Cinta Sang Berandalan_1
#Kbm_Cerbung
Cerita Dewasa 21+ (bocil minggir)
Cerita sudah tamat di aplikasi KBM (26 part)
Bab. 1
pergilah dan kembali ke keluargamu bila kau tak tahan dengan kehidupan dan sikapku padamu. Kamu berhak bahagia.” Waldi berkata datar sambil menatap wajah ayu berkulit kuning langsat di depannya. Darah segar masih mengucur di tangannya.
“Nggak mas, aku senang disini, aku akan bertahan denganmu, mendampingimu bagaimanapun keadaan kamu nanti.” Karmila membersihkan darah di tangan suaminya itu.
“Tanganmu terluka lagi mas, selalu saja begini. Kapan kamu berhenti berkelahi mas.” Karmila mulai membalut luka itu.
Karmila membersihkan tangan lelaki pendiam namun temperamen yang hampir setahun ini menjadi suaminya.
WaldiHaidarMeski temperamen namun tak pernah berbuat kasar pada Karmila. Perjodohan yang diminta oleh bu Ranti, mama Waldi disetujui saja oleh kedua orang tua Karmila yang tinggal di kampung dan hanya mengandalkan sepetak sawah. Alasan bu Ranti menjodohkan mereka agar Waldi tak disusupi perempuan nakal dari musuh – musuhnya, selain itu permintaan almarhum ayah Waldi, karna dulu di awal perantauannya ayah Karmila yang memberi tumpangan selama tiga bulan kepada beliau, ayah Waldi bekerja dan membuka usaha dari hasil kerjanya. Sementara pak Darsi kembali ke desa karna meninggalnya istri beliau mama Karmila.
Dan bersama suaminya ini, meski temperamen dan suka berkelahi tak pernah sekalipun Karmila dikasari ataupun dibentak.
Karmila hanya akan masuk kamar dan menutup telinga bila mendengar suara amarah suaminya pada karyawan ataupun lawannya.
Entahlah disini Karmila merasa nyaman. Tak ada lagi bentakan dan hinaan dari saudara tirinya.
__
“kamu kenapa sering berkelahi mas?, tiap malam minggu pasti pulang – pulang sudah terluka.” Karmila mengomeli Waldi di jam satu malam ini sambil membersihkan luka – luka di wajah suaminya itu.
Waldi hanya diam memperhatikan wajah teduh Karmila.
Wanita ini sudah hampir setahun menjadi istrinya. Meskipun di jodohkan,namun terlihat ikhlas menerima pernikahan ini bersama Waldi yang umurnya lima belas tahun diatas Karmila.
Waldi pria gagah namun dingin terkesan kejam berumur 36 tahun dijodohkan dengan Karmila yang akan berumur 22 tahun bulan depan.
Waldi tak habis pikir, mengapa gadis desa ini mau saja dijodohkan dengan dirinya.
Dan sudah hampir setahun ini mereka menjadi suami istri, hidup bersama dalam satu atap namun beda kamar, kecuali mama Ranti datang, ibu mertua Karmila.
Bila beliau datang, Karmila akan tidur di kamar suaminya namun tak di ranjang yang sama, Karmila tidur di sofa atau di lantai beralaskan bedcover. Waldi yang meminta demikian.
Menjadi suami istri hampir setahun ini pun tak membuat mereka melakukan sentuhan hubungan suami istri.
Mungkin Karmila siap, namun Waldi selalu menahan diri.
“Kenapa nggak pakai hijab?” Waldi tak menghiraukan omelan istrinya.
“Temen kamu kan sudah pulang mas, aku pakai kalau ada temen kamu.” Jelas Karmila.
“Hmm.” Waldi bergumam tanda mengerti.
Kalau dilihat – lihat wajah istrinya ini sangat cantik, mata yang teduh,alis tebal alami dan kulit yang kuning langsat. Cantiknya alami, tak seperti wanita – wanita kota yang melakukan perawatan mahal bahkan ada yang sampai operasi plastik demi kecantikan.
Istrinya cantik namun mengapa Waldi tak kunjung menyentuh?
Entahlah, Waldi merasa takut suatu saat Karmila akan pergi meninggalkannya bila tahu sepenuhnya kekejaman Waldi di luar sana.
Bersentuhan diantara mereka hanya terjadi seperti sekarang ini bila Waldi terluka dan Karmila membantu merawat lukanya, atau tak sengaja bersentuhan bila sedang di dapur saat Karmila melayani Waldi dan tak sengaja tangan atau lengan mereka bersentuhan. Sentuhan selembut bulu pun mampu menimbulkan gelenyar aneh di antara suami istri itu.
Pernah suatu hari saat Karmila mencuci piring sehabis mereka makan malam, lalu dari belakang Waldi mengangsur gelas bekas minumnya, tak sengaja atau mungkin disengaja bahu kiri Karmila menyentuh dada sebelah kanan Waldi dan sukses membuat Karmila menggigit bibirnya dengan mata terpejam sesaat.
“Mau aku ambilin makan?” Karmila merapihkan kembali obat merah dan kain kasa yang dipakai tadi.
“Kamu masak apa?” jarang sekali sebenarnya Waldi menanyainya.
“Tadi mama Ranti datang, kami masak nasi uduk dan ayam goreng kecap mas, mama bilang itu makanan kesukaan mas.”
Waldi tersenyum mendengarnya.
“Tolong bikinin teh hangat saja.”
Wajah Karmila terlihat kecewa namun tetap beranjak ke dapur.
--
Karmila meletakkan segelas sedang teh hangat yang tak terlalu manis di hadapan Waldi kemudian berlalu begitu saja kembali ke dapur.
Waldi yang heran dengan sikap tak sopan Karmila, malah diam – diam menyusul Karmila ke dapur.
“sial.” Gumam Waldi.
Dilihatnya Karmila kembali memasukkan makanan yang sudah ditata di meja makan ke dalam lemari makan.
Terlihat raut wajah yang kecewa bahkan hampir menangis dari wanita itu.
Tentu saja, Karmila dan mertuanya yang sedari pagi memasak dan mempersiapkan semua berharap sang suami akan pulang makan siang, namun saat di telepon tadi bilangnya tak sempat pulang karna pekerjaan yang banyak.
Mama Ranti yang memutuskan pulang di jam dua siang tadi sempat menghiburnya.
“Biar Waldi makan kalau pulang kerja sore atau malam Kar.” Ucap mertuanya itu.
“Iya ma.”
“Mama nggak bisa lama – lama, mama masih harus ke butik, ada produk baru yang masuk hari ini.”
Karmila mengantarkan mama mertuanya itu ke depan, mencium tangan beliau sebelum masuk kedalam mobil. Tadi pak Sarmidi yang mengantarkan, sopir pribadi keluarga mama Ranti sejak sepuluh tahun lalu.
Namun kenyataan, Waldi bukan pulang sore atau awal malam, namun pulang di dini hari dengan luka – luka di tangan dan memar sedikit di wajah tampannya.
“Saya tidak tahu kalau kamu sudah siapin semua, besok pagi saya akan makan.” Suara Waldi terdengar bersalah.
Karmila diam tak menanggapi, tak seperti seperti biasanya.
Setelah mencuci gelas kosong bekas minumnya, Karmila beranjak ke kamarnya tanpa memperdulikan Waldi yang menatapnya heran.
Rumah milik Waldi ini memiliki tiga buah kamar. Satu diatas sebagai kamar utama dan dua dibawah, satunya kamar tamu dan satunya lagi di bagian belakang tak jauh dari dapur dengan ukuran yang lebih kecil. Di kamar inilah Karmila menyimpan pakaian dan barang – barangnya yang tak seberapa. Di meja kecil dekat lemari pakaian hanya ada pembersih wajah, body lotion dan parfum miliknya. Perlengkapannya tak banyak, tak membuat mertuanya curiga. Bila ditanya pun mengapa dirinya sering masuk ke kamar belakang, Karmila akan menjawab dirinya senang sholat disitu sebab sejuk karna dekat dengan taman di samping rumah, bila jendelanya di buka akan tercium bau bunga kenanga yang ditanam mertuanya pada pot – pot bunga yang berjejer rapi.
Rumah ini adalah hadiah pernikahan mereka dari mama Ranti yang beliau persiapkan dari jauh hari.
Karmila masuk ke kamar mandi yang berada tepat di samping kamar yang ditempatinya. membersihkan diri dan menggosok gigi, setelahnya kembali masuk ke kamar, mengganti gamisnya dengan baju tidur berwarna hitam pemberian mertuanya, memadamkan lampu lalu naik ke kasur dan menarik selimut.
Tak dihiraukannya panggilan Waldi dari luar.
Air mata gadis kampung ini menganak sungai.