, aku diadopsi oleh sepasang suami istri. Barnes Jennings dan Daria Jennings adalah nama orang tua yang mengadopsiku. Mereka tinggal di Desa Angelonia, sebuah desa yang indah dengan hamparan bunga yang tumbuh subur di sepanjang desa.
Tuan dan Nyonya Jennings memperlakukanku dengan baik. Mereka sangat menyayangiku. Orang-orang di desa juga sangat menyayangi dan menghormatiku, bahkan aku dipilih sebagai Perawan Suci.
Perawan Suci sangat dihormati di desa. Hanya Perawan Suci yang dapat memimpin ritual persembahan setiap malam bulan purnama. Sebenarnya bagiku, kepercayaan yang dianut warga desa itu sangatlah aneh. Aku masih ingat saat di panti asuhan, aku diajarkan mengenal Tuhan oleh seorang Pastor dan Para Suster.
Aku sendiri tidak tahu, dewa jenis apa yang dipuja oleh warga Desa. Nama dewa itu adalah Alexavier. Setiap malam bulan purnama, warga desa harus menyerahkan persembahan berupa berkantong-kantong darah segar. Lokasi ritualnya adalah di alun-alun tengah desa. Ada sebuah gapura yang dikelilingi mantra pembatas. Hanya aku, sang Perawan Suci yang bisa melewati pembatas itu. Kata para tetua, gapura itu adalah portal penghubung ke dunia sang Dewa.
Walaupun aku yang memimpin ritual, tapi aku belum pernah melihat sang Dewa. Saat dia datang mengambil persembahannya, aku hanya melihat sepasang tangan pucatnya yang keluar dari portal.
Setiap bulan purnama akan tiba, warga desa akan datang berbondong-bondong ke rumah sakit kecil di desa untuk mendonorkan darahnya. Aku sama sekali tidak diizinkan mendonorkan darah karena aku adalah seorang Perawan Suci.
***
Persembahan kali ini akan sangat istimewa. Bulan purnama akan jatuh pada tanggal 31 Oktober bertepatan dengan hari Hallowen. Yang lebih hebatnya lagi, akan terjadi fenomena Blood Moon atau Gerhana Bulan Darah. Sungguh sebuah peristiwa yang sangat langka.
"Apakah kita akan melakukan persembahan ini seumur hidup? Darah di tubuhku ini sekan-akan sudah mengering," keluh Demelza, sahabatku.
"Beruntung jadi Perawan Suci seperti Tamina. Dia tidak perlu mendonorkan darahnya setiap bulan purnama." Camila, sahabatku yang lain menimpali.
"Kau jangan terlalu senang dengan kedudukanmu itu, Tamina! Orang sepertimu seharusnya tidak tinggal di desa ini." Rowena tiba-tiba berkata dengan sinis. Dari dulu, dia sepertinya tidak menyukaiku.
"Jaga ucapanmu, Rowena!" Demelza maju membelaku.
"Huh, kau dan Camila memang pandai berpura-pura. Kalau posisi kalian ditukar dengan Tamina, aku yakin pasti kalian akan menolak keras." Rowena tertawa mengejek.
"Hentikan, Rowena! Kau jangan berbuat keributan di sini!" Zavier, sahabatku yang lain mencoba menghentikan Rowena.
"Kau juga sudah tahu faktanya kan, Zavier? Aku juga tahu kalau kau dari dulu menyukai Tamina, tapi kau terlalu takut mendekatinya karena status Perawan Sucinya itu," cibir Rowena.
"Hentikan semua omong kosong ini, Rowena!" Aku mulai sedikit emosi.
"Aku berkata jujur. Kamu tidak pantas ada di desa ini. Kamu lebih baik menghilang dari desa ini!" Rowena terlihat serius.
Plak!!!
Aku menampar pipi Rowena. Bagiku, kata-katanya sudah sangat keterlaluan.
"Suatu saat, kau akan tahu kalau aku berkata benar! Kau akan menyesal sudah menamparku!" Rowena berlalu sambil memegangi pipinya.
Aku menyesali perbuatanku. Rowena pasti marah dan semakin membenciku. Mungkin dia akan membalas dendam padaku.
"Sudahlah, Tam, tidak usah dipikirkan! Dia memang pantas mendapatkan tamparan itu." Demelza mencoba menghiburku.
"Itu benar. Dia sudah keterlaluan. Dia boleh saja membencimu, tapi dia tidak berhak mengatakan hal jahat semacam itu." Camila menimpali.
Aku hanya tersenyum kepada kedua sahabatku itu. Mereka memang sahabat terbaik yang kupunya saat ini.
***
Hari sudah mulai gelap. Demelza dan Camila masih sibuk mengantri untuk mendonorkan darahnya. Zavier yang tidak ikut mendonorkan darah, menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Demelza dan Camila tidak keberatan karena takut aku akan bosan menunggu mereka. Akhirnya aku memutuskan pulang bersama Zavier.
Zavier mengajakku melewati sebuah jalan pintas menuju ke rumahku. Jalan itu adalah sebuah ladang jagung yang tidak begitu luas. Rumahku berada di ujung ladang jagung itu.
Zavier tiba-tiba berhenti di tengah ladang jagung. Dia memeriksa keadaan sekeliling, memastikan tidak ada orang.
"Ada apa, Zav?" tanyaku.
"Semua yang dikatakan Rowena itu benar. Aku menyukai, bahkan mencintaimu, Tam! Kalau bisa, kau pergilah dari desa ini secepatnya." Zavier tiba-tiba menceracau.
"Apa kau sudah gila, Zav? Hentikan omong kosong ini!" Aku tidak mempercayai Zavier. Omongannya persis seperti Rowena.
"Sudah kuduga kau pasti tidak mempercayaiku. Aku terpaksa harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan nyawamu.
Zavier menubruk tubuhku. Tubuhku terjatuh ke tanah. Zavier menindih tubuhku dan mulai menyingkap rokku.
"Apa yang kau lakukan, Zav!!!" jeritku ketakutan.
"Aku akan mengambil keperawananmu! Percayalah, ini demi kebaikanmu!" Zavier berusaha melepaskan benda segitiga yang menutupi lambang kesucianku. Dia pun sudah membuka celana dan segitiga pengamannya sendiri. Aku benar-benar terdesak.
Saat ada kesempatan, aku mendorong Zavier sekuat tenaga, lalu menendang tubuh Zavier. Aku berlari sekuat tenaga dengan perasaan takut. Hampir saja aku kehilangan keperawananku.
Zavier terus mengejarku. Aku menjerit ketakutan meminta pertolongan. Untunglah aku sudah bisa keluar dari ladang jagung. Orang-orang yang mendengar teriakanku, segera datang menghampiriku.
"Ya, Tuhan ... Tamina!!! Apa yang telah terjadi?" Daria, ibuku terlihat cemas.
"Zavier hendak memperkosaku!" kataku ketakutan.
Melihat banyak orang yang berdatangan, Zavier bermaksud melarikan diri.
Barnes, ayahku dan seorang tetua bernama Mr. Trevor, segera menangkap Zavier.
"Beraninya kau mencoba memperkosa sang Perawan Suci!" Hardik Mr. Trevor. Dia terlihat sangat marah sekali.
"Kalian jangan sok baik di hadapan Tamina. Sesungguhnya niat kalian lebih busuk daripada aku!" Zavier meludah ke arah Mr. Trevor.
"Jangan dengarkan dia, Tamina! Dia sepertinya sudah dirasuki iblis!" seru ayahku.
"Siapa yang dirasuki iblis? Justru kalianlah iblis itu sendiri! Kau harus pergi dari desa ini, Tamina! Percayalah padaku! Aku mencintaimu!" Zavier berteriak seperti kerasukan.
Jleeeb!!!
Mr. Trevor menghujamkan belati ke jantung Zavier. Tubuh Zavier jatuh dengan belati tertancap di jantungnya. Zavier tewas seketika.
Aku tidak menyangka Mr. Trevor akan melakukan hal sekejam itu. Mr. Trevor yang kukenal selama ini adalah orang yang sangat baik lemah lembut.
"Dia sudah gila! Iblis sudah merasukinya. Dia terpaksa harus mati karena sudah mencoba menghilangkan kesucian Tamina, sang Perawan Suci pelindung desa ini. Itulah sebabnya kita harus melakukan persembahan agar desa ini dilindungi oleh sang Dewa." Mr. Trevor memberi pembelaan atas perbuatan kejamnya itu.
Aku diajak pulang oleh kedua orang tuaku. Mr. Trevor juga ikut ke rumahku. Beberapa orang warga terlihat membantu membereskan mayat Zavier.
***
Aku didudukkan oleh ibuku di kursi ruang tamu. Ayahku memerintahkan ibu untuk mengambilkan obat buatku. Tidak beberapa lama, ibuku kembali dengan sebutir obat dan segelas air putih.
"Obat apa ini?" tanyaku heran. Dalam hati, aku menaruh curiga dengan obat itu.
"Minumlah! Obat ini akan menenangkanmu." Ayahku tersenyum lembut sambil mengusap rambutku.
Aku mengambil obat itu, lalu memasukkannya dalam mulutku. Ibuku menyodorkan gelas dan aku meminum sedikit air dari gelas itu. Setelah itu, ibu menyuruhku untuk beristirahat di kamar.
Sesampainya di kamar, aku mengeluarkan obat yang ada di dalam mulutku. Aku tadi hanya menyelipkannya dibawah lidahku dan tidak menelannya. Aku segera berpura-pura tidur.
Tidak beberapa lama, orang tuaku membuka pintu kamarku. Aku juga mendengar ada suara Mr. Trevor.
"Obat itu bekerja sangat cepat." ujar Mr. Trevor.
"Tadi itu nyaris saja. Jika hal buruk itu terjadi, semua rencana yang kita susun selama 10 tahun ini gagal," kata ayahku.
"Andai saja tadi Tamina kehilangan kesuciannya, rencana penyerahan tumbal untuk menutup portal itu akan gagal total. Para vampir itu akan keluar dari portal dan membunuh warga desa." Terdengar suara ibuku mengatakan hal yang aneh.
"Kalian harus menjaga Tamina. Jangan sampai dia kabur. Besok malam adalah upacara persembahannya. Setelah Tamina kita tumbalkan, kalian harus mencari anak baru untuk diadopsi. Tugas kita untuk menjaga siklus sepuluh tahun sekali ini." Mr. Trevor menimpali.
Ketiga orang yang suaranya sangat aku kenali itu, akhirnya pergi meninggalkan kamarku. Setelah memastikan langkah mereka sudah menjauh, aku membelalakan mataku. Aku tidak percaya dengan apa yang barusan kudengar. Ternyata mereka mengadopsiku hanya untuk dijadikan tumbal. Status Perawan Suci itu ternyata mempunyai arti sebagai gadis perawan yang akan ditumbalkan.
Memoriku kembali memutar ingatan ke kata-kata Rowena dan Trevor tadi. Ternyata apa yang mereka katakan semuanya benar. Aku harus pergi dari desa ini sebelum hari Hallowen tiba. Karena hari itu bertepatan dengan siklus 10 tahun penumbalan Desa Angelonia.
Aku segera mengemasi barangku secukupnya. Dengan hati-hati, aku membuka jendela kamarku dan melompat keluar, lalu berlari tanpa melihat ke belakang.
Bruk!!!
Aku bertabrakan dengan Demelza dan Camila yang baru pulang dari mendonorkan darahnya.
"Mau kemana kau, Tamina?" tanya Demelza.
"Aku harus pergi dari sini! Mereka akan menumbalkanku!" kataku panik.
"Apa yang sedang kau bicarakan?" Camila bertanya penasaran.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Aku harus segera pergi meninggalkan desa ini."
Baru saja aku hendak pergi, Demelza dan Camila menahan tanganku. Aku jadi kesulitan bergerak.
"Apa-apaan ini? Lepaskan aku!" teriakku.
"Kau tidak boleh pergi, Tam. Kau adalah seorang gadis tumbal, jadi kau harus mati untuk kami!" Demelza menyeringai.
"Harusnya tadi kau mendengarkan Rowena sebelum terlambat. Dia sedang dikurung karena kesalahannya tadi. Mungkin Mr. Trevor akan membunuhnya juga. Tapi tenang saja, kau akan segera menemuinya di neraka sana!" ujar Camila.
"Lepaskan aku! Kenapa kalian tega berbuat ini padaku? Aku sudah menganggap kalian sebagai sahabat!" teriakku.
"Harus ada gadis perawan yang ditumbalkan setiap 10 tahun sekali. Tentu saja warga desa tidak ingin menumbalkan keturunan mereka sendiri. Jadi pasangan Jennings bertugas mengadopsi anak untuk dibesarkan sebagai tumbal. Kau tahu kenapa kami tidak menculik gadis dari luar desa saja? Karena tumbal itu harus salah seorang dari warga desa. Kamu sudah menjadi bagian dari warga desa semenjak diadopsi pasangan Jennings." Demelza menjelaskan.
"Kenapa kalian membunuh Zavier dan Rowena? Bukankah mereka juga warga desa ini?" Aku melemparkan sebuah pertanyaan.
"Mereka memang warga desa ini, tapi mereka sama sekali tidak berguna. Mereka adalah orang gypsy. Darah kaum gypsy sangat terlarang untuk ditumbalkan. Itulah sebabnya Rowena dan Zavier tidak pernah ikut mendonorkan darahnya." Camila menjelaskan.
Tidak beberapa lama, orang tua angkatku datang bersama Mr. Trevor.
"Jadi kau sudah tau semuanya, Tam?" Ibuku tersenyum.
"Dasar kalian semua iblis!!!" makiku dengan amarah yang telah memuncak.
Ayahku memaksaku membuka mulut, lalu memasukkan beberapa pil ke dalam mulutku secara paksa. Sebotol air dituangkan ke dalam mulutku. Dalam kondisi tak berdaya, air itu terminum dan larut bersama obat yang dijejalkan ke mulutku tadi. Obat itu langsung bereaksi. Aku menjadi sangat mengantuk sekali dan kehilangam kesadaranku.
***
Aku terbangun di atas altar dengan kondisi terikat. Altar itu diletakkan di depan gapura atau portal yang berada di tengah alun-alun desa. Semua warga desa terlihat berdiri mengelilingi gapura itu.
"Selamat Hallowen, Tamina!" Mr. Trevor yang memimpin ritual persembahan, menyambutku yang baru saja terbangun.
"Kalian semua iblis!!! Aku mengutuk kalian!!! Kalau aku mati, aku bersumpah akan menghantui kalian!!!" Aku berteriak sambil meronta, berusaha melepaskan diri dari ikatan di kedua tangan dan kakiku.
Saat gerhana bulan tiba, portal pun mulai terbuka. Dua sosok pria tampan berwajah pucat dan berbalut pakaian klasik khas bangsawan Eropa, muncul dari dalam portal yang terbuka.
Semua orang yang hadir di tempat itu, menundukkan kepala mereka. Mereka tidak berani melihat kedua sosok itu. Menurut mitos, jika berpandangan mata dengan sosok vampir, maka mereka akan memangsa orang itu.
Kedua pria tampan itu melepaskan ikatan yang membelengguku.
"Kumohon, biarkan aku pergi! Aku tidak ingin menjadi tumbal kaum kalian!" Aku memberanikan diri untuk berbicara.
"Kaum vampir sudah lama membuat perjanjian dengan kaum manusia. Kaum vampir tidak akan memburu manusia, asal manusia menyediakan darah untuk kami setiap malam bulan purnama. Selain itu, setiap 10 tahun sekali, kaum manusia harus menyerahkan seorang gadis perawan untuk menjadi santapan Tuan kami. Dengan darah tumbal perawan itu, Tuan kami akan mendapatkan kekuatan untuk menutup portal selama 10 tahun ke depan." Salah seorang Pria Vampir itu menjelaskan.
"Apa yang terjadi jika tidak menumbalkan gadis perawan?" tanyaku.
"Tuan kami tidak akan bisa menutup portalnya. Kaum kami akan masuk ke dunia manusia untuk berburu makanan." Pria Vampir yang satunya menjawab.
Mataku memandang satu persatu warga desa. Ada beberapa anak kecil yang sering bermain denganku. Mereka masih polos dan tidak tahu apa-apa. Aku tidak tega membayangkan jika anak-anak itu menjadi mangsa kaum vampir.
"Baiklah, aku akan ikut dengan kalian. Bukan demi orang-orang yang menumbalkanku, tapi demi orang-orang lain yang tidak bersalah." Aku melirik kedua orang tua angkatku. Mereka hanya tertunduk, tidak berani mengangkat wajahnya.
Kedua Pria Vampir itu membawaku melewati portal. Tubuhku seperti ditusuk ribuan jarum saat melewati portal itu. Di dunia vampir, ada dua orang pengawal berbadan besar yang menjaga pintu portal.
***
Sebuah kereta kuda sudah menanti tidak jauh dauh pintu portal. Aku masuk ke dalam kereta dan duduk di hadapan kedua pria vampir yang membawaku.
"Kalian siapa? Dan kemana kalian akan membawaku?" tanyaku.
"Namaku Cerberus, dan dia adalah Icarus. Kami adalah pengawal Alexavier, sang Raja Vampir. Kami akan mengantarkanmu ke kerajaan vampir." Cerberus berkata dengan dingin.
"Namaku Tamina. Sebenarnya berapa umur raja kalian itu?" tanyaku lagi.
"Mungkin sudah ribuan tahun. Bangsa vampir bisa hidup sampai berabad-abad bahkan ribuan tahun," jawab Icarus sambil tersenyum. Dia terlihat lebih ramah daripada Cerberus.
"Apa kalian sudah memiliki pacar?" Aku bertanya dengan iseng.
"Tidak ada. Apa kau bersedia menjadi pengantinku?" seloroh Icarus.
"Jangan sembarangan bicara! Jika raja tahu, dia pasti akan menghukummu!" Cerberus terlihat tidak senang.
"Aku serius! Lihatlah dia! Bukankah dia sangat cantik? Dia juga terlihat sangat berani. Gadis-gadis tumbal sebelumnya, tidak ada yang seberani dia," puji Icarus.
"Huh, mau seberani apapun dia, nasibnya akan sama seperti gadis-gadis sebelumnya. Dia akhirnya akan mati kehabisan darah. Apalagi malam ini sangat istimewa. Ini adalah malam bulan darah. Kekuatan raja akan bertambah sepuluh kali lipat, jika meminum darah gadis perawan." Cerberus berkata dengan cuek.
"Aku tidak akan mati semudah itu. Aku akan berusaha membunuh raja kalian itu," kataku dengan percaya diri.
"Kau gadis manusia lemah, memangnya bisa apa?" cibir Cerberus.
"Apa kau tahu, kalau seorang gadis manusia bisa membunuh dengan kekuatan cinta?" Aku mendekati Cerberus dan menatapnya lekat-lekat. Dia terlihat menjadi salah tingkah.
"Apa kau sedang mencoba merayuku?" tanyanya gugup.
"Aku tidak sedang merayumu. Apa kau merasa hatimu bergetar saat kudekati tadi?" ejekku sambil tertawa senang.
"Hahaha ... Terus terang, aku belum pernah melihat kau segugup tadi!" Icarus ikut meledek Cerberus.
Aku tersenyum geli. Suasana di dalam kereta benar-benar telah mencair. Aku bahkan tidak sadar kalau sedang berhadapan dengan dua orang pria vampir.
***
Tidak terasa, kereta kuda sudah tiba di gerbang istana. Beberapa pengawal terlihat membukakan pintu gerbang.
Icarus dengan sopan membantuku turun dari kereta kuda.
"Sayang sekali, Tamina. Kau akan menjadi tumbal raja kami, padahal kamu adalah gadis yang menyenangkan." Wajah Icarus terlihat muram.
"Yah, mau gimana lagi. Aku harus berkorban demi ribuan nyawa manusia yang tidak berdosa." Aku tersenyum sambil menepuk pundak Icarus.
"Hei, Cerberus! Apa kau tidak bisa berbicara dengan sang Raja? Lihatlah gadis manis ini! Apa kau tega membiarkannya mati?" Icarus seperti memohon.
"Sudahlah, Icarus! Jangan memaksa Cerberus menentang perintah sang Raja. Aku tidak ingin mengorbankan Cerberus untuk meminta hal yang mustahil itu." Lagi-lagi aku tersenyum kepada mereka. Aku sepertinya lupa kalau sebentar lagi nyawaku akan melayang.
Aku dibawa ke sebuah aula tempat di mana sang Raja bertahta. Ada banyak orang yang berdiri dengan rapi. Seorang pria tampan duduk di singgasana dengan wajah yang dingin. Tak ada senyuman tergambar di wajah pucatmya itu.
"Jadi ini gadis tumbalnya?" Alexavier, sang Raja Vampir berkata dengan datar.
"Iya, aku! Memangnya kenapa?" jawabku menantang.
"Aku tidak menyukaimu!" Alexavier berkata dingin.
"Aku juga tidak menyukaimu! Dasar kau pemangsa gadis perawan yang tak berdosa!" makiku.
"Nyalimu ternyata besar juga. Aku berubah pikiran! Aku tidak ingin membunuhmu dengan sekali gigitan, tapi aku akan pelan-pelan menyiksamu, menghisap darahmu sampai kau memohon untuk mati." Alexavier mengancamku.
"Apa kau pikir aku takut? Aku tidak akan mati semudah itu. Justru kau duluan yang akan mati!" Aku balas mengancam.
"Apa kau mau bertaruh?" Alexavier tersenyum.
"Maafkan saya, Yang Mulia! Apa anda tidak bisa mengampuni Tamina? Kalau memang ingin membunuhnya, bunuh saja dengan cepat. Kenapa harus menyiksanya?" Cerberus maju untuk membelaku.
"Saya juga ingin memohon untuk Tamina!" Icarus ikut maju membelaku.
"Oh, jadi namanya adalah Tamina! Kenapa kalian menjadi aneh? Apa gadis ini sudah menghipnotis kalian?" Alexavier keheranan melihat kedua pengawalnya berani memohon untuk seorang gadis tumbal sepertiku.
"Aku hanya kasian padanya saja," kata Cerberus. Icarus mengangguk tanda setuju.
"Aku tidak suka kalian mencampuri urusanku." Alexavier berkata dingin.
"Dasar vampir tidak punya hati!" umpatku kesal.
"Segera siapkan pernikahannya sekarang! Malam ini, aku ingin menghisap darah pengantinku." Alexavier memberi perintah.
Beberapa vampir wanita membawaku ke sebuah kamar yang mewah. Mereka memakaikanku gaun pengantin dan mendandaniku. Aku hanya bisa pasrah. Mungkin malam ini adalah malam terakhirku. Setidaknya aku bisa merasakan menjadi seorang pengantin.
Cerberus tiba-tiba menerobos masuk. Dia melumpuhkan para vampir wanita dengan mudah hingga membuat mereka berhamburan keluar.
"Cerberus? Sedang apa kau di sini?" tanyaku kaget.
"Aku ingin membawamu pergi dari sini." Cerberus terlihat serius.
"Tapi Alexavier nanti akan menghukummu," kataku cemas.
"Aku tidak peduli dengan diriku. Aku hanya ingin melihatmu hidup lebih lama." Cerberus menatapku dengan lembut.
"Apa pengantinku sudah siap? Hei, sedang apa kau di sini Cerberus?" Alexavier sudah muncul di ambang pintu.
"Dia hanya memastikan apa aku sudah siap," kataku tenang. Aku sengaja berbohong untuk melindungi Cerberus.
"Kalau begitu pergilah, Cerberus! Aku ingin menikmati malam pemgantinku sekarang. Jangan lupa untuk menutup pintunya!" perintah Alexavier.
Cerberus hanya terdiam. Aku memberi kode agar dia segera pergi. Dengan enggan, dia akhirnya meninggalkan aku dan Alexavier berdua saja di dalam kamar.
"Ayo, kita pergi ke acara pernikahannya!" ajakku. Aku sudah pasrah menerima nasibku.
"Acara apa?" tanya Alexavier
"Tentu saja acara prosesi pernikahan kita," jawabku kesal.
"Pernikahan kita tidak butuh prosesi seperti layaknya pernikahan bangsa manusia. Kau sekarang sudah menjadi pengantinku. Aku akan menikmatimu sekarang juga!" Alexavier menyeringai, memamerkan gigi taringnya yang sudah siap menggigitku.
"Oh, begitu? Baiklah, ayo kita mulai sekarang! Lebih cepat lebih baik." Aku menyodorkan leherku ke arah Alexavier.
Alexavier menarik tubuhku, lalu memelukku dari belakang. Bibirnya mulai didekatkan ke leherku.
Aku merasakan gigi taring Alexavier mulai menancap di leherku. Rasanya sangat perih. Darah segar mengalir dari bekas gigitannya. Alexavier segera menghisap darah yang mengalir dari leherku. Aku merasakan sedikit ngilu saat leherku dihisap olehnya. Aku memejamkan mata, siap untuk menyambut kematian yang sebentar lagi akan datang menjemputku.
Selang beberapa menit, aku membuka mataku. Apa? Aku belum mati? Aku heran melihat tubuhku masih bernyawa. Hanya saja aku merasakan perih di bagian leherku.
Alexavier melilitkan perban mengelilingi leherku. Aku tidak mengerti apa maksud semua ini.
"Apa kau benar-benar ingin membunuhku pelan-pelan? Kenapa tadi kau tidak sekalian saja membunuhku?" tanyaku.
Alexavier hanya diam. Dia masih sibuk memasang perban di leherku.
"Aku bertanya padamu! Apa kau tuli?" makiku.
"Apa aku terlihat sekejam itu?" tanya Alexavier lirih.
"Tentu saja kau vampir paling kejam di dunia!" umpatku kesal.
"Aku tidak punya niat menyakitimu. Tidak denganmu, tidak juga dengan gadis-gadis tumbal sebelum kamu." Alexavier duduk di tepi ranjang.
"Apa maksudmu?" tanyaku heran. Aku ikut duduk di samping Alexavier.
"Aku tidak pernah berniat untuk membunuh seorang manusia pun. Akulah yang mempunyai ide membuat perjanjian dengan manusia ribuan tahun yang lalu. Aku tidak ingin kaumku memburu manusia sebagai mangsa. Dengan perjanjian itu, kami bisa mendapatkan darah manusia tanpa membunuh." Alexavier menghela napas panjang.
"Perjanjian yang juga menumbalkan gadis perawan setiap sepuluh tahun sekali?" sindirku.
"Asal kau tahu, aku tidak pernah membunuh gadis-gadis itu. Kalau pun mereka mati, itu terjadi secara alami," tutur Alexavier.
"Maksudnya?" Aku bertambah bingung.
"Aku melakukannya persis seperti yang kulakukan padamu tadi. Aku hanya meminum sedikit saja darahnya, sampai aku cukup mengumpulkan kekuatan untuk menutup portal itu," kata Alexavier.
"Jadi apa yang terjadi terhadap gadis2 tumbal itu?" tanyaku penasaran.
"Aku memberi mereka dua pilihan. Tetap mempertahankan keperawanan mereka agar bisa kembali ke dunia manusia, atau melepaskan keperawanannya dan tidak bisa kembali lagi ke dunia manusia. Jika memilih pilihan yang ke dua, mereka akan menjadi manusia setengah vampir. Tapi ada satu kelemahan. Usia hidupnya tidak bisa selama vampir. Usia hidupnya akan tetap seperti manusia." Alexavier menjelaskan panjang lebar.
"Lalu, apa pilihan mereka?" tanyaku penasaran.
"Belum ada yang pernah memilih pilihan yang kedua. Semuanya memilih pilihan pertama. Itu artinya harus menunggu 10 tahun lagi sampai portalnya terbuka. Selama 10 tahun, mereka harus hidup di dunia vampir. Kebanyakan dari mereka mati sebelum portalnya terbuka. Sangat sulit untuk seorang manusia bertahan di dunia vampir. Mereka harus beradaptasi dengan dunia yang sangat jauh berbeda dengan dunia manusia." Alexavier kembali menjelaskan.
"Apa kau juga akan memberikan dua pilihan itu padaku?" tanyaku penuh harap.
"Tidak akan! Aku tidak akan memberimu pilihan apapun padamu." Alexavier menatapku dengan dingin.
"Hei, itu sangat tidak adil!" protesku.
"Aku ingin menjadikanmu sebagai pendampingku. Jika kau menjadi pendampingku, kau akan menjadi vampir seutuhnya dan bisa hidup abadi sampai ribuan tahun," ujar Alexavier.
"Aku tidak mau! Aku akan menunggu 10 tahun lagi dan pergi dari sini," kataku tegas.
"Sudah kubilang, kau tidak ada pilihan lain!" Alexavier menarik tubuhku ke arahnya dan menghempaskan tubuhku ke atas ranjang. Dia mencium bibirku dengan paksa dan mencoba untuk meniduriku.
Brak!!!
Terdengar suara pintu didobrak. Cerberus dan Icarus memburu masuk ke dalam kamar.
"Lancang! Beraninya kalian mengangguku!" hardik Alexavier.
"Kami takkan membiarkanmu memaksanya menjadi vampir! Dia berhak untuk memilih!" Cerberus berkata dengan tegas.
"Aku sudah memutuskan untuk menjadikannya pendampingku. Kalian bisa apa?" bentak Alexavier.
"Kami akan melindungi Tamina!" Icarus memberanikan diri membantah sang Raja.
"Kurang ajar! Aku akan menghukum mati kalian berdua!" hardik Alexavier.
"Hentikan!" pekikku.
"Kumohon, jangan menghukum mereka! Aku rela menjadi pendampingmu." Air mata mulai membasahi pipiku.
"Sudahlah, lupakan saja! Aku sudah tak berminat lagi denganmu!" Alexavier bangkit dan merapikan pakaiannya, kemudian berlalu pergi meninggalkanku.
Sekarang di dalam kamar, hanya ada aku dan kedua vampir pengawal yang tampan itu.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyaku bingung.
"Tenang saja, aku akan menemanimu sampai sepuluh tahun ke depan. Semoga kau bisa bertahan sampai saat itu." Cerberus menghiburku.
"Aku juga akan membantumu," timpal Icarus.
"Terima kasih." Aku tersenyum dengan tulus kepada kedua vampir tampan itu.
Aku bertekad akan bertahan hidup di dunia vampir sampai sepuluh tahun ke depan. Saat portalnya terbuka, aku akan kembali ke dunia manusia.
***
Alexavier POV
Aku harus merelakan Tamina memilih jalannya sendiri. Walau berat, aku harus menghargai keputusannya. Masih ada sisa waktu 10 tahun ke depan sampai portalnya terbuka. Sampai saat itu tiba, aku akan berusaha mendapatkan hati Tamina.
Jujur saja, aku memang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatnya melakukan persembahan. Walaupun waktu itu terpisah oleh dinding portal, tapi aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Entah mengapa hatiku langsung bergetar saat itu juga.
Aku sudah menantikan saat ini tiba. Saat di mana Tamina akan pergi ke dunia vampir. Tapi sayangnya, dia memilih untuk kembali lagi ke dunia manusia sepuluh tahun yang akan datang. Aku harap, bisa merubah keputusannya sebelum waktu itu tiba.
Tamat
***