Namaku Salvya Perl, seorang gadis kecil dengan nama panggilan Vya. Ada yang bilang jika wajahku adalah wajah tercantik di daerah tempat tinggal ku saat ini. Tapi jujur saja, bagiku itu bukanlah sesuatu yang benar.
Terlebih beberapa waktu lalu, diriku bertemu dengan beberapa Bangsa Peri yang datang dan berkunjung ke desa kami — Desa yang berisi bangsa Duyung.
Awal mulanya begini...
"Sudah dengar tentang wanita Elf yang dikabarkan sangat cantik itu?" tanya temanku setelah kami duduk di bebatuan pinggir laut, lokasi tertutup dimana bangsaku dapat kembali ke alam kami tanpa harus jauh-jauh berjalan.
Sontak aku menggeleng mendengar pertanyaannya. Reaksiku tidak lagi aneh di mata Rein. Dia terbahak, lalu memainkan kaki manusianya hingga menimbulkan riak di dalam air yang tak terlalu berombak. "Aku tahu Kau akan merespon seperti itu lagi."
Mendengus, kuangkat bahuku ringan pertanda diriku yang tak ingin peduli padanya. "Katakan jika Kau ingin, dan jangan jika Kau tidak mau. Aku 'sih terserah padamu."
Mungkin ada kelainan dengan diriku, tapi terserahlah. Toh menjadi terlalu penasaran hanya akan membuatku mati, seperti kucing kepo di dunia darat.
Aku tak begitu tertarik dengan sebuah gosip, itu terlalu buang-buang waktu. Tapi aku tetap saja bisa mendapat informasi terbaru dari Rein yang sudah seperti sumber dari segala sumber di sini.
"Dia sangat cantik, matanya berwarna hijau cerah dengan rambut hitam pekat alami," lanjut Rein. Tapi entah mengapa yang terbayang di otakku bukanlah sosok cantik, melainkan wajah pucat para Elf di daerah barat yang terkenal dingin.
Mereka cantik, tapi kebanyakan adalah jenis putih pucat tanpa warna lain. Itu sedikit mengerikan untukku yang penakut.
Tapi tunggu dulu.. "Rambutnya hitam pekat? Kau bercanda denganku?" tanyaku menahan diri tuk memutar bola mataku dengan malas. "Bangsa Elf jelas terkenal dengan rambut keperakan mereka yang dipadukan dengan mata hijau cyan."
"Hahaha, itu Dia yang membuat satu wanita Elf ini terlihat makin memikat. Kulitnya pun tidak pucat, melainkan dengan rona merah samar-samar di pipinya." Rein menjelaskan, tangannya bergerak kesana kemari seolah mencoba memberi gambaran tentang penampilan Elf itu.
Perkataan Rein sedikit banyak telah mempengaruhi pikiranku, mungkin Elf satu itu memang sangat cantik?
Tiba-tiba, temanku yang berambut Lilac itu berseru kaget dengan kedua bola mata membesar. Ku ikuti arah pandangnya, lalu sontak terdiam dengan mulut menganga. "Oh, God. She's so pretty!"
Mataku mulai perih karena tidak ada berkedip, dan itulah yang membuatku mulai sadar jika mulutku terlalu besar terbuka. "Rein, Dia?"
"He'em, lihat sayapnya, berkilauan dengan warna hijau transparan! Ah, kurasa Dia menerima sangat banyak cinta dari Aprodhite!"
Setelah lama pengamatan, aku pun mulai merasa ada yang janggal. Apalagi ketika Elf cantik yang kami perbincangkan malah seperti akan terpeleset ke dalam laut.
Dan benar saja.
Percikan airnya cukup besar hingga membasahi antingku dan menyebabkan kaki manusiaku berubah menjadi ekor biru laut, sontak Rein menatapku. "Wah, Sepertinya Kau ikut terkena sial hari ini 'ya?" tanyanya yang ku tau bermaksud tuk meledek.
Tanpa menahan diri, kuceburkan diri ke dalam air laut yang lumayan tinggi di bawah kaki, lantas menyelam dan berbalik tuk mengepakkan ujung ekorku hingga ikut membasahi wajah Rein.
Bahkan dengan posisi di bawah air pun telingaku dapat mendengar kutukan Rein sebelum sahabatku itu ikut menyelam dan mendatangi diriku. "Kau 'kan sahabatku, jadi kita harus susah senang bersama-sama," alihku sebelum berenang semakin jauh ke tengah.
Tapi belum sempat diriku menikmati suasana tenang lautan, tiba-tiba Rein malah menarikku kembali, lalu menunjuk gadis peri cantik yang masih mencoba tuk naik ke darat. Sayapnya mengepak ringan di dalam air, sudah basah, dan jika Dirinya memaksa menggunakan benda itu mungkin saja akan berdampak besar. Seperti, berubah menjadi ElfMins?
ElfMins, Elf dengan sayap yang cacat.
"Kau, kemari dan injak bahuku." Aku mendekat, menarik tangannya dan memaksa gadis cantik itu tuk naik dengan cara menginjak bahuku. "Aku membantumu karena Kau cantik."
Dengan enggan yang entah mengapa muncul di sudut matanya, kulihat gadis Elf terpaksa mengikuti keinginanku dan naik ke darat dengan selamat. Namun, sayapnya masih saja basah. Tentunya.
Ku perlihatkan wajahku ke permukaan air, lantas menemukan bahwa ternyata sudah lumayan ramai orang-orang di atas sana. Terlihat seperti menikmati pertunjukan. "Dia hampir tenggelam, tapi kalian semua hanya melihat tanpa niat membantu?" ucapku santai, seolah yang saat ini kubahas bukanlah sesuatu yang penting. "Kalian," kutatap bangsa Duyung yang malah tersenyum malu itu, "Ayahku tidak menyuruh kalian untuk menonton adegan pembunuhan."
Ngomong-ngomong, Ayahku adalah pemimpin bangsa kami untuk periode ini. Yah, begitulah.
Peri cantik itu menunduk, tapi tak terlihat sedikitpun rasa takut di matanya. Hanya sifat pendiam dan acuh, seolah semua ini tak terhubung dengannya.
Dilihat-lihat, Elf berambut hitam satu ini bukanlah tipikal kebodohan. Bahkan dari aura dan cara bernafasnya saja sudah terasa jika dia bukan sosok yang ceroboh.
"Bawa Nona Elf tuk beristirahat, kurasa Kau pasti kedinginan 'kan?"
Oh, maaf, diriku lupa. Bangsa Elf kan memang tinggalnya di daerah es. "Sana."
Saat sekelompok Elf pengunjung itu pergi, baru kudengar bisikan-bisikan sarat akan makna terdengar bagai suara lalat di setumpuk sampah.
"Apa gunanya cantik, Dia bahkan sangat bodoh dan ceroboh."
"God selalu menciptakan makhluknya dengan kelebihan dan kekurangan, Kau tau?"
"Kurasa Elf seperti ini sama sekali tak cocok jika jadi menikah dengan pangeran Axein."
"Kudengar nasibnya juga sangat buruk, bintang keberuntungan bahkan malas mendekati gadis itu."
Kupingku pengang, tapi jadi memiliki banyak informasi baru. Awalnya aku berpikir Elf cantik dengan masib buruk ini bukanlah urusanku. Tapi ternyata...
"Rein, Dialah yang akan menikah dengan saudaraku?"
Rein mengangguk, menaruh tangannya di bebatuan pinggir laut. "Kau 'kan adik baptis pangeran Axein, kenapa malah tidak tahu menahu sama sekali?"
"Adik baptis apanya?" ledekku membalas. Tapi jujur saja, Axein adalah peri dari bagian yang sedikit panas di Barat. Elf satu itu tiba-tiba memutuskan tuk membangun kerajaannya sendiri berdampingan dengan daerah kekuasaan Bangsa Duyung. "Tapi, Kakakku memang sedikit kaku, jadi kenapa dirinya malah tiba-tiba ingin menikah dengan wanita peri dengan keanehan ini?"
"Mungkin pangeran Axein tiba-tiba tersadar jika cinta adalah apa yang dirinya butuhkan," jawab Rein acak. Dasar gadis ini, terkadang memang tak bisa tuk diajak berbincang serius.
Aku mendengus, lalu menarik tangannya kembali berenang. "Karena ulah Elf itu, kita jadi harus bermain di air selama dua jam padahal pagi ini aku juga telah selesai membasahi diri."
Itulah dampak yang tak terucapkan. Sekali bangsaku berubah menjadi Duyung penuh, maka mereka harus bertahan setidaknya 2 jam agar bisa kembali ke bentuk manusia. Tetapi jika ingin menetap di bentuk duyung, Kami bisa melakukan itu selamanya tanpa batas waktu.
"Tapi aku juga baru selesai berpelukan dengan laut beberapa jam yang lalu, Sayangku."
Kurasa Rein geram sendiri.
Bukannya tak cinta Lautan, aku hanya merasa ini bukan waktu yang tepat untuk bercakap dengan tempat asalku ini.
"Mau berkeliling di tepian? Sekaligus mengintip para Duyung tampan di camp pelatihan?" bibirku membentuk senyum menggoda, ayolah, siapa yang tidak menyukai perut kotak-kotak disini?
Sekalian, aku juga ingin mengintip saudara baptisku, Axein. Yang lebih sering menghabiskan waktunya di camp itu.
"Tunggu— Vya. Ada dua makhluk berdosa yang asik di balik pohon itu."
"Hah? Biarlah, mereka hanya ingin mencari kesenangan—"
"Axein, kukatakan padamu sekali lagi. Aku, tidak, ingin, menikah! Apalagi denganmu!"
Oops. Kenapa nama Axein disebut. Suara merdu nan lembut itu masih menggema di telingaku.
"Vya? Sudah kuduga Kau memang adalah Duyung cabul!" bisik Rein, kekehan gelinya keluar pelan. Aku dapat merasakan gadis itu mendekat dan ikut bersembunyi denganku di sebalik batu besar.
Kami hanya lewat, bukan menguping!
Suara gemerisik air tidaklah aneh, disini ombaknya lumayan sering bertingkah. Jadi bahkan saudaraku tak sadar ada yang menguping pembicaraannya.
"Kau tau Kau tak akan bisa menghindari ini lagi, Sheria."
"Aku tetap tidak mau!"
Oh, kurasa itu adalah Elf cantik tadi. Karena tak mungkin Saudaraku selingkuh 'kan? Dan, apa yang mereka bahas—
"Di dalam perutmu, ada anakku. Kau harusnya sadar. Dan jangan mencoba tuk memisahkan aku dari darah dagingku sendiri."
Apa-apaan?! Mulutku menganga heran.
"Aku bernasib buruk—"
"Jangan pikir aku akan ikut tertipu. Tipuan kecilmu bukan apa-apa untukku."
"A-aku tidak menipu siapapun—"
"Kau senang mendengar gelarmu sebagai Peri cantik bernasib buruk, hm?"
SREK!
Apa itu? Kepalaku tanpa sadar melirik— Oh, ternyata Axein mendorong pohon rindang di depannya hingga dedaunan di sana berjatuhan ke bawah.
Mulutku masih menganga, apalagi Rein di sampingku yang hampir menelan segalon air laut.
"A-apa yang—"
"Kau—"
"JANGAN MEMOTONG UCAPANKU!"
"Emosimu sangat tak stabil. Dengar, aku tau Kau sengaja bertingkah ceroboh semenjak datang kemari agar rakyatku dan rakyat di bangsa Duyung ini menjadi tak mau menerimamu sebagai calon putri atau Ratu disini. Kau bertingkah begitu hanya karena hormon 'kan? Ibuku juga sepertimu dulu—"
Merasa sudah mendengar dengan cukup, aku menarik tangan Rein untuk kembali kabur ke dalam lautan.
"Kau dengar?"
"Sial, tiba-tiba kerajaan sebelah sudah akan memiliki calon pangeran atau putri muda saja—"
"Bukan itu intinya. Eh, tapi iya juga 'sih. Tiba-tiba aku akan segera menggendong keponakan saja!"
Itu berarti. 'Peri cantik bernasib buruk' hanyalah apa yang diciptakan oleh si peri cantik itu sendiri. Karena hormon kehamilan dan mungkin ngidam.
Tapi tetap saja. Membohongi publik bukanlah hal yang baik! Apalagi sekarang masyarakat disini malah mulai mempercayai tingkah calon kakak iparku.
* * *
Keesokan harinya, hal tak terduga pun terjadi. Pangeran Axein, atau saudara baptisku. Terbang dengan jubah Hijau bercampur lambang pedang tajam berwarna coklatnya di atas langit kerajaan Elf di sebelah.
Dan bukan hanya itu, dirinya juga membawa sang calon istri ke ketinggian. Tuk mengumumkan berita bahagia tentang calon keturunannya dan apa yang dilakukan Sheria.
Itu membuat masyarakat di kedua bangsa jadi ricuh. Ternyata bahkan Peri cantik bernasib buruk itu hanyalah apa yang tercipta akibat keinginan si Peri itu sendiri.
Tapi tiba-tiba kericuhan menjadi hening kala Sheria hampir terpeleset dari pelukan Axein. Padahal, sayap perempuan itu belum sepenuhnya mengering usai terjatuh kemarin hari, dampaknya lumayan besar.
Itu murni kecerobohan tanpa niat palsu. Dan sukses membuat bangsa Elf di sebelah panik bukan main seraya berbisik di antara mereka saja, "Tetap saja, Putri Sheria memang ceroboh. Bagaimana jika sang Pangeran kecil jadi terkena bahaya barusan?"
Hei, bahkan si 'pangeran kecil' itu mungkin masih berbentuk strawberry kecil. Mana tau itu perempuan atau laki-laki.
Meski begitu, tentu banyak yang bahagia mendengar berita ini. Apalagi sang Putri sudah mengandung calon pemimpin takhta selanjutnya. Itu adalah berita membahagiakan meskipun citra Sheria sedikit jatuh di depan rakyatnya sendiri.
Itulah mengapa Berbohong bukan hal yang baik.
——