- Ada lebih dari 1000 alasan untuk jatuh cinta pada hujan. Cerita ini tentang makhluk kecil yang berharap dapat terus menikmati hidup dan bermain di bawah derasnya air hujan. Cerita sederhana tentang waktu yang singkat, tentang ruang terbatas yang tak dapat ditembus. Tentang betapa mudahnya sebuah takdir dan kehidupan berubah tanpa diperkirakan. Semua terjadi sesaat setelah hujan.
°°°°
Suatu ketika, hujan turun ke permukaan membasahi bumi. Seorang gadis kecil menari dengan riang di bawah derasnya air hujan. Di sebuah perkarangan berbunga, payung merah muda itu tersungkur tak berarah.
Sepatu kecilnya yang bersih kini terlihat lusuh. Tak hanya itu, pakaian yang ia kenakan pun kini telihat sangat basah, rambut hitam panjangnya yang terurai nampak terlihat berantakan tak beraturan hingga menutupi wajah manisnya. Meskipun begitu, dia tetap menari mengikuti alunan irama yang ia lantunkan.
"Rain! Ayo pulang! Udah cukup main hujan-hujanannya!" teriak sang mama terlihat khawatir dari seberang sana.
Gadis kecil itu menolehkan kepalanya, lalu tersenyum. "Rain gak mau ma! Rain masih mau main di luar!" jawabnya sambil tertawa lalu mengusap wajahnya perlahan.
"Rain pulang ya sayang! Nanti kalo Rain sakit gimana? Gak bisa main hujan lagi dong besok? Yaa? Rain denger mama ya.." kali ini sang mama datang menghampirinya dan membujuk gadis kecil itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Wahh! Besok hujan bakalan turun lagi ma?" tanya Rain antusias.
"Iya dong! Sekarang Rain masuk dulu, nanti mama buatkan coklat panas, oke?"
"Oke deh!" jawabnya setuju lalu berlari ke dalam rumah.
Sekiranya itulah pengalaman paling berharga bagi gadis kecil itu sesaat sebelum tuhan ingin membawanya pergi ke tempat yang lebih indah.
Gadis itu bernama Rain Zevanya. Rain berarti hujan. Seperti namanya, Rain sangat menyukai hujan. Meski ia bahkan tak pernah sekalipun melihat bentuk dan wujud gambaran sebuah hujan. Hal tersebut di karenakan kebutaan yang ia alami sedari kecil.
Lahir dengan kondisi fisik yang lemah, serta kebutaan sejak lahir. Membuatnya terkurung dalam sebuah batasan yang terpisah dari dunia luar.
Jika sekali saja dia dapat memohon. Hanya satu yang akan ia pinta. Tuhan tolong biarkan dia hidup lebih lama untuk menikmati dan bermain di bawah hujan.
Namun nahas, hal yang terjadi justru sebaliknya. Tubuhnya yang lemah tak kuat menahan dinginnya air hujan itu membuatnya jatuh pingsan beberapa saat setelah ia masuk ke dalam rumah.
Sang mama yang melihat peristiwa tersebut langsung menggendong Rain, menelfon suaminya dan melarikan buah hati tercintanya itu ke rumah sakit terdekat.
Selang beberapa saat setelah mendapat pengobatan pertama, akhirnya Rain sadar. Mama dan papa Rain yang memasuki ruangan tak kuasa menahan tangisnya ketika melihat gadis kecil mereka, seluruh tubuhnya di belenggu oleh berbagai selang, suntikan, dan alat bantu pernafasan.
Meski tak melihat, namun Rain dapat menyadari keberadaan dua mahluk yang sangat ia cintai itu di dekatnya. Tangan mungilnya perlahan bergerak memindahkan alat bantu pernafasannya. Kemudian ia letakkan jari-jari mungil itu ke udara, seolah hendak menggapai sesuatu.
Kedua orang tuanya pun langsung menyambut tangan sang buah hati dengan cepat, di genggamnya erat, di elus dengan lembut seolah-olah jarinya yang mungil sangat rapuh dan mudah hancur.
"Maa.. Paa.. Rain baik-baik aja.. Mama papa jangan sedih... Rain baik-baik aja kok.." ucapnya lirih sambil tersenyum tulus menatap ke atas, melihat langit-langit ruang ICU itu.
"Rain.. Mama sama papa ngak sedih sayang.. Kita bangga sama Rain karena Rain anak yang kuat!" ucap sang mama di sela-sela isak tangisnya.
Sang papa yang terus mengelus pundak istrinya itu tak dapat membendung tangis nya lagi, dan dengan bersegera menghapus air matanya kasar.
"Paa... Papa gak boleh nangis...Kalo papa nangis nanti mama ikutan sedih! Rain gak suka mama sama papa sedih melihat kondisi Rain..." ucap gadis itu ketika inderanya mendengar sebuah isakkan kecil seorang ayah yang terdengar menyayat hati.
"Ngak sayang! Papa gak nangis kok... Papa cuma kelilipan aja... Rain harus kuat ya! Biar Rain bisa main hujan-hujanan lagi yaa! Janji sama papa ya sayang!" jawab papanya dengan suara parau dan mencoba seolah-olah terlihat kuat di depan gadis kecil kesayangan nya itu.
"Iya paa... Rain kuat kok... Papa sama mama janji juga ya... Gak boleh nangis lagi... Rain bahagia kok... Apapun yang terjadi Rain mau papa sama mama untuk bahagia terus... Rain janji akan baik-baik aja pa.." deru nafas gadis itu semakin berat. Meskipun begitu senyuman tulusnya tak kunjung luntur pada wajah yang kian memucat itu.
"Iya sayang iya... Papa sama mama pasti bakalan bahagia terus! Makanya Rain harus sehat yaa, biar kita bisa main bareng lagi di bawah hujan! Mama papa sayang Rain pokoknya!" ucap sang mama sambil mencium kening buah hatinya dalam.
"Iyaa maa...janji sama Rain yaa.. Rain istirahat dulu yaa... Mama sama papa jangan kemana-mana... Rain gak mau sendirian..." perkataannya semakin lama semakin terdengar lemah, nafasnya perlahan datang dan pergi.
"Maa... Rain mau main di bawah hujan lagi yaa..." setelah mengucapkan permohonan terakhirnya dengan satu helaan nafas. Gadis itu pergi ke tempat yang lebih indah di atas sana.
Biiippp---
Suara mesin pendeteksi kehidupan itu berbunyi nyaring memenuhi ruangan ICU saat itu. Sang mama berteriak histeris memanggil nama buah hatinya. Sang suami memeluk erat tubuh sang istri yang jatuh terpuruk lalu meneriakkan nama dokter meminta bantuan.
Dokter dan tim medis datang dan langsung melakukan penanganan terhadap pasien. Namun sayangnya, Rain kecil mereka telah lebih dulu pergi meninggalkan dunia yang kejam itu beserta isinya.
"Maaf ibu, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi maaf kami dengan berat hati mengatakan bahwa anak ibu telah tiada." ucap sang dokter sesaat setelah ia memeriksa denyut nadi dan nafas gadis kecil yang terbaring pucat pasi itu.
"Gaaak! Gak mungkin dok! Itu gak mungkin! Anak saya satu-satunya! Gak mungkin! Rain... Bangun sayang.. Mama disini!! Mama sama papa sayang Rain.. Rain bangun yaa! Rain sayang denger mama nak!! Raiiiinnn!! Akhhh!" teriak sang mama putus asa memeluk erat tubuh putrinya yang telah tiada itu. Setiap orang yang mendengar jeritan seorang ibu pada malam itu, pasti akan hatinya akan tersayat habis.
"Maa... Udah... Rain udah bahagia... Rain udah gak sakit lagi maa... Yang kuat maa.." sang suami memeluk istrinya erat, mencoba menenangkan perempuan yang sedang menangis histeris itu.
"Ngak pa! Gak mungkin Rain pergi ninggalin kita! Gak mungkin paa!" teriak sang istri masih belum dapat menerima kenyataan di depan matanya itu.
"Susssttt... Yang tenang sayang... Kita udah janji sama Rain untuk gak menangis lagi.. Rain akan sedih kalo dia liat kamu nangis kayak gini... Yang kuat sayang.." sang papa yang sudah tak sanggup menahan tangisnya kini hanya dapat mengeluarkan air matanya sambil terus menenangkan sang istri.
"Rain... Yang tenang ya sayang... Rain di temenin sama tuhan dulu yaa main hujan-hujanan di atas sana... Papa sama mama selalu sayang sama rain..." ucap sang papa lalu memeluk dan mengecup dahi dan pipi gadis kecil itu dalam sambil meneteskan air mata kesedihannya.
Sang mama yang sudah tak kuasa menahan diri, terjatuh lemas, pingsan. Hujan di hari itu, meninggalkan sebuah memori menyakitkan yang berbekas di hati. Gadis kecil yang memiliki mimpi bermain hujan di atas awan, kini telah pergi ke tempat ia berasal, kala hujan badai melanda ditengah malam tanpa di sinari bulan dan bintang.
Sebuah rasa kasih sayang yang begitu mendalam di curahkan sang ayah dan ibu kepada buah hati mereka. Keberadaan seseorang membuat hidup lebih berarti, dan kehilangan seseorang merupakan pelajaran hidup yang tak terganti. Karena takdir tidak pernah memberi instruksi ketika mereka hendak mengambil seseorang dari kehidupan ini. Apapun yang akan terjadi, semua kisah yang berawal pasti akan berakhir. Tolong hargai, waktu sangat berarti.
~ Fin`~
••••