Pertemuan adalah takdir, perpisahan juga adalah takdir. Aku bertemu denganmu adalah takdir dan kita berpisah juga adalah takdir.
Takdir memang lucu, awalnya kita di ajak melayang menembus ekspetasi namun akhirnya kita dihempaskan hingga hancur.
aku ingat saat kita pertama kali bertemu di koridor sekolah, saat itu aku sangat ilfil melihat gaya pakaian mu yang berantakan dengan baju yang dilepaskan keluar, rambut depan yang panjang hampir menutupi mata dan bau asap rokok yang menyelimuti sekitar mu.
Aku menatap mu dan kau menatapku balik, wajahmu penuh luka kecil. aku mengenalimu, berandalan sekolah yang telah dikenali oleh seluruh warga sekolah, bahkan satpam saja sudah lelah melihat wajahmu yang sering terlambat.
kau berjalan ke arahku sambil menenteng ransel mu dan berkata "Mengapa kau menatapku seperti itu? apa kau suka padaku?"
Hem begitu percaya diri kau bertanya seperti itu padaku saat pertemuan kita yang pertama kalinya. Aku menghela nafasku dan menjawab "Maaf sekali tuan berandalan yang aneh, aku tidak suka padamu"
"lalu kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya mu lagi.
"aku hanya agak risih dengan cara berpakaian mu, perbaikilah dan pakai dasi mu dengan benar, dan juga belilah permen mint agar bau rokok dari mu tidak mengganggu orang lain" jawab ku ketus.
kau menatap ku dari atas hingga bawah "hehh siswi kelas unggulan? pantas saja kau berani mengomentari penampilan ku, tapi kau tidak berhak mengatur ku, jadi aku tidak akan mengikuti perintah mu" setelah mengucapkan kata-kata itu kau pun pergi berlalu meninggalkanku.
Aku dengan kesal berjalan menuju kelas, ternyata rumor yang orang katakan itu benar, kau adalah berandalan yang susah di atur, kau hanya suka berkelahi.
Hari-hari semakin berlalu, entah kenapa kita jadi sering bertemu dan ku selalu membuat ku kesal. namun suatu hari, saat kita semua di kumpulan di lapangan untuk pemeriksaan kelengkapan pakaian kau tiba-tiba menarik tangan ku dan memakaikan dasi mu pada ku. Saat itu aku baru ingat jika aku tidak memakai dasi.
Aku terkejut sejenak "berandalan ini membantuku?' batinku. setelah pemeriksaan itu kau akhirnya di hukum bersama siswa lain yang pakaiannya tidak lengkap. Kau di suruh hormat bendera di saat matahari sedang terik.
Aku merasa bersalah dan berhutang kepada mu, seharusnya aku yang di hukum, aku berfikir kenapa kau membantuku, padahal aku selalu bertingkah sombong dan selalu menyindir mu, aku jadi semakin merasa bersalah.
Aku memutuskan untuk membeli sebotol minuman untukmu, aku menunggu mu di bangku dekat lapangan, kau tampak gerah dan kehausan, hingga saat hukuman mu selesai, aku menghampirimu dan memberikan sebotol air.
Sebenarnya saat itu aku agak gengsi untuk berterima kasih, semua siswa menatap aku yang memberikan sebotol air pada siswa berandalan di tengah lapangan.
setelah kejadian itu, kita mendadak menjadi viral, semua siswa membicarakan kita, apakah ada hubungan antara kita?, bagaimana bisa siswi kelas unggulan yang terpandang bergaul dengan siswa berandalan yang hobi berkelahi. Entahlah aku sangat bingung, berita itu tersebar ke seluruh penjuru sekolah.
Aku mulai frustasi dengan berita yang tersebar, hingga suatu ketika kau tiba-tiba menyeret ku ke dalam aula musik dan mendorong ku kearah tembok "Aku suka padamu" ucap mu dalam sekejap.
aku ternganga, agak shock dan terkejut, juga bingung "Aku tidak menyukaimu" jawabku begitu saja.
"kenapa?" tanya mu.
"Aku tidak suka gaya mu, kau berantakan, tampak seperti anak nakal, kau selalu berkelahi dan melukai tubuhmu, aku tidak suka itu dan juga aku tidak suka aroma rokok yang menempel di tubuhmu, aku siswi kelas unggulan, siswa berandalan seperti mu tidak cocok dengan ku" jelas ku lalu pergi meninggalkan mu.
saat pergi aku menatap mu yang menunduk, aku merasa ucapan ku terlalu jahat dan menyakiti hati mu, tapi aku terlalu gengsi untuk kembali dan meminta maaf.
Saat pulang sekolah aku melihat mu berjalan terburu-buru, aku mengikuti mu diam-diam karena penasaran, aku kira kau akan pergi berkelahi lagi.
kau pergi ke tempat pemukiman kumuh, banyak anak-anak di sana, ternyata selama ini kau mengajari anak-anak tak mampu itu untuk membaca, menulis dan menghitung. aku sedikit tersentuh, pantas saja baju mu sering kotor.
setelah itu kau beranjak pergi, aku masih mengikuti mu seperti penguntit kau pergi ke daerah pasar yang padat, kau bekerja dengan membantu membawa barang-barang belanjaan orang, dan juga membantu membersihkan pasar.
Tak lama setelah itu, tiga orang preman datang memeras dan merampas uang penjual di pasar, kau berkelahi dan mengalahkan preman itu dan menyelamatkan warga pasar. Aku mulai sadar jika aku bersalah padamu selama ini.
aku kira kau hanya siswa nakal yang hanya bisa berkelahi, ternyata aku hanya melihat mu dari sisi luar saja, setelah aku tau semua ini, aku jadi merasa luluh, aku memutuskan untuk minta maaf padamu besoknya.
keesokan harinya aku menunggu mu di depan kelas mu, semua orang kembali melihat ku, aku menunggu sambil membawa sesuatu.
setelah kau keluar dari kelas, kau malah langsung menarik ku "apa yang kau lakukan? kenapa kau berada di depan kelasku" ucap mu.
"aku menunggumu, aku ingin meminta maaf padamu tentang omongan ku kemarin,aku salah tentang mu, aku sudah tau semuanya, kau tidak seburuk itu, aku salah selama ini, tolong maafkan aku" ucapku sambil menunduk.
kau terdiam dan seolah gagu, kau seperti tak tau ingin berkata apa "kau melihat semuanya? kau mengikuti ku?" tanya mu. aku hanya mengangguk.
"huftt sudahlah, aku sudah memaafkan mu, kau tidak perlu seperti ini, dan tentang ucapan ku kemarin lupakan saja, aku sepertinya agak kelewatan tentang perasaan" ucapmu.
"kau tidak kelewatan, kita bisa coba menjalaninya" kata ku.
kau sedikit malu, baru kali ini aku melihat sikap mu yang seperti ini, sangat lucu, aku akhirnya membuka hatiku untuk mu. Aku memberikan hadiah yang sudah ku siapkan padamu. kau menerimanya dengan gembira.
Tak terasa hubungan antara kita ternyata bertahan lama, kita telah lulus SMA dan memutuskan untuk berkuliah di satu universitas yang sama.
Hari-hari yang kita jalani terasa sangat menyenangkan, aku bahagia saat bisa bersamamu, rasanya aku ingin menghentikan waktu agar kita tidak perlu berpisah
Sayangnya takdir tidak memihak padaku. Kita terpaksa berpisah, aku harus meninggalkan mu secara sepihak. Aku tau kau pasti marah padaku.
aku pergi tanpa pamit pada mu, jangan salahkan aku, tapi penyakit ini sangat menyiksaku, aku sengaja menyembunyikannya dari mu agar kau tidak khawatir dan setelah aku pergi aku harap kau tidak sedih.
jangan pernah menangis saat membaca surat dari ku ini, jalan mu masih panjang Rei, kau harus melanjutkan kehidupan mu, cukup kau ingat aku di hatimu sebagai kekasihmu yang pernah ada, aku sudah sangat senang. Maaf aku tidak bisa menemanimu lebih lama.
Tertanda
Shena.
###############
REINARD TAK KUASA MENAHAN TANGIS SAAT MEMBACA SURAT DARI KEKASIHNYA YANG TELAH PERGI
TAMAT