Dalam dunia yang begitu luas ini, tidak ada seorang pun manusia yang hidup tanpa sebuah ketakutan.
Entah itu ketakutan akan duniawi, maupun ketakutan akan hal mistis.
Di sini, aku ingin menceritakan sebuah kisah di mana, sebuah ketakutan tersebut berasal dari hal yang dianggap sepele yang dilakukan berulang-ulang dan terus-menerus.
Ya. Bully.
Entah pembullyan tersebut berlaku secara verbal maupun nonverbal, hal tersebut sangat berpengaruh pada psikis seseorang di masa yang akan datang. Dan, ya. Bila pembullyan tersebut telah merasuk ke dalam jiwa seseorang, maka trauma, mulai menguasai diri sang korban.
Bukan hal yang sepele memang, bila trauma mulai menguasai diri sang korban pembullyan. Berbagai pemikiran negatif tentang dunia luar dan pandangan berbeda dari berbagai orang yang mungkin saja mengacu pada kekurangannya, membuat jiwanya perlahan-lahan menimbun luka hingga suatu ketika, disaat jiwanya telah benar-benar lelah. Pemikiran menyimpang bisa saja menghasut pikirannya.
Merugikan. Sungguh, dari sekadar memberi panggilan tak mengenakan yang awalnya hanya main-main, ternyata dapat merusak diri seseorang. Dari mulai pemikiran hidupnya, tentang bagaimana orang lain memandangnya, ketakutan berlebih akan masa depan yang belum terjadi, dan masih banyak lagi.
Kasus pembullyan, tak memandang seberapa besar kamu memperlakukan seseorang dengan buruk. Tetapi, dari mulai ucapan hinaan dan merendahkan, sudah termasuk dalam kasus pembullyan.
Miris. Aku menceritakan hal yang cukup detail ini seolah-olah, aku adalah salah satu dari korban tersebut.
Dan, ya. Bisa dibilang, demikian.
Bukan kasus yang parah memang. Seperti yang telah aku jelaskan secara singkat. Hanya pemberian nama panggilan kurang mengenakan, perkataan merendahkan, dan segala hal buruk yang sang pembully ucapkan.
Namun, hal tersebut sudah cukup mengubah hidupku seratus delapan puluh derajat.
Diriku jatuh, sejatuh-jatuhnya. Mereka merendahkanku, hanya karena aku tidak menyandang kata 'cantik', selayaknya perempuan lain.
Mereka menghinaku, seolah aku adalah makhluk paling buruk di dunia.
Dan, ya. Hal kurang mengenakan tersebut telah aku alami dari sejak awal masuk SD sampai dengan lulus SMP.
Tidak mudah memang melalui hal yang begitu menyakitkan seorang diri, di mana diri ini diharuskan terus tertawa disaat perkataan orang-orang terus-menerus menjatuhkanku.
Berpura-pura? Jelas!
Jika aku memperlihatkan kesedihanku, bagaimana orang-orang memandangku?
Lemah?
Ya, aku memang lelah. Tetapi aku tidak ingin terlihat mencolok.
Sampai pada suatu ketika, disaat pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah menengah kejuruan, aku mulai merasakan ketakutan paling besar, di mana sebelum-sebelumnya ketakutan tersebut telah aku timbun dalam-dalam.
Sialnya, rasa takut itu semakin bergejolak saat seluruh siswa dan siswi baru mulai dikumpulkan di sebuah tempat bersamaan.
Sesak dan tidak nyaman. Kini aku menyadari satu hal tentang diriku yang lain; Aku memiliki fobia akan keramaian.
Rasanya seperti, seluruh manusia menatapku dengan tatapan benci. Padahal yang terjadi, mereka saja tidak ada yang mengenaliku. Lantas, mengapa aku bersikap demikian?
Tak hanya itu saja. Ketika sepasang netra ini tidak sengaja saling bertatap dengan seorang lawan jenis, perasaan tak nyaman mulai menjalar, hingga tak sadar, terkadang aku mengepal kuat kepalan tanganku untuk menahan rasa takut itu.
Sial! Trauma lagi! Berapa banyak trauma yang kumiliki, sehingga membuat diriku di usia yang hampir menginjak angka 19 tahun ini terus-menerus tersiksa?
Bahkan, topeng 'pura-pura' rasanya sudah tidak lagi berguna, saat mimpi buruk di masa lalu terus berputar di kepala.
Lelah. Aku ingin mengakhiri segalanya! Segala yang membuat batin dan ragaku mengeluh menahan rasa sakit dan luka yang telah lama, namun berbekas hingga usia dewasa.
Tetapi, kemudian aku tersadar. Masih banyak hal yang belum aku tuntaskan di sini. Ibuku menaruh harapan tinggi padaku di masa depan. Apalagi, hanya tinggal menghitung bulan sampai di mana aku benar-benar lulus dari sekolah.
Bertahan. Hal yang sampai detik ini terus kulakukan hanyalah itu. Tak peduli seberapa banyak bayangan mengerikan di masa lalu, dengan tekadku, aku berharap aku bisa segera melupakan hal tersebut.
Sialnya lagi, aku terus-menerus berpura-pura untuk menyembuhkan luka lama ini. Berharap jika aku terbiasa berpura-pura seperti ini, mungkin di masa depan, luka lamaku ini akan sembuh. Sehingga berbagai pemikiran negatif tentang dunia luar akan sepenuhnya menghilang dari pikiranku.
Catatan untuk tulisan ini adalah, jangan merendahkan orang lain dari segi kemampuan, fisik, dan apa yang tidak dimilikinya yang dimiliki olehmu.
Karena, tak semua orang itu memiliki pemikiran yang sama.
Ketika kamu memberikan sebuah panggilan lain, yang di telingamu kamu anggap sebuah candaan, nyatanya orang yang diberi panggilan tersebut belum tentu mau menerimanya. Apalagi jika kamu menambahkan dengan ucapan merendahkan yang lain, yang bisa saja membuatnya terluka.
So, di sini, aku hanya ingin berbagi pengalaman pahit yang mungkin juga dirasakan oleh sebagian orang sepertiku.
Aku bukan ingin mengungkit luka lama kalian yang juga merasakan hal yang sama! Aku hanya berusaha memotifasi diri kalian dan diriku juga yang tengah belajar untuk menerima keadaan dan kekurangan yang diri sendiri miliki.
Thanks for attention.
Garut, 9 Januari 2023
meikameyyy754