Siapa diantara Anda sekalian menyukai kucing ? Binatang berbulu yang terkadang menggemaskan pemiliknya tetapi juga menyebalkan bagi kaum pembenci kucing. Itu adalah hak masing-masing. Bagi mereka yang tidak suka kucing, abaikan saja cerita ini... tapi, bagi penyayang kucing... bisa jadi cerita ini mungkin akan menguras air mata anda. Yang bener, dong ..
Baik, akan saya mulai.
Kucing loreng itu ditemukan oleh adikku. Kusam, kurus dan jelek. Sebenarnya, aku sendiri suka kucing ... aku ingin sekali memelihara kucing. Sayangnya, tetangga kanan-kiri, parahnya, ayahku tidak menyukai kucing karena berbagai alasan. Yang terutama, adalah kotorannya; sehingga, aku dan adikku selalu menyisihkan uang jajan untuk membeli makanan kucing.
Lucu, tidak punya kucing tapi, membeli makanan kucing. Masa bodoh dengan semuanya itu, kami membelinya, karena sering sekali melihat kucing-kucing liar mengeong-ngeong di pasar atau di tempat-tempat secara khusus menjual makanan dan daging. Tapi, mereka selalu ditendang, dipukul, disiram air panas atau apapun untuk mengusirnya. Itulah yang membuat hewan-hewan berbulu dan menggemaskan itu berlari saat ada manusia berjalan menghampirinya. Mereka mengalami kejadian yang sangat traumatis.
Bayangkan saja jika kita yang menjadi kucing. Mengais-ngais sampah saat butuh sepotong daging bau atau yang lain untuk bertahan hidup.
Itulah sebabnya, kami selalu membawa makanan kucing kemanapun pergi. Jika bertemu dengan kucing kelaparan... kami memberikannya pada mereka. Bagi kami, kucing lebih manusiawi ketimbang manusia itu sendiri yang mengandalkan egonya untuk hidup ataupun lari dari kesalahan.
Siang itu, kami bertemu dengan si loreng... ia menatap kami sambil mengeong-ngeong. Adikku yang bernama Jenny, segera membuka tas punggungnya dan mengeluarkan makanan kucing lalu memberikannya pada si loreng.
Sepasang mata si loreng menatap makanan yang diletakkan di jalanan itu tanpa berkedip, perlahan-lahan menghampiri dan mengendusnya. Setelah dirasa aman, ia memakan makanan itu dengan lahap sekali. Kami tersenyum dan segera berjalan meninggalkan tempat itu.
"Nggeeoonngg... nnggeeoonngg..."
suaranya kembali terdengar, Jenny membalikkan badan, tampak si loreng berjalan menghampirinya dan menggosok-gosokkan kepala dan badannya ke kaki Jenny.
"Bukankah kau sudah dikasih makan, seharusnya kau segera pergi sebelum ada orang yang berbuat kasar kepadamu, Reng..." kata Jenny, membungkukkan badan dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang, "Coba kalau kau bisa menurut perkataanku, kami akan membawamu pulang," sambungnya.
Kucing itu menatap Jenny tanpa berkedip, seakan tahu bahwa manusia di hadapannya ini berbicara kepadanya. Jenny tersenyum ramah, "Duduklah," katanya.
Si loreng seakan mendengar apa yang diperintahkan oleh Jenny. Ia duduk sambil menggoyangkan ekornya yang panjang.
"Nah, diam disana, ya... kami akan menemuimu lagi besok," kata Jenny.
Perkataan Jenny ini disambut dengan suaranya yang menurut kami terdengar manja.... ( mungkin hanya perasaan kami saja ). Sebelum pergi, Jenny kembali memberikan makanan secukupnya ke dekat si loreng. Kucing itu kembali makan dan saat ia asyik melahap makanannya, kami berjalan meninggalkan tempat itu.
Jalanan yang kami lalui itu adalah sebuah jalanan kecil. Itu adalah jalan pintas kami pergi dan pulang ke sekolah. Setiap hari kami melewatinya dan entah kenapa hari itu si loreng muncul dan berpapasan dengan kami.
Hari kedua, ketiga, keempat... kami kembali bertemu dengannya, ia duduk di sebuah emperan toko dan saat melihat kami datang, ia datang menghampiri sambil menyuarakan suaranya yang khas. Jenny tampak senang sekali bertemu dengan si loreng... tampaknya, binatang itu juga senang sekali bertemu dengan Jenny.
Beberapa hari kemudian, Jenny terpaksa tidak dapat masuk ke sekolah karena sakit. Sama seperti hari-hari sebelumnya, loreng duduk menunggu disana. Aku tersenyum, "Tampaknya kau setia sekali, ya ? Coba nanti akan kubicarakan dengan Ayah, boleh atau tidak menampungmu di rumah," kataku.
Aku heran, di sekitar si loreng duduk menunggu, tak kutemukan kotoran atau bau Pesing disana. Secara logika, jika ada kucing atau hewan berada di suatu tempat, pastinya ada kotorannya. Tapi, sekalipun tempat ini terlihat kumuh, tapi, bersih dari kotoran hewan yang ada palingan hanya sampah-sampah rumah tangga.
Memang, ada bau kotoran kucing tercium tapi, yang jelas bukan milik si loreng... karena, selama ini kami beri makanan khusus. Kami dapat membedakan mana kotoran hewan yang berasal dari makanan kami dan mana yang bukan. Kotoran hewan yang berasal dari makanan kami, baunya tidak begitu menyengat.
l
Saat aku disibukkan dengan pikiran yang menurutku lucu itu sambil memandangi si loreng makan... mendadak, loreng berlari dengan buru-buru. Karena aku penasaran, maka, aku mengikutinya sejauh 10 meter dari tempat dimana biasanya si loreng tinggal.
Disana ada semak belukar dan gundukan tanah, "Hmm... tanah jenis ini adalah tanah yang cocok untuk dijadikan sebagai tempat pembuangan limbah kucing," kataku dalam hati. Sementara itu, si loreng sudah berhenti di tempat agak tersembunyi, ia menggali tanah, setelah itu ia duduk setengah jongkok agak lama. BAB, rupanya.
Sepanjang hari itu, aku tak melepaskan pandanganku pada gerak-gerik si loreng yang kini tampak gemuk dan besar. Ia tampak lebih bersih daripada kali pertama kami bertemu.
Hingga pada suatu hari, aku terkejut, si loreng berada di dekat jendela kamar dimana Jenny tidur. Adikku itu memang masih belum sembuh, sudah satu bulan ini tak masuk sekolah. Kucing loreng yang kupanggil dengan sebutan Gendut itu memandangi Jenny dari luar. Ia mengeong-ngeong seakan menyapa Jenny.
Jenny membalikkan badan yang masih lemah, kehadiran loreng itu membuatnya bahagia, wajahnya pucat sekalipun pada bibirnya tersungging senyuman tipis...
"Hai," sapa Jenny lemah.
Gendut melompat masuk, mengeong dan melompat naik ke pembaringan. Jenny mengelusnya lembut, binatang itu tampak berbahagia sekali, berulangkali menggosok-gosokkan badannya ke tangan Jenny.
"Darimana kucing itu masuk,"
mendadak Ayah masuk ke kamar, wajahnya merah padam dan saat hendak mengusir gendut, Jenny mencegahnya.
"Jangan, Ayah... dia datang kemari hanya untuk menjengukku. Biarkan dia bermain-main dengan Jenny sebentar. Setelah selesai, Jenny akan menyuruhnya keluar," kata Jenny lemah.
Ternyata, si gendut dibiarkan tidur bersama Jenny di kamar... semula aku menduga ayah akan marah besar ... mengusir atau bahkan memukulnya. Tapi, setelah ayah mengetahui bahwa dia tidak sembarangan membuang kotoran, Ayah tidak berkomentar lagi. Beliau malah memberinya makan dan memperlakukan dengan baik, padahal setahuku, ayah benar-benar pembenci kucing.
Lebih dari 3 bulan, si gendut tinggal. Kalau dulu dia tampak berantakan, tapi, sekarang ia lebih terurus dan bersih. Sifat penurutnya membuat semua orang suka. Dia benar-benar diperlakukan secara istimewa dibanding kucing-kucing yang lain.
Pada bulan keempat, Jenny kembali jatuh sakit, penyakitnya ini lebih parah dibandingkan 4 bulan yang lalu, dokter tak mampu berbuat apa-apa lagi. Jenny hanya terbaring lemah, si gendut tak pernah meninggalkannya. Ia selalu duduk ataupun berbaring di samping Jenny. Sesekali menjilat, menggigit ataupun memijat Jenny seakan memintanya untuk membuka mata dan bermain-main dengannya. Jenny tak bergeming.
Satu Minggu kemudian Jenny menghembuskan nafas terakhirnya. Kami semua berduka cita... leukimia telah merenggut nyawanya. Diantara keluarga kami si gendut, binatang itu seakan tidak bersemangat lagi.
Saat tanah telah menimbun jenazah Jenny, mendadak si gendut berlari, ia mengengong pilu sementara, kaki depannya berusaha menggali tanah, beberapa orang mencegahnya tapi kembali ia terus-menerus menggali seakan takkan ingin berpisah dengan Jenny atau paling tidak melihat wajah majikannya barang sebentar. Kejadian itu mencengangkan banyak orang. Mereka menangis melihat pemandangan yang memiriskan hati itu.
7 hari setelah kematian Jenny, si gendut pergi dari rumah, menghilang entah kemana. Berulang kali kami memanggilnya tapi, batang hidungnya tak kelihatan. Kami semua merasa kehilangan.
_____ T a m a t _____
Lumajang, Jum'at, 06 Januari 2023
NB : Kucing Kesayangan Jenny dalam versi novel akan segera ditulis oleh author. Mudah-mudahan tidak lama lagi. Mudah-mudahan, cerpen ini bisa dipetik hikmahnya... dan bisa menghibur serta mengisi waktu luang anda. Author juga meminta kerja sama dari pembaca sekalian untuk Like, Koment dan follow... karena, itu sangat berarti untuk perkembangan karya-karya author yang lainnya. Terima kasih.