Waktu itu usiaku 16 tahun, pertama kali masuk Sekolah Menengah Atas. Mengenal dunia baru dan juga teman baru di lingkungan sekolah bersama kedua sahabatku.
Saat masa orientasi sekolah, aku tak menyangka melihat dia disini dan ternyata adalah ketua Osis. Hatiku berdebar saat melihat dirinya dari jauh.
"Jojo..." gumamku lirih saat berucap dan kedua sahabatku tak ada yang mendengar karena situasi sedang ramai di halaman sekolah.
Jojo adalah cinta pertamaku sewaktu masih SMP. Walau dirinya tidak mengetahui aku mencintainya secara diam - diam karena Jojo sibuk berbagai kegiatan extra latihan sewaktu SMP.
Setelah kelulusan, kami berpisah dan aku tak dapat melihat wajahnya lagi. Hatiku terasa sedih saat itu dan berharap semoga waktu mempertemukanku lagi dengannya.
Dan kini, disinilah aku. Bertemu dengan Jojo adalah suatu keajaiban bagiku. Do'a ku terkabul dan senyuman ini tak pernah memudar saat pertama kali melihatnya berdiri di podium memberi pengarahan kepada murid baru.
Berbagai kegiatan di lakukan saat masa orientasi sekolah, kami pun saling berlomba - lomba meminta tanda tangan, diminta menyanyi pada kakak osis atau memilih kertas voting di dalam mangkok kaca dan memenuhi permintaannya.
"Mia...!" teriak salah satu kakak osis memanggilku.
"Apa isi dalam kertasmu?" salah satu Kakak Osis bernama Bram menunjuk kertasku dan diminta membukanya.
Hatiku berdegup kencang saat ditunjuk dengan suara agak keras.
"Isinya meminta tanda tangan pada ketua osis, Kak!" jawabku dengan gugup.
"Lakukan dan cari Ketua Osis tersebut!"
"Hah..."
"Ayo cepat lakukan! waktumu 10 menit dari sekarang! Kalau sampai telat, kamu akan aku hukum!" seru Bram dan melanjutkan aktifitasnya kepada para murid baru yang lain.
Aku pun berlari keluar barisan dan mencari Jojo. Namun, aku tak melihat dirinya sekalipun setelah berpidato di halaman sekolah tadi. Lalu, aku menanyakan pada setiap kakak osis yang berada disitu dan menanyakan dimana ketua osis tersebut.
"Dia ada disana!" salah satu kakak osis menjawab menunjuk arah ruang perpustakaan dan menutup mulutnya karena berhasil mengerjai salah satu murid baru tersebut.
"Terimakasih Kak,"
"Biar tahu rasa gimana rasanya dikerjain." ucap salah satu osis perempuan menutup mulutnya dengan menahan tawa bersama teman - temannya.
Aku pun langsung berlari menuju perpustakaan dimana Jojo berada.
Saat sampai di perpustakaan, aku berhenti dengan nafas naik turun.
"Hah...kok sepi perpustakaannya! Katanya ada disini! Gimana ini, waktunya kurang 5 menit lagi! Sialan! Aku dikerjain sama kakak osis tadi." gumamku langsung berlari mencari ke seluruh sekolahan dan tak memperdulikan hal lain.
Berlari kesana kemari, akhirnya aku menemukan Jojo berada di sebuah tangga sekolah menyaksikan para murid baru yang sedang terkena hukuman para osis.
"Kak Jojo...!"
Seketika Jojo menoleh saat aku berdiri di belakangnya dengan tatapan datar dan jutek.
"Ada apa!"
"Begini Kak, aku mendapat kertas dan isinya diminta tanda tangan pada ketua osis. Boleh ya Kak?" ucapku sedikit gugup seraya berjalan pelan dan menyerahkan kertas tersebut dihadapannya.
Jojo nampak bergeming dan pandangan kembali kepada halaman sekolah. Dirinya hanya terdiam tanpa mengatakan apapun pada Mia yang sudah kesal sedari tadi mencarinya.
"Aduh gimana nih? Kalau sampai telat, aku bisa terkena hukuman. Untung saja kamu tampan Jo walaupun jutek dan dingin, tapi aku cinta banget," ucapku dalam hati.
"Kak Jojo, ayolah Kak, aku bisa terkena hukuman nanti kalau sampai telat. Waktuku tersisa 3 menit." ucapku memelas agar Jojo mau tanda tangan.
Jojo tetap terdiam dan asyik melihat semua orang di halaman sekolah. Hari ini, Jojo pikirannya sempat galau dan kecewa akan sikap Papanya yang sedikit pun tak memberikan perhatian padanya karena sibuk bekerja.
Mia terus memelas dan memohon pada Jojo agar mau menandatangani kertas tersebut dan segera pergi dari sini agar terbebas dari hukuman.
"Ck, ganggu saja! Bawa sini kertasnya!" Jojo mengambil kertas itu dengan kasar dan menandatanginya lalu menyerahkan kertasnya pada Mia.
Mia langsung tersenyum senang dengan wajah berbinar tanpa sadar menyentuh lengan Jojo dan langsung mendapat tatapan tajam dari Jojo.
"Terimakasih Kak, terimakasih. Kalau begitu aku permisi dulu."
Aku pun pergi meninggalkan Jojo sendirian disana dan menuruni tangga dengan terburu - buru menuju tempatku tadi.
"Kak, sudah dapat!" teriakku menyodorkan kertas yang ditandatangi Jojo pada Kak Bram dengan nafas kembali ngos - ngosan karena berlari.
"Terlambat 5 detik lagi tamat kamu! Siapa namamu!" ucap Bram dengan nada tegas dan meletakkan kertas tersebut di meja.
"Na- Namaku Mia, Kak," Diriku berucap dengan tergagap karena takut akan dibentak.
"Oke, Mia duduklah."
"Terimakasih Kak."
"Huuft, lega akhirnya."
"Gimana kamu bisa dapat tanda tangan Ketua Osis? Padahal orangnya susah di cari dan terkenal dingin di sekolah ini." tanya salah satu murid baru yang kebetulan duduk di sampingku.
"Gimana kamu bisa tahu kalau dia dingin dan jutek?" tanyaku pada siswa yang berada disampingku.
"Aku sudah mencari info sebelumnya dari teman - temanku dan juga tetanggaku yang kebetulan sekolah disini." ungkapnya menceritakan tentang Jojo padaku.
"Aku tadi kesulitan mencarinya, namun akhirnya ketemu juga. Ya kamu benar, dia dingin dan ketus bila dilihat dari wajahnya yang tak pernah tersenyum itu." sahutku membenarkan perkataannya.
Sedang cowok di sampingku hanya menyengir kuda menampakkan deretan giginya yang putih, lalu kembali menatap kakak osis yang memberi pengarahan kepada seluruh murid baru di SMA Nusantara ini agar menjadi murid yang disiplin.
Akhirnya kegiatan orientasi ini berakhir setelah 1,5 jam lamanya. Kami pun kembali ke kelas masing - masing sesuai jurusan.
Saat berjalan menuju kelasku, tak sengaja aku melihat Jojo berjalan dan aku menatapnya tanpa berkedip. Jojo pun juga menatapku namun hanya sekilas dan melangkah pergi begitu saja.
"Aduh jantungku kenapa berdetak terus sih dari tadi."
Setelah masuk kelas, kami semua saling memperkenalkan diri masing - masing dan kebetulan wali kelas kami adalah Bu Ana. Guru matematika yang terkenal tegas namun juga sabar dalam menghadapi murid yang sedikit bandel.
Aku pun duduk sebangku lagi dengan Winarsih, sahabat terbaikku sejak di SMP. Anaknya tinggi putih dan manis juga pandai bercanda, serta sahabatku Fifin ada di belakangku dengan salah satu murid lainnya.
"Hai, kenalkan namaku Mia Kusumawati." sapaku seraya mengulurkan tangan.
"Yuli Anggraini," sahutnya dan kami saling berjabat tangan.
Wali kelas memberi pengumuman berbagai kegiatan selama orientasi dan juga hal - hal mengenai rincian mata pelajaran juga peraturan di sekolah.
Akhirnya, kami semua di perbolehkan pulang karena hanya perkenalan antar murid dan wali kelas saja.
Itulah kisah cinta pertamaku saat bertemu pujaan hati semasa SMP, dan lambat laun cintaku yang kuanggap bertepuk sebelah tangan ternyata terbalas saat dirinya kelas 3 dan aku kelas 2 SMA. Walau lika liku yang kuhadapi penuh dengan air mata dan kecemburuan di antara kita hingga kami bertemu kembali di sebuah Universitas yang sama dimana kita sudah berjanji satu sama lainnya untuk saling mencintai sampai ke jenjang pernikahan.