Hari ini aku sedang berada di minimarket, menunggu mesin kopi mengeluarkan cairan hitam agak kecoklatan meluncur diatas gelas kertas anti panas. Disana hanya ada aku dan pegawai minimarket yang sibuk menata makanan ringan di rak agak jauh dariku. Aku bukan orang yang selalu memperhatikan sesuatu dengan teliti, namun aku merasa pegawai minimarket berkelamin laki-laki itu menatapku terus. Aku bukan terlalu percaya diri, tapi kalian pernah kan merasakan apa yang aku rasakan dan kadang perasaan itu benar?
"Oh, nona... mesin kopinya sudah berhenti!"
Akhirnya pegawai itu bersuara. Aku berpura-pura seakan aku tidak tahu dan tersenyum kikuk. Ya... aku hanya ingin menampakkan diriku sebagai pembeli yang ramah dan membuat pegawai itu merasa aman untuk mengatakan apa yang dipikirannya. Sikap anehnya selalu aku lihat setiap kali aku datang kesini. Ini bukan pertama kali aku menemukan pegawai itu memperhatikanku. Sering!
Ketika aku sudah di depan kasir, pegawai itu dengan sigap men-scan belanjaanku dan juga memasukkannya kedalam kantung plastik. Ia melirik diriku yang sedang memperhatikannya sebentar.
"Kau sekolah di hari minggu?"
Oh, hanya itu saja pertanyaannya kepadaku? Mungkin dia heran aku masih memakai seragam sekolah saat ini meskipun saat ini aku hanya memakai rok pendek sekolahku dan jaket hoodie kelabu.
"Kemarin aku langsung ke rumah sakit untuk menjenguk temanku dan menginap! Jadiii... apa kau tidak memberitahu berapa harga belanjaanku, Tuan Sandy?"
Laki-laki itu menghela napas dan langsung menyebutkan harganya. Aku pun mengeluarkan uangku di saku jaket. Namun, resleting kantungnya tersendat. Aku pun berusaha mencoba membenarkan resleting jaketku. Padahal aku ingin cepat-cepat keluar dari situasi kaku ini.
"Banyak sekali kau beli es krim dan ice pack! Aku bukan mau sok tau dan sok akrab dengamu, tapi kau harus cepat-cepat memakan dan memakai ice pack itu sebelum mencair" saran laki-laki tersebut.
"Ini bukan untukku, tapi temanku..." tak lama resletingku terbuka dan langsung menaruh uang di meja kasir serta menarik kantung belanjaanku.
Rasanya aku ingin buru-buru dari sana. Pegawai itu aneh dan aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpaku.
"Namamu siapa?"
Tanganku berhenti memegang gagang pintu. Aku merutuki keadaan karena langsung refleks berhenti. Kenapa aku tidak langsung keluar dari sana tanpa memperdulikan pertanyaanya?
"Apa urusanmu?" ketusku sambil menoleh kearahnya. Apa dia melihat wajahku yang benar-benar tidak ingin di ganggu?
Pegawai bernama Sandy itu mengangkat tongkat baseball berbahan besi dan memain-mainkannya dengan sebelah tangannya. Apa dia ingin pamer?
"2 bulan lalu ada yang membeli barang belanjaan sama sepertimu. Kau tidak menyebalkan dan staminamu cukup kuat. Panggil aku Sandy saja. Kita hanya berbeda 4 tahun. Namamu?" ujarnya lalu menyeringai tipis didepanku.
Sok keren sekali dia. Aku pun lantas pergi dari sana tanpa menoleh. Buat apa dia berbicara itu kepadaku dan bersikap sok akrab jika awalnya dia seperti penguntit? Langkahku makin kencang memasuki gedung rumah sakit. Selain karena es krim dan ice pack, aku berjalan cepat karena ucapan lelaki itu sebelum pintu minimarket itu tertutup rapat.
"Sampai bertemu lagi, Athena!"
Tubuhku merinding mendengar nada riangnya menyebut namaku. Selagi aku menunggu lift yang kumasuki sampai ke lantai 12, aku memikirkan temanku, Lilith. Dia sudah dirawat 2 bulan dan rasanya sekolah menjadi sangat menyebalkan. Lilith selalu mendengarkan keluh kesahku dan menemaniku dari sekolah sampai rumah. Bahkan keluarga kami saling mengenal dan aku juga sering menginap dirumahnya, begitu juga sebaliknya. Lilith sudah hampir menjadi saudaraku. Hampir.
Kenapa aku bilang hampir? Karena aku merasa dia tidak sepenuhnya menceritakan dirinya kepadaku. Aku tahu namanya privasi, namun apa dia se tidak percaya itu padaku sampai dia baru mengatakan padaku bahwa tubuhnya lemah? Aku menyesal selalu mengajaknya berlari atau memaksanya untuk melakukan aktifitas berat. Aku sering menjenguknya dari awal dia masuk rumah sakit. Bahkan suster atau cleaning service mengenaliku saking seringnya ke rumah sakit ini. Lilith orang yang tertutup dan selalu menjaga jarak kepada orang lain kecuali aku. Aku bahkan tidak tahu alasannya, namun teman-teman dikelas yang sudah membuka tangan untuk Lilith ditolak olehnya dan mereka masih berusaha ingin berteman dengannya.
Aku saat ini sudah di depan pintu ruang inap Lilith. Saat aku membuka pintu, temanku berdiri di dekat jendela dan terlihat tidak terganggu saat aku masuk ke ruangannya. Aku pun mendekati Lilith yang masih diam dan penasaran apa yang ia lihat. Sepertinya Lilith menungguku karena ia ternyata memerhatikan minimarket yang aku datangi.
"Li, kau jangan kelamaan berdiri. Dokter menyuruhmu untuk bed rest" ucapku sambil memegang pundak Lilith.
"Akh... aw..."
Aku langsung menjauhi tubuh Lilith. Aku tidak tahu jika aku menyentuhnya ia merasa kesakitan. Wajah pucat dan peluh di keningnya yang sering aku lihat tersenyum. Bahkan bibir pecah-pecahnya membuatku sedih.
"Maaf... aku tidak tahu..."
"Tidak apa..." suaranya begitu parau. Lilith bergerak menuju ranjangnya yang tidak jauh dari kami berdiri. Langkahnya sedikit menyeret dan aku bisa mendengar rintihan halusnya.
"Ingin aku ambilkan kursi roda? Aku rasa kau makin bosan disini, mungkin jika aku ambilkan kursi roda, kau bisa leluasa"
Lilith hanya tersenyum kepadaku. Senyumannya membuatku luluh sekaligus sakit. Aku rasa tuhan tidak adil membuat temanku sakit seperti ini. Memang Lilith salah apa sampai dia sakit begini?
"Terima kasih es krimnya. Aku... minta tolong..."
Aku pun langsung membuka es krim itu tanpa babibu. Sebelum aku memberinya kepada Lilith, aku menatapnya, "Kau tidak apa memakan es krim ini?"
Lilith tidak menjawab lagi pertanyaanku. Dia langsung mengambil es krim itu hingga tubuhku agak tertarik kearahnya. Aku tertegun, mengapa tarikkannya kuat sekali?
Lilith menikmati es krimnya dengan lahap. Sebelum aku ke minimarket, Lilith memintaku membeli es krim karena giginya sangat ngilu dan sakit. Ia juga memintaku untuk membelikan ice pack karena tubuhnya rasanya panas. Padahal setiap hari suhu ruangannya dingin dan di luar sedang musim gugur. Daripada Lilith masuk angin, aku membelikannya meskipun sepertinya tidak membantu.
Tok! Tok! Tok!
Pintu terbuka, menampilkan dokter wanita dengan rambut merah menyala. Itu Dokter Lou, ia yang selalu mengecek keadaan Lilith. Kacamata kotak ketinggalan jaman yang bertengger di pangkal hidungnya tidak menghilangkan kecantikkannya. Tampilannya agak menonjol dari dokter yang aku pernah lihat. Mungkin jika dokter itu menjadi artis, ia akan cepat terkenal. Mungkin berlebihan, namun ia sangat sangat cantik!
"Halo Athena! Maaf ya aku harus menggangu kalian berdua!"
"Tidak apa dok!" ucapku yang tidak bisa berhenti tersenyum dihadapannya. Tiba-tiba perutku melilit, sepertinya aku harus ke toilet, "Aku pamit ke toilet!"
Dokter Lou hanya tersenyum. Namun senyumannya begitu aneh saat itu. Seperti senyuman licik. Aku tidak ambil pusing dan langsung masuk ke kamar mandi di pojok ruang inap itu. Setelah aku selesai dan sedikit berkaca, aku bisa mendengar pintu ruangan tertutup. Mungkin Dokter Lou sudah selesai mengecheck Lilith.
Lekas dari kamar mandi, ketika aku membuka pintu, aku bisa melihat ceceran bungkus es krim dan ice pack. Lelehan dari bungkus itu juga menambah berantakkan ruangan tersebut. Di atas ranjang, Lilith terus menggosok wajahnya kasar serta tubuhnya menggeliat. Aku yang panik langsung mendekatinya.
"Lilith... kau kenapa???"
Temanku lalu merubah posisi menjadi berjongkok. Wajahnya memerah dengan bekas garukkan yang cukup jelas. Tubuhnya menggigil dan menunduk. Lilith langsung membungkam mulutnya dan mengerang dibalik punggung tangannya. Aku sangat panik dan berusaha menekan tombol darurat terus menerus.
"Na... sa... sakit..."
Aku langsung terdiam saat itu juga. Tubuhku langsung merinding dan mataku tidak bisa lepas menatap Lilith. Tangannya menadah di bawah dagunya dengan satu persatu giginya copot dan kucuran darah yang meluruh pelan. Apa yang aku lihat saat ini diluar nalarku!
"Panasss... sss... gi... gi... ku..."
Pandangan Lilith kosong menatap ceceran darah dan gigi yang jatuh jatuh terus menerus di telapak tangannya. Hal mengerikan itu membuatku tersedak. Aku bisa melihat lidahnya yang hitam dibagian atas menjilat-jilat gusi tanpa gigi itu. Sangat menjijikan dan membuatku ingin muntah.
Tiba-tiba tubuh Lilith terlentang paksa dan kejang-kejang. Teriakannya dan suara ranjang bergetar bersautan membuatku mengerang takut. Tanganku langsung menekan-nekan tombol darurat berkali-kali. Aku tidak peduli tombol itu rusak dan aku tidak bisa meninggalkan temanku sendirian disini.
"Sialan... dimana suster dan dokter di rumah sakit ini..."
BRUUKKK!!!
Tubuhku terasa berat. Lilith meniban tubuhku dan berjongkok diatas perutku. Rasanya sesak dan sakit hingga aku sulit untuk bicara. Rambut panjang Lilith jatuh diatas wajahku. Seketika jantungku seperti berhenti berdetak melihat Lilith yang sangat berbeda dari Lilith yang aku kenal. Semua giginya sudah berubah runcing dengan seringaian mengerikan di wajah malaikatnya. Bagian matanya yang hitam-putih berubah menjadi hitam yang diselimuti merah darah karena pembuluh darahnya pecah.
Itu bukan Lilith, bahkan lebih menyerupai monster...
"Athena... kau teman yang baik, kan? Kau menyayangiku, kan?" kukunya yang memanjang menyentuh wajahku. Aku ketakutan. Aku tidak peduli dengan wajah cengengku sekarang.
Lidahnya yang hitam menjulur sangat panjang melewati dagunya. Darahnya yang menetes bercampur salivanya jatuh diatas wajahku dan membuat perutku bergejolak. Aku tidak mau diam seperti ini. Entah kekuatan darimana, aku langsung mendorongnya dan buru-buru menjaga jarak darinya. Tiang infus di dekatku langsung aku jadikan alat perlawanan.
Lilith tertawa dengan suara serak. Ia mendekatiku tanpa ada rasa takut, berbanding terbalik denganku yang benar-benar ingin pergi dari sana, "Hiks... hentikan... jangan sakiti aku..."
"Owh... Athena... aku tidak menyakitimu..." Lilith langsung memberi pergerakkan mendadak hingga aku mendorong ujung tiang hingga Lilith terdorong kearah ranjang.
Aku langsung bergerak mendekat kearah jendela. Sekilas aku bisa melihat cuaca diluar yang mendung dengan warna awan yang sangat kelam. Payahnya aku, saat ini salah posisi yang membuatku terpojok. Aku sangat waspada dengan Lilith dan posisi kami bersebrangan diantara ranjang rumah sakit. Temanku yang sudah berubah menjadi mengerikan itu menatapku tajam, matanya bergerak-gerak mengikuti pergerakkanku. Aku muak, aku tidak tahu kenapa keadaan ini berubah seperti mimpi buruk!
"Athena... rggmm... aku lapar... dan tubuhku kesakitan... sss..." Gemeretuk gigi taringnya membuat aku mengeriyit. Ia bahkan tidak tampak kesakitan. Ia terlihat menahan sesuatu dan aku bisa melihat air liurnya yang membusa mulai keluar dari mulutnya. Tatapannya seperti ingin menelanku bulat-bulat. Keadaan ini mirip seperti hewan buas yang sedang mengawasi hewan buruannya agar tidak kabur.
"Kau mau kan menjadi makananku?"
Gerakkan Lilith sangat cepat dan saat ini ia sudah mencekikku. Kuku jarinya yang melingkupi leherku begitu pedih. Aku mendesis dan berusaha melepas dari cengkramannya dengan menjambaknya dan menendang perutnya. Tubuhnya tersungkur agak jauh dariku dan aku pusing dengan semua ini.
"Maaf Lilith! Aku menendangmu! Tolong hentikan ini!"
"Aku mau sekarang... aku lapar... LAPARRRR!!!!!"
Lilith terlihat marah besar. Ia langsung berlari kearahku. Refleks saat itu aku berjongkok dan melindungi kepalaku. Aku pasrah hari ini adalah hari terakhirku dan menjadi santapan temanku yang sudah kujenguk non stop selama 2 bulan. Rasanya aku dimanfaatkan dan seperti kelinci bodoh.
BRAKKK!!!!!!
Suara pecahan kaca jendela dari belakangku mengejutkanku. Suara erangan juga suara benda tumpul yang diseret ke lantai yang menggangguku berubah menjadi suara pukulan yang sangat keras. Suara Lilith mengerang dan lolongan aneh membuatku mengeratkan telapak tanganku di telinga. Sayup-sayup suara pukulan dan suara benda lembek makin tidak terdengar. Jantungku berdetak kencang hingga napasku sesak. Ada seseorang disini. Pelan-pelan aku berdiri dan melepas tanganku dari telingaku. Aku melihat tubuh Lilith yang terkoyak dilantai hingga wajahnya hancur dengan ceceran darah yang sangat anyir dihidungku.
Dan jangan lupa ada Sandy disana. Dengan seragam pegawai minimarket namun darah mengotori hampir seluruh tubuhnya.
"HOEKKK!!!!"
Aku langsung muntah saat itu. Makanan siang yang ibuku buat terbuang sia-sia. Sandy mendekat kearahku dan ia menatapku heran. Setelah aku mengelap sisa muntahku di sudut bibir, Sandy menepuk-nepuk kepalaku. Aku terdiam, laki-laki ini kenapa ada disini?
"30 menit masih hidup disini sebelum aku masuk adalah sebuah rekor! Tebakkanku benar mengenai staminamu! Sepertinya aku butuh rekan baru untuk membasmi monster aneh disini!" jelas Sandy sambil mengelap tongkat baseballnya yang penuh darah dengan ujung seragamnya.
Aku shock melihat tingkahnya biasa saja setelah membunuh seseorang, "Kau gila! Kau... membunuh... ini... seharusnya..."
"Akh... maafkan aku ya! Temanmu memang pantas mati dan kau terlalu naif jika berharap aku tidak membunuh monster itu! Fun fact saja, temanmu sudah di daftarkan dalam percobaan gila ini dari dia masih bayi. Dokter berambut jelek itu juga yang membuat semua begini. Jadi..."
Sandy menyodorkan tangannya sambil tersenyum, "... kau mau kan?"
Aku terdiam dan mencoba menarik napas dalam-dalam ditengah bau menjijikan yang masih pekat dihidungku. Aku ingin membalas perbuatan wanita berambut merah itu yang membuat Lilith begini. Setelah aku melewati kejadian buruk ini, entah bagaimana aku merasakan hasrat aneh yang membuatku tersadar bahwa duniaku akan berubah dan aku siap menerimanya. Tanganku menggenggam tangannya kuat, sangat kuat.