Hujan berlangsung deras, malam pun menjadi semakin dingin sampai rasanya menusuk permukaan kulit gadis kecil itu membuatnya meringkuk menggigil kedinginan, dengan gigi nya yang bergemeretak tidak karuan.
Ditatapnya ke arah jendela yang terbuka, menampilkan dahan pohon terombang ambing akibat angin kencang yang menerpa nya.
Dirinya segera berdiri dan menutup jendela yang terbuka itu dan berbalik. Alangkah kagetnya ia, saat melihat Ayahnya tiba-tiba ada berdiri berada di kamarnya.
"Ayah? ..Ada apa?" tanyanya pelan, ia sedikit takut dengan Ayahnya yang suka marah-marah dan melempar barang itu.
Ayahnya hanya menatapnya dalam diam dan menaruh plastik berisi makanan yang ia taruh di meja samping pintu. Lalu pergi begitu saja tanpa sepatah katapun.
Gadis itu menatap plastik berisi makanan itu tanpa memakan sedikitpun makanan yang ada disana. Sampai satu kucing liar entah dari mana datang selalu masuk kesana dan memakan makanan itu, gadis itu pun juga terlihat tidak keberatan melihat kucing itu yang sedang lahap memakan makanannya.
Dalam makannya yg lahap, kucing itu tiba-tiba berhenti dan mendongakkan kepalanya memandang gadis kecil itu lama, membuat gadis itu tersenyum. "Kau suka?" tanyanya dan hanya dibalas meongan kecil dari kucing itu lalu melanjutkan makannya.
"Ayahku memberikan makanan seperti ini setiap hari, walaupun aku tidak menyentuhnya sama sekali dan bahkan saat dia kekurangan makanan untuk dirinya sendiri, dia tetap memberikanku makanan." Ucapnya sambil mengelus pelan dengan kasih sayang pucuk kepala kucing itu.
"Ayahku baik kan? Dia itu Ayahku yang terbaik sepanjang masa." jelasnya, sambil menatap bekas-bekas plastik bungkus makanan.
Pranggg!!!
Suara pecahan kaca terdengar, membuat kucing itu terkejut dan segera berlari keluar rumah disaat deras nya air hujan yang mengguyur. Gadis itu juga ikut terkejut dan segera menghampiri ke asal suara itu berada.
Dari ujung pintu dapur, Gadis itu menatap Ayahnya prihatin yang sedang menggenggam pecahan piring sampai mengalir darah segar ditangannya.
"Ayah....." cicitnya, memanggil sang Ayah.
Gadis itu tiba-tiba terlonjak mendapati Ayahnya yang melempar pecahan piring itu kepadanya, meleset ke arah dinding disamping kepalanya.
"Ayah....." panggilnya lagi, dengan mata berkaca-kaca. Lagi-lagi seperti ini, Ayahnya dari dulu yang sering sekali tiba-tiba marah dan melempar asal barang karena kedapatan kalah dalam berjudi, sekarang dia terlihat sangat prustasi.
Lelaki yang terlihat berada dipertengahan umur itu meremas kepalanya dan dengan kaki yang berdiri lemas, ia terduduk sembari menunduk, lalu berteriak, "PERGIII!!!" ucapnya dengan lantang.
Tangan Gadis itu sedikit bergetar, ia sangat takut Ayahnya akan memukul nya lagi dengan vas bunga seperti dulu. Namun, entah dengan keberanian apa yang terjadi padanya, dirinya malah mendekati Ayahnya dan memegang pundak Ayahnya. Khawatir akan keadaan yang terjadi pada Ayahnya itu.
"Ayah, kau baik-baik saja kan?" tanya nya Khawatir.
"...."
Hening, tidak ada jawaban.
"Kalau Ayah lapar, Ayah bisa memakan makananku yang ada dikamar. Tidak apa! Aku sama sekali belum menyentuhnya." ucap Gadis itu lagi.
"Walau ada sebagian tadi yang sudah di makan oleh kucing, tapi aku yakin sebagian besarnya makanan itu masih utuh tanpa tersentuh!" jelas yakin gadis itu dengan senyuman meyakinkan.
"...."
Masih dengan situasi yang hening, lalu beberapa menit setelahnya dengan kondisi yang sangat sunyi tanpa ada yang bersuara.
Ayahnya itu lalu mendongak kan kepalanya sembari menatap wajah gadis itu dengan air mata bercucuran deras, serta ekspresi wajah yang sangat memohon, sembari berkata penuh harap.
"Pergilah! Kumohon, Pergi.. Kau seharusnya sudah tenang berada di alam sana....."
Kenapa tuh.. Ada yang bisa jelasin? >_<