Binar tumbuh di daerah yang harmonis, dimana tetangga dekat rumahnya memiliki sifat baik hati. Kehidupan di rumah memiliki nuansa hidup, rumah yang dihiasi oleh tanaman yang hijau. Keluarga Binar dikelilingi oleh keluarga yang saling memberi kasih sayang, saling memberi dukungan terhadap impian yang diimpikan satu sama lain seperti contohnya, Binar yang memiliki hobi menulis novel. “Ayah, ibu, kakak, aku memiliki hobi sebagai penulis novel,” kata Binar. Lalu ayah berkata, “Apakah itu yang benar – benar kau inginkan?’’. Suasana menjadi hening semua perhatian ditujukan kepada Binar yang sedang berbincang – bincang dengan ayah. “Iya, imajinasiku yang membuatku ingin menulis novel,” jawab Binar. Dari belakang, kakak berkata,” Kalau itu yang kau inginkan kami akan mendukung!”. Setelah mendengar hal itu Binar mengekspresikan ekspresi wajah ceria sebagai tanggapan dari perkataan kakaknya.
Binar memamerkan hobinya kepada teman - teman di sekolah. Teman – temannya memberi tanggapan positif dengan cara memberi semangat. “Wah, sepertinya kau bangga akan hobi barumu,’’sahut Mentari. Mentari adalah salah satu sahabat yang dimiliki Binar. Disebelah Binar terdapat Senja yang dimana dia juga salah satu sahabat dari Binar. Senja berbisik, membisikkan beberapa kalimat kepada Binar, “Novel seperti apa yang ingin kau tulis,’’ujar Senja. Binar membalas bisikan Senja, “Novel yang akanku tulis itu novel romansa fantasi!’’. “Wah, sepertinya seru tuh!’’ teriak Mentari yang menguping. Semua murid dikelas terkejut hingga menoleh ke arah teriakan Mentari. Gaduh, semua membahas tentang novel yang akan ditulis, mereka semua satu per satu memberi pendapat entah itu judul sampai jalan cerita. Binar menerima pendapat yang diberikan untuknya, sambil mengucapkan terima kasih. Semua pendapat, dia gabungkan dengan imajinasinya dan menjadi sebuah cerita.
Akan tetapi, semua tidak berjalan semulus seperti lantai keramik. Selalu saja ada kendala, seperti kata pepatah “Hidup itu tidak semulus yang kita kira, jadi jangan remehkan itu’’. Huhhh, Binar menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dan berkata, “Disaat seperti ini saja baru terpikirkan kata mutiara, seakan imajinasi yang tadinya penuh mengelilingi kepalaku menghilang seketika”. Hanya memikirkan hal itu saja membuat suasana hati Binar yang tadinya bersemangat menjadi 3L atau lemah, letih, lesu. Pada akhirnya, pembuatan novel diundur menjadi besok, yang dimana novel tersebut akan dimintai pendapat dari orang terdekatnya. Keesokan harinya, Binar meminta keluarganya untuk berkumpul, dia mulai mendiskusikannya dan anggota keluarga satu per satu mulai bertanya. Ayah bertanya, “Apa yang kau bingungkan dari membuat novel?’’. Lalu selang beberapa detik ibu pun bertanya, “Bukankah kau sudah tahu akan membuat novel yang seperti apa!’’. “Memang benar, novel seperti apa yang ingin kubuat sudah direncanakan, akan tetapi saat ditengah cerita jariku berhenti menulis karena imajinasiku yang hilang entah kemana,’’. Suasana pun hening, tidak lama kemudian kakak yang daritadi menyimak pembicaraan ikut bicara, “Kalau aku sih nggak punya pendapat karena belum punya pengalaman tentang per novelan, mungkin ayah atau ibu punya pendapat’’. Mendengar hal itu ayah dan ibu hanya bertukar pandang dan ayah pun berkata, “Kami juga tidak ada pendapat, kami minta maaf karena tidak dapat memberi pendapat sedikit pun’’. Ibu yang disamping ayah mengangguk perlahan. “Tidak apa – apa, aku akan bertanya kepada yang lain’’.
Ditengah perjalanan menuju rumah Gisley, yang dimana mereka adalah tetangga. Disana tempat yang akan dituju Binar dan teman – temannya untuk diajak diskusi. Siang, saat Binar datang ke tempat yang akan dijadikan sebagai tempat diskusi, Binar terkejut karena rumah Gisley penuh dengan berbagai makanan ringan. Ibu Gisleylah yang menyiapkan semua hal saat mendengar bahwa kami akan datang. “Makanlah sampai puas, itu adalah pesan yang ditinggalkan ibuku kepada kalian,’’kata Gisley. “Lalu dimana ibumu sekarang?’’ tanya Senja kepada Gisley. “Ibu sekarang sedang berbelanja mungkin agak lama pulangnya,” jawab Gisley. “Sudahlah, kenapa kalian bertanya tentang itu?” tanya Gisley. “Biasalah kita kan anaknya pemalu, orangnya nggak enakan”, kata Mentari. “Hah, biasanya juga malu – maluin kenapa baru sekarang malunya kena obat apa kok tiba – tiba jadi sadar diri”. Celoteh Gisley. “Kamu ya sekali ngatain langsung 3x,” Balas Mentari yang agak sebal. “Hahahaha, itu yang dinamakan jujur. Jujurkan menyakitkan!” ejek Binar. “Ya emang bener sih tapi salah,’’ kata Mentari. Senja bertanya dengan nada mengejek, “Apanya yang bener tapi salah?’’. “Yah pokoknya itu” sahut Mentari. “Oh ya katanya butuh pendapat, jadi nggak”, tanya Mentari untuk mengalihkan pembicaraan. “ jadilah, yang ingin kutanyakan adalah jalan cerita dari novel”, jawab Binar. “ Yang genrenya Rpmansa Fantasi,” tanya Gisley. Binar mengangguk dan berkata, “ Dulunya sih ada ide begitu tapi cerita dengan genre itu udah banyak bahkan tak terhitung”. Lalu judulnya apa ?”, sahut Senja. “ Adrhiana”, jawab Binar dengan cepat. “ Lalu apa yang membuatmu bingung ?”, tanya Senja lagi. “ Cerita yang mengandung romance, bagaimana cara membuatnya”, jawab Binar polos. Suasana hening sekejap karena terkejut akan perkataan Binar lalu tidak lama kemudian suasana menjadi gaduh ditambah adanya suara tertawa dari ketiga anak itu. “ Hahahaha, benarkah kau tidak tau cara membuat cerita romance”, kata ketiga teman Binar serempak. “ Hah, sudah kutebak ending nya begini”, kata Binar yang pasrah. “ Kau datang ketempat yang tepat Binar,” kata Gisley. “ Maksudnya ?”, tanya Binar kebingungan. “ Jadi kami akan memberi saran untuk novel romance,” jelas Senja. “ Jadi simak baik – baik tutor dari kami ya”, lanjut Mentari.
“ Biasanya kisah romance itu diambil dari kisah diri kita pribadi”, ujar Senja. “ Jadi kisah romance seperti apa yang kau miliki ?”, sambung Gisley. “ Maksudnya dari kisah romance aja aku gak tau”, jawab Binar. “ Yaampun beneran gak tau ?”, tanya Gisley penasaran. “ Kalau tau buat apa nanya”, jawab Binar kesal. “ Oke, oke , kisah romance kalau dinovel biasanya menceritakan tentang kisah cinta yang terjalin antara tokoh – tokoh di dalamnya. Biasanya novel romantis tersebut lekat dengan kehidupan sehari – hari. Kenapa banyak yang membuat cerita bergenre romance ?, itu karena readers lebih menyukai hal - hal yang berbau lekat dengan kehidupan daripada membaca bacaan yang lebih berat dan permasalahan yang lebih kompleks. Saat membuat cerita romance harus kreatif dan berani beda dari yang lain agar readers tidak merasa monoton dan bosan saat membaca cerita romance. Cerita romance tidak selalu memiliki ending yang bahagia, ada juga bad ending, dan sad ending. Cerita romance dibuat agar jalan cerita tidak bisa ditebak dengan mudah oleh readers jika sampai ketebak maka minat pembaca akan menghilang”, jelas Gisley panjang, lebar kali tinggi. “ Jadi apa cerita romance mu ?”, tanya Mentari. “ Gak ada soalnya kehidupan gue tuh kayak, kayak gimana yah?, kayak horror gitu deh pokoknya gak ada manis – manisnya”, jawab Binar mendramalisir. “ Ckckck, kasian nasibmu”, ejek mentari. “ Makanya waktu pembagian nasib baik tuh ngantri jangan malah keluyuran”, ejek Mentari lagi. “ Yaampun makasih loh ya pujiannya, jadi pengen kucoret dari daftar teman”, ejek Binar. “ Ahahaha, becanda kok. Jangan baper deh”, celoteh Mentari. “ Kalau gak punya pengalaman tentang romance minimal punyalah pandangan tentang cerita romance”, kata Senja. “ Iya, udah ada sedikit pandangan, makasih ya”, jawab Binar. “ Ohohoho, padahal kalau gak ada pandangan mau aku kasih senter terus diarahin ke matamu agar ada pandangan. Tapi ternyata kamu udah ada ya,gak jadi deh agak kecewa”, balas Mentari kesal. “ Pokoknya makasih ya kepada kalian kecuali Mentari”, jawab Binar yang kehabisan kata – kata karena meladeni tingkah laku Mentari.
Karena pendapat dan support dari orang terdekatnya, Binar jadi dapat melanjutkan novelnya yang tertunda.
Pesan moral : Jika ada kesulitan mintailah bantuan pada orang disekitarmu karena pada suatu saat kamu akan membutuhkan bantuan orang lain dan orang lain akan membutuhkan bantuanmu. Dari cerpen diatas menandakan bahwa sahabat susah senang akan bersama walaupun banyak susahnya dari pada senangnya, jadi harap maklum. Jangan menyerah terlebih dahulu saat ingin membuat sesuatu yang berguna, jangan malas dan jangan kehilangan semangat untuk membuat karya.
End.
KARYA DIATAS HANYA BERSIFAT FIKTIF BELAKA JADI JANGAN DIBAWA BEBAN KARENA BEBAN KITA SUDAH BANYAK. TERIMA KASIH !