Namaku Kira. Aku adalah seorang pelajar. Orang-orang mengatakan bahwa aku adalah anak rajin, pintar, bijak dan ambisius terhadap sesuatu. Mereka mengatakan bahwa aku anak yang baik dan suka membantu orang lain. Aku juga sudah dikenal oleh semua siswa di sekolah.
Aku lahir di keluarga yang harmonis. Ayahku adalah seorang PNS dan ibuku seorang dokter di rumah sakit ternama. Ayah dan ibuku adalah orang yang sangat tegas terhadap diri mereka. Jika ingin mendapatkan sesuatu, mereka hanya mengandalkan diri mereka. Mereka tidak menginginkan bantuan dari orang lain. Mereka sangat keras terhadap diri mereka sendiri.
Orang lain selalu ingin menjadi diriku. Mereka mengatakan bahwa ingin lahir di keluarga yang rukun seperti kami. Mereka menganggap bahwa lahir di keluarga ini adalah hal yang paling membahagiakan. Mereka hanya memandang dari satu sudut pandang saja. Tetapi mengapa mereka tidak pernah memandang dari sudut pandang “Si Anak”?
Orang tuaku keras pada diri dan juga anak mereka. Nilaiku bagus, perilakuku baik, parasku indah, itulah yang orang lain lihat. Namun di balik itu semua, hanya ada seorang anak yang berusaha sendirian. Orang tuaku adalah orang yang selalu menuntut nilai. Mereka hanya memikirkan nilaiku saja.
Hari ini adalah penerimaan hasil belajar siswa di sekolahku. Biasanya, ibuku yang akan menerimanya ke sekolah. Tapi karena beliau sedang ada urusan, ayahku lah yang mengambilnya.
Pada saat ini, aku dan ayahku sedang duduk di dalam kelasku untuk menunggu giliran agar guru memanggil namaku. Aku khawatir. Ini pertama kalinya aku cemas dengan nilaiku. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, “apa yang akan terjadi? Berapa nilaiku? Bagaimana usahaku selama ini? Apa masih kurang? Kapan aku istirahat? Aku ingin istirahat. Jika bisa, aku ingin tidur selamanya saja. Nyebelin.”
Saat aku sedang melamunkan hal itu, guru pun memanggil namaku. Aku beranjak dari kursi itu dan duduk di depan pak guru. Ayah duduk di sebelah kananku.
“Selamat pagi, Pak Kira.” Sapa guru itu pada ayahku sambil berjabat tangan. Ayahku hanya menjawab dengan anggukan kepala. Dia pendiam dan sangat tenang, seperti biasanya.
“Kira, nilaimu sudah bagus dan memiliki peningkatan dari semester sebelumnya.” Ucap pak guru sambil menoleh ke arahku.
“Namun…” Pak guru melihatku seperti ingin meminta maaf. Kenapa? Apa yang terjadi?
“Namun sayangnya nilai teman kamu lebih tinggi dari nilaimu. Maka dengan itu kamu mendapat ranking 3. Itu udah bagus kok. Kamu bisa tingkatkan lagi nilaimu di semester depan, ya? Gapapa ya, tetap semangat belajarnya.” Tutur pak guru dengan lembut.
“Baik, Pak.” Jawabku dengan singkat. Kali ini aku benar-benar tak tahu ingin mengatakan apa.
Setelah selesai berbincang-bincang, kami langsung pulang menuju rumah. Ayah tak mengatakan apa-apa. Ayah hanya diam dan tenang seperti tadi. Wajahnya tampak biasa saja. Tapi aura tekanannya luar biasa. Aura yang mengatakan padaku kalau ia benar-benar marah. Sangat marah. Ayah hanya diam dan sedang menyetir mobil. Namun jika dilihat dengan teliti, mata ayah sangat menggambarkan kemarahannya.
Setelah melihat mata ayah, aku langsung melihat ke arah jendela. Aku melihat banyak tumbuhan.Rumput, bunga, pohon, semuanya tampak indah. Sangat indah.
Aku suka tumbuhan dan juga hewan. Aku menyukai alam. Saat merasakan kehampaan, biasanya aku akan berbicara dengan alam. Jika aku mencurahkan isi hatiku, mereka seperti mendengarkanku. Rencanaku, setelah sampai menuju rumah, aku akan pergi ke luar rumah untuk melihat-lihat. Tapi itu semua tidak berjalan dengan lancar.
Setelah sampai di rumah, ayah mengatakan bahwa aku tidak boleh kemana-mana dulu. Ia mengambil Handphone dari kantung celananya. Ia sepertinya menelepon ibu. Aku sedikit mendengar pembicaraan ayah dengan ibu. Ayah mengatakan pada ibu bahwa ia harus cepat pulang. Sepertinya ayah ingin menceritakan nilai rapor ku pada ibu. Kami pun menunggu ibu agar cepat pulang.
Aku masuk ke kamarku. Sembari menunggu ibu pulang, aku membaca komik yang baru-baru ini sudah rilis. Aku suka komik. Biasanya aku membaca komik di Handphone atau di beli langsung dari toko buku. Di sekolah jika lama pulang, biasanya aku menyempatkan diri ke perpustakaan untuk membaca komik. Tetapi komik yang ada di perpustakaan adalah komik-komik lama.
Aku mendengar pintu masuk di depan sudah terbuka. Itu artinya ibu sudah pulang. Aku tidak mengerti apakah ia sudah selesai dengan urusannya atau malah meninggalkannya hanya untuk nilai raporku. Anehnya, mengapa ayah dengan santainya menelepon ibu saat ia ada urusan? Bagaimana jika urusan ibu itu penting? Membingungkan.
Aku mendengar suara langkah ibu. Mungkin ia ingin langsung berbicara dengan ayah. Aku lanjut membaca komik sambil memikirkan hal-hal yang tidak penting. “Bagaimana jika aku dibuang?” Pikiran yang tidak penting selalu menghantuiku. Aku membaca komik selama 45 menit sambil memikirkan hal itu.
Tiba-tiba aku mencium harum yang familiar. Itu seperti makanan kesukaanku. Rendang. “Iya, itu rendang!” Aku mengucapkannya dengan lantang. Aku beranjak dari tempat tidurku. Saat ingin membuka pintu, aku baru sadar sesuatu. Ibu memasak? Untuk apa?
Biasanya jika mendapat nilai buruk, aku hanya mendengar teriakan saja dari luar kamarku. Tapi ibu malah memasak? Dan juga yang ia masak adalah makanan kesukaanku? Tapi biarlah, aku tidak peduli. Pikiranku selalu saja memikirkan hal yang tidak-tidak.
Aku membuka pintu kamarku dan langsung menuju ruang makan. Saat disana, aku sudah melihat ayah yang sedang membaca koran sambil merokok. Sepertinya itu artikel terbaru dari dunia politik yang tidak jelas itu. Aku tak suka alam politik. Entah itu politisi atau pun ilmu politiknya. Menyebalkan!
Tampak juga ibu yang sedang mempersiapkan makanan. Mereka seperti menunggu ku mencium aroma makan itu agar segera cepat menuju ruang makan. Tampaknya rencana mereka ampuh.
“Yuk kita makan sama dulu!” Ibu mengatakannya dengan semangat. Padahal hari ini tidak menyenangkan, mengapa ia sangat semangat? Aku yakin, ia pasti sudah dengar cerita dari ayah. Tapi dia tetap saja tersenyum seperti biasanya.
Aku pun langsung duduk di sebelah kanan ibu dan berseberangan dari tempat duduk ayah. Ibu mengambil piringku dan menaruh nasi, lauk dan sayur di atasnya. Masih tak ada yang ingin membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Setelah ibu selesai mempersiapkan makanan, kami pun berdoa. Ayah sudah menutup matanya sedangkan ibu menoleh padaku agar aku yang memimpin doa. Aku hanya mengiyakannya. Aku berdoa dengan lancar tanpa terbata-bata. Aku tidak gugup ataupun takut terhadap nilai rapor. Yang ku tahu saat ini adalah makanan di depanku sedang menungguku. Setelah selesai, ayah langsung mengomentari doa ku.
“Kenapa ga di doain nilainya juga biar lebih bagus?” Kata ayah. Aku tak lupa dengan nilai raporku, aku hanya memikirkan apa yang di depanku.
Ibu langsung memotong komentar ayahku, “Udah, nanti dulu bicaranya. Mending kita makan dulu.” Ibuku lembut seperti biasanya.
Setelah kami makan, aku membantu ibu membersihkan meja makan. Aku mengambil piring yang kotor, lalu mencucinya. Aku melakukannya dengan lambat, berharap agar mereka tak membahas nilai raporku. Berharap agar ayahku langsung pergi menuju kamarnya dan tidur. Namun kenyataan berkata lain.
Setelah selesai cuci piring, ibu mengatakan agar aku duduk sebentar saja. Sudah kelihatan jelas bahwa mereka ingin membahas nilaiku.
“Kenapa tak dapat ranking satu? Padahal itu seharusnya hal yang mudah.” Ayah langsung mengucakannya setelah aku baru saja duduk di kursi.
“Kau selalu saja membaca komik dan bermain game, makanya nilaimu turun!” Suara ayah mulai meninggi. Ibu tampak diam saja. Ia seperti tak tahu ingin berkata apa. Aku sudah biasa mendengar hal seperti ini. Tak sering juga, sih. Tapi jika terjadi hal seperti ini, aku hanya akan mendengar saja.
“Apa tidak bisa kau tingkatkan jam belajarmu? Kurangi membaca komik dan bermain game, itu tidak penting.” Jujur, aku sedikit kesal dengan perkataannya itu.
“Itu benar, Nak. Kamu boleh membaca komik tapi kamu harus tingkatkan lagi nilaimu.” Tutur ibu. Jika ibu menasihatiku, aku masih terima. Jika ayah yang menasihatiku, rasanya hatiku ingin berteriak dan mengatakan padanya bahwa aku tak suka caranya menasihatiku.
“Hari ini, kau harus belajar seharian. Tak boleh membaca komik ataupun bermain game. Jika tidak, ayah akan bakar semuanya. Tingkatkan lagi nilaimu itu.” Suara ayah meninggi kembali. Kali ini, aku benar-benar tak tahan.
“Apaan, sih?” Aku langsung berdiri sambil memukul meja. Mereka tampak terkejut dengan pukulanku itu.
“Paling tidak aku udah berusaha, nilaiku juga udah naik dari hasil dulu. Kasih semangat, kek! Biasanya orang tua itu ngasih motivasi, bukan malah ngejatuhin anaknya gini!” Aku berteriak. Aku melihat ibu yang sangat terkejut dengan apa yang kukatakan.
Aku langsung pergi dari ruang makan itu dan meninggalkan mereka berdua di sana. Aku keluar dari rumah dan pergi menuju taman. Taman yang memiliki satu pohon di tengah-tengahnya. Aku berlari sangat cepat menuju taman itu.
Sesampainya di taman, aku langsung duduk di bawah pohon itu. Jika dilihat dari luar, pohon ini tampak seperti jantung taman. Jika ia tidak ada, maka taman ini tampak mati.
Aku memikirkan lagi hal yang sudah terjadi hari ini. Mulai dari raporku sampai aku yang berteriak pada kedua orang tuaku. Penyesalan yang datang tak menentu.
Aku melihat rumput yang melambai-lambai. Rumput-rumput itu seperti ingin memberitahuku tentang sesuatu. Mungkin mereka ingin mengingatkanku agar tidak bersedih. Hari ini burung-burung juga bernyanyi. Mereka seperti ingin menghiburku agar jangan terlarut di dalam suatu ruangan gelap. Tiba-tiba saja air mataku keluar tanpa kusadari. Kali ini, aku benar-benar ingin menangis dan mengeluarkan semua bebanku. Biasanya aku akan menahan tangisanku karena menangis itu membuat energiku terkuras. Tapi kali ini, aku tak bisa berhenti menangis.
“Kenapa nangis? Nangis di taman gini, dilihatin orang-orang. Aneh tau.” Ucap seseorang yang tak ku kenal suaranya sedang jongkok di hadapanku. Aku tak sadar dia sedang datang. Saat aku melihat ke arah depan, aku berpikir bahwa ia seperti anak seumuranku. Ku tatap matanya, terang. Warna matanya cokelat terang. Rambutnya juga bergelombang, walau agak panjang, sih.
“Apa kau bisa berhenti melihatku seperti itu? Kau seperti anak yang genit melihatku dengan teliti seperti itu.” Katanya dengan sedikit tatapan jijik padaku. Aku tak marah. Aku tau dia hanya bercanda.
“Kenalin, namaku Liam. Kamu Kira, kan? Menangis di taman begini ga enak. Kegilaanmu benar-benar ada dari kau lahir sampai remaja ya.” What? Gimana dia bisa tau namaku? Dia juga sangat santai mengatakan ejekan itu denganku. Sepertinya kepalanya ingin dipukul sekali.
“Aku lagi ga pengen berantem. Lagian kamu siapa, sih? Ga usah ikut campur sama permasalahan orang”
“Aku tau masalahmu kok Kamu capek, kan? Ga masalah. Capek itu hal yang lumrah. Jika kau tak capek, itu hal yang tak wajar. Menangis juga ga masalah kok, itu kan ciri manusia. Kalau kamu ga menangis, itu artinya kamu bukan manusia.” Ucapnya. Sepertinya dia ingin menghiburku, tapi dengan cara yang berbeda. Dan juga, bagaimana dia bisa tau masalahku? Siapa dia?
“Kalau kau capek, istirahatlah. Jangan pedulikan apa kata orang padamu, termasuk orang tuamu. Dengarkan nasihat dan saran mereka. Jika tak sanggup, tak usah lakukan. Kau juga manusia, layak mendapatkan penghargaan. Aku tak tau bagaimana perasaanmu saat ini. Entah itu sedih, kecewa, marah, atau yang lain. Atau malah itu bercampur aduk. Tapi aku hanya ingin mengatakan ini. Terkadang kita menang, terkadang kita kalah, terkadang kita belajar.” Tuturnya dengan panjang. Ini pertama kalinya aku mendengar seorang laki-laki dapat berbicara dengan panjang.
“Keluarkan semuanya hari ini. Jangan tersesat dalam pikiranmu sendiri.” Ucapnya sambil berdiri. Dia pun langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa. Sebenarnya aku ingin bertanya tentang siapa dia. Tapi tak ada satu kata pun terucap dari mulutku.
Dia mengatakan hal yang benar, bahwa aku tak bisa hanya bersedih seperti ini saja. Menangis tak akan mengubah apapun. Aku pun berdiri dan mengusap kedua mataku. Aku berjalan menuju rumah sambil melihat awan di langit. Sangat tenang.
Sesampainya di rumah, aku pun membuka pintu. Tak ada ayah dan ibu. Biasanya mereka akan menungguku di ruang tamu atau tengah. Tapi setelah memeriksa semua ruangan, mereka tidak ada. Aku tak tau lagi harus berbuat apa. Aku pergi menuju kamarku dan menemukan sesuatu. Sesuatu yang membuatku ingin menangis kembali.
Itu sepucuk surat permintaan maaf dari orang tuaku yang ditempel pada pintu kamarku. Pertama kalinya mereka mengatakan maaf padaku.
“Maaf ya, Nak. Kami hanya bisa memaksakan kehendak kami. Ayah dan Ibu sedang berada di luar, kita bicarain baik-baik nanti ya. Jika ingin makan, ada mi goreng di meja makan. Makan, ya.” Di sepucuk surat itu terdapat sebuah gambar bunga dan tiga orang yang saling bergandengan tangan. Aku pun mengambil surat itu dari pintu dan membacanya kembali sambil berbaring.
“Gambar ibu jelek, hehe. Maaf ya, Ayah, Ibu.” Tanpa sadar aku pun langsung tertidur setelah membaca surat itu.