Udara lembab ruangan ini sudah enggan menanyakan kabarku, mereka mungkin bosan mendengar jawabanku yang selalu sama. 'Ya, aku tidak sedang baik baik saja.' selalu dengan jawaban itu.
Bagi Eun ae semua harinya adalah malam yang gelap, meskipun dengan jelas mata Eun ae menatap angka 10.13 am di layar jam digital tepat di atas meja samping tempat tidurnya, tapi nyatanya hanya lampu kamar yang bisa menjadi cahayanya.
Entah siapa yang bisa aku harapkan sekarang. Kim seokjin, dia bahkan tanpa beban dan sangat lancar membela seseorang yang ingin membunuhku. Apa dia manusia? Dia terlalu pintar untuk membenarkan tersangka sialan itu.
Bughhh...
Pukulan yang tidak seberapa kencang mengenai punggung pengacara Kim hingga membuatnya reflek berbalik. Kim Seokjin mengamati beberapa kertas yang terhambur ke lantai sisa tabrakan dengan punggungnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya kurang paham dengan perlakuan gadis yang sebelumnya duduk di bangku korban saat persidangan berlalu.
"Apa yang kau dapat darinya? uang? berapa yang dia bayar untukmu? Aku bisa memberikannya padamu berapapun kau mau," ucapan Eun ae berakhir dengan teriakan.
Lorong bangunan ini cukup sepi, tidak ada seorangpun yang melintas kecuali pengacara kim dan Eun ae sehingga Eun ae bisa leluasa berteriak pada pria tinggi bermata tajam yang kini menatapnya acuh.
Kim seokjin tertawa sarkastis menanggapi ucapan penuh hinaan yang keluar dari mulut bergetar gadis berantakan di depannya, wajahnya tanpa cacat, namun badannya seakan kesulitan untuk sekedar berdiri. "Apa yang kau katakan?"
"Kau ingin membunuhku dengan membebaskannya? Bagaimana bisa lelaki sialan itu bisa bebas setelah mencoba membunuhku? Apa kalian menungguku untuk mati supaya bisa mengurungnya ke penjara? Apa kalian menungguku masuk berita dan koran setelah di temukan tewas mengenaskan karenanya?" Eun ae berusaha menelan tangisnya namun gagal, deraian air matanya membuatnya sangat menyedihkan.
Seokjin sama sekali tidak tersentuh olah tangis gadis di depannya. hati keras Seokjin tetap membiarkan gadis itu berdiri dikuasai oleh amarah. "Bawalah bukti yang kuat untuk memasukkannya ke penjara. aku sulit untuk mempercayai semua omong kosongmu." Seokjin berbalik setelah memberikan pernyataan yang mendadak membuat Eun ae mengingat sesuatu.
"Bukti ... ya, aku memilikinya." Eun ae menarik pergelangan tangan Seokjin. "Mereka sudah menyerahkannya pada jaksa. Tapi semua bukti itu hanya akan sia sia. Aku tidak pernah bisa menang dengan bukti yang aku dapat. Semua orang telah bersekongkol," jelas Eun ae meyakinkan.
Untuk yang kedua kalinya Seokjin tersenyum kesal, ingin mengumpat pada gadis keras kepala dan pembual yang kini menarik lengannya. Seokjin menghempaskan genggaman eun ae. Seokjin membuka lembaran kertas yang ia genggam dan menemukan nama dari gadis yang merengek padanya saat ini. "Choi Eun ae, wanita, 26 tahun." Seokjin menutup kasar berkas yang selesai ia baca. "Eun ae -ssi, harusnya di usiamu yang sekarang, anda sudah harus paham tentang hukum di kota kelahiran anda ini, jadi jangan merengek atau pun membual padaku. Aku tidak akan mempercayaimu tanpa bukti."
Mulut Eun ae menganga tanpa suara. "Membual." ucapan yang baru saja dia dengar terbilang sangat menyakitkan baginya. pipi yang sebelumnya mengering kini mulai lembab lagi. "Bagaimana kau bisa begitu mempercayainya? bukti ... apa hanya karena sebuah bukti kamu bisa dengan mudah mempercayainya? Mereka telah memalsukannya. lelaki sialan itu, kau bahkan tidak peduli dengan semua luka yang aku dapat. Semua luka ini bukan karena sebuah kecelakaan. Semua luka ini adalah hasil dari semua usaha lelaki sialan itu untuk membunuhku."
Seokjin memijat keningnya frustasi. "Eun ae-ssi," ucapnya dengan penekanan berharap Eun ae cepat mengerti. "Mintalah pada pengacaramu untuk membelamu, bukan pada pengacara lawanmu yang sewaktu waktu bisa membalikkanmu menjadi seorang tersangka atas fitnah atau pencemaran nama baik."
"Seokjin-ssi, masukkan aku ke penjara bila perlu, setidaknya aku masih bisa bernafas dan terbebas darinya." tatapannya sangat tajam menusuk mata hitam Seokjin. "Aku tidak ingin mati di tangannya. Mereka hanya menyiksaku. Mereka semua telah bersandiwara. Tolong aku! tidak, bunuh saja aku, aku tidak ingin mati di tangan lelaki sialan itu." Tangan gemetar Eun ae tanpa sungkan menggenggam telapak tangan lelaki yang baru saja ia temui. Eun ae tidak peduli serendah apa dirinya sekarang dimata Seokjin, Eun ae hanya tidak ingin selamanya hidup terkekang oleh rasa sakit yang selalu menghantuinya.
Sesaat telapak tangan dingin Eun ae menggetarkan jantung Seokjin. Seokjin ingin melepas genggaman Eun ae namun tangan Eun ae terlalu erat, genggamannya penuh ketakutan. "Eun ae ssi, jangan pernah memohon padaku tentang apapun, aku bukan Tuhan yang bisa membaca semua isi pikiranmu hingga aku bisa dengan cepat mempercayaimu. Harapanmu padaku hanya akan sia sia. Terlebih lagi kamu tengah menderita ..."
"Tidak." Potong Eun ae menggeleng cepat. "Aku tidak mengalami gangguan psikologis seperti yang mereka katakan. Ini semua telah direncanakan, mereka telah berbohong."
"Aku sangat prihatin padamu Eun ae-ssi." Seokjin mengakhiri perkataannya setelah ia berhasil melepas tangan dingin Eun ae darinya.
Eun ae ambruk ke lantai, memjamkan matanya erat dan berulang kali memukul lantai dengan kepalan tangan yang lemah. Eun ae pasrah dan bersiap untuk kembali ke neraka yang mengekangnya, bersiap untuk menerima ribuan luka dan rasa sakit. "Ya, siapa yang akan percaya padaku. tidak ada seorang pun yang bisa memebelaku, pengacaraku hanya mengikuti permainan sialan ini dengan menerima banyak uang dari lelaki itu." Eun ae menumpahkan semua tangisnya.
Seokjin berlalu menjauh dari Eun ae, seorang gadis lemah berpakaian modis ala orang kaya namun fisiknya terlalu berantakan untuk mendukung semua yang ia kenakan. "Aishh... apa yang dia lakukan." gerutu Seokjin merenggangkan dasi yang mencekat leher jenjangnya.
Seokjin cukup terkejut dengan jantungnya yang merasakan hal aneh saat tangannya di genggam erat oleh Eun ae. hatinya yang telah lama mati sepeninggal orang tuanya yang terbunuh itu kini mejadi meluluh di sepersekian detik. tidak lama, karena seokjin kini berubah menjadi orang yang kasar da tidak memikirkan orang lain lagi setelah kejadian itu. hatinya telah mati, menyisakan dirinya yang sekarang, dirinya yang kaku, dingin, kasar dan egois.
•••
Eun ae menyerah. dengan segala upayanya, Eun ae harus kembali ke rumah mewah bak neraka yang kini mengurungnya.
Tidak ada orang baik disana, mama tiri, kakak tiri laki laki , puluhan pelayan dan satu satunya orang yang baik padanya, adik tiri Eun ae yang berusia sekitar 5 tahunan.
Kisah Eun ae benar benar seperti di sebuah drama Cinderella versi kejam. Seluruh Sisa hidupnya hanya akan berakhir di neraka ini. Mereka semua hanya terus menyiksa Eun ae dan membuatnya sebagai penderita gangguan mental yang seolah mereka sayang.
Eun ae tahu mereka tidak akan membunuhnya sebelum appanya meninggal. Appanya telah koma karena kecelakaan mobil di awal tahun. Mereka hanya akan menunggu appa Eun ae meninggal dan merebut harta warisan dari Eun ae lalu segera membunuhnya.
•••
Meja kerja di ruangan luas ini terbilang berantakan. Bulatan kertas sisa remasan tangan berhamburan di lantai, bungkus coklat dan kaleng minuman berserakan di sela tumpukan berkas. Seokjin menengadahkan kepalanya bersandar santai di kursi kerja dengan mata tertutup dan kaki di naikkan di atas meja. Seokjin mencoba menuntun dirinya untuk terlelap, dan seperti biasa memang sangat sulit baginya untuk sekedar memejamkan mata.
"Arrrghh..." Seokjin mengacak kasar rambutnya, menurunkan kakinya dari meja dan meraih berkas Eun ae untuk dia baca kembali. Pikiran Seokjin kini di sesakkan oleh mata coklat Eun ae yang penuh air. Seokjin ingin sekali mengabaikannya, namun hatinya tidak bisa. Ini bukan Seokjin yang biasa, Seokjin kali ini merasa terbebani oleh tangan dingin yang layu dan wajah berantakan gadis yang baru saja ia temui siang tadi.
Seokjin menemukan sesuatu yang mengganjal dari kasus Eun ae, luka lebam dan goresan di badan yang diperlihatkan padanya siang tadi, itu bukan akibat dari sebuah kecelakaan. Wajah Eun ae tidak terluka sedikitpun, jika memang kecelakaan dan membuatnya terluka di sekujur tubuhnya, harusnya wajah Eun ae setidaknya lebam karena benturan atau tergores. Mereka menganggap Eun ae menderita gangguan mental, namun cara berbicaranya bukan seperti seorang yang sedang cacat mental. Dan keterangan saksi belasan pelayan dan penjaga rumah, semuanya memiliki kesamaan dan terkesan menghafal. Seokjin berfikir telah Ada seseorang yang menuntun mereka untuk memberikan keterangan palsu.
"Sial." Seokjin bergegas meraih kunci mobil, berlari ke parkir baseman dan menancap mobil sport merah maroon meninggalkan halaman luas rumahnya dan membelah jalanan kota tengah malam. "Bocah sialan itu, berani beraninya dia mempermainkanku."
•••
Seokjin bertamu seperti biasa tanpa membicarakan Eun ae, namun Seokjin pamit ke toilet di tengah perbincangan. Sebenarnya ini bukan gaya Seokjin untuk bertamu dengan basa basi ke kliennya, namun hanya ini satu satunya cara supaya Seokjin bisa memuaskan rasa ingin tahunya. Seokjin ingin menangkap bocah sialan yang telah berani mempermainkannya.
Niat Seokjin memang bukan untuk benar benar ke toilet, Seokjin ingin berkeliling dan mencari tahu sesuatu. Dimana mana ada pelayan dan penjaga, ini rumah tinggal apa istana negara? Kenapa ketat sekali? Pikir seokjin sengaja tidak bertanya dimana letak toilet tamu.
Di tengah langkah kakinya, seorang bocah kecil kini menarik kemeja Seokjin dan membisikkan sesuatu padanya hingga membuat Seokjin berjongkok supaya bocah itu bisa mendekati telinganya. "Hussst... tuan jangan mendekati kamar nuna, nuna selalu menangis disana," ucap sang bocah dengan menunjuk satu pintu kayu hitam dan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Ooo, begitu? Maka aku akan kesana untuk membawanya pergi," timpal Seokjin mengulas senyum culas tidak sabar untuk membongkar semua kebohongan yang membodohinya.
Semakin dekat, Seokjin semakin jelas mendengar tangis seseorang, ini bukan suara tangis biasa, tapi suara rintihan kesakitan karena siksaan. Seokjin tanpa berfikir apapun segera membuka pintu kamar Eun ae dan mendapati Eun ae sedang di tendang, di jambak dan kepalanya di celupkan ke dalam bathup yng penuh air oleh wanita yang kini menyandang status mama tiri Eun ae.
"Apa yang kalian lakukan?" Teriak seokjin dari pintu kamar mandi luas dan mewah di kamar Eun ae.
Bughh...
Pukulan di kepala bagian belakang Seokjin membuat matanya gelap dan tidak sadarkan diri.
•••
"Ah...." Seokjin membuka matanya dengan rasa yang sangat nyeri di kepala bagian belakang. Seokjin tertidur di lantai kamar Eun ae. Seokjin memutar pandangannya. Kamar ini luas dan bersih, tidak ada tanda tanda kekerasan di kamar ini. Tapi... sesaat pandangannya terhenti dan menangkap sosok Eun ae tengah duduk di lantai bersandar ranjang menatap ke arah Seokjin.
Seokjin sangat lusuh, kemeja putihnya kusut dan berantakan. Seojin mencoba duduk dengan berulang kali memijat kepalanya dan merenggangkan badannya yang kaku.
"Ini benar benar neraka." Sambut Eun ae melirik Seokjin tanpa rasa khawatir.
Seokjin berdiri dan berjalan mendekati pintu untuk mencoba membukanya. "Sial." Pintu kayu itu terlunci dari luar. Kaki Seokjin menendang pintu berulang kali berusaha membuka pintu dengan kasar, namun semua usahanya sia sia. Pintu kamar Eun ae terlalu kuat untuk di robohkan.
"Bagaimana kamu bisa mempercayaiku?" Eun ae masih pada posisinya. Badan memar dan beberapa lukanya sangat kentara, bahkan Eun ae membiarkan lelehan darah dilengannya tanpa mengusap atau membalutnya.
Seokjin menghela nafas kasar. Seokjin berjalan mendekati Eun ae dan memberinya selimut karena sebagian badan Eun ae basah terkena air. "Aku hanya datang untuk menemui klienku." Seokjin beralasan.
Sesaat keduanya saling terdiam. "Terima kasih karena setidaknya telah memikirkanku. Aku sudah terbiasa dengan semua luka ini, tapi aku tidak bisa lebih lama merasakannya." Eun ae memberanikan diri menangkap mata tajam Seokjin yang kini terduduk di lantai tepat di sebelahnya. "Kupikir aku akan mati di neraka ini." Sebulir air bening bergulir cepat di wajah Eun ae.
"Aku akan membawamu pergi dari sini. Kita hanya perlu duduk dan menunggu."
"Mereka tidak mudah untuk dilawan."
Seokjin terkekeh. "tapi akan sangat mudah jika aku yang melawannya, mereka masih sangat bodoh karena telah meremehkanku."
"Aku bersyukur masih bisa melihatmu menyombong di keadaan seperti ini."
Brakkk...
Pintu terbuka kasar, Seokjin dan Eun ae tetap pada posisi mereka, menoleh sekilas dan membiarkan lelaki kasar dan wanita usia 50an mendekati mereka.
"Kupikir kau orang yang cerdas, Nyatanya kau hanya tikus bodoh yang kini masuk dalam perangkapku." Perkataan kakak tiri Eun ae membuat Seokjin mual. "Terima kasih karena telah membebaskanku dari tempat kotor itu."
Seokjin perlahan berdiri meski kepalanya pusing dan terasa nyeri. "Tunggu saja siapa yang lebih bodoh disini, kupikir tempat ini tidak lebih bersih dari penjara bawah tanah yang akan kau tempati besok." Seokjin tetap keras meskipun dia dalam keadaan tersandra.
Seokjin sadar kejahatan mereka telah sangat matang terencanakan. Maka Seokjin lebih mempersiapkan dirinya secara matang sebelum datang ke neraka ini.
Brukk ...
Kakak tiri Eun ae melancarkan tendangan pada Seokjin hingga Dia terpental dan menabrak meja kayu rias di belakangnya. Beberapa parfum berhamburan pecah membentur lantai.
"Hentikan ...!" teriak Eun ae histeris.
"Kenapa? Kau menginginkannya juga?" Mama tirinya menjambak rambut Eun ae dan menariknya. Eun ae berusaha meronta namun gagal, dayanya sudah sangat lemah untuk melawan kekuatan dari wanita tua yang kini menguasainya.
Seokjin geram mendapati Eun ae kesakitan. Seokjin berdiri dan melayangkan tinju berulang kali pada lelaki sialan yang kini menghalanginya untuk menolong Eun ae. "Aku sangat menyesal telah membenaskanmu. Dan ini adalah balasan terakhir sebelum kamu mendekam seumur hidup di penjara."
Bugghh...
Kakak tiri Eun ae tersungkur. Berulang kali Seokjin melayangkan pukulan namun tidak lama, seorang berbadan kekar tengah menendangnya hingga berguling di lantai.
"Jangan bergurau. Nikmati saja semua pukulanku." Dua orang berbadan kekar bersamaan menarik badan Seokjin dan dengan leluasa kakak tiri Eun ae melempat tendangan, tinju dan berbagai jenis pukulan lainnya ke badan Seokjin hingga membuatnya terluka parah.
"Hentikan...! Jangan mengganggunya... pukul saja aku jika akan membuat kalian puas...."
Suara teriakan Eun ae makin lama makin pelan, jeritannya juga perlahan tak terdengar. Seokjin tidak bisa melawan, Seokjin hanya bisa menahan rasa sakit dan menunggu bantuan yang sudah ia rencanakan. Seokjin semakin khawatir pada Eun ae yang kini diseret keluar oleh mama tirinya. Seokjin semakin tidak berdaya dan semua baginya hanya gelap yang tersisa. Seokjin terkulai lemas di lantai dengan lebam dan darah di sebagian tubuh.
•••
"Ahhh ... kepalaku." Erang Seokjin mulai tersadar. Rasanya kepala Seokjin seperti terikat kuat oleh kawat baja. Selang infus di tangan dan bau obat obatan. Seokjin merasa lega karena kini ia telah berada di rumah sakit. "Sialan ... badanku sakit semua." Umpatnya meski baru terbangun.
"Kau sudah bangun?"
"Aishh ... kau mengagetkanku." Seokjin memegangi dadanya karena terkejut. "Apa yang kau lakukan disana?"
Eun ae berdiri menangkap sinar matahari pagi di jendela kaca kamar rawat Seokjin. Rasanya sangat nyaman. Eun ae sangat bahagia bisa bertemu dengan mentari pagi yang telah lama menghilang dari hidupnya. "Kamu cukup lama pingsan."
"Tidak, aku hanya kurang tidur." Seokjin mengelak lalu mencoba bangun tapi usahanya terhambat oleh rasa sakit di pinggang dan bahunya. "Apa yang mereka lakukan padaku? Kenapa ini sakit sekali."
Eun ae membantu Seokjin untuk sedikit bersandar. Eun ae menarik kursi dan duduk di samping Seokjin. "Apa sakit?" Raut wajah Eun ae menunjukkan kekhawatiran.
"Tidak sesakit yang kamu rasakan," jawab Seokjin singkat. Matanya mengamati wajah Eun ae dan tanpa sepengetahuan pemiliknya. Eun ae sibuk membenarkan selimut yang kini rapi menutupi badan Seokjin.
"Pada akhirnya Kamu benar benar membawaku keluar dari neraka itu dan kamu telah menepati janjimu untuk membebaskanku. Aku bersyukur bisa bertemu dengan appaku di rumah sakit ini. Aku pikir semalam kita akan benar benar mati. Malam itu aku sangat bergantung padamu. Kamu satu satunya orang yang melihatku disiksa oleh mereka. Mereka memng tidak layak untuk hidup dengan bebas, mereka layak menangis di balik jeruji besi selamanya. Aku cukup terkejut dengan penggrebekan yang teman temanmu lakukan semalam. terima kasih karena telah menyelamatkanku."
Seokjin terkekeh. "Ya, kamu berhutang budi padaku."
"Seokjin-ssi ... Normalnya orang akan menjawab 'ya sama sama' atau 'ya jangan khawatir'. Bagaimana bisa Kamu membebaniku dengan kata katamu itu?" Pukul Eun ae tepat di perut Seokjin hingga Seokjin kesakitan dan menangkap kepalan tangan Eun ae.
"Bagaimana keadaanmu? Kau tak apa?" Seokjin bertanya dengan nada yang lembut dan menggenggam tangan dingin yang sebelumnya telah mengusik hatinya. "Mianhae ... harusnya aku cepat menangkap lelaki sialan itu."
"Kenapa ... knapa kamu berubah jadi formal begini? Kepalamu tidak pendarahan kan?"
"Eun ae-ssi ... Jawab pertanyaanku dengan benar!"
Eun ae tersenyum dan berulang kali menghela nafas lega. "Aku sangat baik baik saja. Semua luka ini tidak berarti bagiku, semua rasa sakit ini perlahan menghilang ketika aku berada disini. Seokjin-ssi, Terima kasih karena telah membawakan surga kecil untukku. Aku sangat bahagia melebihi apapun. Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan lelaki kasar dan arogan sepertimu. Kamu telah menyelamatkanku, meskipun aku harus memohon terlebih dulu."
"Ya, kamu telah bertemu dengan orang yang tepat. Bukankah aku keren?"
Eun ae mengangguk mengiyakan kesombongan Seokjin. "Sangat keren, orang kasar sepertimu cukup sesuai dengan kualitas dirimu yang cerdas dan sombong."
Seokjin mengeratkan genggaman tangannya meremas telapak Eun ae. "Eun ae-ssi, jangan jatuh cinta padaku."
"Eumm ...." Eun ae menyipitkan matanya menatap Seokjin. "Maaf Seokjin-ssi, semuanya terlambat. Harusnya kamu memperingatkanku lebih awal."
End