"Tap.... Ssrreekk....
"Tap.... sssrrreeekkk..."
Suara langkah kaki diseret itu menyadarkanku. Tapi, mual di perutku tetap menyiksaku... langkah kaki semakin lama, semakin dekat. Kondektur itu mendekat. Akan tetapi, penampilannya kali ini terlihat aneh.
Kepalanya tidak utuh. Bagian kanannya seperti melesak ke dalam, berlumuran darah. Kaki kanannya seperti dicabik-cabik oleh benda tajam. Perlahan-lahan ia menoleh ke arahku. Aku membelalakkan mata, penampilannya tampak mengerikan dengan bola mata sebelah kanan terlepas menggelantung ke bawah. Menempel di pipi yang dirambati oleh belatung, cacing, kelabang, kecoak dan berbagai macam hewan melata lainnya. Aroma amis dan busuk itu kian tajam, menguar dari luka-lukanya tersebut.
Aku berusaha membangunkan Rafi, namun ... dengkurannya mengeras.
Bus masih melaju dengan kecepatan yang sama dari pertama kali berangkat 40 km/jam, tetapi, sepertinya, tidak kemana-mana, berputar-putar di tempat yang sama dan aku tak tahu kini berada dimana. Kanan kiri gelap.
Saat mataku tertuju pada bangku sopir, mataku terbelalak... bus itu tak ada yang mengendalikannya.
Aku tak bisa menahan diri lagi. Telapak tangan kananku melayang menampar pipi-pipi Rafi sekeras mungkin hingga laki-laki gemuk itu melompat kaget.
"Hei ! Ada apa denganmu ?!" ujar Rafi dengan nada tinggi sambil memegangi pipinya, "Apa kita sudah sampai ?"
"Tampaknya, bus yang kita tumpangi ini salah. Lihatlah, tak ada sopir yang menjalankannya, tapi, bus tetap berjalan... dan kita tidak sepertinya berputar-putar di tempat yang sama," jelasku.
"Hah... jangan mengada-ada. Bagaimana mungkin ada hal seperti itu ?" bantah Rafi.
"Aku tidak mau berdebat denganmu, Fi... lihatlah sendiri,"
Pandangan Rafi menyapu ke sekeliling, penumpang tetap berjumlah sepuluh orang... mereka semua diam, tak bergerak sedikitpun, tatapannya kosong. Dan, saat melihat ke arah kondektur yang berdiri di ujung belakang, wajah Rafi pucat pasi. Terlebih setelah memandang ke tempat duduk sopir.
"Apakah rumor bus hantu memang nyata ? Dan kita terjebak di bus tersebut ?" tanyaku.
"Ti... tidak mungkin..." sahut Rafi dengan suara gemetar.
"Aku akan coba menghampiri salah seorang dari mereka," kataku.
"Jangan," cegah Rafi.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan ? berdiam diri di tempat ini sepanjang malam ?!" kataku sambil berusaha mengumpulkan segala keberanian ku untuk kemudian berdiri dan menghampiri salah seorang penumpang. Namun....
"Pok !"
Sebuah tepukan keras mendarat di bahu kananku. Aku menoleh. Laki-laki paruh baya yang tadi mengajakku bicara tersenyum, "Kau baru menyadarinya ?" tanyanya.
"Apakah bapak adalah salah satu dari para penumpang ini ?" tanyaku.
"Bukan. Aku seperti kalian, manusia namun, aku hidup di dua alam. Alam manusia dan alam gaib. Tugasku adalah menjaga kedua gerbang itu agar tetap selaras," jelasnya.
"Sebenarnya, kami ini berada dimana ?" tanya Rafi.
"Inilah yang disebut gerbang dua dimensi. Dunia nyata dan dunia gaib,"
"Bagaimana ini bisa terjadi ? Siapa sebenarnya nama bapak ?" tanya Rafi.
"Namaku Jaka Sura. Semua ini terjadi karena kesalahanmu," ujar laki-laki itu.
"Apa yang kuperbuat ? Setahuku, aku tidak melakukan kesalahan?"
celetuk Rafi tidak terima.
"Rafi, tolong... biarkan bapak ini bicara. Jika kau terus menerus memotong perkataannya, kita takkan mengerti apa yang sedang terjadi. Udara di dalam bus ini serasa menyesakkan dada sekalipun hampir semua jendela di dalam bus ini dibuka... pasti ada alasannya. Jadi, cobalah untuk mengendalikan dirimu," kataku.
Aku berusaha mengatakan itu dengan sangat berhati-hati sekali. Dalam keadaan seperti ini, emosi Rafi tidak stabil. Laki-laki bernama Jaka Sura itu tersenyum sambil mengelus jenggotnya.
Setelah Rafi menenangkan diri barulah laki-laki itu berbicara.
"Kalian mungkin pernah mendengar, sebuah bus dengan lebih kurang 15 orang penumpang masuk ke dalam jurang, mereka semua tewas. Tapi, bus tersebut masih berkeliaran di sekitar jalanan. Dan, semenjak kejadian itu, seringkali terjadi kecelakaan maut yang rata-rata merenggut korban jiwa ? Dari luar, tampak seperti bus biasa. Tetapi, saat kalian memasukinya, Perjalanan Astral menuju alam lain dimulai. Kalian sekarang berada di dalam bus naas tersebut,"
"Apa hubungannya dengan kami, pak ?"
"Temanmu itu..." katanya lirih nyaris tak terdengar. Aku mendekatkan telingaku dan orang bernama Jaka Sura itu segera menyampaikan sesuatu yang membuatku tak nyaman.
"Nak Yoga... sebelumnya saya mohon maaf karena harus menyampaikan ini kepadamu," membuatku semakin penasaran.
"Karena temanmu itu tak bisa menahan diri... mohon maaf, mereka menginginkannya,"
"Mereka ? Siapa mereka ?" tanyaku.
Pada saat itulah, para penumpang yang berjumlah tidak kurang dari 15 orang itu menatap Rafi dengan tatapan aneh. Hampa dan dingin tapi, tajam menusuk.
"Aku takkan membiarkan mereka mengambil Rafi, pak... ini tanggung jawabku sebagai seorang teman," kataku.
"Maaf, nak... bapak tak mampu mencegahnya. Ia rela meninggalkan segala-galanya hanya demi uang dua juta rupiah,"
"Apa sebenarnya yang kalian bicarakan ?" tanya Rafi dengan nada sedikit gusar karena merasa diabaikan.
Mendadak, pandangan Rafi beralih ke arah depan. Bagi dia yang belum mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi, tak memperhatikan bahwa bus itu berjalan sendiri, tak ada sopir yang mengendalikannya.
Mata laki-laki gemuk itu terbelalak. 5 meter di depan, sebuah kabut tebal melayang-layang di udara. Menutupi sekitar tempat itu dan saat bus yang kami tumpangi memasuki kabut itu, kami sudah berada di sebuah tempat asing.
"Lo, dimana ini ?" tanyaku pada Pak Jaka Sura yang berdiri di samping kananku, "Dimana Rafi ?"
"Rafi... Rafi... Rafi... dimana kau ?" panggilku.
Tidak ada jawaban, sementara aku masih merasakan bus ini berjalan... pelan sekali.... Aku dan Jaka Sura mencari kesana-kemari, dari ujung depan sampai ke ujung belakang. Heran, bus ini seperti lorong yang sangat panjang, banyak sekali sekat yang menyerupai ruangan-ruangan kecil. Aroma busuk itu tak tercium lagi, hanya aku merasakan seakan ada benda berat menggencet dadaku. Sesak sekali rasanya.
"Nak Yoga, berhati-hatilah. Apapun yang kau lihat, kau dengar dan kau rasakan... sebaiknya, kau abaikan karena itu bisa membuatmu terjebak ke dimensi lain dan kecil kemungkinannya untuk bisa keluar lagi," saran Jaka Sura, "Ingatlah, biar bagaimanapun juga kita berada di dalam bus dan ruangan-ruangan ini adalah jendela. Jika kau keluar, nyawamu bisa terancam,"
Aku mengangguk. Sayup-sayup terdengar suara Rafi dari kejauhan.
"Apakah, bapak mendengar suara itu ?" tanyaku.
Jaka Sura mengangguk.
"Penumpang bus ini hanya kau, aku dan temanmu yang bernama Rafi itu. Sekilas ia sepertinya berada di tempat yang jauh tapi sebenarnya ada di dekat sini,"
"Aku juga mendengar suara tangis bayi, pak. Tangisnya begitu memilukan hati. Sepertinya..."
"Jangan kau hiraukan, nak... fokuskan saja pada suara Rafi. Aku khawatir dia dalam bahaya," potong Jaka Sura, "Aku tahu, kau tidak bisa melihat mereka yang tak terlihat, tapi, aku yakin kau bisa merasakannya. Di sekitar kita, bukan hanya arwah para penumpang yang jadi korban kecelakaan itu, tapi, makhluk-makhluk lain yang berada di dalam bus ini juga bermunculan, belum lagi yang berasal dari luar. Mereka semua berdatangan... berseliweran disana-sini, jangan sampai pikiranmu kosong, nak Yoga..."
"Di sekelilingku rasanya banyak sekali bayangan hitam, pak. Ada yang merangkak, merayap di kanan kiri juga diatas... kakiku seperti tertahan oleh benda yang berat, pak..."
"Kau harus fokus pada Rafi... abaikan saja mereka,"
"Yoga... Yoga... dimana kamu ? Aku sudah menemukan pencopet itu. Dia ada disini, kemarilah..."
"Itu suara Rafi, pak..."
Beberapa meter di depan, tampak oleh seorang pria agak gemuk tengah memukuli sesuatu. Dari perawakan badannya, bisa kupastikan dia adalah benar-benar Rafi. Tapi, Jaka Sura menarikku.
"Dia kerasukan, nak... tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang halusinasi. Apa kau bisa melihatnya ?"
"Justru karena itulah, saya harus menghampirinya. Jika tidak tangannya bisa hancur karena memukuli besi,"
Jaka Sura melangkah maju dan menarik baju bagian lengan Rafi. Pemuda gemuk itu membalikkan badan, aku terkejut melihat keadaannya yang seperti bukan Rafi yang kukenal. Ia menggeram liar terkadang mendesis-desis seperti suara ular, otot-ototnya menegang bertonjolan keluar, sepasang bola matanya menghitam. Kedua tangannya yang berlumuran darah mengepal kuat sekali.
"Aku akan membunuhmu pencopet sialan. Kembalikan uangku, kembalikan uangku !!" serunya saat Jaka Sura sudah berdiri di hadapannya.
Rafi menerjang ke arah Jaka Sura. Sepasang tinjunya terayun hendak menghantam wajah Jaka Sura. Laki-laki itu dengan tenang mencengkeram tinjunya dan memelintirnya ke belakang dan mengunci setiap gerakannya hingga pemuda itu tidak berdaya apa-apa lagi. Sekuat apapun ia berontak untuk melepaskan diri, kuncian Jaka Sura makin kuat.
Jaka Sura segera memegang kepala bagian belakang dan berkata, "Keluarlah dari tubuh manusia fana ini, wahai jin yang bersemayam di dalam... keluarlah,"
Rafi menjerit keras sekali, suaranya parau menyakitkan telinga. Jaka Sura tidak peduli, malah suaranya makin lantang, "Atas nama penguasa langit dan bumi beserta seisinya... kuperintahkan kau keluar dari badan ini !! Tempatmu bukan disini, kembalilah kau ke asalmu !!!"
Sementara mulut Jaka Sura komat-kamit, tangan kanannya bergerak mengusap kening Rafi sambil berteriak kencang, tangan kanan itu bergerak ke atas. Dan...
Sebuah asap jingga tipis keluar dari ubun-ubun Rafi. Bergerak ke atas dan perlahan-lahan lenyap seiring dengan tubuh Rafi yang melorot ke bawah tak bertenaga. Ia roboh tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi padanya, pak ?" tanyaku.
"Saya sudah mengatakan.... dia masih mengharapkan uangnya kembali. Hal semacam itulah yang memancing para penunggu tempat ini merasukinya. Untung dia hanya dirasuki oleh sesosok makhluk yang dapat diusir dengan mudah,"
( Bersambung babak ketiga )
14 Januari 2023