Angin sejuk malam yang menemani gadis berparas cantik itu menyusuri indahnya langit malam dengan mobil merah miliknya. Zora Roselei, gadis berparas cantik yang sedang menikmati langit malam untuk menangkan diri. Namun ditengah kekagumannya pada langit malam, insiden yang mengerikan terjadi. Mobilnya terhantam oleh truk yang tiba-tiba muncul dari samping dan melaju cepat kearahnya. Sampai akhirnya mobil yang ia tumpangi terpental dan terguling ke sisi jalan.
Tiga bulan setelah kecelakaan naas itu terjadi. Zora Roselei, gadis yang baru menginjak umur sembilan belas tahun itu terbaring tak berdaya di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh alat-alat rumah sakit. Ya, dia selamat dan sempat keluar menyelamatkan diri dari mobilnya, sebelum mobil merah kesayangannya itu terbakar. Dia tergeletak di tepi jalan dan kesadarannya mulai redup setelah menyaksikan mobilnya tertelan oleh api.
Sembilan bulan berlalu. Zora akhirnya membuka matanya. Iya melihat satu sosok laki-laki tegap berdiri di depan ku. Aku tidak bisa melihat wajahnya namun suaranya asing di telinga ku.
"Hei kamu." Panggil sesosok suara asing kepadaku.
Aku yang masih kebingungan dengan apa yang aku lihat di depanku, sembari bertanya tanya dengan penuh penasaran.
"Tempat apa ini? Dimana ini? Siapa disana? Kenapa? Bagaimana bisa?," Batinku.
"Ya, itu kamu." Jawab sesosok suara asing itu seakan menjawab pertanyaanku.
Aku sontak menoleh kearah sumber suara. Aku mengernyitkan dahi dan memasang muka penuh tanya.
Dia sesosok pria misterius yang wajahnya entah dimana dia menyembunyikannya. Aku tidak dapat melihat wajahnya langsung dan tidak dapat mengenalinya, yang kulihat hanyalah bayangan hitam berdiri disampingku.
"Itu kamu yang mengalami kecelakaan sembilan bulan lalu dan kamu berhasil menyelamatkan diri dari mobil yang kamu tumpangi." Jelas pemilik suara asing itu menjelaskan apa yang terjadi kepadaku.
"Ya, walaupun kamu juga harus berakhir koma sembilan bulan lamanya," Lanjut suara itu.
Aku tidak tahu pasti apa yang telah terjadi kepadaku waktu itu, aku tidak ingat. Yang ku ingat hanya bintang bintang yang indah menempel di langit malam saat itu. Banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalaku. Siapa sesosok bayangan yang memiliki suara agak berat itu. Kenapa dia bisa mengetahui kejadian yang telah ku alami, dan kenapa dia bisa melihatku disini, apa dia manusia atau bukan.
Belum sempat aku tanyakan rasa penasaranku kepada sesosok bayangan tadi, tiba-tiba penglihatan ku menjadi gelap dan buram. Aku mencoba membuka mataku dengan perlahan-lahan dan cahaya putih menerobos masuk tanpa permisi. Mungkin dengan ini jiwaku akan kembali kepada raganya dan aku bisa membuka mataku lagi. Batinku Menebak.
Dan ya, benar, aku bisa merasakan gerakan jariku, dan perlahan-lahan aku membuka mataku. Dan yang Kulihat pertama kali adalah seorang wanita anggun nan cantik di sebrang pintu sana menatapku dan kegirangan ketika melihatku membuka mata. Akupun juga merasa demikian, sudah lama aku tidak melihat wajah bulat manisnya itu.
"Ra, akhirnya kamu bangun juga, aku kira aku akan menyerah menunggumu disini." Ujar wanita itu sembari menghampiriku dan langsung menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan genggaman hangatnya itu bersamaan dengan hangatnya air mata yang jatuh di tanganku.
Zeta Maroline, ya, dia Zeta sesosok gadis yang begitu manis dengan balutan kain di kepalanya. Satu tahun yang lalu Aku dan Zeta saling kenal dalam hal ketidak sengajaan. Namun yang membuatku kagum terhadap gadis ini adalah kebaikanya, kebaikan bagaikan malaikat yang tidak kenal takut akan dikhianati.
"Ta. makasih ya." Gumamku sambil tersenyum kepada Zeta.
"Makasih buat apa coba, aku ga ngelakuin apa-apa. kamu itu seharusnya minta maaf kepadaku bukan malah makasih ngerti." Ketus Zeta menatapku dengan penuh air mata bahagianya.
Sudah dari tiga minggu lalu aku dipindahkan ke ruangan reguler. Dan kali ini Zeta tidak mengunjungiku karena dia memiliki jadwal malam dikampusnya. Aku merasa bosan dengan ruangan berbau obat-obatan itu.
“Kapan aku bisa bebas dari tempat ini.” Gumamku sambil menyusuri lorong rumah sakit.
"Zora" Ucap seseorang pada ku
Aku menoleh kearah suara itu. Terlihat seorang laki-laki gagah berdiri didepan pintu. Dia membawa sebuah bunga di tangan kanannya.
"Xander" Ucap ku
Dia Xander, Xander megantara. Setelah mendengar ucapan ku, Ia tersenyum lalu masuk ke ruangan ku. Ia meletakkan bunga di samping ranjang ku lalu duduk di kursi sebelah ranjang ku.
"Bagaimana keadaan mu? Maaf aku tidak bisa menjenguk Ra. Aku sibuk membantu di perusahaan ayah" Ucapnya
"Tidak apa Xander, lagian aku hanya teman kamu yang tidak harus kamu kamu prioritaskan. Kamu harus memprioritaskan keluarga dan hidup mu Xander" Ucap ku sambil tersenyum
"Terima kasih atas pengertian mu Zora. Apa kau bisa menjawab pertanyaan ku?" Ucap Xander sambil menatap wajah ku
"Pertanyaan yang mana Xander? Apa dari tadi kau bertanya padaku?" Ucap ku dengan raut wajah yang bingung
"Apa kau baik baik saja Zora?" Tanya Xander
"Aku baik baik saja tetapi aku bosan berada disini. Aku ingin pulang kerumah dan kembali ke kampus lalu bermain bersama teman teman" Ucap ku pada Xander. Aku memberitahu dia apa yang aku rasakan
"Tunggu sebentar lagi ya Zora. Tunggu keadaan mu benar-benar pulih" Ucap Xander
"Baiklah" Pasrah ku. Karena untuk melawan Xander aku tidak mempunyai kekuatan
"Kamu sudah makan?" Tanya Xander dengan wajah seriuss nya
Aku hanya diam dan menundukkan kepala ku. Aku belum makan tapi tidak berani untuk mengatakannya kepada Xander.
"Belum?" Tanya Xander
Aku menganggukan kepala ku. Xander berdiri lalu berjalan keluar ruangan ku. Aku tahu dia pasti marah pada ku.
Lima belas menit berlalu. Xander kembali dan ia membawa makanan kesukaan ku. Sushi, aku sangat menyukai Sushi.
"Xander" Ucap ku dengan wajah gembira
"Makan. Aku tidak mau kamu makin sakit karna belum makan" Ucap Xander lalu mengeluarkan Sushi dari tempatnya.
Iya menyuapi aku dengan telaten. 10 menit kemudian Sushi itu sudah habis aku makan. Xander tersenyum melihat hal itu.
3 bulan kemudian, Zora sudah kembali ke kampus. Ia sudah kembali bermain bersama teman-temannya. Xander yang melihat itu tersenyum. Ia kembali tenang setelah melihat senyum Zora.
"Xander!!!" Teriak ku ketika melihat Xander
"Haiii cantik" Ucap Xander
"Aku dengar kamu menyelidiki tentang kecelakaan aku satu tahun yang lalu. Apa kau apa penyebab kejadian itu terjadi?" Tanya ku sambil menatap Xander
Mendengar pertanyaan ku Xander menghela nafas panjang. Ia menatap ku
"Tapi janji setelah kamu tahu tentang ini tolong jangan berubah" Ucap Xander. Aku yang mendengar itu langsung menganggukan kepala ku. Melihat itu Xander sedikit tersenyum.
"Nanti setelah selesai kuliah, temui aku dikantin ya" Ucap Xander lalu pergi dari hadapan ku
Jam kuliah telah selesai. Aku menemui Xander. Ia telah menunggu ku di kantin.
"Mau jalan sekarang?" Tanya Xander
"Ayo. Aku penasaran" Ucap ku semangat
Xander mengajak ku ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Setelah itu kami berdua langsung jalan menuju suatu tempat. Kita berhenti, aku melihat sekeliling dan ternyata itu kantor polisi. Aku menatap Xander
"Nanti dijelaskan didalam" Ucap Xander
Kami keluar dari mobil lalu masuk kedalam kantor polisi. Didalam sana ada polisi yang sudah menunggu mereka. Dia mengarahkan kami ke sebuah ruang. Didalam ruang itu ada sepuluh polisi, seorang laki-laki, dan Zeta. Aku kembali melihat kearah Xander. Ia menggenggam tangan ku erat.
Seorang polisi menghampiri ku, ia melihat ku lalu menyuruh ku untuk duduk. Xander berdiri dibelakang ku.
"Nona Zora Reselei" Ucap salah satu polisi
"Iya" Jawab ku
"Maaf mengganggu waktu nya, saya ingin memberi tahu siapa dalang dari kecelakaan anda" Ucap polisi tersebut
"Maksud bapak? Mereka?" Tanya ku dengan wajah yang tidak percaya
"Iya. Ini adalah bapak Asep, supir truk yang menabrak anda. Dan ini adalah nona Zeta, dalang di balik kecelakaan anda" Ucap polisi tersebut
Aku menatap tidak percaya, seketika tangis ku pecah. Xander yang melihat ku menangis langsung menenangkan ku. Setelah aku tenang ia memberikan ku sebuah video. Didalam video tersebut terlihat Zeta yang memberikan uang kepada pak Asep karna telah berhasil membuat ku celaka. Tangis ku kembali pecah. Xander langsung membawa ku keluar dari ruangan dan menenangkan ku.
Setelah aku tenang. Aku menatap Xander dengan penuh tanda tanya.
"Maafkan aku. Maaf" Ucap Xander
"Kenapa kamu tidak memberitahu dari awal? Kenapa kamu tidak memberitahu aku?" Tanya ku
"Aku tidak mau kamu kecewa dan tidak percaya dengan aku. Makannya aku cari bukti lalu kasih ke kamu. Maaf terlambat memberitahu" Ucap Xander sambil menunduk
"Aku mau kedalam. Aku mau mendengar penjelasannya" Ucap ku lalu masuk kedalam ruangan
"Apa maksud mu Zeta?!" Tanya ku dengan nada tinggi
"Lu tanya maksud gua apa? Gua mau lu mati!" Ucap Zeta dengan tegas
"Kenapa? Aku salah apa zeta?" Tanya ku dengan rasa penasaran
"Lu selalu mendapatkan apa yang lu mau! Lu kaya, cantik, pinter dan gua ingin semua itu!" Teriak Zeta
"Tapi kamu tidak perlu begini Zeta" Ucap ucap ku
"Gua gak perduli, sekarang mending lu pergi dari hadapan gua! Gua benci sama lu!" Ucap Zeta. Setelah mengucapkan itu polisi wanita langsung pergi membawa Zeta
"Nona... Maaf" Ucap pak Asep
"Bisa jelaskan pak?" Tanya Xander
"Nyonya Zeta memang selalu iri terhadap nona Zora. Sejak 3 tahun lalu nyonya Zeta mencoba mencelakai nona Zora namun selalu gagal karena ada seorang wanita di belakang nona Zora" Ucap pak Asep
"Wanita?" Siapa itu pak?" Tanya Xander
"Nanti aku kasih tau Xander" Ucap ku
Setelah mengatakan itu aku dan Xavier pulang dari kantor polisi. Di jalan Xander masih terus bertanya tentang siapa wanita yang selalu berada dibelakang ku. Jawaban ku tetap sama. Kami sudah sampai di rumah ku. Aku turun lalu masuk kedalam rumah dan Xander pulang kerumah nya.
Tiga bulan berlalu. Zeta sudah di penjara dengan hukuman 20 tahun penjara dan pak Asep 15 tahun penjara.
Sekarang aku sedang duduk di samping Xander lalu memanggil seseorang. Siska, seorang wanita yang selama ini aku sembunyikan.
"Dia Siska, sahabat yang aku sembunyikan. dia biasa disebut sahabat misterius ku" ucap ku pada Xander.
"Siska adalah seorang jin turun temurun dari keluarga ku. Ia menjaga ku sejak aku lahir. Aku bersahabat dengan dia sejak aku smp" ucap ku
Xander yang mengerti menganggukan kepalanya. Ia terdiam sejenak lalu tersenyum. Aku yang bingung langsung bertanya pada Xander
"Ada apa?" tanya ku
Xander tidak menjawab. Ia malah berjongkok lalu mengeluarkan sebuah cincin dari saku nya
"Zora Roselei will you marry me?" ucap nya dengan senyum
Aku diam sejenak lalu menganggukan kepala ku
"Yes i will" jawab ku
Xander memasangkan cincin ke jari manis ku. Lalu ia berkata
"Aku sudah mengetahui tentang Siska dan Siska yang membantu aku untuk menangkap Zeta" ucap Xander
Aku tersenyum kearahnya. Aku bahagia karna Tuhan memberikan karunia-Nya kepada ku melalui Siska dan Xander walaupun dengan awal yang sedih tapi dengan akhir yang bahagia.