Tasya bergelung dalam selimutnya, di luar hujan dan Tasya selalu bergidik ketika melihat siluet menyeramkan dari jendela. Dia memang sedikit istimewa.
Sebenarnya Tasya tidak tinggal sendiri di Apartemen itu, dia tinggal bersama Mantan Seniornya yang sudah di anggap kakak sendiri.
Hanya saja sedang pergi ke Bandung.
“Tolong aku.....”
Tasya terlonjak kaget, mendengar bisikan lirih itu. Dia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin.
Brakk
Swooosshhh
Gadis itu terlonjak saat jendela terbuka dengan sendirinya, tirainya melambaikan dan air hujan terciprat masuk ke dalam.
Jdaaarrrr
Petir yang menggelar membuatnya semakin takut. Biasanya disaat seperti ini dia akan ke kamar kakaknya untuk mencuri pelukan.
“Kak Vian .... Cepatlah pulang” Gumam Tasya di sela ketakutannya saat mengingat kalau sang kakak sedang dalam perjalanan pulang saat ini.
“Tasya.....”
Suara lirih itu kembali, dia takut namun mencoba berani dengan menyalakan lampu dan berjalan menuju jendela. Dia melihat keluar dan jalanan Ibukota terlihat sangat sepi.
Trilililitt....!
Braakkhh!!!
Tasya menutup jendela dengan keras saat suara dering Telepon mengejutkannya.
Trilililitt....!
Tasya menghela nafas, berjalan untuk mengangkatnya.
“Halo!” Sapa Tasya saat telepon terhubung.
“....” Hening Srekk
Terdengar suara srekk yang sungguh mengganggu. Hal ini membuat Tasya menutup telepon.
Tokk
Tokk
Terdengar samar suara ketukan pintu tepat setelah Tasya menutup sambungan telepon.
“Mungkin itu Kak Vian....” Gumam Tasya.
Sebenarnya hanya untuk meyakinkan diri sendiri. Dia berjalan keluar dari kamarnya, melewati lorong dari kamar sang kakak menuju ruang depan.
Apartemennya memang besar. Namun saat sampai di Ruang Depan, Tasya terdiam secara spontan.
“Tapi Kak Vian tidak mungkin mengetuk Pintu, dia kan sudah tahu sandinya. Untuk apa mengetuk pintu? “ Ucap Tasya, dia kembali ketakutan.
Tokk
Tokk
Tasya berbalik ke arah meja, lalu meraih PTSN yang terdapat di atas meja. Kemudian dia mulai memutar nomor seseorang.
Tokk
Drrrttt
Terdengar dering tunggu di telepon itu, cukup lama hingga akhirnya seseorang di seberang mengangkatnya.
“Ada apa Tasya?” Tanya seseorang di seberang sana, suaranya menunjukkan kalau dia baru saja bangun tidur.
“Kak Aran... Ada seseorang di apartemenku! Cepat kesini Kak!” Ucap Tasya cepat dengan nafas memburu.
“Astaga! Mungkin itu hanya halusinasimu saja!!”
“A-aku serius Kak!! Seseorang itu terus mengetuk pintu apartemenku. Kak Vian tidak mungkin mengetuk pintu jika datang, dia mengetahui sandi apartemennya!!” Ketukan itu kini tidak terdengar lagi.
“Kau serius? Baiklah, kakak akan segera ke sana. Dengar, pergi ke kamarmu dan kunci pintunya, jangan buka kepada siapa pun kecuali ada aku atau Viandra. Kakak segera ke sana.” Akhirnya Aran memilih percaya, kemudian sambungan telepon terputus dan Tasya segera berlari menuju kamarnya. Naik ke kasur dan menelepon seseorang dengan ponselnya.
Tentu saja menelepon kakaknya. Tapi ternyata nomor kakaknya tidak aktif, dia mencoba beberapa kali lagi, dan hasilnya tetap sama.
“Kenapa nomor Kak Vian tidak aktif? “ Gumam Tasya, seingatnya Viandra tidak pernah mematikan ponsel.
“Tolong aku.... Tasya....!”
Suara bisikan itu kembali dan terasa sangat jelas, Tasya merasa familier dengan suaranya.
“Apa itu Kak Vian?” Gumam Tasya pelan mencoba berpikiran positif. Dia melupakan peringatan Aran untuk tetap di kamar, dia pergi menuju kamar sebelah dan berharap kalau apa yang di alaminya adalah kejutan dari sang kakak.
Cklek
Namun saat membuka pintu kamar sang kakak, Nihil.
Jdaaarrrr....!!!
Tasya terlonjak kaget dengan suara petir yang tiba-tiba menggelegar itu. Setelah beberapa detik mengatur nafas, Tasya mengambil ponselnya di saku dan mencoba menghubungi nomor sang kakak yang masih tidak aktif. Tasya khawatir.
“Tasya.... Dingin.... Tolong....”
Tasya kembali terlonjak karena terkejut. Tapi suara itu terdengar lebih jelas kali ini.
“Kak Vian!! Kau sedang mengerjaiku bukan? Hentikan ini Kak!! Ayolah ini tidak lucu!!!”
Dia menunggu beberapa detik namun tidak ada balasan. Tasya mulai kembali takut dan panik. Dia menutup pintu dan berlari menuju ruang depan, berharap Aran sudah berada di sana.
Lebih berharap sang kakak yang datang.
Tokk
Tokk
Terdengar suara ketukan pintu pelan, Tasya yang mendengarnya pun semakin takut. Karena ketukan pintu itu bukan dari Pintu Apartemen. Tasya menelan ludahnya kasar, dia sangat takut. Dia ingin menunggu Aran saja, namun benar-benar penasaran.
Akhirnya dia memilih untuk menekan rasa takutnya dan beranjak menuju kamar kakaknya, asal suara ketukan itu. Di sana dia mengernyit bingung saat melihat pintu itu terbuka, padahal dia ingat kalau tadi sudah menutupnya dengan rapat.
Tasya mendekat kemudian mendorong pelan pintu itu hingga terbuka lebar. Dia terperanjat melihat sesuatu. Sosok Vian atau lebih tepatnya Deviandra yang sedang berdiri membelakanginya.
“KAK VIAN!!! SUDAH KUDUGA ITU ADALAH KAU! KAU SUDAH KEMBALI?!” Tasya berteriak. Namun yang diteriaki diam bergeming.
“Kak? Kenapa pakaianmu basah? Kau kehujanan? Tapi bukankah tempat parkir apartemen kita ada di rubanah, jadi kau tidak mungkin kehujanan saat keluar dari mobil!!” Tasya memberondong Viandra dengan pertanyaan ketika melihat baju sang kakak meneteskan air.
Namun yang di tanya tidak menjawab. Karena kesal tak diacuhkan, Tasya memegang bahu Vian. Kemudian menariknya hingga tubuh itu berbalik.
“AAAAAKKKHHHHH!!!!!!!” Tasya berteriak keras saat Vian berbalik.
Dia melihat wajah dan tubuh bagian depan Vian yang di penuhi darah, terlihat robekan di dadanya dan sebuah pecahan kaca yang menggores mata hingga mulutnya.
“Tasya.... Sakit... Tolong.... Caca........”
“TIDAAAAKKK!!!!!” Kemudian Tasya berlari menuju ruang depan.
Namun tubuhnya menabrak tubuh seseorang hingga keduanya terjatuh bersamaan dan terduduk.
“Tasya? Tasya Wirandayu? Kau kenapa?” Tanya seseorang yang di tabrak Tasya saat melihat gadis itu bergetar ketakutan dengan mata yang terpejam erat.
Mendengar suara yang familier itu Tasya mulai membuka matanya. Kemudian Tasya memeluk sosok itu dengan sangat erat.
“Hiks.... Kak Aran.... Kak Vian dia-“ Tasya berbicara dengan tersendat-sendat karena masih terbayang sosok yang tadi.
“Apa Viandra belum sampai?” Tanya Aran heran.
“Belum Kak....” Lirih Tasya semakin mengeratkan pelukannya.
“Tapi aku melihat mobilnya terparkir di rubanah!” Ucap Aran penuh keyakinan membuat Tasya mendongak.
“Sungguh Kak! Kak Vian belum sampai. Bahkan saat di kamarnya, aku melihat makhluk menyeramkan menyerupai Kak Vian!” Ujar Tasya cepat saat mendengar perkataan Aran.
Membuat Aran mengernyit takut, dia juga takut hantu ngomong-ngomong.
“Mungkin sebaiknya kita lihat dulu, bisa saja itu memang Vian yang sedang mengerjai kita kan?” Aran membantu Tasya untuk bangkit berdiri.
“Tapi aku takut Kak!!” Ucap Tasya enggan melepas pelukannya pada Aran.
“Tidak apa-apa, ada aku di sini.” Ucap Aran seraya mengusap lembut surai halus Tasya. Tasya terdiam sejenak, terharu dengan perbuatan Aran.
“Ayo kita lihat” Kemudian keduanya kembali menuju kamar Vian.
Namun anehnya kamar itu terlihat sepi dan rapi, seolah tidak terjadi apa pun sebelumnya. Bahkan genangan kecil yang tadi tercipta karena tetesan air dari baju Vian pun hilang tak tersisa.
“Kak... Mungkin mobil yang kau lihat bukanlah mobil Kak Vian,” Aran menggeleng mendengarnya.
“Itu mobil Vian, aku sangat hafal dengan tanda tangan kecil di kaca bagian penumpang depannya!! Hanya Vian yang memiliki mobil seperti itu!!” Ucap Aran penuh keyakinan. Mendengar ucapan Aran, Tasya mulai meragu. Dia pun tahu dengan jelas kalau mobil sang kakak itu memang memiliki tanda khusus.
“Bagaimana kalau kita lihat di rubanah?” Tanya Aran membuat Tasya melotot.
“Kau gila Kak? Di sana pasti sepi sekali, ini sudah benar-benar larut!!” Tasya menolak.
“Tidak sepi Tasya! Saat aku ke sini, banyak orang yang berlalu lalang di sana”
“Kita juga dapat melihat, apakah Vian memang sudah datang, atau belum” Ucap Aran yang akhirnya membuat Tasya menganggukkan kepalanya.
Mereka pun keluar dan turun dengan lift, sempat heran dengan suasana yang jauh dari pernyataan Aran tadi. Hingga tidak membutuhkan waktu lama mereka sampai di rubanah yang sepi. Aran segera menarik tangan Tasya dan membawanya menuju mobil yang di maksud.
Mata Tasya terbelalak, itu memang mobil Vian. Dia juga sangat hafal dengan mobil yang selalu dia tumpangi itu. Aran dan Tasya saling bertatapan ketika merasa kehadiran seseorang. Namun saat mengedarkan pandangan, tidak ada seorangpun.
Mereka kembali menatap mobil milik Vian, dan terlonjak kaget secara bersamaan saat melihat mobil itu, hancur tidak berbentuk membuat Tasya dan Aran takut. Mereka bahkan sempat melihat siluet seseorang di kursi kemudi yang hancur itu, meski sesaat kemudian siluet itu hilang.
“Sebaiknya kita kembali ke apartemenmu” Ucap Aran yang di angguki oleh Tasya.
Mereka segera berlari menaiki lift menuju lantai 13. Di sana mereka kembali berlari hingga sampai dan Tasya dengan cepat memasukkan sandi apartemennya. Lalu keduanya terduduk di atas sofa.
Trilililitt....!!!
Dering Ponsel mengejutkan keduanya, tapi bernafas lega saat tahu itu berasal dari ponsel.
“Siapa yang meneleponmu di tengah malam seperti ini Kak?”
“Kak Dafa....” Ucap Aran kemudian mengangkat teleponnya.
“Halo Kak, ada apa meneleponku?” Tanya Aran cepat begitu telepon tersambung.
“Aran.... Vian.... Dia-dia.... Hiks.... Mobilnya masuk ke jurang saat dalam perjalanan pulang tadi karena jalanan licin. Saat ini petugas sedang melakukan evakuasi.” Praanggg.....!!!
Ponsel dalam genggaman Aran meluncur begitu saja dari tangannya menuju lantai.
“Kak Aran.... Kak Aran... Kakak? Apa yang terjadi? Kak!!” Tasya mengguncang tubuh Aran yang terlihat Shock.
Hingga tiba-tiba Televisi di ruangan menyala sendiri dan menampilkan berita.
“Sebuah mobil ditemukan terperosok ke jurang dan tercebur ke dalam sungai. Di duga
mobil tersebut tergelincir dan menabrak pembatas jalan hingga terjun bebas ke sungai. Keadaan
mobil sudah hancur saat di temukan.
Ditemukan pengemudi mobil tersebut dalam keadaan mengenaskan. Korban tersebut terlambat di larikan ke Rumah Sakit dan meninggal di tempat.
Di duga Korban adalah seorang gadis berusia 24 tahun dan bernama Viandra. Berikut detik-detik evakuasinya!”
Ddrrzzzttttttr.....!!
Nnnggggggg.....!!!
Televisi itu menampilkan layar hitam tepat setelah Reporter selesai berbicara. Dan saat itulah Tasya mengerti apa yang terjadi. Secara alami dia berteriak dan mulai menangis histeris.
“KAK VIANDRA....!!!!!!!”