🎶Hoshi no nai yozora kirinuiteiyou
The paper cuts in my hand hikari ni
Terashi dasarete hakanaku kowaresou na
The paper cuts in my hand mieru kai
Yumemita sekai ga 🎶
Sama seperti arti lagu yang berdendang dari ponselku, begitu pulalah keadaan kertas yang beberapa waktu lalu masih terlipat rapi dan bersih. Kini kertas itu tak ubahnya seperti seonggok kertas usang saja, koyak dimana-mana dan terbelah menjadi beberapa keping. Sama seperti hatiku, yang semula utuh kini menjadi serpihan.
Masih teringat jelas dalam ingatanku. Beberapa waktu lalu, aku hendak menyerahkan secarik kertas yang telah ku persiapkan sepenuh hati itu untuknya. Ya, dia lelaki yang selama ini diam-diam aku kagumi. Lidahku tak pernah mampu untuk berucap secara langsung kepadanya tentang apa yang kurasakan selama ini, karenanya aku mencobanya untuk menuliskannya pada secarik kertas ini.
Bagiku, tak mendapat balasan yang sama seperti yang ku harapkan juga tak apa. Yang penting aku sudah mengungkapkan apa yang selama ini tersimpan di dalam hatiku. Aku ingin dia tahu, bahwa dia bukan hanya teman yang ku anggap biasa saja. Dia menempati relung hatiku sejak dua tahun lalu semenjak aku mulai mengenalnya.
Lagipula, ini mungkin menjadi hari terakhir dimana aku bertemu dengannya. Pasalnya setelah lulus nanti baik aku dan dia akan kembali ke kehidupan kita sebelumnya yakni ke tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orang tua kita. Jadi, ketika kita sudah berpisah nanti bukan hanya jarak yang akan memisahkan tetapi juga waktu karena itulah aku menulis keinginanku pada secarik kertas yang kini sangat terlihat rusuh itu.
Aku ingin walau kita sudah terpisah jauh dia tetap meluangkan waktu untuk berkomunikasi denganku. Mungkin, ia akan bingung awal membaca pesanku itu sebelum akhirnya di kalimat berikut-berikutnya aku mulai menjelaskan alasan dari permintaanku. Dimana aku menyimpan rasa untuknya. Tulisku, Tak apa meski ia tak membalas perasaanku asalkan ia tetap menjawab pesanku. Tak apa meski ia tak menemuiku asalkan ia selalu berbagi kabar padaku. Begitulah kira-kira beberapa kata yang ku pinta darinya.
Namun, semua sirnah ketika aku tahu bahwa ternyata ia memiliki wanita yang lainnya. Semua musnah ketika aku tahu bahwa bukan akulah satu-satunya yang ada di hatinya. Semua lenyap saat aku tahu bahwa dengan wanita itu ia akan merajut masa depan dan menua bersama.
Mungkin, selama ini hanya aku yang menganggap bahwa hubungan kami adalah spesial. Bahwa meski tanpa ikatan status pacaran seperti yang orang-orang bilang, kami tidak hanya memiliki hubungan sekedar teman saja. Namun, aku salah sangka, dan ia tak sepenuhnya salah.
Akulah yang terlalu percaya diri bahwa ia memiliki perasaan yang sama denganku. Akulah yang salah mengira bahwa perhatiaannya selama ini adalah wujud kasih sayangnya padaku. Akulah yang terlalu membumbung tinggikan asa, tanpa pernah berpikir bahwa ketika terlalu ketinggian akan terasa sangat sakit ketika terjatuh nanti. Dan sekaranglah ku rasakan kesakitan itu.
Rasanya sesak, membayangkan ia akan memadu kasih bersama wanita itu. Rasanya sedih ketika tahu bahwa dia tak akan bisa lagi menjadi milik aku. Ah, milik ya, patutkah aku mengatakan itu? Sementara sedikitpun aku tak pernah mendapatkan balasan dari perasaan itu. Lantas, bagaimana aku bisau berlikir untuk dapat memilikinya?
Hinga akhirnya, terkoyaklah kertas itu. Terbelah tak karuan sejalan dengan hatiku yang patah berkeping-keping. Ku urungkan niatku untuk menyerahkan kertas kecil itu untuknya. Dan ku biarkan perasaanku tersimpan tanpa dia tahu.
Aku mencoba tetap tersenyum mengantarkan kepergiannya dari depan halaman rumah kos ku. Masih teringat jelas dalam ingatanku ia mengenakan kaos hitam lengan panjang berpadu dengan celana jins dan sepatu kets. Ku berikan bingkisan kecil kepadanya sebuah hadiah lulusan yang juga bertepatan dengan hari kelahirannya. Namun, tidak dengan kertas yang semalaman suntuk ku siapkan itu.
Dia tersenyum samar, mengucap terima kasih dan kemudian berlalu pergi. Aku menatap punggungnya yang mulai menjauh dari pandanganku. Hingga tak terasa bening air mata menetes membasahi pipiku.
Ini malam terakhir aku bertemu dengannya dan mungkin tak akan pernah berjumpa lagi dengannya di kemudian hari bahkan sampai aku menutup mata nanti. Bukannya menyatakan isi hati, aku malah merasakan patah hati tepat saat mendengar ia memiliki wanita penjaga hati yang menantinya sepulangnya ia nanti.
Ku tatap nanar potongan kertas itu lagi. Ku hela napas berat nan menyesakkan dada dan ku hempuskan dengan kerasnya. Namun, tetap saja rasa sesak itu masih bersemayam di dalam sana.
Tangisku pun pecah, aku berbaring meringkuk seperti bayi. Beberapa kebersamaan dengannya mulai kini dan nanti akan beralih menjadi kenangan. Dan bahkan pertemanan kita pun hanya akan menjadi seonggok kenangan usang yang tak akan pernah ia kenang.
Oh Tuhan, ini kali pertama aku mulai jatuh cinta lagi. Namun, hatiku tercabik berkeping - keping layaknya potongan kertas lusuh itu.
Berkali-kali pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiranku. Dan memang nyatanya, ini bukanlah patah hatiku yang pertama. Berkali-kali aku melalui hal yang sama. Jatuh cinta, patah hati, jatuh cinta, patah hati. Entahlah, kadang aku berpikir bahwa apakah aku tak pantas untuk bahagia?
Dan kini, aku tak lagi percaya apa yang namanya cinta. Seringkali terluka, aku tak ingin merasakan lagi hal yang sama. Biarlah aku sendiri saja menata hati dan menunggu takdir Tuhan yang membawa bahagiaku kembali.
Teruntuk potongan kertas usang yang kini teronggok di tempat sampah, terima kasih karena pernah menampung aksara tentang patah hatiku yang laling menyiksa.
Pasuruan, 11 Januari 2023