Samara bersenandung sambil menata permen di sebuah mangkok. Teringat bahwa ia akan bertemu dengan Fionn nanti malam membuat senyuman gadis itu melebar.
"Hei, kondisikan senyumanmu! Dasar gadis 'mabuk cinta' " Ucap Billy adik lelaki Samara yang sengaja menekan ucapannya di kalimat 'Mabuk Cinta'.
Samara semakin melebarkan senyumnya sehingga Billy menggosok lengannya merinding, Kakaknya pasti sudah gila.
Gadis itu mulai berangan-angan di imajinasi Fantasy nya, tepat nanti pukul 00.00 Samara akan menambah umurnya yang ke 25 tahun. Berfikir Fionn akan memberikan Suprise dan kecupan selamat Ulang tahun, Samara berteriak terlalu girang dengan imajinasinya.
Billy melempar coklat yang dimakannya tepat di kepala gadis itu. "Kau memang sudah gila, Samara. Terlalu berangan tinggi bisa berbahaya tahu? Lebih baik kau fokus lah menata permen itu, sialan"
Samara berdecak, "Astaga Billy, kau masih berumur 17 tahun jangan mengurusi urusan dewasa. Dan panggil aku kakak karena aku lebih dewasa".
Billy memasukkan sepotong coklat kedalam mulutnya dengan kasar, ia sangat kesal. Andaikan kakaknya sadar, Fionn adalah most wanted di kantor kakaknya. Dan karena sebuah keburuntungan kecil, mereka berdua akan bertemu hari ini.
Selesai menata rapi semua permen dan coklat, Samara melirik jam yang terpasang di lengannya. Jelas terpampang pukul 23.46.
"BILLY SIALANNN!!!! KITA TELATTT!!! BUNDA, COSTUME SAMARA DIMANAAAAA"
Samara sudah siap dengan costumenya. Gadis itu memakai jubah dan topi penyihir berwarna hitam berpadu ungu. Ah jangan lupakan, ia juga memakai masker bergambar mulut.
Sentuhan terakhir dengan make up ringan untuk menambah sempurna.
"Billy, doakan aku.. Semoga Fionn memberikanku kado yang bagus" Ucap Gadis itu optimis.
Memutar bola matanya malas, Billy menjawab. "Ya, terserah"
Sekarang Samara duduk dibangku taman dengan senyum yang merekah lebar. Taman itu tidaklah sepi, banyak anak-anak ataupun orang dewasa yang bermain atau berbagi permen. Hiasan khas Halloween juga membuat taman itu terlihat semakin ramai.
Pandangan Samara berhenti di arah kanan. Terlihat lelaki yang memakai pakaian seperti... Vampire?
Jantung Samara berdetak 2 kali lebih cepat. Oh sungguh, Fionn sangat lebih tampan jika memakai costume seperti itu.
"Fionn!!!" Gadis itu melambaikan tangannya. Fionn menoleh, lalu memberikan senyum tipis.
Ya tuhan, kenapa lelaki itu sangat sempurna.
"Hei Samara, sudah lama menunggu?".
Menetralkan detak jantungnya, Samara menjawab. "Tidak, hanya 7 menitan yang lalu. Lagi pula tempat ini sangat ramai, aku tidak akan bosan menunggu. Haha" Gadis itu mencoba bersikap manis untuk mendapatkan perhatian Fionn.
"Ah begitu.." Respon Fionn singkat. Keadaan menjadi hening dan sangat canggung.
Mencoba untuk memecah kecanggungan yang ada, Samara mulai berbasa-basi. "Kau terlihat berbeda dengan costume itu."
"Yah... Emilia yang memaksaku" Jawab Fionn dengan sedikit terkekeh.
Hati Samara sedikit panas. Emilia? Gadis cabe-cabean dikantor itu? Dan Fionn memakai costume vampire hanya untuk menurutinya? Kerutan kesal muncul di dahi Samara dengan jelas. Emilia dan Fionn memiliki hubungan apa?
Ah.. Aku harus tetap bersikap manis!! Ayolah kendalikan amarahmu, Samara. Batin gadis itu.
"Emilia? Pacarmu itu hm?" Samara mencoba bertanya seolah tidak mengetahui apapun. Walau begitu, ia tetap tidak bisa mengendalikan ekspresi marahnya yang terpampang jelas.
Tiba-tiba Fionn tersenyum sangat manis, lagi-lagi hal itu membuat jantung Samara marathon tak karuan. Namun, Dia tersenyum begitu manis karena apa? Apa itu arti jawaban bahwa Emilia pacarnya? Shit!.
"Tidak... Emilia bukan pacarku kok"
"Lalu?" Gadis itu tidak sadar dan terus bertanya dengan wajah menggelap kesal.
Fionn menyeringai, lelaki itu menyelipkan rambut panjang Samara kebelakang telinganya. "Kenapa? Kau peduli?".
Wajah Samara memerah, ia menunduk berharap lelaki didepannya tidak melihat ekspresi wajahnya. Tapi sepertinya langit tidak membelanya saat ini.
Fionn tergelak melihat wajah gadis didepannya seperti kepiting rebus. "Oh oh ohh.. Apa kau sakit?"
Berpura-pura bodoh, Fionn menempelkan telapak tangannya ke dahi Samara. Gadis itu malah berdecak "Aku tahu kau, kau jangan berpura-pura bodoh".
Tersenyum puas melihat wajah bersemu Samara. Fionn memasukkan salah satu tangannya kedalam saku.
"Samara, Happy Halloween". Fionn membuka kotak yang berasal dari saku jaketnya. Terlihat sebuah kalung berwarna putih indah dan terlihat berkilauan. Kalung itu bertuliskan *3120*
Samara terkejut, "Ini..."
Dengan cekatan Fionn memakaikan kalung itu dileher Samara. "So.. Itu juga.. Hadiah ulang tahunmu dariku"
Untuk ketiga kalinya, jantung Samara berpacu cepat. "Thanks" Ucapnya senang. Namun ia mengerutkan kening lagi ketika melihat tulisan di kalung yang ia pakai.
"Kenapa harus 3120?"
Tersenyum, "Karena itu tanggal dan tahun dimana aku akan melamarmu."
"melamar?" Beo gadis itu dengan bingung. Otaknya berputar sangat lambat dari biasanya.
Fionn berlutut dengan bertumpu salah satu kakinya. Kepalanya mendongak menghadap wajah Samara yang terlihat tertegun. "Emm.. Samara.. Apa kau mau menikah denganku?"
"Apa.. Maksudmu?" tanya lagi gadis itu.
Fionn mengeluarkan cincin yang terlihat mahal. Memasukkan cincin itu ke jari manis Samara dengan lembut, sangat pas.
"Jawabanmu?" Tanya lagi Fionn.
Detak jantung Samara berpacu sangat cepat.
"Aku... A-aku mau" Jawab Samara dengan gugup. Ia masih tidak percaya, lelaki yang disukainya diam-diam melamarnya!
Fionn berdiri dengan wajah sumringah, "Apa? Aku tak mendengar ucapanmu tadi".
Samara membuang tatapannya dengan wajah memerah. "Aku mau".
"Apa?"
"Ishh.. AKU MAUU FIONN!!!"
Fionn segera menarik tubuh mungil Samara ke dekapannya. Memegang kedua pipi gadis itu, Fionn langsung menciumnya dengan kasih.
Sangat lama, mereka berdua memejamkan mata terlalu menikmati suasana masing-masing.
Tiba-tiba Samara mendorong tubuh gagah Fionn, "Hosh hosh nafasku habis, Fionn".
Fionn mengelap mulutnya sambil tertawa. "Aku terlalu senang hingga tak bisa mengendalikan diriku."
Hati Samara berteriak bahagia, ia tidak akan menyesal Fionn mengambil first kiss nya. Lagipula.. Mereka akan menikah!