Orang orang pernah bilang sabar ada batasnya, tetapi juga tidak sedikit orang orang yang mengatakan sabar membuahkan hasil yang manis, lalu apa jalan yang kupilih bersabar atau menyerah terhadap takdir. Kecewa itu pasti tapi jika aku tak bersabar aku tak ingin menyesali itu, aku hanya bisa berdoa kepada tuhanku semoga pilihan yang aku pilih akan menjadi cerita manis, alur kehidupanku semoga membuat mereka iri. Tetapi aku masih ragu apakah benar keputusan yang aku pilih atau menjadi bumerang untuku?
Pada tanggal 14 mei 2002, lahirlah seorang anak yang manis sekali “mas candra, kamu beri nama siapa anak manis ini ?”kata seorang perempuan yang masih berbaring di ranjang rumah sakit, lelaki yang bernama candra itupun menengok sekilas anak itu, ia tampak melamunkan sesuatu “nita” ucap sekilas candra “nama yang bagus mas” ucapnya sambil tersenyum.
Kini Nita berusia tepat tiga tahun, keluarga yang dijalani perempuan yang bernama sonia juga sangat damai. “tok..tok” terdengarlah suara ketukan pintu oleh sania “ apa itu mas candra ya?” heran sania, pasalnya sang suami tak pernah mengetuk pintu ataupun mengucapkan salam jika masuk rumah.
Sonia berjalan menuju arah pintu itu “klek” pertanda bahwa pintu itu mulai dibuka, betapa kagetnya sonia melihat perempuan berbaju minim berdiri disamping suaminya itu “ silahkan masuk mas candra dan...” sonia bingung dia harus memanggilnya apa, “donita” ucap wanita disamping candra itu.
Sonia mengantarkan mereka keruang tamu dan berfikir positif “mungkin hanya seorang kenalan saja”batin sonia sembari meyakinkan dirinya, saat sonia hendak membuatkan teh kedapur candra bersuara “sebentar sonia” ucap candra hingga menghentikan langkah sonia“ ada apa mas” ucap sonia heran akan panggilan candra”buatkan sirup jeruk saja untuk donita” kata candra sembari tersenyum
Setelah selesai membuat kopi dan siurup jeruk, sonia langsung menuju ruang tamu untuk menghantarkan minuman itu. Sonia melirik sekilas sang suami terlihat sangat jelas wajah suaminya tampak berseri seri tanda bahwa dia sedang bahagia, perbincangan mereka sangat panjang hingga mungkin melupakan jika sonia ada disana, dengan keberanian sonia angkat bicara “ mbak donita ini kenal mas candra dimana ?” satu kata itu membuat candra binggung harus mengatakan apa kepada sang istri.
Candra termenung dia diam tanpa kata wajahnya menunduk kebawah, tanpa sengaja sonia melihat tangan suaminya di genggam oleh perempuan itu, “dia istriku” ucap candra membuat hati sonia berdetak cepat seakan emosinya akan meledak, tetesan air mata sonia mulai terjatuh, tanpa sadar tangan candra mengusap air mata sonia “ tak perlu, aku ingin menenangkan diri dahulu” ucap sonia sambil menepis tangan candra.
Setelah 1 bulan sonia meninggalkan rumah untuk menengkan diri sesuai perjanjian sonia akan memutuskan keputusannya “Aku rela dimadu, demi nita” ucap sonia dengan berat hati, dalam hati kecilnya sonia sangat ingin berpisah dengan suaminya itu, tapi saat melihat nita sonia menjadi tak tega “mungkin ini keputusan yang terbaik” batin sonia yang menatap sendu sang putri.
Dua tahun kemudian, nita tumbuh menjadi anak manis dan penurut sedangkan donita sampai sekarang belum memiliki keturunan “sayang hijabnya dipakai dulu ya baru makan” ucap sonia sambil memasak sarapan. Terlihat sepasang suami istri yang menuruni tangga “sabar”ucap sonia dalam hati, walau kenyataannya sakit sekali melihat orang yang dicintainya bersama orang lain.
Terlihat semua orang berkumpul dimeja makan, saat sonia ingin menyuapkan nasi ke mulutnya “sonia apa apaan kamu itu, kenapa kamu hanya masak 3 telur” ucap candra heran kepada sonia, “jika dia tidak mau masak beri saja dia telur goreng bagianmu,apa yang harus diributkan “ ucap sinis sonia yang mulai jengkel terhadap perlakuan suaminnya itu.
Mobil berjalan laju hingga sampai disuatu tempat “mama, kenapa kita kesini bukan sekolah” ucap gadis kecil itu yang kebinggungan, sonia terkekeh gemas akan ucapan nita itu “ selamat ulang tahun putriku yang cantik nita marcheline” ucap sonia dengan bahagia karena melihat wajah putrinya yang berseri seri itu
Terlihat seorang ibu dan anak nampak sangat bahagia, tiba tiba terlintas fikiran sonia akan donita “ sayang mama boleh banggil kamu selin” ucap sonia penuh harap itu,anak itu mentap sang ibu, lalu berkta “boleh, emang kenapa mama? mama ga suka nama nita ya ?” ucap polos nita, sonia langsung menatap mata sang anak sembari tersenyum kecil “selin emang ga mau namanya kembaran sama mama ? coba dengerin mama ya nama mama sonia, nama kamu selin. Keren bukan kita mirip” ucap sonia sembari menjelaskan kepada nita atau sekarang bisa disebut selin, selin pun mengangguk mengerti.
Tahun tahun sonia dijalani dengan sangat sepesial, penuh bumbu manis dan pahit, tetapi setelah melihat anaknya tumbuh, semangat sonia mulai berkobar kembali seakan dia sumber kehidupan yang harus dia perjuangkan, saat ini selin sudah berumur sebelas tahun. Sonia mulai khawatir selin tumbuh menjadi anak nakal, sonia menegrti dengan adanya donita disini tidak baik untuk pertumbuhannya.
Saat ini sonia semakin khawatir akan kedekatan sang putri dengan donita, karena selin mulai terpengaruh donita untuk membuka hijabnya, sonia pun menghampiri selin “sayang kenapa akhir akhir ini kamu melepas hijabmu, mama khawatir kamu akan meninggalkan ajaran agamamu” ucap sonia dengan mata sendu terhadap putri satu satunya itu.
Selin menatap sinis sonia “apaan sih ma, mama ga tau tren ya? Wajar sih kalo mama ga tau, jiwa mama kan udah tua engga kaya mama donita yang berjiwa muda, cantik lagi” ucapan terdengar kasar dari mulut selin membuat hati sonia terkikis, sonia merasa gagal dalam mendidik anak, merasa gagal menciptakan lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang anak.
Ketakutan dari sonia itu akhirnya terjadi, firasatnya memang benar dengan adanya donita, selin menunjukan sikap kenakalan remajannya, sonia masih mewajarkan itu dan mencoba sabar untuk saat ini “aku berdoa semoga selin bisa berubah” doa sonia dalam hatinya.
Kini selin sudah menginjak usia tujuh belas tahun, sonia hanya melihat putri kecilnya yang sedang berpesta bersama teman temannya, soniapun berinisiatif membuatkan kue untuk selin dan teman temannya “selin ini ada kue, dimakan bareng temen temen ya “ merekapun menatap sonia dengan penuh tanda tanya “eh, ibumu ada dua sel? “ ucap salah satu temannya dengan nada lirih tetapi masih dapat didengar sonia, selin pun tampak kebingungan untuk menjawab karena dia sudah mengenlakan donita sebagai ibunya “dia pembantuku” asal jawab selin
Mendengar jawaban putrinya membuat rasa kecewa sonia menjadi jadi, jantung sonia terasa sakit mendengar penuturan putrinya itu “mama kecewa” ucap sonia yang membuat seluruh ruangan tersentak, sonia menahan rasa sakit di dadanya itu seakan rasa sakit dari kecewa mampu menutupi semua rasa sakit yang dia pendam selama ini.
Setelah kepergian ibunya selin menahan malu serta amarah,selin mendatangi kamar ibunya betapa terkejutnya dia “MAMA..” selin tersentak melihat sang ibu terbaring dilantai dengan wajah pucat, amarah itu seakan telah hilang digantikan rasa khawatir yang melanda.
Dirumah sakit itu sonia mulai membuka matanya yang kini memburam”haus” hanya itu kata yang diucapkan sonia mampu membangunkan selin yang nampak tertidur. Pagi mulai cerah tampak wajah putih pucat dengan tatapan mata kosong, hanya ada keheningan di ruangan itu “mama mau makan?” ucap selin diantara keheningan itu, sonia pun menjawab dengan jawaban yang berbeda dari yang diharapkannya “untuk apa saya berjuang untukmu? Oh iya aku lupa aku mempertahankan pernikahan yang menyakitkan ini agar kamu punya ayah, sekarang tugasku sudah selesai dengan penuh harapan menjadi kekecewaan” ucap sendu sonia membuat selin gemetar merasa bersalah
Setelah 2 hari sonia berada di rumah sakit dengan kata terakhirnya “ingatlah tuhan dan kitabmu” kata terakhir yang diucapkan sonia sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, selin sangat sedih atas kematian ibunya. Menyesal, itu yang ada di hatinya dan beruntung dia masih bisa membuat sang ibu tersenyum di saat ibadah terakhirnya dengan sang ibu.
TAMAT