"Rania Amara, dia adalah gadis yang sangat periang dan penyayang". Ia adalah anak kedua dari sepasang suam istri yang tidak harmonis, Rania dibesarkan oleh kakak laki-laki nya,"Radit Askara , seorang laki-laki berusia 20 tahun, dan jarak umur di antara mereka hanya 2 tahun.
Rania duduk di bangku SMK, ia memiliki teman yang sangat baik, walaupun itu hanya satu orang.
Rania adalah siswa yang cukup berprestasi di sekolahnya, dan itu membuat iri banyak orang, bagaimana tidak ia sangat pintar, cantik dan berbakat, dan semua guru pun menyukainya.
Namun kehidupan di sekolah dan dirumah jauh berbanding terbalik, ayah nya sering menyiksa nya dan ibunya terobsesi akan nilai anak anaknya , Rania Selalu dipaksa untuk menuruti kemauan orang tua nya, jika ia menolak ia akan dipukuli dengan ikat pinggang, itupun berlaku untuk kakak laki laki nya.
Rania adalah gadis yang sangat menyukai hujan dan melukis, bahkan ia sering kali mengikuti lomba melukis secara diam diam, dan jika kalian bertanya kenapa harus melakukan secara diam-diam, karena ibu nya tidak menyukainya , ibunya beranggapan bahwa melukis hanya buang buang waktu dan tidak ada hasilnya, ibunya ingin Rania masuk Perguruan tinggi dan menjadi dokter, dan hal ini sangat bertentangan dengan keinginan dan hobinya ,Rania bercita-cita menjadi seorang pelukis terkenal, ia pernah menolak hal itu dan hasil yang ia dapatkan hanya tampar keras dari ibu nya.
Ayah Rania hanya bisa menghambur hamburkan uang, dan penyebab hubungan yang tidak harmonis adalah karena perselingkuhan ayah nya dengan wanita ditempat kerja nya, ayah berkerja di sebuah perusahaan yang cukup besar, ia ketahuan selingkuh saat berjalan dengan wanita itu disebuah mall, dan ibu Rania melihat langsung hal itu dan setelah kejadian itu ayah dan ibunya sering kali bertengkar karena hal sepele dan yang menjadi korban dari pertengkaran mereka adalah Rania dan kakak laki-laki nya, mereka sering dipukuli dengan ikat pinggang atau tongkat, mereka hanya bisa menangis ketakutan, dan memohon agar berhenti memukuli mereka.
Dan kini pun mereka masih sering di pukuli terutama Rania, ia sering dipukuli hanya karna nilai nya tidak sempurna, menurut ibunya nilai sempurna atau bagus adalah 100 jika nilainya di bawah seratus atau dibawah 95 , ia akan dipukuli dan dikurung digudang. Rania tidak bisa bebas seperti anak seusia nya, ia tidak di izinkan keluar rumah kecuali ada urusan dengan sekolah atau hal penting yang bersangkutan dengan pendidikan nya.
Dan suatu hari ia merasakan ada yang tidak beres dengan tubuh setelah di pukuli, ia merasakan sakit di bagian kepala nya dan mimisan hal itu hanya tidak terjadi sekali , hal itu berulang kali terjadi, ia pernah meminta ibunya untuk membawanya ke dokter tapi ibunya menolak dan dia berkata bahwa sakit yang ia rasanya hanya sakit biasa, tapi Rania tidak puas dengan jawab ibunya, ia meras bawah sakit ini bukan sakit biasa, dan ia berteka setelah pulang sekolah ia akan pergi kerumah sakit secara diam diam.
Dan betul saja ia pergi ke rumah sakit setelah pulang sekolah, sesampainya ia di rumah sakit ia melakukan pemeriksaan dan ia mendapat jawaban dari sakitnya itu dan mungkin ini menjadi jawaban yang akan merubah hidup nya.
"Bagaimana hasilnya dok? "
tanya Rania sedikit cemas.
" maaf sebelumnya apakah ada wali yang menemani kamu? "
tanya dokter.
"tidak ada dok, jika ada sesuatu yang dokter ingin katakan, katakan langsung kepada saya. "
jawab Rania
"jadi begini sepertinya kamu terkena kanker otak, dan ini sudah stadium akhir"
jawab dokter
mendengar hal itu Rania sedikit terkejut dan sedih.
" dan mungkin waktu kamu tidak lama lagi, sekitar satu minggu untuk waktumu hidup "
lanjut dokter
Dan dokter menyarankan untuk dirawat di rumah sakit namun Rania menolak nya dan memilih pulang.
Dan setelah mendengar hal itu Rania merasa hidup hancur ia merasa kenapa Tuhan selalu membuat nya menderita, ia selalu berdoa agar hidup bahagia tapi ia malah mendapatkan hal yang berbeda dari yang ia harap kan, setelah berkonsultasi dengan dokter Rania pulang ke rumah ia pulang sedikit terlambat dari waktu yang ditentukan, dan sesampainya di rumah betul saja ia langsung mendapatkan tamparan dari ibu nya, Rania hanya terdiam sedangkan ibunya berteriak dan memukul Rania habis habisan, dan sang ayah hanya menatap datar sedangkan sang kakak hanya bisa diam sebab jika ia membantunya ia juga akan mendapat pukul dari ayah, di situ keadaan Rania sudah tidak karuan luka di mana mana, darah yang keluar dari kepala dan mulut nya, dan keadaan Rania sudah tidak sadarkan diri, setelah ibu nya puas memukuli nya dan pergi di situ Radit baru membantu dan menggendong nya kekamar.
Lima hari berlalu, dan keadaan Rania semakin memburuk kini ia tidak bisa beraktivitas seperti biasanya, dan dulunya hanya mimisan sekarang batuk darah pun ia rasakan, Tapi ia tetap memaksakan untuk sekolah karena akan di adakan lomba antara sekolah 2 hari lagi, dan Rania menjadi salah satu perwakilan sekolah nya ia akan mengikuti lomba dengan pasangan perwakilan dari kelas lagi, yang akan menjadi pasangan nya saat perlombaan adalah Gio atau lebih tepat nya "Giovan Nadewa" ia adalah siswa yang berprestasi seperti Rania, ia juga seorang ketua Ossi, dan populer di kalangan siswi di sekolah nya, banyak sekali siswi siswi yang ingin menjadi pacar atau hanya sekedar dekat dengan nya, pasalnya ia sangat dingin dan tidak peduli dengan siswi siswi yang menyukai, namun setelah hampir lima hari bersama karena harus belajar untuk lomba nanti mereka menjadi dekat.
Gio yang mulai memerhatikan Rania dan Rania yang sedikit memiliki rasa terhadap Gio, Dan banyak siswi yang cemburu akan hal itu, dan kemudian hari perlombaan pun tiba Kondisi Rania semakin parah ia telihat pucat dan lemas, dan di tempat perlombaan Hujan mulai turun saat perjalanan menuju tempat perlombaan hujan semakin deras, Rania menatap kaca mobilnya menatap hujan turun ia merasa tenang dan tidak cemas saat nanti Tuhan menjemput nya, dan Rania juga tidak datang ketempat perlombaan sendiri ia datang bersama ayah, ibu dan kakaknya, ia meminta untuk mereka ikut ke perlombaan nya walaupun awalnya merupakan ayah dan ibu tidak mau, sampai akhirnya mereka mengalahkan dan ikut dengan Rania, sebenarnya mereka juga merasakan akan ada perpisahan di antara mereka dan Rania.
Acara perlombaan pun di mulai dan hujan juga semakin deras Rania dan Gio berhasil menjawab pertanyaan dengan benar walapun Rania sempat mimisan tapi ia memilih untuk melanjutkan nya sampai akhir, saat Pertayaan terakhir keadaan Raina sudah tidak bisa fokus lagi ia mulai kehilangan kesadaran nya saat itu dengan sigap Gio membantu menahan nya dan Rania berhasil mengatakan jawaban terakhir dan di saat itu juga Rania kehilangan kesadaran nya , semua orang berteriak histeris begitu juga dengan ibu Rania yang terlihat cemas, Saat itu juga Rania di larikan ke rumah sakit, dan sesampainya di rumah sakit, Rania dalam keadaan kritis , beberapa saat setelah krisis nya Rania membuka mata dan melihat ibu nya menangis ia tahu apa yang terjadi, ia tersenyum dan berkata lirih.
"mah, Rania minta maaf udah nyusahin mamah"
lirih.
"ayah Rania minta tolong jagain mamah ya jangan berantem terus kasih kakak."
menatap sang ayah
"Ra bertahan ya kamu pasti kuat kamu bisa, mama Minta maaf ya, kamu pengen jadi pelukis kn, mama akan izinin tapi kamu bertahan ya"
ucap ibu Rania
" ayah minta maaf sayang, kamu harus sehat oke nanti kita main ke musium yang kamu pengen ya"
lanjut sang ayah.
"kakak minta maaf dek, kakak gk becus jagain kamu"
ucap Radit
"gpp kalian gk salah ini juga bukan kemauan Rania, kalian harus bahagia setelah Rania pergi, yah mah kak Rania pamit.
napas nya terhenti
Dan saat itu suara monitor yang sangat panjang berbunyi yang menandakan bahwa Rania sudah tiada, semua orang menangis mereka sangat menyesal atas apa yang mereka buat.
Saat pemakaman pun hujan masih turun seperti sang langit pun ikut bersedih, hujan mengiringi pemakaman nya, saat semua orang pergi Gio teman baru pun datang.
" Hai cantik kok kamu perginya cepet banget sih, aku belum sempet ucapin selamat loh.
ucap nya
"kamu liat kn ini piala kita, kamu pasti seneng kalo kita menang, aku juga belum sempat ngungkapin perasaan aku"
"Rania aku suka kamu dan maaf aku ngungkapin nya telat, tenang di sana ya aku pamit".
Rania, gadis penyuka hujan kini telah kembali kepelukan sang Pencipta, hujan deras turun begitu lama seperti langit ingin memberi tahu bahwa gadis baik, yang sangat mengagumi hujan kini telah tidur sangat panjang untuk selama lamanya.