Saudara perempuanku bilang ibuku membunuhnya. Ibuku bilang aku tidak memiliki saudara perempuan. Ketika aku sedang mengambil segelas air. Aku tak sengaja menjatuhkan gelasnya. Ibuku melihat. Ia tersenyum memandang darah dari jemariku yang tergores pecahan kaca. Aku segera berlari menuju kamarku untuk membalut luka ku. Hari sudah sangat larut, aku tertidur. Aku memimpikan nya lagi. Kali ini ia duduk ditepi kasur dengan rambut gelombangnya yang terlihat dari belakang. Ia berkata dengan lesuh , "Lari temannya jahat." Aku tak mengerti apa yang dimaksud 'temannya jahat.' Sekali lagi ia berkata, "Lari!" Ia terus mengulangi kata-kata itu beberapa kali. Hingga ia mengatakannya dengan jeritan yang sangat keras, sambil memalingkan wajahnya. Wajahnya yang berlumuran darah dengan goresan vertikal juga horizontal memenuhi wajahnya. Aku terkejut hingga membuatku menjerit sejadi-jadinya. Aku tersadar dan menemui diriku tergantung pada seutas tali tampar. Dengan kedua kaki menjadi dasar ikatan itu. Kepala ku berada dibawah kaki ku. Itu membuatku pusing. Samar-samar aku melihatnya berjalan. Itu ibuku. Ia membawa sesuatu dibalik tangannya. Rambut panjangnya yang berwarna kecokelatan menutupi sebagian wajahnya. Ia perlahan mendekat kearahku. Hingga aku dapat melihat benda itu. Pisau dapur yang baru saja diasah. Tanganku gemetar. Mataku melotot. Mulutku ingin berteriak, tetapi terbungkam oleh kain putih. Sekali lagi ia menggoreskan benda itu pada pipi kiriku. [ ]
Pada mulanya kami sekeluarga. Aku, ayahku, ibuku dan saudara perempuanku. Sebuah pertengaran hebat terjadi malam itu. Usiaku tiga tahun saat itu. Ayahku pergi membawaku. Ia menarik tanganku dengan kencang, hingga terlepas dari genggaman ibuku. Hujan sangat deras. Ayahku membawaku menuju negara lain malam itu. Hingga aku tumbuh dewasa dan melupakan ibuku. Kami tinggal disebuah rumah yang cukup luas untuk dua orang. Ada tiga kamar tidur, dua kamar mandi, dapur yang cukup luas, juga pekarangan penuh bunga daisy.
Waktu kecil aku yang menanamnya. Hari ini kelas terakhirku selesai. Libur musim dingin tiba. Begitu juga dengan mimpi itu. Setiap malam, tepatnya tengah malam pukul 12.00. Aku selalu terbangun dari mimpi buruk hampir sepanjang tahun. Mimpi buruk yang sama dengan waktu yang sama. Menderita. Aku sangat menderita. Mimpi itu membuatku terjaga setiap malam, dan suasana hati yang buruk di pagi harinya. Aku telah menceritakan tentang apa yang ku alami akhir-akhir ini pada ayahku. Dengan santainya ia berkata, "Itu hanyalah bunga tidur, tidak perlu terlalu di pikirkan." Aku kesal mendengarnya. Aku bertanya sekali lagi, "Ayah, apakah aku memiliki saudara perempuan?" Ayahku tidak menjawab. Ia berjalan pergi dari pintu reyot itu menuju pekarangan.
Setiap malam aku selalu memimpikan seorang gadis. Gadis dengan rambut panjang bergelombang berwarna pirang. Tubuhnya kurus dan aku tidak tahu tingginya. Dalam mimpiku gadis itu berada di dalam peti mati disebuah gudang tua. Aku menemukannya saat terdengar jeritan meminta tolong disertai pukulan-pukulan keras. Suara itu berasal dari peti mati. Peti itu tertutup rapat. Sangat rapat. Tapi aku dapat membukanya. Jantungku berdetak kencang. Ketika nampak seorang gadis berlumuran darah. Wajahnya penuh goresan. Tangannya juga. Ia menyentuh pergelangan tanganku. Itu membuatku gemetar hebat. Keringat dingin membasahi wajahku. Aku memejamkan kedua mataku. Aku dapat merasakan jemarinya yang tidak lengkap pada tangan kananku. Dengan mata melotot gadis itu berteriak didepanku, "Aku adalah saudara perempuanmu, ibuku membunuhku." Dan setelah kata-kata itu berakhir, mimpiku juga berakhir. Kata-kata itu selalu berputar di kepalaku. Setiap hari tanpa henti.
Mimpi itu membuatku mencari-cari keberadaan ibuku. Masih hidup atau tidak, pergi atau tetap tinggal, bagaimana rupanya, sosoknya, kepribadiannya. Aku tidak mengetahuinya sama sekali. Dua puluh tahun sejak aku meninggalkannya. Namun itu tidaklah sulit bagi kami anak muda. Teman-temanku berhasil mendapatkan lokasinya yang berada di pinggiran kota. Aku mengajak salah satu teman wanitaku, Melisa. Untuk ikut bersamaku, karena ia tidak tahu kemana harus menghabiskan hari liburnya. Oh ya, namaku Jessica gadis berambut hitam panjang lurus dengan poni menutupi keningku. Tinggi ku 175 sentimeter lebih rendah lima senti dibandingkan Melisa. Aku memiliki kornea mata biru lautan. Milik Melisa hitam namun rambutnya pirang.
Kami pergi dari Kansas menuju St. Elmo, Colorado. Menggunakan mobil sedan berwarna putih milik Melisa. Perjalanan cukup jauh. Kami menghabiskan tujuh jam perjalanan. Kami tiba di kota yang penduduknya sekitar dua ribu jiwa. Menurut alamat jika benar. Rumah dua tingkat berbahan dasar kayu. Bagian depan terdapat pagar kayu setinggi 60 senti, ditumbuhi rerumputan panjang disekitarnya. Tampak jendela kaca dengan pinggiran cat putih yang hampir pudar. Tertutup tirai putih bermotif bunga-bunga. Pintu kayu dengan kaca bening ditengahnya tertutup tirai hijau kebiruan. Kayu-kayunya terlihat sangat tua dan lapuk. Dibagian lantai dua. Terlihat dua ruangan dari jendela kaca, keduanya tertutup selambu putih sedikit kusam. Ini kurasa rumahnya.
"Apa kau yakin, ini rumahnya?" tanya Melisa ragu.
"Yeah, aku rasa begitu." Jawabku lalu melangkah mendekati rumah itu.
Aku sedikit ragu ketika hendak mengetuk pintu rumah itu. Terlihat tidak berpenghuni. Namun aku mencobanya. Setelah beberapa kali aku mengetuk. Muncul wanita tua menggunakan sweater abu-abu dari balik pintu.
"Apa benar dengan Nyonya Julia?" tanyaku.
"Benar, saya sendiri. Kalian siapa? Ada perlu apa?" tanya nya kebingungan.
"Ah, aku Jessica Patricia. Dan dia teman ku, Melisa." Ucapku memperkenalkan diri, juga Melisa.
Wanita itu mempersilahkan kami masuk. Seluruh bagian rumahnya telah di hias dengan tema 'Halloween.' Ada patung tengkorak di sudut tuang tamu, permen labu pada kusein pintu, tiga buah labu yang sudah diukir dekat perapian. Kami berbincang sekitar satu jam lebih. Wanita itu akhirnya mengingat. Bahwa aku adalah anak kandungnya yang terpisah selama puluhkan tahun. Aku dan Melisa diantar menuju kamar kami. Lantai dua. Kamar kami juga telah dihias dengan jaring laba-laba palsu disudut ruangan dan atap. Terdapat poster labu tersenyum tepat diatas ranjang kami. Poster joker di sebelah kanan. Karena hari sudah petang, kami membawa tas ransel menuju kamar. Kami merapikan pakaian. Juga mandi.
Malam hari tiba. Kami bertiga makan malam di ruang makan. Hanya tiga buah cahaya lilin yang menerangi ruangan ini. Ruang lainnya gelap gulita. Malam halloween kata ibuku. Aku merinding mengingat mimpiku di ruangan ini. Sebaliknya, Melisa sangat senang.
"Ayo! Ayo! Habiskan!" suruh ibuku sambil menatap kami berdua secara bergantian.
"Dengan senang hati" ucap Melisa sambil mengambil beberapa lauk dimeja.
Aku tersenyum mengambil sedikit lauk. "Bu, apakah aku memiliki saudara perempuan?" tanyaku sambil mengunyah.
"Dari mana kau tahu?" jawab ibu dengan nada dingin.
"Berarti benar aku memiliki?" lanjutku.
"Tidak." Jawab ibu menyeringai.
"Baiklah kalau begitu, aku sudah selesai. Selamat malam." Ucapku lalu berdiri dari kursiku berjalan menuju kamar.
Aku kecewa. Apa yang aku cari tidak berhasil ku temukan. Sepertinya ibu berbohong. Aku memikirkannya sambil berbaring di kasur itu. Tak lama Melisa masuk. Ia berkata bahwa ia lelah. Dan kemudian tertidur. Aku berbalik ke kanan dan kiri namun tidak dapat tidur. Aku haus sehingga turun ke dapur. Ketika aku menuang air dalam gelas kaca. Seseorang menyentuh pundakku. Aku kaget. Aku tak sengaja menjatuhkan gelas ditanganku. Aku memungut pecahan kaca itu. Ibuku melihatku. Terlintas di pikiranku. Aku mengambil sapu kemudian membersihkannya. Aku tersenyum padanya. Lalu kembali ke kamarku. Kemudian terlelap.
Mimpi itu datang lagi. Seperti biasa aku terbangun lagi. Samar-samar aku melihat seseorang berjalan medekat kearahku. Rambut panjang kecokelatan menutupi sebagian wajahnya. Itu ibuku. Tapi mengapa dunia rasanya terbalik? tunggu tubuhku seperti digantung. Benar kedua kaki ku menjadi dasar ikatan tali tampar itu. Kepala ku berada di bawah kaki ku. Melisa? Batinku dia juga diikat dengan mulut terbungkam kain! . Ibu membawa apa dibelakang punggungnya. Tangannya bersembunyi. Aku menutup kedua mataku. Tubuhku meronta-ronta. Aku pasrah. Aku tahu itu sia-sia.
Tiba-tiba aku merasa ruangan menjadi terang. Sangat terang dari dalam kelopak mataku. Lalu seketika banyak orang berteriak, "Happy halloween!" dengan lantang disertai tiupan terompet. Aku heran masih dengan mata terpejam. Perlahan aku membuka mataku. Sialan! mereka semua teman-teman kampusku, ucapku dalam hati. "Melisa!!" teriakku karena melihatnya yang tadi terikat di sudut ruangan. Kini berdiri di sebelahku. Ibuku merapikan rambutnya lalu tertawa sangat keras. Teman-temanku juga. Aku menangis.
"Hei teman-teman segera lepaskan ikatan gadis kecil ku" suruh James menahan tawa.
"Biarkan saja dia terlihat manis diatas sana" balas Justin tertawa.
"Jangan begitu..." balas Melisa.
Akhirnya mereka melepaskan ikatan dikaki ku. James, Justin dan Melisa mereka adalah sahabat ku. Aku lupa bahwa malam ini adalah malam mengerikan halloween. Mereka bermain tricks or treat denganku. Menyebalkan lagi mereka bekerja sama dengan ibuku. Disaat aku baru bertemu dengannya. Pada malam itu kami semua berpesta. Makan, minum, berdansa dan bernyanyi memecah keheningan kota itu. Meski begitu aku sangat senang. Menerima kejutan yang tak terduga. Mereka perhatian dan aku menyukainya.
Tamat....