pagi ini tidak bersahabat, langit yang biasanya terlihat indah dengan secercah cahaya matahari kini berubah menjadi kelam dan gelap, seakan enggan memberikan sinarnya kepada bumi, hanya tampak mendung dan gerimis menyatu, entah mengapa seolah olah membuat hati ini semakin redup dan alam seakan ikut turut merasakan kepedihan ku.
dua Minggu yang lalu, saat aku ingin memasuki kelasku, aku menatap punggung seorang lelaki misterius yang berada di sudut kelas, dengan menggunakan Hoodie hitam miliknya ia merasa tampak seperti kedinginan, apalagi saat diperhatikan dengan jelas, raut wajahnya tampak seperti menahan kesakitan, pucat dan berkeringat.
aku pikir ia semulanya baik baik saja, dan aku hanya mengangguk lantas mengusir pikiran buruk yang melintas di kepala ku, sampai beberapa menit kemudian, suara berat yang terdengar bergetar memecahkan keheningan yang sempat tercipta, dia, lelaki yang berada di sudut kelas itu memegangi kepalanya, ia menjerit seolah menahan sakit yang luar biasa, hingga mengakibatkan dada ku naik turun tidak karuan, aku mencoba menenangkan rasa sakit yang ia rasakan, bingung, hingga beberapa detik kemudian ia menutup matanya pelan
pingsan.
mata ku tertuju pada nametag yang berada di atas kantung bajunya, "Alaska".
Alaska Pradana, pria yang waktu itu pernah mengutarakan cintanya kepada ku, dan aku menolaknya, dengan alasan aku tidak mengenal pria itu, mungkin dulunya dia mengutarakan cintanya kepada ku lewat aplikasi mesengger, namun sekarang aku bisa melihat jelas siapa Alaska ini.
selang beberapa menit ia membuka matanya dan mendapati dia sudah di atas brankar rumah sakit, matanya menyapu sekeliling, menatap ku sekilas yang tengah duduk di atas sofa ruangan miliknya.
"Alia..." lirihnya memanggilku.
"hm? kenapa?" aku mengalihkan pandanganku, menatap Alaska yang tampak lemah terbaring di atas brankar rumah sakit.
"m-makasih..."ucapnya lembut sembari menyentuh lenganku pelan.
Alaska tersenyum pucat, entah mengapa aku merasakan kepedihan saat melihatnya di hadapan ku, mata ku tiba tiba panas, seakan dunia memaksa ku menangis sekarang, apalagi setelah dokter berkata bahwa Alaska mengidap kanker otak stadium akhir
semakin membuatku terjebak dalam keadaan khawatir.
"Lo udah mendingan?" aku memecahkan keheningan, berusaha memancing pembicaraan agar suasana tidak terlalu canggung.
"belum"
"kenapa belum?" tanyaku kembali padanya sembari menaikkan alis.
"gue bakal mendingan kalo Lo terima cinta gue Lia.."
jantungku berdetak kencang, nafasku memburu, seakan akan ucapan barusan berhasil meracuni tubuh ku, Alaska, mengapa ia begitu bodoh mencintai wanita seperti ku? itu adalah salah satu alasan yang bergejolak dalam otakku, aku berusaha menahan rasa gugup mati mati an, lalu tersenyum kecil kepadanya
"emang ada hubungannya Lo sembuh sama gue terima perasaan Lo?" tanyaku membuatnya terkekeh kecil sembari menepuk pundak ku
"gue bakal seneng, dan kalo gue seneng pasti gue sembuh."
ya, kata kata itu, lagi lagi berhasil menghipnotis diriku, aku tersenyum, entah perasaan apa yang baru saja menghujam di jantungku, aku menahan tawa, wajah ku memerah, perlahan sederet gigi putih muncul dari bibir ku
"eheh, jadi cerita nya nembak gue ulang ni?" tanyaku menggoda
"iya, mau?" Alaska mengulum senyumnya
"oke"
mulai dari hari itu, aku dan Alaska memutuskan untuk bersama sama, hingga beberapa Minggu berlalu, Minggu yang paling aku benci, Minggu yang harus merenggut nyawa orang yang aku cintai.
Alaska Pradana
flashback on
"kita ketaman ini mau ngapain ka? harusnya Lo itu istirahat!" ujar ku mencubit lengan nya pelan
"ga papa si, gue cuma mau nyampein sesuatu ke Lo"ucapnya pelan
hati ku terasa seperti terbakar, entah mengapa ucapan terakhir yang Alaska ucapkan ini begitu tajam, meskipun ia hanya berkata biasa saja, namun firasat ku sedikit tidak enak.
"ehm.. mau ngomong apa?" tanyaku menatap nya sendu
"ehmm tapi Lo janji jangan nangis ya?" ucap Alaska pelan sembari tersenyum kecil.
"kenapa?" tanya ku kembali mencoba menahan air mata
"soal penyakit gue Lo kan udah tau.."
"gue kemarin check out ke dokter Nizam, dan pas gue tanya ke dia berapa sisa hidup gue... dan dia jawab ga bakalan lama lagi"
terasa seperti disambar petir, dada ku terasa begitu sakit, mata ku tiba tiba menangis dan kerongkongan ku berubah kesat, tangisan itu luruh begitu saja bersama semua kenangan yang baru aku dan Alaska ciptakan beberapa hari, perlahan tangannya terulur menghapus air mataku, tampak seulas senyum kecil mengembang di wajah nya
"maaf ya.. seharusnya gue ga Dateng ke hidup Lo kalo akhirnya begini..."
"Lia.. gue cuma-"
"argh!!!!"
"Alaska!!!"
tangisan ku yang tadinya berhenti sejenak kini lirih kembali, bersama rasa sakit yang Alaska tahan pada kepalanya, aku berteriak parau memohon pertolongan, hingga beberapa orang datang membantuku membawa tubuh Alaska yang lemah dan sudah tidak sadarkan diri itu kerumah sakit
beberapa menit berlalu bersamaan dengan air mata yang terjatuh, aku tak henti hentinya memanjatkan doa untuk kesembuhan Alaska, mata ku berubah sembab, begitu juga dengan perasaan ku yang tak kunjung membaik.
krekk
suara pintu terbuka, 3 orang perawat dan 1 orang dokter keluar dari kamar tempat Alaska di bawa, dokter itu menatap ku Lamat Lamat.
"gimana keadaan Alaska dok?" tanya ku dengan suara yang bergetar
dokter itu menarik nafasnya, hening.
"dok? Alaska sehat kan? dia baik baik aja kan?" tanya ku semakin khawatir dengan sorot mata sendu yang mengeluarkan air mata.
"Alaska.. dia sudah pulang"
"apa maksud dokter? nggak! nggak mungkin!! nggak!!! Alaska!!"
hancur, semua kenangan itu hancur, Alaska pergi, pergi bersama semua kenangan yang ia ciptakan beberapa hari terakhir, tangisan ku semakin menjadi kala menatap jasad Alaska yang di tutupi kain putih, aku menarik kain itu pelan, lalu menatap wajah Alaska yang sudah tampak begitu tenang dengan seulas senyum yang tulus di wajahnya.
"Alaska...."
"maafin gue..."
"Alaska..."
"mungkin Lo ga akan kembali lagi di samping gue... tapi gue bakal selalu buat Lo jadi nomor 1 di hidup gue..."
"Alaska Pradana..."
"makasih untuk segala kenangan yang selama ini Lo ciptain, meskipun cuma hitungan hari dan Minggu, tapi gue bahagia bisa jadi bagian dari kisah lo meskipun sebentar..."
***