Namanya Time, anak kecil yang hidup sendirian di pedesaan.
Suatu ketika ia menemukan mesin waktu, mesin waktu tua yang tiba-tiba muncul di pekarangan belakang rumahnya.
“Apa ini?” ujar Time kebingungan. Time mendekat, mencoba melihat lebih jelas.
Tanpa disadari, jaraknya dengan sebuah kotak yang tampak seperti pintu masuk mesin waktu itu tinggal 1 meter saja.
Tangan Time terulur pada tombol merah disamping kotak yang berbentuk pintu. Dengan setengah sadar, ia menekan tombol tersebut. Tak lama pintu terbuka dan ia melangkah masuk dan pintu secara otomatis menutup.
“Woahh!” Time terkagum-kagum dengan mesin-mesin kontrol acak yang terpasang di seluruh ruangan.
“Selamat datang, pemilik baru,” suara yang terdengar kaku menyapa telinga Time.
“Si-siapa?” kepala Time menoleh ke segala arah, matanya mencari-cari sumber suara yang terdengar kaku dan robotik itu.
“Saya Hams, pengelola virtual mesin H-0220”
Time semakin tidak mengerti. Suara itu malah semakin menggema di seluruh ruangan.
“Ugh, di mana kamu? Aku hanya bisa mendengar suara mu!”
Tiba-tiba layar monitor di depan Time menyala. Layar itu memunculkan sebuah grafik hologram berbentuk lingkaran.
“Saya di sini,” Time bisa melihat garis lingkaran hologram itu mulai mencuat-cuat saat suara tersebut terdengar.
Tanpa berpikir lama, Time menyimpulkan mungkin mesin ini adalah robot dan yang bersuara adalah pengendali robot ini secara software.
“Kenapa mesinmu bisa sampai di sini?” Tanya Time.
“Saya tidak tahu, ini pilihan Master H,”
“Master H?”
“Benar Pemilik, semua adalah kehendak Master,”
Semakin Time menuntut penjelasan, semakin ia kebingungan. Ia berhenti, memandang mesin-mesin dan tombol-tombol unik di sekeliling ruangan yang mana ruangannya berbentuk bundar.
Ada beberapa tombol dan tulisan yang menarik mata Time. ‘Masa Depan’ atau ‘Masa Lalu’.
“Apa ini mesin waktu?” tanya Time langsung.
“Benar Pemilik, ini adalah mesin waktu H-0220,”
Time merenung sebentar. Ia memandang lagi tombol di depannya.
“Apa Pemilik sudah memutuskan ingin pergi ke mana?”
“Apa?” tanya Time kebingungan. Apa maksudnya ia ditawari untuk pergi dengan mesin waktu?
“Apa Pemilik tidak menginginkannya?”
Time terhenyak sebentar.
“Bukannya aku tidak mau, tapi... –“
Ah, benar, Time tidak punya apapun yang bisa dinanti sekarang, kehidupan monoton kesepian. Kenapa ia tidak mencoba?
“Silahkan memilih Pemilik,” ujar Hams seakan tau apa yang berada di pikiran Time.
Time memikirkan semua kemungkinan jika ia pergi ke masa depan. Belum tentu ia masih hidup di sana, belum tentu ia masih punya rumah di sini, dan belum tentu semua tidak berubah, tapi ia juga takut jika ternyata tidak ada yang berubah.
“Bolehkah aku memilih masa lalu?”
“Keinginan Pemilik adalah perintah,” ujar Hams, mesin virtual tersebut.
“Maka bawa aku ke sana, aku akan menikmati banyak waktu di masa lalu sebelum sesuatu di masa depan berakhir,”
“Tentu Pemilik, kemana kamu ingin pergi?”
“Bisakah kamu yang memutuskannya?”
“Apapun untuk Pemilik,”
Time keluar dari ruangan bundar itu menuju ke rumah dengan arahan penggunaan ruang dari Hams yang ternyata itu adalah kapsul mesin waktu.
Time mencari tas besar, menyiapkan semua yang harus dia bawa untuk pergi ke masa lalu. Setelah selesai, ia segera memasuki kapsul itu, dengan arahan Hams, ia akhirnya bisa mengendalikan mesin tersebut dan segera pergi ke masa lalu.
Pandangannya terasa kabur, kepala nya pening. Layar monitor didepannya menunjukkan hitungan mundur dari tahun ke tahun ke belakang.
Sampai akhirnya ia melihat angka itu berhenti pada angka 100 Masehi. Terpampang di depannya sebuah tulisan ‘Kekaisaran Aksum, Ethiopia’.
“Apa kita sudah sampai?” tanya Time.
Layar monitor didepannya menunjukkan gambar yang tampak seperti lukisan. Kerajaan kuno tua berdiri tegak didepannya. Bangunan-bangunan batu dengan hiruk pikuk masyarakat tampak menghidupkan tempat itu.
“Selamat datang di Kekaisaran Aksum, Pemilik, ini adalah pilihan pertama saya,” ujar Hams.
Time ragu untuk pergi keluar dari kapsul.
Apakah orang orang disana mau menerimanya?
Tapi Time tidak menyerah begitu saja. Sudah jauh-jauh dari masa depan ia datang kesini, akan sangat disayangkan jika ia tidak melihat-lihat.
“Baiklah, aku akan coba untuk turun,” ujar Time dengan nada setengah ragu.
Time mengemas barang didalam tas nya dan berjalan keluar dari kapsul. Saat ia berjalan keluar dari kapsul, kapsul itu menyusut dan berubah jadi jam tangan.
“Saya akan menyesuaikan Pemilik, kemanapun Pemilik pergi, saya akan mengikuti,” ujar Hams yang sekarang berbentuk jam.
Time merasa takjub, ia mengambil dan memakai jam tangan itu. Ia merasa Master H adalah orang yang sangat hebat.
“Mohon maaf Pemilik, Saya ingin mengingatkan sesuatu, mohon supaya tidak mengacaukan dan membuat perubahan besar di masa lalu atau akan dapat berdampak di masa depan,”
“Baiklah, aku akan berhati-hati,”
Time berjalan memasuki benteng besar yang tampak membatasi dengan daerah luar. Mungkin itu berfungsi sebagai pembatas daerah.
Pemandangan kuno menyapu pandangannya. Ia tidak bisa tidak merasa takjub. Ini hal baru untuknya.
Ia bisa melihat kedai-kedai kecil yang menjual makanan, sayuran, buah, dan banyak hal lainnya. Anak-anak bebas berlarian dengan tertawa. Semua tampak harmonis. Ini membuat hati Time menghangat.
“Nak, apa kamu baru disini?” tanya seseorang pria paruh bawa tiba-tiba.
“Iya, saya baru disini, saya ingin berkunjung dan berlibur,” ujar Time mencoba berbohong.
“Apa boleh jika saya mengantarkanmu untuk berkeliling?” tawarnya.
Time tersenyum senang, lebih aman jika ia pergi bersama penduduk asli.
“Terima kasih banyak Tuan! Saya Time,”
“Oh, senang berkenalan dengan mu Time,”
“Siapa nama anda?” tanya Time.
“Saya hanyalah rakyat biasa, para kasta rendah seperti kami tidak pantas mempunyai nama,”
Time terdiam.
Peraturan macam apa itu? Tapi Time tidak mau berpikir lebih jauh. Bagaimanapun ini kota kuno, wajar saja jika ada sesuatu seperti ini.
Pria itu mengantarkan Time berkeliling. Time mencoba berbagai macam makanan. Untungnya Hams sudah memberinya uang saku dengan mata uang Aksum yang entah Hams dapatkan dari mana.
“Kamu bisa tinggal di penginapan di tengah sana, itu penginapan yang aku rekomendasikan, selain itu disana juga tempat yang strategis,” ujar pria paruh baya itu setelah mengantarkan Time berkeliling.
“Terimakasih banyak Tuan, kamu sangat membantu ku,-“ Time merogoh sakunya “-ini, aku akan membayarmu sebagai imbalan,”
Pria paruh baya itu mengernyitkan dahinya. “Tidak apa-apa nak, saya melakukannya dengan suka rela,”
Time semakin merasa tidak enak. Ia memikirkan bagaimana caranya membalas budi.
“Emm.. Bagaimana jika aku membelikanmu makan malam, mari makan malam bersama di penginapan,”
“Eh?” Pria paruh baya itu terkejut. Ia kira Time akan menyerah.
“Bagaimana Tuan?” tanya Time membuyarkan lamunan Pria paruh baya itu.
“Baiklah, rumah ku ada diujung sana, aku akan tiba di penginapan saat matahari terbenam,”
Time tersenyum senang. “Terimakasih banyak telah menerima tawaran ku,”
Pria paruh baya itu pamit pergi. Ia berjalan lurus dan belok ke gang-gang sempit di sana.
“Anak baru yang menarik, sudah jelas ia asing dengan tempat ini,” Pria paruh baya tadi berubah menjadi seorang anak laki-laki yang tampak seumuran dengan Time.
“Kleiz, Fiuz,” sembari tersenyum, ia menggumamkan sebuah kata.
Dua orang setinggi 5 kaki muncul dihadapan anak itu.
“Siap menerima perintahmu, Putra Mahkota,” ujar mereka berdua.
“Kleiz, kamu awasi anak laki-laki tadi, mungkin dia ancaman bagi kerajaan,”
Kleiz mengangguk.
“Semua perkataan Yang Mulia adalah perintah,” setelah itu Kleiz menghilang dari pandangan.
“Ada kabar apa dari istana pusat?” tanya laki-laki itu pada Fiuz.
“Belum ada pergerakan apapun Yang Mulia,”
“Baiklah, kamu bisa kembali,”
Dalam sekejap, Fiuz juga menghilang dari pandangan.
Pandangan tegas anak laki-laki tergantikan oleh pandangan kesepian. Ia berjalan menjauh keluar dari gang sempit itu.
Sementara itu disisi lain, Time sudah mendapatkan kamar penginapannya. Ia berguling di atas kasur yang agak keras tapi paling tidak itu lebih baik daripada di rumahnya.
“Hams, aku senang,” ujar Time tiba-tiba.
“Jika Pemilik senang, maka saya juga senang,”
“Hehe, pergi ke masa lalu juga tidak buruk, ini seperti bertamasya,”
Setelah puas tersenyum, ia bangkit dari kasurnya, mencoba mencari informasi yang mungkin bisa ia gunakan di masa depan.
“Menurutmu siapa yang akan memenangkan perseteruan tahta?” bisik seseorang.
“Bukankah normalnya itu adalah Putra Mahkota, Pangeran Pertama Anxie?” ujar seorang lainnya.
“Tapi ia adalah anak dari mendiang permaisuri sebelumnya, sekarang dominasi keluarga kerajaan dipegang permaisuri yang baru,”
“Lalu? Putra Mahkota tetap lah memegang tahta, Baginda sudah menetapkannya sejak lama,”
“Pemberontakan bisa terjadi kapan saja,”
“HUSSTT, Jaga mulut kalian, jika ada yang mendengarnya, kau bisa saja dipenggal,” ujar seorang lainnya yang baru saja datang.
Sayangnya Time mendengar semuanya. Yang bisa ia tangkap adalah Baginda Kaisar Kerajaan Aksum punya permaisuri pertama yang sudah lama meninggal dan anaknya menjadi Putra Mahkota, sementara Permaisuri yang baru mungkin membenci Permaisuri sebelumnya.
Tapi Time tidak pikir panjang. Lagipula ia hanya sebentar disini. Untuk apa ia pusing-pusing.
Tak terasa, matahari sudah mulai terbenam. Time menanti datangnya Pria paruh baya itu. Tapi hari semakin gelap dan ia tak melihat tanda-tanda kedatangan Pria itu.
Time memutuskan untuk pergi langsung kerumah Pria paruh baya itu. Ia masih ingat jika rumahnya ada diujung jalan. Walau Time tidak tahu ujung jalan mana, ia tetap pergi.
“Pemilik, hari sudah gelap, ada baiknya Pemilik kembali,” peringat Hams.
“Tidak, aku penasaran,”
Time berjalan semakin jauh, mencari ujung jalan. Hingga akhirnya ia sampai di rumah yang tampak seperti rumah terakhir. Ia segera mengetuk pintunya.
Tok... Tok... Tok..
Time tidak mendengar jawaban. Ia mengulangi ketukannya beberapa kali tapi tidak ada tanda-tanda jawaban dari dalam.
Time memutuskan mencari jalan belakang. Tapi saat ia mencari jalan belakang ia melihat sebuah danau di belakang rumah itu. Ia terkejut. Pasalnya itu adalah pemandangan yang berbeda. Bagaimana bisa di belakang rumah orang ada danau dan pepohonan yang tampak seperti hutan. Ini seperti di tempat yang berbeda.
“Krskskrskrskskrkrs,”
Time mendengar suara, seperti gesekan dedaunan di semak-semak.
“Hams, apa kamu tidak bisa melakukan sesuatu tentang ini?”
“Saya hanyalah mesin waktu,”
“Huft...,” Time kebingungan sekarang.
Bagaimana jika itu adalah Pria paruh baya tadi. Pasti ada alasan kenapa Pria paruh baya itu tidak datang menemui dia.
Time memberanikan diri untuk melihat apa yang ada dibalik semak-semak itu.
Semakin ia berjalan, semakin keras bunyinya dan semakin ia sadar itu rintihan kesakitan. Time panik dan mulai berlari, memikirkan kemungkinan bahwa Pria paruh baya tadi terluka.
“Tua.. –“ Time membatu.
Bukannya Pria paruh baya, tapi malah anak seumuran dia yang terluka.
“Hei, kamu baik-baik saja?” tanya Time. Ia melihat darah di lengan kiri dan kaki kanan anak itu.
“Apa kau buta? Kau bisa lihat sendiri kan?” ujar anak itu yang masih menunduk kesakitan tanpa melihat siapa yang bertanya.
“Aku akan mencari obat,” tanpa pikir panjang, Time berlari meninggalkan anak kecil itu.
“HEI!” teriak anak itu tapi sayang Time sudah menjauh.
Setelah beberapa saat, anak itu menyadari bahwa ia mungkin mengenal anak yang baru saja menanyai nya.
“Itu Time?”
Selang beberapa saat, Time kembali membawa tas P3K yang ia punya.
Ia membersihkan darah di kaki anak itu dengan alkohol.
“Ssssss, sakit bodoh, apa kamu tidak bisa mengobati dengan benar?!” anak itu mengernyit kesakitan ketika alkohol menyapu pinggiran luka nya.
“Hei, aku kan sudah mau mengobatimu, bersyukurlah sedikit!” Time mendengus kesal dan dengan sengaja menekan luka milik anak itu.
“SSSHH, HEII!”
Time mengabaikan teriakan anak itu dan terus mengobati lukanya. Setelah menorehkan obat merah di lukanya, ia membalutnya dengan perban kasa.
Sekarang luka di kaki anak itu sudah teratasi dengan benar. Sekarang Time menatap lengan milik anak itu yang terluka.
Seperti anak itu menyadari bahwa Time ingin mengobati lukanya di lengan, ia berkata, “Tidak perlu, biar aku sendiri,”
Anak itu mengambil barang yang Time gunakan untuk mengatasi lukanya. Ia sudah mengamati bagaimana cara mengobati luka dengan barang asing yang pertama kali ia lihat itu.
“Memangnya kau bisa melakukannya?” ujar Time sedikit remeh.
“Hah? Kau meremehkan ku?”
“Aku tidak,”
“Kau iya,”
“Jika kau menganggapnya begitu, maka begitu,” Time mengangkat bahu acuh.
“Kau siala!-“ dengan cepat Time menekan luka di kaki anak tadi, “AH! HEII,”
Time merebut kotak P3K dan segera memaksa mengobati luka anak itu.
“Siapa namamu?” tanya Time.
“An..-“ kalimatnya terhenti. Memikirkan bagaimana ia akan memperkenalkan diri.
“An?”
“Anxie,” jawab anak bernama Anxie itu. Ia berpikir tidak mungkin Time mengenali identitasnya sebagai Putra Mahkota hanya dari nama. Bagaimanapun Time orang baru.
Tapi Anxie tidak tahu bahwa Time sudah menguping pembicaraan para orang dewasa di penginapan.
“Anxie? Namanya tidak asing? Seingatku itu adalah nama orang yang punya kedudukan Putra Mahkota disini,” batin Time.
Tapi Time juga berpikir tidak mungkin seorang pangeran, terlebih Putra Mahkota terlantar disini. Tapi itu juga jadi mungkin mengingat Putra Mahkota tidak punya ibu lagi dan di intimidasi dengan permaisuri baru. Apa ‘Putra Mahkota’ hanya gelar tapi kehidupannya di istana sangat menyedihkan?
Time menatap Anxie dengan tatapan sedih dan mengasihani untuk sesaat.
“HEI! JANGAN MENATAPKU DENGAN TATAPAN SEPERTI ITU!” ujar Anxie berkata marah melihat tatapan Time.
“Huh? Tatapan apa?”
“Tatapan yang- ugh! Sudahlah, cepat selesaikan masalah di lenganku,” ujar Anxie kesal. Menoleh tak acuh kearah lain.
Anak kecil pun tetap anak kecil. Tak peduli seberapa pandai ia berakting, menyamar menjadi orang tua, menjadi kejam, menjadi tegas. Ia masihlah anak kecil.
“Yayaya, dasar cerewet,” Time merengut kesal.
Apa mungkin anak kecil yang banyak omelnya ini jadi Putra Mahkota? Sangat meragukan.
Kedua anak itu menunjukkan percikan permusuhan.
Setelah Time selesai dengan luka dilengan Anxie, Time mengemas semua barang P3K nya.
“Hei, siapa namamu?” tanya Anxie sebagai formalitas supaya tidak mencurigakan.
“Time,” jawabnya singkat.
Tiba-tiba Time teringat tujuan awalnya ia datang ke sini.
“Apa kau mengenal pria paruh baya yang tinggal disini?” tanya Time.
Anxie membeku. Bagaimana ia harus menjawab? Ia sendirilah Pria paruh baya itu.
“Nnng.. Pria itu pergi keluar kota tadi sore... J-jadi, yah tidak ada,” Anxie berharap kebohongannya berhasil.
“Yah.. Kenapa mendadak?”
“Aku juga tidak tahu, A-aku hanya sekedar melihatnya saat ia berkata pada tetangga,”
Time mencoba mencerna semuanya. Intinya bahwa pria yang menolongnya sudah pergi keluar kota. Dan masalah lain adalah identitas anak bernama Anxie didepannya. Apa dia benar-benar Putra Mahkota?
“K-kau terluka seperti ini, bagaimana bisa kau terluka?” tanya Time dengan kaku.
“J-jatuh(?)” jawab Anxie gugup. Mendadak kecerdasannya menurun saat berhadapan dengan Time.
Time tidak percaya. Jatuh macam apa yang menyebabkan luka gores besar di kaki dan luka tusuk di lengan?
“Hei, jika memang ingin berbohong, berbohonglah dengan benar, Putra Mahkota,”
Anxie membeku.
Apa telinganya salah mendengar?
Bagaimana bisa Time tahu identitasnya?
“Hei, ekspresimu bisa santai saja?” ujar Time setelah melihat ekspresi Anxie yang tampak seperti habis melihat hantu.
“H-HAH?! SIAPA YANG PUTRA MAHKOTA, AKU BUKAN!”
“Ya sudah kalau bukan, kenapa harus teriak?”
“Eh?” Anxie merasa terbodohi sekarang.
Muka Anxie memerah sekarang. Ia merasa sedikit terhina. Sedangkan disisi lain Time terkikik didalam hatinya. Kenapa Putra Mahkota negara ini sangat mudah dibodohi.
“Huh! Pergi sana, aku akan membantu diriku setelah ini!” ujar Anxie dengan kesal.
Time mendengus, merasa konyol dengan pernyataan Anxie, “Memangnya kau bisa berdiri?”
“Hah?! Kau meremehkan ku?”
Anxie mau mencoba bangun dengan bantuan pohon yang menjadi sandarannya. Ia menopang tubuhnya dengan satu kaki nya yang tidak terluka dan tangannya berusaha memegang batang pohon.
Sampai ia hampir berhasil, Anxie malah goyah.
“AH!” Anxie yang hampir terjatuh berhasil di topang Time dengan tangan Time memegang tangan Anxie dan berusaha mendudukkan Anxie kembali.
“Mana yang bisa berdiri? Jangankan berdiri, kau malah goyah sebelum bisa berdiri tegak,”
Anxie yang kelas akhirnya memutuskan tidak berbicara lagi.
Ia kesal. Sedangkan Time menatap bahwa hari mulai gelap. Ia belum makan karena menunggu Pria paruh baya tadi.
“Hei, aku akan pergi mengambil makanan, jangan kemana-mana,” ujar Time lalu melesat pergi.
“Huh! Bukankah tadi katanya aku tidak bisa berdiri, bagaimana bisa aku pergi kemana-mana? Dasar anak aneh,”
Tak lama, Time kembali sembari terengah-engah. Ia membawa bungkusan dan sebuah kendi air.
“Kenapa berlari-lari, bodoh! Tengah malam begini, bagaimana jika kau tersandung?” dengus Anxie.
“Apa kau khawatir?” tanya Time sembari duduk dan membuka bungkusan makanannya.
“Huh! Siapa yang khawatir, aku hanya takut kau malah menumpahkan makanannya,”
“Yayaya, aku atau makanan yang mengobati luka mu tadi?” gumam Anxie.
Anxie memisahkan makanan di dua wadah. Menyodorkan satu untuk Anxie.
“Kau bisa makan kan?”
“Aku terluka di tangan kiri bukan di kedua tanganku!”
Anxie mengambil roti dan memakannya. Ia menatap Time menelisik. Time adalah orang asing, tapi ia bisa tahu bahwa dirinya adalah Putra Mahkota dari namanya saja. Tak elak bahwa Anxie mencurigainya.
“Hei orang asing, kenapa kau berada di Aksum?” tanya Anxie terus terang. Jika Time adalah bahaya yang mengancam, ia akan meminta Fiuz untuk menyelesaikannya.
“Aku adalah pengunjung, anggap saja aku turis asing,” ujar Time tanpa gugup. Ia hanya tinggal mengulangi apa yang ia katakan pada Pria paruh baya tadi.
Sedangkan Anxie tidak puas. Ini sama saja ia menerima jawaban yang sama dua kali.
Turis asing?
Aksum adalah Kerajaan paling makmur dan canggih. Dari mana datangnya alat-alat pengobatan aneh yang Time gunakan. Ia sulit percaya bahwa ada wilayah lain yang lebih maju dari Aksum.
“Jika kau macam-macam, aku tidak akan segan-segan, mengerti!?” ancam Anxie.
“Hmm..” gumam Time.
Sekarang Time memikirkan apa langkah selanjutnya yang harus ia lakukan setelah membawa makanan dan minuman. Ia menatap Anxie yang pasti sulit berjalan, tapi tidak mungkin ia membiarkan Anxie untuk berdiam semalaman di sini.
“Hei, biarkan aku membawamu ke penginapan,” putus Time.
Anxie mengernyit kesal. Padahal ia memutuskan untuk memanggil Fiuz dan mengantarkannya pulang setelah Time pergi. Jika begini ia harus bagaimana?
“Aku bisa pergi dengan pengawalku,” ucap Anxie.
Tapi sayang Time menganggap bahwa jika Anxie pulang ke istana, ia akan terundung lagi. Bagaimana jika Anxie berbohong dan tidak ada pengawal yang menjemput. Bagaimanapun dimatanya, Anxie adalah Putra Mahkota yang terbuang dan tinggal menunggu waktu sampai gelarnya diambil.
“Kau bisa bersamaku saja,” Time dengan simpati tinggi tentu tidak bisa mengabaikannya.
Sedangkan disisi lain Anxie merasa kesal untuk yang kedua kalinya.
Kenapa Time sangat gigih. Ia hanya Time segera pergi dan ia bisa pulang ke istana. Tidak mungkin ia memanggil Fiuz terang-terangan disini.
“Ck,” decak Anxie.
Sedangkan Time sudah membereskan semua barang-barangnya dan siap membantu memapah tubuh Anxie.
Time membantu Anxie berdiri. Ia memapah Anxie berjalan kearah penginapan. Anxie juga dengan pasrah menerimanya.
Setelah setengah waktu, ia dan Anxie sampai ke penginapan. Ia mendudukkan Anxie di kasurnya. Setelah itu ia membongkar tas nya dan mencari baju ganti untuk dirinya dan Anxie.
“Hei, ganti bajulah, aku akan pergi turun mengambil air dan ganti baju,” Time memberikan baju ganti pada Anxie dan ia turun kebawah.
Setelah Time keluar, Anxie menatap baju ganti yang diberikan oleh Time. Anxie mendesah lelah. Ia tidak tau harus bagaimana. Ia sudah terlalu lelah.
Tak lama Time kembali dengan keadaan sudah berganti baju dan membawa dua gelas air. Ia memberikan salah satunya untuk Anxie.
“Apa aku akan tidur disini?” tanya Anxie setelah meminum air putih.
“Hei, mohon maaf ya Yang Mulia, rakyat jelata ini hanya bisa menyediakan tempat tidur lusuh seperti ini,”
Tampaknya Time menjadi tersinggung oleh perkataan Anxie.
“Siapa bilang aku tidak bisa tidur disini?” ujar Anxie sembari mengernyitkan dahinya.
Anxie dengan cepat dan hati-hati berbaring di tempat tidur dan mengambil bagian pojok.
Time beranjak ke kasur dan mengambil sisa tempatnya untuk tidur. Yah tempat itu cukup luas dan bisa digunakan untuk 2 sampai 3 anak kecil.
Anxie menunggu Time untuk tidur. Ia memutuskan untuk pergi saat Time tidur. Tapi sayangnya mau bagaimanapun ia adalah anak kecil. Fisiknya tidak kuat setelah semua yang terjadi. Ia akhirnya ikut tertidur melupakan semuanya.
Tanpa terasa pagi hari tiba.
Kedua anak kecil itu masih bergulung di dalam selimut. Masing-masing dari mereka sudah mengalami hari yang berat kemarin.
Time baru saja sampai dari masa depan dan tidak sengaja bertemu dengan Anxie. Sedangkan entah apa yang terjadi dengan Anxie hingga kaki dan lengannya bisa terluka.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu diketuk menyapu telinga.
Tapi tampaknya tidak satupun dari mereka yang berniat menjawab. Time semakin menenggelamkan diri dalam selimut dan Anxie berusaha menyumpal telinganya dengan bantal.
“Permisi Tuan Kecil, sudah waktunya untuk bangun,” suara salah satu pelayan terdengar.
Time yang pertama kali merespon. Ia segera bangun dan menjawab, “Iya! Kami akan segera keluar!”
Memang penginapan tersebut akan membangunkan beberapa penginap di waktu yang memang di toleransi.
Time menoleh menatap Anxie yang masih tenggelam dalam mimpi. Ia menghela nafas. Siapa yang menyangka hari pertamanya benar-benar melelahkan.
“Hei, bangun, ini sudah siang,” ujar Time membangunkan Anxie.
Anxie menggeram kesal. Siapa yang membangunkan dia sembarangan seperti ini?
“Ugh, sial, apa aku tidak bisa tidur lebih lama lagi?” ujar Anxie sembari mengucek matanya.
“Hei Tuan Pangeran! Kau kira ini dimana?”
Time mencari baju ganti untuknya yang sudah ia beli saat bersama Pria Paruh Baya kemarin.
“Cepat bangun dan ganti bajumu, aku punya urusan penting, jika kau masih mau disini, maka bayar sendiri penginapannya,”
Anxie bangun sembari menggerutu kesal.
“Yayaya, aku bangun, dasar,” Anxie beranjak perlahan dari kasur mengingat kaki dan lengannya yang masih berkedut sakit.
“Cepat mandi, lalu aku akan membalut luka mu lalu pergilah,”
“Cih, bukannya dia yang menahanku untuk tinggal semalam? Sekarang malah mengusir, dasar labil,” batin Anxie.
Anxie menyambar pakaian dari Time dan pergi berjalan keluar, lalu menutup pintu dengan kasar.
“Hei! Jika rusak kau yang harus ganti rugi!” teriak
Time.
“Halo pemilik,” suara robotic itu terdengar.
“Ah, ya, Halo Hams, kapan kita kembali? Apa hari ini memungkinkan?” tanya Time. Sudah cukup ia berada di tempat ini. Ia sudah lelah.
“Kapanpun Pemilik, jika ingin pergi sekarangpun bisa,”
“Ah, begitu ya, kalau begitu tunggu Anxie kembali, setelah mengurus dia, aku akan berkeliling pasar lalu kita pergi,”
“Sesuai keinginan Pemilik,”
Time segera keluar dan menyusul untuk mandi. Saat kembali, sudah ada Anxie yang duduk manis pinggir kasur. Nampaknya salah satu lukanya terkena air dan terasa perih.
“Hei, kau mandi atau apa? Lama sekali, cepat urus ini!”
“Hah.. Makanya berhati-hati agar lukanya tidak terkena air,” Time mengambil kotak P3K, mendekati Anxie dan mulai mengobati kakinya.
Dengan telaten ia mengobati kaki lalu tangan Anxie, tetapi baru saja ia selesai dan akan menutup kotak obat, bunyi riuh ramai terdengar.
“Ck, kenapa bising sekali,” Anxie menggerutu.
Time bangun dan berniat memeriksa. Ia membuka pintu dan pergi turun. Sampai di pertengahan tangga, ia melihat orang-orang kuat bersenjata tampak berkumpul didepan penginapan.
“Siapa orang-orang itu?” gumam Time.
Tapi ia teringat bahwa ada Anxie ada disini.
Segeralah ia kembali keatas dan mengatakannya pada Anxie.
“Hei, pengawalmu dibawah,” ucap Time.
Dahi Anxie berkerut, ia tampak berpikir keras. Time yang melihat hanya bisa diam karena tidak tau harus apa.
“Sial, nenek sihir itu pasti yang memanggil, pura-pura mencari ku untuk orang tua sialan itu,” batin Anxie.
“Aku turun, tapi kau ikut,” ujar Anxie tanpa beban.
“HAH?!” Time terkejut.
Ia memutuskan untuk pulang haru ini, kenapa Anxie malah mengajaknya pergi? Bagaimana sekarang?
“Tunggu, aku harus pergi hari ini, mana bisa aku ikut denganmu,”
“Aku bilang kau ikut maka kau ikut,”
“Hei Tuan Pangeran, kenapa kau memaksa orang? Berikan aku alasan kenapa kau mengajak orang asing ini pergi bersamamu!”
“Aku...Aku akan mengawasimu, kau mencurigakan, makanya aku memintamu ikut,”
“Hei, aku juga punya rumah untuk pulang kau tahu,”
“Aku tidak peduli,”
Tak lama bunyi derap kaki terdengar. Para prajurit sudah sampai didepan kamar.
“Salam untuk Yang Mulia Putra Mahkota!” ucap para pengawal serentak sembari berlutut.
“Ya, satu orang gendong aku dan yang lain bawa dia bersamaku dan tahan supaya tidak kabur, jangan lupa bereskan barang-barang miliknya dan bawa pergi juga”
“Baik!”
Dengan cepat para pengawal bergerak. Time kebingungan dan hanya bisa menatap Anxie kesal.
“Aishh, anak kecil ini benar-benar,” batin Time.
Pada hari itu untuk pertama kalinya Time menaiki kuda dan pergi dibawah mata orang-orang sekitar ke istana.
Sesampainya disana, Anxie meminta para pengawal untuk langsung membawa barang dan Time ke Manor miliknya.
“Hei! Dengar ya, aku mau pergi!”
“Pergi saja, kamu akan jadi buron nanti,”
Ugh..
Time ingin saja langsung pergi, tapi ia bisa jadi bisa mengubah sejarah. Melihat anak kecil didepannya adalah Putra Mahkota, dengan kekeras kepalaannya, salah-salah ia bisa jadi buron terkenal dalam sejarah tanpa kejahatan.
“Ck,” Time pergi berbalik masuk ke Manor membawa barangnya, berlagak seperti pemilik Manor.
Ia berjalan melihat beberapa pajangan dan pahatan yang tersusun. Ia merasa seperti masuk museum sekarang.
Seperti biasa, anak-anak tetaplah anak-anak. Dalam sekejap, Time lupa kemarahannya dan sibuk mengelilingi Manor.
“Bagaimana? Luar biasa bukan Manor ku?” ujar Anxie sombong.
“Mm.. Yah..”
“Sangat luar biasa untuk orang modern seperti ku, bagaimanapun ini semua barang antik dimataku,” batin Time.
Senyum Anxie melebar.
Sebenarnya ia hanya ingin Time disini untuk mempermainkannya saja. Ia bosan dan butuh hiburan. Sayangnya mungkin saat ini Anxie tidak tahu bahwa yang dirasakannya sekarang adalah perasaan yang menginginkan teman.
Jam makan siang tiba. Time turun dengan inisiatifnya sendiri. Ia mencari ruang makan dan melihat Anxie sudah duduk disana.
“Oh? Karena Manor disini sangat sepi, awalnya aku ragu siapa yang akan memasak, tapi ternyata ada juru masak disini,” Time segera duduk dan mengambil peralatan makan yang sudah disediakan.
“Hei, mana mungkin aku memasak sendiri?”
“Benar juga, anak kecil payah seperti mana bisa memasak,”
Anxie tersulut.
Kenapa Time selalu saja mengajaknya untuk bertengkar. Selagi kesal mereka tetap makan.
“Hei, memang nya kau bisa!?” tanya Anxie angkuh.
“Aku bisa, apa kau mau mencoba,” ujar Time sembari mengangkat pisau makannya.
Anxie membayangkan betapa menyeramkan Time yang sedang memegang pisau dapur sembari menatapnya dengan noda darah dari daging hewan yang akan dimasak.
“Tidak, terimakasih, aku masih mau hidup lebih lama,”
“Hah? Maksudmu makanan buatan ku akan beracun?”
“Siapa yang tahu,” Anxie mengedikkan bahunya. Time juga sudah lelah dan melanjutkan makannya.
Selesai makan, Time pergi berniat bereksplorasi lagi lebih dalam.
Sedangkan Anxie berkata ia akan pergi ke istana utama. Ia mengancam Time jika berani coba-coba pergi, maka ia benar-benar jadi buronan nanti.
“Hahh... Hams, kumohon, tidakkah kamu bisa melakukan sesuatu tentang ini?”
“Maaf Pemilik, saya hanyalah mesin waktu,” jawab Hams ‘kosong’.
“Arghh, mau sampai kapan aku disini, Tuan Pangeran itu benar-benar,” Time hanya bisa menghela nafas kesal.
Tapi di sudut hatinya, ia senang.
Untuk pertama kalinya ia bisa bergurau dengan anak seusia nya. Dimana ia dipaksa dewasa oleh keadaan, akhirnya bisa merasakan perasaan seperti anak kecil.
“Ini tidak terlalu buruk,” batin Time.
Time berjalan di halaman belakang. Sembari melamun ia sampai akhirnya tersesat tak tahu dimana.
“Ada apa dengan wajahmu Ibu?” tanya Anxie sengak. Ia juga menekankan pelafalan ‘Ibu’.
“Tidak, aku hanya bersyukur kamu bisa kembali dengan nyawa,” jawab wanita dengan pakaian yang cantik berwarna ungu.
Dan sekarang Time tanpa sengaja memergoki mereka.
“Oh benarkah, aku sangat berterimakasih, Ibu,”
“Ya, tentu saja, aku sibuk sekarang, maaf tidak bisa menemanimu,” ujar wanita itu dengan tersenyum angkuh.
“Baiklah, selamat menikmati waktumu,” jawab Anxie dengan senyum. Tapi itu tidak tampak seperti senyum tulus.
Wanita itu pergi berlalu dan Anxie mengubah raut wajahnya seketika.
“Ck, dasar nenek sihir ini, bersyukur aku kembali dengan nyawa? Aku lebih percaya sapi bisa bertelur,”
Sedangkan Time yang sedang mengamati hanya bisa diam mendalami sesuatu. Ia berpikir mungkin wanita tadi adalah Permaisuri yang baru.
“Hei, keluar sekarang kau,” ucap Anxie tiba-tiba.
Time agak terkejut akhirnya keluar dari persembunyiannya disemak-semak.
“Nenek sihir punya kebutaan dalam kepekaan, hanya untuk menyadari bentukan sepertimu yang bersembunyi saja ia tidak bisa,” ujar Anxie sembari tertawa remeh.
Time hanya diam, ia benar-benar tidak tahu bagaimana ia harus berkomentar.
“Hei, ayo bermain petak umpet,” kata Time tiba-tiba.
“Hah? Petak umpet? Apa itu?”
“Itu permainan, dimana satu orang bersembunyi dan yang lain mencari,” jawab Time.
“Permainan anak kecil seperti itu tidak ada gunanya,” de gua Anxie.
“Yasudah kalau tidak mau main, apa kau takut kalah?”
“Hah?! Kalah? Siapa yang takut? Ayo bermain dan lihatlah bagaimana aku akan memenangkannya,”
Time tersenyum kemenangan di belakang. Memang Tuan Pangeran ini sangat mudah dibodohi.
“Oke, aku akan sembunyi dan kau yang mencari. Pejamkan matamu dan hitung sampai dua puluh,”
“Baiklah, aku akan mulai, Satu, Dua, Tiga, Empat,......,”
Time mulai mencari tempat sembunyi. Ia melihat sebuah pohon dan memanjatnya.
“......, Sembilan Belas, Dua Puluh, haha! Aku akan menangkapmu,”
Anxie mulai berkeliling. Selama Anxie berkeliling, Time yang berada diatas pohon tengah memikirkan sesuatu.
Ia berpikir tentang Anxie. Entah kenapa anak ini jadi mengkhawatirkan dimata nya. Ia jadi Putra Mahkota di usia muda, dan tampaknya ayahnya tidak peduli dengannya. Begitu juga Permaisuri baru itu. Tidakkah hidupnya menyedihkan? Dengan tanpa dukungan, salah-salah gelar Putra Mahkota bisa berpindah tangan.
“Huft, ini jadi mengganjal,” ujar Time sembari menatap Hams yang dalam bentuk jam.
Tapi Time tidak tau sejauh mana persiapan Anxie selama ini. Ia sudah menyiapkan rencana untuk dirinya sendiri, hanya tinggal menunggu waktu.
“HEI! AKU BISA MELIHAT KAKI MU!” teriakan Anxie yang menggelegar terdengar. Time hampir saja jatuh jika ia tidak cepat-cepat berpegangan dengan dahan pohon.
“Ugh, selama kau belum menangkap dan menyentuhku dengan tangan mu, maka aku masih selamat,”
“Apa?! Aku tidak dengar ada peraturan begitu,” ucap Anxie marah.
“Sekarang kau dengar kan?”
Anxie menatap kesal dan dengan cepat meloncat berusaha meraih kaki Time yang menggantung. Dan ketika ia hampir menyentuh kakinya, Time turun dan pergi berlari menjauh.
“AH! HEI!” Anxie langsung bergegas mengejar Time yang berlari jauh didepan.
“Hahaha, apa Tuan Pangeran satu ini sangat lemah, kau berlari terlalu lambat!” ejek Time.
“Aku tidak lambat tapi kau curang!” Anxie menambah kecepatan dan Time terus berlari kemana-mana.
Sampai akhirnya Anxie berhasil mencegat Time yang akan berputar di balik pohon dan akhirnya Anxie memblokirnya.
“Haha! Aku menang, kau yang lemah,” ucap Anxie tersenyum sombong.
“Huh! Ini baru saja awalnya, pemenang akan tertawa di akhir,”
“Kalau begitu kita main lagi!”
Akhirnya mereka bergantian dan mulai bermain hingga petang. Time mengenalkan berbagai macam permainan tradisional modern di masa depan dan Anxie yang berambisi memenangkan semuanya.
“Hah.. Aku lelah, hentikan,” ucap Anxie. Ia duduk di rerumputan dan berbaring diikuti Time.
“Huft, aku juga,”
“Lain kali aku akan menang lebih banyak, lihat saja,”
Nyatanya dari sekian banyak permainan tadi, hanya 3 yag bisa dimenangkan Anxie dan Time memenangkan sisanya.
“Yayaya, pecundang yang hanya menang 3 kali dari 8 jenis permainan harus berusaha keras hahaha,” ejek Time.
“Kau! Saat aku memenangkan semuanya, kau tidak akan bisa tertawa!”
“Baiklah, akan ku tunggu,”
Pada akhirnya mereka berdua tertawa. Tanpa disadari mereka sekarang sudah jadi lebih dekat dan menjadi teman. Mengisi kekosongan yang pernah ada.
Seiring berjalannya waktu mereka jadi dekat. Sekarang tidak diragukan lagi mereka benar-benar teman.
Saat Anxie pergi dengan alasan ‘Urusan Negara’ maka Time akan pergi untuk berjalan-jalan berkeliling. Dan ketika Anxie kembali mereka akan makan siang dan bermain hingga sore hari.
“Pemilik, kapan kita akan pergi?” tanya Hams tiba-tiba saat Time sedang berjalan-jalan.
“Ah, benar, aku terlalu terlena dengan ini sampai aku lupa, bagaimanapun kita tidak bisa disini terus menerus atau seseorang akan mengingat kita lebih jauh dan menyebabkan keganjilan,”
Time berpikir sejenak.
Bagaimana ia meminta supaya ia diizinkan pergi oleh Anxie. Ia bukannya sangat ingin meninggalkan Anxie sekarang. Ia puas dengan kehidupannya disini. Tidak lagi suram seperti dulu.
Tapi ia tidak bisa disini terus menerus. Jika dia terus berada disini, mungkin akan ada lebih banyak orang menyadarinya, dan dia tidak ingin mengubah sejarah yang tidak ia ketahui ini. Efek kupu-kupu itu bisa saja terjadi.
“Apa mungkin ada batasan waktu atau minimal waktu untuk menggunakan mesin waktu? Maksudku seperti untuk pergi ke masa depan minimal harus berjarak sekitar berapa ratus tahun atau semacamnya?”
“Tidak ada Pemilik,” jawab Hams singkat
“Apa itu artinya aku bisa pergi ke 2 atau 3 tahun di masa depan?”
“Tentu saja, Pemilik,” jawab Hams lagi.
“Hmm... Itu bagus, aku bisa pergi ke masa depan dan kembali ke masa lalu lalu memberitahu Anxie bagaimana masa depan terjadi, eh, apa itu akan baik-baik saja? Apa aku akan mengubah sejarah?”
Time pusing sekarang. Ia merasa kasihan dengan temannya itu yang tiap hari harus pergi ke istana, beradu mulut dan kematian
“Pemilik, maaf menyela, Saya tidak bisa membawa anda ke masa lalu lagi setelah ini,”
“APA?!”
“Begini Pemilik, saya tidak tahu mengapa tapi hanya tersisa 1 slot untuk kembali ke masa lalu dan itu sudah kita gunakan sekarang, tetapi ada banyak slot tersisa untuk pergi ke masa depan, Saya juga tidak tahu kenapa pengaturan dibuat seperti ini,” jelas Hams dengan panjang.
“Hah? Lalu aku hanya bisa pergi ke masa depan saja?”
“Benar, Pemilik,”
“Hahhh... Aku lelah, apa boleh buat, aku akan bicara dengan Anxie nanti,”
Mau bagaimanapun ia tidak tega meninggalkan Anxie sendirian disini.
Sedangkan disisi lain keadaan istana mulai ribut. Yang Mulia Raja jatuh sakit parah. Para menteri mendesak untuk melakukan sesuatu. Tentu saja terbagi menjadi dua kubu, kubu Putra Mahkota Anxie dan Permaisuri baru.
Tapi sayangnya pencabutan gelar Putra Mahkota hanya bisa dilakukan oleh Raja. Namun walaupun Raja selalu didesak oleh kubu Permaisuri baru, anehnya ia tidak mau mencabut gelar ‘Putra Mahkota’ milik Anxie.
Satu-satunya jalan yang tersisa untuk menggulingkan Raja sekaligus Putra Mahkota adalah dengan pemberontakan. Tapi ini sulit dilakukan. Alasannya adalah Anxie sendiri. Keluarga mendiang Permaisuri adalah keluarga Jenderal yang memiliki otoritas pasukan yang tinggi bahkan Raja pun tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun keluarga mendiang Permaisuri bersikap kaku terhadap Anxie, mereka masih mendukung Anxie sebagai keturunan mereka.
Disisi lain entah kenapa setiap percobaan pembunuhan yang di lakukan kepada Anxie juga selalu gagal.
Walaupun ia tampak seperti anak biasa di hadapan Time. Ia merupakan anak yang sudah melewati banyak hal dan menjadi dewasa dengan dukungan keadaan hingga akhirnya cara berpikir dan kecerdasannya lebih unggul. Tapi entah kenapa saat bersama Anxie ia mendadak jadi seperti orang bodoh dan bersikap kekanakan.
“Ck, sialan, untuk apa aku diminta mengunjungi orang tua itu?” Anxie berjalan menuju kamar utama istana. Nampaknya ia diminta Permaisuri baru dihadapan semua orang untuk memintanya mengunjungi Yang Mulia Raja.
Tanpa basa-basi ia langsung membuka tanpa mengetuk pintu, berjalan dengan santainya ke kamar tidur Raja.
“Eh? Kau disini nak?” ucap suara yang tampak terdengar rapuh dan tua.
“Ya, nenek sihir itu memintaku,” jawab Anxie acuh lalu duduk di sofa.
“Bagaimanapun Permaisuri baru adalah ibu mu sekara-“ ujar Raja sebelum akhirnya ia di sela oleh Anxie.
“IBUKU HANYA SATU! HANYA MENDIANG PERMAISURI MU LAH IBUKU! ORANG YANG SUDAH KALIAN BUNUH! ATAS DASAR APA KAU MEMINTAKU MEMANGGIL WANITA GILA ITU IBU?” teriak Anxie dengan menyela.
Wajahnya menunjukkan raut kesal, kecewa, marah, dan sedih. Tangannya terkepal dengan erat.
“Ayah tidak...,”
“AYAH IYA! AKU TAHU SEMUANYA, JIKA MEMANG SEJAK AWAL KAU TIDAK MAU MENERIMA IBUKU, KAU BISA MENURUNKAN PANGKATNYA ATAU SEMACAMNYA, KENAPA... KENAPAA!?”
“Anxie, Ayah minta maaf,” suaranya terdengar penuh penyesalan. Tapi penyesalan itu sama sekali tidak diterima oleh Anxie.
“MAAF? MAAF MU BISA MENGHIDUPKAN IBUKU? AKU SAMPAI MATI DAN TUBUHKU HANCUR MEYATU DENGAN ALAM PUN TIDAK PERNAH MEMAAFKANMU!” Anxie segera berjalan keluar, membanting pintu dengan keras.
“Maaf, Ayah minta maaf Anxie, Diana, tolong maafkan aku dan bantulah aku menebus dosaku padamu lewat dia,” ucap Raja lirih.
Semua yang dikatakan Anxie benar.
Pada tahun itu ia membunuh Diana, mendiang Permaisuri.
Sejak awal Raja menikah dengan Diana adalah pernikahan politik. Tapi tidak ada yang tahu Raja sedang menjalin cinta dengan Permaisuri baru. Tapi Diana tanpa mengetahui hal itu, menikah dengan Raja. Sampai akhirnya Permaisuri baru tidak bisa menahan, akhirnya memaksa Raja untuk melakukan sesuatu.
Dan akhirnya Raja menyusun rencana untuk membunuh Diana dengan kecelakaan palsu dan perampokan dikereta. Dan didepan mata Anxie, ia melihat Ibunya yang meninggal di tusuk.
Pada hari itu juga Anxie menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Setelah Raja menikah dengan Permaisuri baru, barulah Anxie sadar apa yang terjadi dan menyelidikinya sendiri menggunakan kekuasaan dari keluarga Ibunya.
Sembari berjalan keluar dengan amarah, ia pergi kembali ke Manor nya.
Time yang sedang memikirkan bagaimana caranya pergi meminta izin kepada Anxie melihat Anxie yang pulang dengan mata merah dan raut kesal.
“Hei? Kau baik-baik saja?” tanya Time sembari menghampiri.
“Ugh, ya, mataku kelilipan tadi,”
Time sulit mempercayainya. Selalu seperti ini. Tak jarang ia melihat Anxie pulang dari istana dengan perasaan buruk.
“Mm.. Oke,”
Mereka berdua pergi duduk di kursi taman dan hanya diam saja.
“Mmm.. Anxie, begini...,” ujar Time ragu-ragu.
“Hm? Kenapa kau ragu-ragu?”
“Apa boleh aku pulang?” tanya Time.
“Pulang? Maksudnya.. Kau.. Pulang ketempatmu?” tanya Anxie ragu dan terbata. Ada perasaan sedih di hatinya.
“Ugh, iya, aku tidak bisa berlama-lama disini, tapi aku berjanji aku akan kembali 1 atau 2 tahun lagi, dan hingga saat itu maukah kau menunggu ku?”
Anxie terhenyak.
Tidak tahu bagaimana harus menjawab. Ia tidak ingin Time pergi, jika begini bagaimana ia bisa melepaskan stres nya. Ia butuh Time sebagai teman.
“Apa.. Apa bisa kau tidak pergi?” ucap Anxie sembari menunduk.
“Maaf, aku tidak bisa,”
“Jika aku terus disini, maka aku mungkin bisa mengacaukan sesuatu, cukup Anxie yang tahu jelas keberadaanku,” sambungnya dalam hati.
“Kenapa?...”
“Aku..., Aku benar-benar harus kembali, 2 tahun, tidak, 1 tahun, tunggu aku, aku akan kembali,”
Anxie hanya diam.
Ia tidak rela.
“Ugh, baiklah,” ucap Anxie sembari menunduk.
Anxie tetap menunduk dan Time hanya bisa merasa bersalah dan akhirnya memeluknya.
“Maaf, tapi aku tidak bisa berlama-lama disini, aku janji aku akan kembali,”
“Mm..” Akhirnya Anxie menangis sembari memeluk Time. Sudah sejak lama sejak terakhir kali ia menangis.
Anxie membantu Time berkemas dan menyiapkan segala keperluan untuk Time hingga Time merasa bersalah. Mungkin 1 atau 2 tahun akan terasa panjang untuk Anxie tapi bagi Time itu hanya 2 sampai 3 menit saja, sungguh miris.
“Tidak perlu banyak-banyak, aku bisa membelinya di jalan nanti,”
“Diam, kau tidak usah ikut campur, aku bilang bawa ya bawa saja,”
“Ah, dasar,”
Hingga akhirnya besok Time harus pergi.
“Tunggu lah aku, hanya 1 atau 2 tahun saja oke,”
Anxie hanya bisa mengangguk. Saat Anxie menyediakan kereta untuknya, Time menolak.
“Mm.. Cepatlah kembali,”
Time pergi berjalan menjauh dan melambaikan tangannya pada Anxie.
“Kleiz!” ucap Anxie tiba-tiba saat Time sudah jauh.
“Siapkan menerima perintahmu, Putra Mahkota,”
“Awasi dia, dan jaga dengan baik,”
“Semua perkataan Yang Mulia adalah perintah,” dalam sekejap, Kleiz menghilang.
Disisi lain Time mencari tempat yang tepat supaya bisa mengeluarkan mesin waktu nya dan pergi ke masa depan.
“Huft, dimana aku bisa mencari tempat yang aman,”
Time pergi masuk ke dalam gang yang berkelo-kelok dan sepi.
“Tampaknya kita bisa melakukannya disini. Hams!”
“Ya Pemilik,”
“Ayo kita pergi ke masa depan,”
Hams berubah menjadi tabung besar dan Time masuk kedalamnya.
“Baiklah, ayo pergi ke 2 tahun di masa depan,”
Time memutuskan untuk pergi ke 2 tahun daripada 1 tahun dengan maksud supaya ada jarak antara dengan waktu sekarang. Paling tidak orang-orang yang pernah melihatnya pasti bisa melupakannya dalam 2 tahun.
“Sesuai keinginan Pemilik,”
Tabung itu dalam sekejap menghilang.
Tapi mereka tidak tahu tentang Kleiz yang mengikuti mereka sejak tadi.
“Aku harus melaporkan ini pada Putra Mahkota,” gimana Kleiz.
Didalam tabung mesin waktu, Time menghabiskan waktu beberapa menit itu untuk bertanya-tanya bagaimana cara kerja lebih lanjut tentang mesin waktu itu. Dan ia terkagum-kagum dengan hal tersebut. Hanya saja satu hal yang membuatnya ganjil.
“Kenapa pergi ke masa lalu hanya punya 1 slot tersisa?”
“Saya juga tidak tahu pemilik, saat sampai pada pemilik, hanya tersisa 1 slot saja,”
“Hah.. Baiklah, apa boleh buat,”
Tak lama setelah melewati ruang dan waktu, akhirnya mereka sampai di masa depan.
“Selamat Datang di Kekaisa Aksum, Pemilik, kita sudah sampai di 2 tahun mendatang,” ucap Hams.
“Baru beberapa menit saja, apa Anxie mengingatku? Bagaimanapun aku melewati 2 tahun ini dengan beberapa menit tapi berbeda dengan Anxie,”
Layar monitor menunjukkan gambar yang sama seperti dulu, Kekaisaran Aksum.
Tetapi....
“HEI! API! KENAPA AKSUM JADI BEGINI!” Time buru-buru keluar dari mesin waktu dan Hams langsung berubah jadi jam tangan.
Pemandangan kuno yang indah itu berubah. Pasar-pasar ramai penuh kedamaian sekarang penuh dengan jerit putus asa.
“Tolong, tolong!”
“Kumohon selamatkan anakku, Anakku!”
“Ibu, Ayah, kalian dimana, huhuhu,”
“Tolong selamatkan adikku, kumohon,”
Time menatap nanar. Apa yang terjadi selama 2 tahun ini. Kemana perginya Aksum yang damai dan indah.
Time berlari mencoba menolong seseorang yang bisa ia tolong.
“Bi-biarkan aku membantu,” Time membantu anak kecil yang sedang berusaha mengangkat kayu yang menimpa kaki nya.
Time berhasil mengangkat dan memindahkannya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Time tetapi anak itu langsung menangis.
“Ibuku didalam, Ibuku, huwaaa,”
Time langsung menatap rumah yang terlahap api dan sudah hampir menjadi abu. Mata Time berkaca-kaca. Jeritan, tangisan, dan teriakan dimana-mana.
Apa yang terjadi?
Time menangis memeluk anak itu.
“Ibukuu, Tuan, Ibuku berusaha menyelamatkan ku, Ibu ku, hiks, Ibu....,”
Time tidak bisa melakukan apa-apa. Ia bangkit dan menatap sekelilingnya.
“Aku akan melihat yang lain, kamu tunggu disini,”
Time segera mencari orang yang butuh bantuan berhasil menyelamatkan 2 anak kecil dan 2 remaja.
“Kalian tunggu disini, aku akan mencari pertolongan, usahakan untuk membantu yang lain yang bisa di selamatkan,”
Mereka mengangguk.
Time segera pergi menuju Manor Anxie. Tetapi sampai disana ia hanya melihat Manor berdiri tegak tanpa tersentuh api di sekitarnya. Hanya Manor itu yang berdiri dengan baik.
“Apa-apaan ini?” Time berlari kedalam mencari Anxie, tetapi ia tidak bisa menemukannya dimana-mana.
“Sial, dimana dia?” Time segera keluar, pergi ke Istana utama. Istana utama sudah hampir runtuh dengan puing-puing dan api di sekitarnya.
“ANXIE! ANXIE!? KAU DIMANA?” Time berkeliling mencari dan berteriak, sampai akhirnya ia membuka sebuah pintu besar di salah satu ruang di Istana utama.
Terpampanglah sebuah singgasana dengan penuh darah, mayat-mayat berserakan. Seseorang tengah duduk di singgasana memegang tombak sebagai sangganya.
“An-Anxie?” Time berjalan mendekat. Semakin mendekat ia melihat seorang wanita tergeletak di bawah. Ia mengenalinya walau hanya remang-remang.
Wanita itu adalah Permaisuri baru.
“Time,” ucap seseorang di singgasana.
Time kesulitan melihat karena gelap tapi ia bisa mendengar suara itu. Ini suara Anxie, ia mengenalinya.
“Anxie? Apa itu kamu?”
“Kemarilah,”
Tanpa pikir panjang Time segera maju mendekat ke singgasana. Ia bisa melihatnya sekarang, wajah Anxie yang tampak lebih dewasa dibanding sebelumnya.
“Aku merindukanmu, apa kabar,” ucap Time.
“Ya,”
“Tunggu, kenapa ini terjadi, apa yang sedang terjadi sekarang? Aksum hancur dimana-mana. Mayat berserakan, apa-apaan ini Anxie? Apa yang terjadi selama 2 tahun ini?!?
“Aku juga tidak tahu, aku tidak tahu bagian mana yang salah,” ujar Anxie tersenyum kecil.
“Apa ini yang terjadi?” tanya Time tapi Anxie hanya tersenyum.
“Anxie! Kumohon! Katakan sesuatu?!”
“Aku tidak tahu, kau menghilang dalam pengawasanku dengan sebuah tabung. Aku mencarimu kemana-mana Time. Disisi lain aku juga harus berjuang untuk tahta kotor ini, dan semuanya sudah seperti ini,”
Time terdiam. Apa maksudnya?
“Hei, kau mengikuti ku?”
“Semacam itu, aku khawatir,”
“Dan tetap mengikuti ku? Aku tahu kau khawatir tapi aku pernah bilang pasti akan kembali Anxie,”
“AKU KHAWATIR!! MENGETAHUI KAU TIBA-TIBA MENGHILANG DENGAN ALAT SEPERTI ITU MEMBUATKU TAKUT KAU TIDAK KEMBALI! APA YANG HARUS KULAKUKAN JIKA KAU TIDAK KEMBALI!?”
“AKU PASTI KEMBALI! AKU SUDAH MENGATAKAN KEPADA MU UNTUK MENUNGGU KU!”
“AKU TIDAK BISA! AKU TIDAK BISA MENUNGGU!
TERLEBIH KETIKA KAU MENGHILANG DENGAN BENDA ANEH ITU! AKU SUDAH MUAK DENGAN KEHIDUPAN SIALAN INI, AKU HARUS BERJUANG KERAS UNTUK TAHTA KOTOR INI DEMI EKSISTENSI IBUKU, AKU TIDAK BISA MEMBAYANGKAN BETAPA BURUKNYA JIKA KAU TIDAK KEMBALI! APA YANG HARUS AKU LAKUKAN!?” Anxie berteriak dan menjelaskan betapa frustrasinya dia.
Baru saja ia menemukan teman pertamanya, tapi temannya menghilang dan tidak bisa ditemukan dimana-mana.
“Ugh..,” Time memeluk Anxie.
“Aku minta maaf, tapi ada hal-hal yang kusembunyikan dan tidak mungkin bisa kukatakan padamu, Anxie,” Time akhirnya bisa memahami betapa khawatirnya Anxie saat itu.
“Aku..uhuk! uhuk!” Anxie terbatuk-batuk tiba-tiba.
“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Time khawatir.
“Ya, hanya saja aku minta maaf, kau baru kembali tapi aku mungkin tidak bisa menemanimu lebih lama,” ucap Anxie lirih.
“Apa maksudmu? Tidak masalah, setelah dokter mengobati mu, pasti akan baik baik saja, kau terluka dimana? Aku akan mengobatimu seperti dulu,”
“Kau tahu, kau teman pertama ku, aku awalnya merasa kesal dengan mu, anak yang sok dan menjengkelkan, tapi semakin aku mengenalmu, semakin aku merasa menyenangkan.
Aku menikmati bagaimana kita bertengkar, bermain, makan bersama. Aku tidak tahu saat itu aku benar-benar senang bisa mengenalmu, hari-hari ku yang selama ini berat dan suram terasa menenangkan, Manor sepiku jadi lebih berwarna, ada yang menunggu ku pulang untuk bermain.
Aku punya seseorang untuk diajak bicara. Aku melakukan seperti anak kecil pada umumnya, bermain, tertawa, bertengkar, aku bersyukur bisa bertemu dengan mu,” ucap Anxie panjang.
“Aku juga, aku senang bisa bertemu denganmu, aku tidak tahu siapa orang tua ku, selalu sendirian selama ini, berjuang menghadapi semua sendiri, tapi aku bisa bertemu dengan mu, aku senang, aku pertama kalinya mempunyai teman, itu menyenangkan, aku benar-benar senang bisa mengenalmu,” jawab Time.
Mereka berdua sama-sama terluka oleh keadaan dan akhirnya saling menyembuhkan.
“Mm.. Time, aku... Terima kasih sudah berteman dengan ku,”
“Untuk apa berterimakasih, tidak ada maaf dan terimakasih diantara teman,”
“Tetap saja,”
“Baiklah, aku juga, Terimakasih,”
Time memegang tangan Anxie yang duduk didepan nya.
“Ayo pergi, kita harus melakukan sesuatu tentang keadaan ini,” saat Time menari Anxie. Anxie tidak bergerak. Tangannya malah menarik Time kembali.
“Sudah terlambat Time,”
“Apa yang terlambat, aku sudah menyelamatkan beberapa orang disana, ini tidak terlambat,”
“Aku tidak bisa, aku mengantuk,”
“Mengantuk!? Apa maksudnya?! Ayo pergi,”
“Tidak bisa, aku lelah,”
“Hei, jangan main-main! Ayo pergi!” genggaman Anxie mulai melemah.
“Maaf Time, aku tidak bisa menemanimu,” ucap Anxie.
“Anxie, apa maksudmu?” Time melihat mata Anxie yang perlahan menutup.
“Maaf, Terimakasih,” gumam Anxie.
“Anxie? Anxie!? ANXIE!! BANGUN! HEI! JANGAN MEMBUATKU KHAWATIR, KUMOHON!”
Time segera mengguncang tubuh Anxie, tangannya dengan cepat mencari nadi di tangan Anxie tapi tidak menemukannya sampai akhirnya ia sadar jantung Anxie tidak berdetak lagi.
“Hei kau bercanda kan? ANXIE! BANGUN! KAU BERCANDA KAN? JANGAN MAIN-MAIN!” Time berusaha berteriak keras membangunkan Anxie tapi hanya kesunyian yang menjawab.
“Tidak, kau tidak boleh pergi,” bahu Time luluh, ia berlutut menangis didepan tubuh Anxie yang sudah tak bernyawa.
“Kenapa, apa yang terjadi, kenapa....,” di Istana itu hanya terdengar tangis Time satu-satunya.
Time mengambil kain, menutupi tubuh Anxie yang berada di singgasana. Lalu pergi berjalan keluar dengan tatapan kosong.
“Hams, apa tidak ada cara supaya aku bisa kembali ke masa lalu?”
“Maaf Pemilik,”
“SIAL!”
Anxie menatap Aksum yang sudah jadi lautan api. Abu bertebaran dimana-mana. Sayup-sayup jeritan terdengar. Ia menatap dengan wajah penuh air mata.
Apa ini salahnya?
“Ayo pergi ke masa depan Hams, kumpulkan semua pengetahuan dari berbagai peradaban, lalu buat mesin waktu dengan 2 slot kesempatan masa lalu,”
“Sesuai keinginan Pemilik,”
Perjalanan Time dimulai, dia pergi ke berbagai perasaan di penjuru dunia, mengumpulkan berbagai teknologi dan informasi lalu pergi jauh ke masa depan di mana peradaban sudah maju dan merakit mesin waktunya sendiri.
“Persiapan Selesai, mesin H-0220 siap beroperasi,” suara robotic terdengar. Di ruangan tersebut ada seorang Pria dewasa dengan mesin tabung di depannya.
“Namamu Hams sekarang,” ucap Pria itu sembari menatap mesin waktu tua berkarat yang menjadi saksi mata perjalanannya selama ini.
“Diterima, Hams, mesin H-0220 siap menerima Perintah Master H,”
“Pergilah, temui aku di masa lalu,”
“Perintah di terima, siap pergi dalam 3, 2, 1,”
Dalam sekejap mesin itu menghilang dihadapan nya.
“Kumohon, temui aku dan ubah kehidupannya, Anxie....,” lirih Pria itu.
Tangannya terkulai lemas. Usai sudah perjuangan untuk mesin waktu itu. Ia perlahan menutup matanya.
Sayang ia tidak tahu, kejadian mengerikan itu akan selalu terulang lagi. 2 slot itu sudah digunakan satu kali untuk mengirim mesin waktu itu kepada Time, dan 1 slot untuk mengirim Time ke masa lalu.
Kesalahan yang berdasarkan hukum alam ini tidak akan pernah berhenti. Hilangnya Aksum dari peradaban merupakan sejarah yang tidak bisa diubah.
Selamanya Time di masa lalu tidak akan tahu bahwa slot itu awalnya berisi 2 bukan 1. Selamanya juga, berkali-kali, beribu-ribu, hancurnya Aksum adalah sesuatu yang pasti terjadi.