Mungkin beberapa dari anda sekalian pernah mengalami hal-hal, seperti yang dialami oleh beberapa penumpang angkutan umum di bawah ini, termasuk saya. Mulai dari kecopetan sampai dibawa ke alam lain. Mungkin cerita ini ada yang mengganggu sisi psikologis Anda atau mungkin biasa-biasa saja namun, kejadian itu membuat siapa saja bakal trauma. Coba bagi kita yang suka berpergian... biasakan diri berdoa sebelum memulai perjalanan.
Bunyi Adzan Maghrib, sudah mulai terdengar. Aku dan Rafi, baru saja menginjakkan kaki di desa Gladag ini. Wajah Rafi tampak lesu, berulang kali aku mencoba untuk menenangkan sahabat karibku itu. Seseorang telah melubangi kantong jaket dan dompet kulitnya yang berisi uang senilai 2 juta lebih, KTP, ATM lenyap tanpa bekas. Kecopetan.
Satu yang ada di benaknya, wajah seorang pemuda bertato bulan sabit di leher kanan, berpakaian putih dengan selepang kain hitam dan berambut gondrong diekor kuda. Dia berkulit hitam gosong dan kucel. Sewaktu kami turun dari bus pemuda itu membentangkan kain hitamnya, berpura-pura menunjukkan jalan menuju rest area. Sekilas dia kelihatan ramah dan baik pantas menjadi gaet akan tetapi, aku sudah memperingatkan Rafi agar hati-hati dengan orang yang semacam itu karena biasanya mereka adalah preman terminal yang suka buat resah para penumpang bus jurusan Malang - Banyuwangi.
Rafi berusaha mengejarnya, namun pemuda itu gesit sekali sementara, Rafi yang berperawakan gemuk dan agak pendek dalam jarak beberapa meter saja sudah ngos-ngosan.
"Sudahlah, jangan kau kejar lagi, ini daerah mereka. Jangan cari perkara, uang bisa dicari tapi nyawa tak ada gantinya. Bukannya pengecut tapi, keselamatan kita lebih penting," kataku. Ia tampaknya sulit untuk menerima kejadian ini, tapi aku berusaha untuk menyadarkannya, maka, kamipun kembali ke area parkir bus dan menunggu, bus yang kami tumpangi berangkat menuju desa Gladag.
Tampaknya, Rafi masih belum puas dengan nasihatku sepanjang perjalanan, dia hanya diam dan cemberut. Terlebih setelah sampai di terminal dan hendak melanjutkan perjalanan pulang. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, terlebih saat ia berkata, "Aku takkan bisa melupakan wajah pencopet itu. Jika bertemu lagi dengannya, aku takkan membiarkannya lolos. Dia harus mengembalikan uang itu beberapa kali lipat kepadaku,"
"Sudahlah, bro... ikhlaskan saja uang itu. Nyawamu lebih penting,"
"Kau tahu apa ? Apa kau tidak tahu, betapa susahnya aku mendapatkan uang sejumlah itu. Kau belum menikah, jadi, di matamu yang itu tidak ada artinya. Sudah, jangan kau debat lagi... sekarang juga, aku akan kembali ke terminal itu dan mencarinya. Kalau kau tidak mau menemaniku, biar aku yang berangkat sendiri. Kau pulang saja," ujarnya.
Aku terkejut, sebuah keputusan yang konyol menurutku. Pada saat itulah, bus jurusan Banyuwangi - Jember sudah tiba bersamaan dengan bus jurusan Banyuwangi - Malang dan Rafi sudah berjalan menuju ke arahnya.
Buru-buru aku berlari menyusulnya, "Jangan konyol, bro... satu jam lagi kita sudah sampai di rumah, masakan kita harus kembali ke Arjosari Di rumah isteri dan anak-anakmu sudah menunggu. Jika sampai terjadi apa-apa padamu... apa yang harus kukatakan ?"
"Ya, aku tahu. Tapi, mereka kelaparan. Aku janji pada mereka untuk pulang tidak dengan tangan hampa. Pernahkah kau berpikir, betapa kecewanya mereka, saat aku pulang dengan tangan hampa ? Uang itu adalah hasil jerih payahku selama satu Minggu ini. Kini malah orang lain yang menikmatinya," bantah Rafi, "Sudahlah, kalau kau ingin pulang, pulanglah sendiri, biar aku yang ke Arjosari,"
"Baiklah, kutemani, kau kesana... apa kau ada biaya untuk berangkat kesana ?"
"Sekalipun, aku kehilangan dua juta tapi aku masih ada persediaan untuk bolak balik Malang - Banyuwangi, Banyuwangi - Malang. Kalau begitu ... Ayo, ke bus itu," kata Rafi sambil melangkah menuju bus jurusan Banyuwangi - Malang.
Aku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Rafi... tidak ada apa-apa disana. Hanya sebuah bayangan hitam berbentuk kotak yang sangat besar. Tapi, Rafi melangkah dengan penuh keyakinan, jarak antara dia berjalan dengan bayangan hitam itu tinggal beberapa meter lagi. Aku segera mencegahnya.
"Rafi, tunggu..."
Perkataanku ini membuatnya terkejut, buru-buru membalikkan badan dan menatap ke arahku, "Ada apa lagi, Ga ?"
"Entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar-benar demikian," kataku.
"Yoga, jangan berbelit-belit... kau mau bicara apa ?"
"Baiklah... mungkin kau akan tertawa atau bahkan menganggap ku sebagai orang gila saat mengatakan ini..." kataku.
"Hmm, tak biasanya kau bersikap seperti ini. Baiklah, kucoba untuk mendengarnya,"
"Apakah kau benar-benar melihat ada sebuah bus disana ?" tanyaku sambil menggerakkan kepalaku ke arah dimana Rafi hendak memasuki tempat parkir bus jurusan Banyuwangi dan Malang.
"Kau ini aneh... jelas-jelas ada sebuah bus diparkir disana, mengapa kau bertanya seperti itu ? Ah, sudahlah kau buang-buang waktu saja," tukas Rafi.
Aku enggan sekali berdebat dengan orang yang sudah gelap mata. Rafi tidak bisa berpikir jernih lagi, akupun mengikutinya dari belakang tapi, mendadak saja di hadapan kami ada sebuah bus yang sedang bersiap-siap untuk berangkat. Berisi lebih kurang 10 orang saja, ruangan dalam bus tersebut tampak redup. Itulah sebabnya aku tidak bisa melihat ada bus kota diparkir disana.
Rafi sengaja memilih duduk di dekat pintu keluar, tampaknya, tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Aku duduk di samping kanannya. Perasaanku saat itu tidak enak sekali, ada sesuatu yang membuatku gelisah dan hidungku samar-samar mencium aroma aneh di dalam bus tersebut.
Aroma amis dan busuk...
"Kau tak berasa aneh dengan bus ini, Fi?" tanyaku.
"Aneh bagaimana ? Jangan macam-macam, ah, setelah mencari si pencopet itu, kita balik lagi. Aku tak peduli berapa jam perjalanan yang penting uang itu harus segera kembali ke tanganku," sahut Rafi ketus.
Bus mulai berjalan. Bunyi pintu besi berkarat ditutup membuatku bergidik ngeri... perasaanku benar-benar tidak enak sekali. Entah, mengapa ?
Aku melihat ke sekeliling, hanya sepuluh orang penumpang, semuanya duduk diam, pandangannya seakan kosong. Mendadak, bahuku ditepuk seseorang dari belakang.
"Panjenengan, mau kemana ?" pertanyaan itu mengejutkanku, seorang pria tua berambut kelabu duduk di bangku belakang kami. Dia hanya mengenakan kaos dari bahan katun berwarna hijau.
"Ke Malang, pak..." jawabku.
"Sendirian ?" dia kembali bertanya.
"Tidak, pak... sama teman. Bapak sendiri mau kemana ?"
Pria berusia lebih kurang 38 tahun itu tersenyum, "Saya mau pulang. Tapi, rasanya sulit sekali,"
"Lo, kenapa, pak ?"
"Jikalau bapak pulang, mereka belum tentu menerima bapak kembali... mungkin juga tidak kenal lagi sama bapak," kata pria itu sementara sepasang matanya tampak sedih.
"Kok bisa gitu, pak ? Bagaimana mungkin keluarga bapak tidak mengenal anda ?"
"Ya. Karena... "
"Mau kemana, nak ?" Seorang kondektur sudah berdiri di samping kananku, "Malang. Dua orang, pak,"
Kondektur itu mengangguk, pakaiannya Kumal sekali, compang-camping dan menebarkan aroma bagai orang tidak pernah mandi. Warnanya kemejanya merah tua, setelah memberikan 2 tiket kepadaku dan aku membayarnya, dia kembali berjalan.
"Karcis... karcis... karcis..."
suara itu mengambang dan datar dia berjalan setengah menyeret kaki kirinya. Bunyi kaki diseret pada lantai bus, membuat bulu kudukku berdiri, entah mengapa... suaranya ganjil sekali... ah, mungkin cuma perasaanku saja. Aku ingin melanjutkan percakapan dengan bapak yang duduk tempat di belakang kami, tapi, dia tidak ada di tempatnya... entah kemana, sementara, Rafi sudah mendengkur.
Dan, aku seperti merasa kesepian terlebih melihat para penumpang lain cuma duduk bagaikan patung.
Aku mengantuk... ingin tidur barang sebentar saja, tapi, ada sesuatu yang membuatku terjaga. Entah apa itu. Aku tidak bisa tidur.
Perjalanan Banyuwangi - Malang memakan waktu cukup lama sekitar 3 jam. Tanpa teman yang bisa diajak bicara, pemandangan gelap gulita di kanan-kiri membuatku bosan. Kulirik jam tanganku, jam sudah menunjukkan pukul 19:30 WIB. Biasanya, jam-jam segini masih ada bus lain yang berseliweran di jalanan atau paling tidak, cahaya lampu kota bisa membuang kejenuhan, dengan demikian bisa tahu sudah sampai di daerah mana, tapi, malam ini tidak tampak apapun, jalanan kota seakan tertutup oleh kabut.
"Ssrreekk, Sssrrreeettthhh....
Ssrreekk, Sssrrreeettthhh...."
Suara itu berasal dari kondektur yang berjalan sambil menyeret kaki. Berseliweran, itu sudah tugasnya memeriksa penumpang, tapi, mengapa suaranya seakan berat dan aneh sekali.
"Pak... kita sudah sampai dimana ini ?" tanyaku.
Pertanyaan ku itu hanya dijawab dengan seretan kaki, seakan tidak mendengar ucapanku. Kembali aku bertanya, tapi, kini aroma busuk itu tercium lagi lebih kuat dibanding tadi sewaktu pertama kali berada di tempat ini. Kuat sekali.
Aku penasaran, mencari-cari darimanakah aroma itu berasal. Tidak ketemu. Tapi, tak mungkin hidung ini menipuku, baunya benar-benar kuat sekali. Bau itu sepertinya berada di depan tepatnya di bangku dekat sopir, tapi, disana hanya ada sopir saja yang tengah sibuk memegang kemudi sambil melihat jalanan. Tapi, pandangan sopir itu.... Kosong.
"Pak... dimana kita sebenarnya berada ?" tanyaku.
Lagi-lagi pertanyaanku tidak beroleh jawaban. Bus terus melaju kencang bagai tidak ada hambatan. Tidak lagi mencari penumpang ataupun menurunkan penumpang. Ini, aneh. Seakan hendak menembus gelapnya malam.
Yang lebih aneh, tak ada seorang penumpang pun terjaga, semuanya tertidur pulas. Mereka tampaknya tidak peduli dengan apa yang kubingungkan saat itu. Diam tak bersuara, diam bagaikan sebongkah patung.
Bau busuk itu, semakin menyengat sekali. Kepalaku pening, bersamaan dengan itu.... kedua kakiku seakan lemas sekali, mataku berkunang-kunang dan...
_____ Bersambung _____