Namaku Dian permata indah. Nama yang begitu indah pemberian Ayah dan Ibuku.
Dulu sekali saat aku masih sangat kecil, kebahagiaan tak pernah berkuarang dalam hidupku, karena Ayah dan Ibu selalu menjaga dan menemaniku di setiap tumbuh kembangku. Samapi pada akhirnya kejadian yang mengerikanpun terjadi, dimana aku harus kehilangan Ayah dan Ibuku. Mereka harus pergi di saat aku masih sangat membutuhkan kehadiran mereka, bahkan saat itu aku belum memahami apa yang telah terjadi pada mereka.
Singkatnya alu pun tinggal bersama adik laki" Ayah yang biasa aku panggil Pamud. ya, aku memanggilnya 'pamud' artinya Paman muda karena Beliau masih sangat muda dan juga belum menikah, usianyapun hanya beda 11 thn denganku yang saat itu baru beranjak 7 thn itu berarti usianya baru 18 thn.
Hari-hari ku lalui bersama dengannya, ia merawatku dengan penuh kasih dan sayang meski di usianya yang masih sangat muda saat itu, namun tak menjadi rintangan baginya. jujur kala itu aku merasa ia sudah seperti Ayah dan Ibu bagiku yang masih sangat belia.
Sudah hampir 5 thn aku tinggal bersamanya, kasih sayang dan perhatiannya pun tak pernah pudar masih sama seperti dulu.
"Dian... " panggilnya saat baru tiba di depan rumah peninggalan Orang tuaku.
"Hmmm,," jawabku keluar dari kamar sambil menatap layar hp.
"Sini duduk!"
Aku pun segera duduk di sampingnya yang masih dengan kegiatannya melepas sepatu.
"Kenapa? " tanyaku heran karena sudah hampir 5 menit pamud tak kunjung bicara
"Kepo ya!" ledeknya sambil tertawa puas
"Gak lucu tahu." jawabku sambil memanyunkan bibirku yang tipis nan indah. hehehe
bukannya merayu, pamud justru semakin tertawa dan mencubit pipiku yang tembam dengn gemas. akupun hendak pergi meninggalkan nya yng masih tertawa gak jelas.
"Ehh, tunggu" jangan ngambek ntar cepet tua loh." ucapnya sambil memegang pergelangan tanganku
"Apaan sih gak jelas." jawabku kembali duduk.
"udah cepetan bilang, kenapa mangilin Dian!" tanyaku dengan gaya yang masih ngambek
"hahaha,, iya deh, iy paman kasih tahu deh." jawabnya sambil memegangi perut nya yang mungkin saja keram karena sejak tadi terus tertawa.
"Ya udah cepetan, Dian banyak tugas."
"Besok Paman mau wisuda, dan karena keluarga pama cuma kamu jadi paman mau nanya, apa Dian bisa hadir di acaranya Paman besok?" tanya nya penuh harap.
"Gimana ya!" jawabku ingin membalas perbuatannya tadi.
"Kok mikir!" ucapnya
"Males ah." jawabku beranjak dari tempatku duduk
"Diannn..."
"hahahaha,, rasain 1 sama." ucapku langsung berlari ke dalam kamar dan mengunci nya dari dalam.
"Diannn, buka gak? awas kamu ya!" teriaknya dari luar, aku tertawa puas.
Keesokkan harinya kami berangkat bersama, entah mengapa hari ini Pamanku sangat tampan aku sampe dag dig dug sendiri ngeliatnya. hah, untung oom sendiri kalo bukan dah kupacarin tuh. hee
"Dian udah siap belum, lama banget sih udah siang nih!" panggilannya terus saja menggema di telingaku sejak 1 jam yang lalu. akupun keluar dari kamar.
"Ya ampuun, gantengnya pamanku." ucapku nyeplos, tanpa sadar ia pun memperhatikanku bahkan sejak aku keluar tadi ia belum berkedip.
"Aku terlalu cantik ya?" ledekku menyenggol bahunya. iapun tersadar dan malu sendiri
"iya cantik." jawabnya mengalihkan pandangan ke arah lain. aku tertawa dalam hati, bahkan pamanku sendiripun terpesona dengan kecantikanku yang pari purna ini. hahaha muji diri sendiri gak apa lah.
"Udah ayok berangkat, kamu kelamaan dandan jadi kesiangan deh." ucapnya berjalan di depanku.
setelah menepuh waktu sekitar setengah jam, akhirnya kami sampai di kampus nya pamanku yang tampan ini.
"Ayok masuk." ia membuka pintu mobil ku. aku segera keluar, sejenak aku mengamati pemandangan di sekitarku, tanpa ku sadari paman dengan setia berada di sampingku.
"Loh, kok masih di sini paman sana masuk." ucapku heran
"Emangnya kamu mau di tinggal! hmm?" jawabnya menarik tanganku. aku hnya tersenyum malu, kamipun masuk bersama.
Saat sudah sampai di tempat acara, Paman menyuruhku duduk di kursi tempat keluarga lain berkumpul, sedangkan ia menuju tempatnya.
"Haishhh, paman yang Wisuda kenapa aku yang gerogi sih." batinku, menoleh kanan kiri.
"hadirin Wisuda pacarnya tadi ya Nak?" tanya seorang Ibu pada ku.
"Ah, gak Bu, itu tadi paman saya." jawabku ramah
"Oh, pamannya tak kirain pacarnya Nak, maaf ya!" aku hanya mengangguk lalu tersenyum hangat dan kembali fokus dengan acara yang sudah di mulai sejak 1 jam yang lalu.
"Lama banget ya Allah, udah gak betah ini." lirihku
sudah beberapa jam berlalu, akhirnya acarapun selesai.
"Ayok, kita foto² bentar habis itu pulang." ucap seseorang yang tak lain pamud di sampingku. aku segera bergegas berdiri dan mengikuti langkahnya keluar dari gedung.
setelah puas berfoto ria, kamipun segera pulang tak lupa kami mampir ke tempat makan untuk mengisi perut yang sudah kosong melompong.
"Akh, capeknya." rengekku merebahkan tubuh di atas sofa.
"mandi dulu sana biar segeran." ucap paman saat masuk ke dalam rumah dan melihatku rebahan.
"Bentar lagi, masih keringetan nih." jawabku menunjuk jidat yang sebenarnya gak ada keringat.
"Haish, bocah." ucapnya kemudian masuk ke dalam kamarnya. aku hanya melirik sejenak kemudian melanjutkan rebahanku yang semakin nyaman sampai pada akhirnya aku tertidur pulas, dan jadilah malam itu aku tertidur di atas sofa dengan badan yang lengket.
Keesokkan paginya, aku terbangun sudah sangat siang, karena kebetulan tempatku sekolah jumat sabtu dan minggu libur. Namun ada yang aneh..
"Loh, ini kamar! perasaan semalam aku tidur di sofa deh." ucapku berfikir keras
tok tok tok
"Di, udah bangun belum?" panggil paman dari balik pintu kamarku
"Hmm,," jawabku segera membuka pintu.
"Ya ampun, anak gadis bangun siang berantakan lagi." ucapnya memperhatikanku yang kayak orang baru habis berantem.
"Nama nya juga orang bangun tidur." jawabku sekenannya
"Ya sudah sana mandi, habis itu kita makan.
"Hmm." jawabku kembali menutup pintu
"Cepetan." ucapnya tak lagi ku tnggapi. dengan cepat aku membersihkan tubuhku dan juga membereskan tempatku tidur, setelah semua selesai aku segera keluar.
"Sarapannya." paman memberi piring yang sudah di isi Nasi goreng beserta lauk nya.
"Hmmm, kayaknya enak nih, beli di mana?" ucapku melirik ke arah pamud
"Bikin sendiri tahu." jawbnya sewot
"Tumben, biasanya juga beli bubur di depan noh." ucapku sambil memonyongkan bibirku ke arah luar rumah.
"haish, udah makan sana gak uaah banyak cakap." jawabnya kesal, akupun hanya tersenyum dan segera menyantap hidangan yang sudah ada di hadapanku.
"Hm, nyammy." ucapku memberi jempol tanda masakannya sangat lezat. paman hanya tersenyum hangat. Setelah selesai makan, kamipun menonton tv di ruang tamu.
"Makasih." ucapku namun mataku masih fokus ke arah tv
"hmm!" jawabnya tak mengerti. akuoun menoleh kearahnya
"Semalam udah gendong Dian ke kamar." jawabku kembali menatap layar tv
"Sama²."
Kira-kira seperti itulh kegiatan kami setiap hari, meski sekarang paman sudah mulai sibuk dengan urusan bisnis peninggalan Ayah, namun ia tak pernah melupakanku. Paman selalu ada di sampingku, selalu bisa menjadi pendengar yang baik untukku dan selalu bisa menjadi penyemangat dalam hidupku. Mungkin aku telah kehilangan Ayah dan Ibu, namun rasa kasih sayang dan perhatian tak pernah hilang dalam hidupku, itu semua berkat Paman mudaku yang selalu bisa memberikannya padaku sejak dulu hingga kini.
Aku selalu berdoa dan berharap, bahwa aku takkan pernah kehilangan Paman. cukup Ayah dan Ibu yang pergi jauh dari hidupku.
Terimakasih Pamudku, makin sayang dan makin perhatian lagi ya sama keponakanmu yang cantik ini, dan makin ganteng. hehee
Dian selalu sayang Pamud selamanya...
Ok, makasih men temen yang sudah mau mampir ke karya cerpenku ini,, maaf masih proses jadi belum sebagus karya2 kalian..
mohon dukungannya ya men temen semua
🙏😄😄