Ini tentang teman masa kecilku, mungkin di antara kalian ada yang memiliki teman masa kecil sepertiku. Mungkin saat kecil aku tergolong anak yang cukup gampang bergaul, dimana di saat anak anak lain seusia ku bermain dengan gembira dan memiliki banyak teman, dan aku hanya bisa melihat dari balik jendela.
Ibuku tidak mengijinkan ku bermain dengan anak anak di luar, karena ibu bilang anak anak itu hanya akan membawa pengaruh buruk untuk ku. Di masa itu aku merasa sangat kesepian, ibu yang selalu sibuk dengan pekerjaan dan ayah selalu pulang malam dengan keadaan mabuk. Sebenarnya ini bukan lah hal yang aneh, aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. ketika ibu pulang dan melihat keadaan ayah yang mabuk pasti mereka akan bertengkar, dan aku hanya menjadi saksi bisu dan sesekali menjadi sasaran amarah mereka.
Dulu aku merasa ini hanya hal yang biasa, dan saat usia ku memasuki umur untuk sekolah ini semua mulai terasa sangat aneh, aku selalu bertanya tanya apakah semua anak seusia ku merasakan hal ini juga... apa mereka juga sering di pukul? atau di kurung karena hal sepele?.... ini sangat membuat penasaran kenapa hal itu terus berulang. Tapi di saat itu juga aku merasa bahagia karena untuk pertama kalinya aku memiliki teman " Abian Nataprawira " dia adalah teman pertama ku.
Pertemuan pertama kami saat kelas 3 SD, dia adalah murid pindah dari Jakarta, saat itu aku sedikit terkejut ketika mendengar ada anak baru yang akan masuk di kelasku pasalnya saat itu aku masih tidak punya teman dan malah ada anak lain lagi yang akan datang, aku takut jika anak itu datang dan menjauhi ku seperti anak anak lainnya.
Ya salah satu penyebab aku tidak memiliki teman adalah mereka menjauhiku entah apa masalah nya.
Seminggu telah berlalu semenjak perpindahan murid baru itu. Aku dan Abian semakin akrab,entah mengapa dia tidak menjauhi ku seperti anak anak lain nya dan malah mendekati. Dan mulai dari saat itu pertemanan ku dengan nya semakin dekat, aku sering bercerita tentang masalah ku dan dia juga bercerita tentang kehidupan nya. Saat itu aku merasa dia adalah orang pertama yang mau mendengarkan semua cerita ku entah tentang apa pun itu, dan saat aku bercerita dia akan mendengarkan sambil tersenyum.
Tidak terasa pertemanan kami sudah terjalin selama 6 tahun, dan itu terasa sangat cepat bagi ku. Sekarang kami masuk Sekolah di SMP yang sama, dan setiap pagi Abian selalu menjemput ku untuk berangkat bersama dan hal itu selalu dilakukan dengan sembunyi sembunyi.Selama pertemanan kami terjalin ibuku tidak mengetahui hal itu, karena kalau sampai ibu tahu mungkin aku sudah di hajar habis habisan, ibu selalu bilang jangan berteman dengan orang sembarangan apa lagi lelaki... Hah aku sungguh muak dengan hal itu, ibu selalu saja ikut campur dalam kehidupan ku.
Aku sungguh muak dengan ini, kenapa ibu selalu mengekang ku dan jika aku tidak mengikuti keinginan nya dia akan memukuli ku. Sekarang aku tau jawaban dari semua hal yang ingin ku ketahui,
dan hal ini tidak normal menurut ku. kenapa harus aku yang di pukul?... kenapa di saat ibu marah kepada ayah aku yang di marahin? .... kenapa?
aku juga ingin seperti anak anak lain nya, mereka mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka, orang tua mereka selalu melindungi mereka bukan melukai mereka dan kepada orang tua ku tidak bisa seperti itu... aku tidak meminta lebih, setidaknya jangan lampiaskan amarah kalian kepadaku.
aku bukan boneka yang bisa kalian perlakuan semau kalian, aku anak kalian,aku darah daging kalian, aku lahir dari rahimmu ibu tapi kenapa kalian memperlakukan ku seperti ini... apa karna aku tidak melawan saat kalian memukul ku atau apa!!! aku sangat tidak tahan dengan semua ini.
Sampai saat hal yang paling ku takutkan terjadi, ibu mengetahui semua ibu tahu aku memiliki teman seorang lelaki dan tentunya ibu marah sangat marah. Saat itu ibu melihat ku tengah bejalan bersama Abian saat pulang sekolah dan tanpa basa basi ibu langsung menyeret ku pulang, saat itu aku sudah memohon untuk melepaskan tangan ku dan Abian juga meminta untuk melepaskan nya tapi ibu tidak mempedulikan nya cengkraman tangan nya semakin kuat, dan di situ aku hanya bisa pasrah sambil merintih kesakitan... dan sesampainya di rumah ibu langsung memukuli ku dengan tongkat, saat itu ayah juga berada di sana tapi dia hanya menatap ku dengan dingin, seolah aku ini hanyalah boneka yang tidak bernyawa... aku hanya bisa memohon untuk berhenti memukul tapi itu semua hanya sia sia sampai saat dimana aku mulai kehilangan kesadaran ku.
Setelah kejadian itu, nenek datang untuk membawa ku ikut tinggal bersama nya. sebenarnya nenek sudah mengetahui semuanya dan sudah beberapa kali memintaku untuk tinggal bersama namun ibu menolak nya, tapi kini nenek sudah sangat muak dengan sipat ibu. Mungkin dulu nenek bisa menahannya tapi sekarang tidak , ia menjemput ku dengan paksa dan aku hanya bisa pasrah dengan semua itu. Setelah 3 hari aku tidak masuk sekolah Abian sempat mencari ku dengan datang kerumah tapi ibu tidak mengijinkan dia bertemu dengan ku.
Selang satu hari setelah Abian datang ke rumah ku,
aku resmi pindah dan ikut tingal bersama nenek di Bogor, sebenarnya berat untuk meninggalkan semua kenangan bersama nya tapi di satu sisi aku takut jika seuatu saat nanti mental ku semakin buruk dan nekat untuk melakukan hal aneh, kata nenek ini juga demi kebaikan ku... Dan aku hanya bisa mengikuti takdir yang sudah tertulis, mungkin ini adalah jalan yang harus ku lalu. Sebenarnya aku sangat sedih bahkan tidak rela meninggalkan Nya bahkan tanpa salam perpisahan, atau melihat wajahnya untuk terakhir kalinya.
Abian Nataprawira, teman pertama ku walau semesta tidak mengijinkan kita untuk berteman lebih lama, ku harapan suatu saat nanti takdir mempertemukan kita walaupun itu hanya untuk waktu yang singkat.