Kisah seorang istri yang di tinggalkan oleh suaminya pergi untuk bekerja, sang suami tidak pernah pulang bahkan tidak pernah memberikan kabar untuknya.
Rindu, setiap wanita sangat membenci kata rindu, apalagi seorang istri,yang merindukan suami mereka yang pergi meninggalkan mereka tanpa kabar darinya.
Sungguh, tidak ada istri yang ingin di tinggalkan suami tanpa ke pastian yang ada, apalagi seorang istri yang sudah menjadi ibu.
Perasaan rindu, sedih bertabur menjadi satu ketika mengingat,orang yang kita rindu,orang yang kita sayang,bahkan orang yang kita cintai tidak ada di sisi kita.
Dilihatnya wanita cantik, yang sedang duduk di balkon, dengan di temani putri cantiknya yang sangat menggemaskan itu, duduk di sampingnya,dan bayi mungil yang berada di gendongannya.
Wanita itu menggendong bayi mungil, yang tampan serta menggemaskan, pipi yang bulat, hidung yang mancung, bibir yang tipis, sungguh imut, bukan.
"uda, yayah apan uyang ini?". ujar sang putri kecil.
"Lira sayang, ayah pasti pulang". sanggah sang bundanya sambil tersenyum menutupi kesedihannya.
"api apan yayah uyang uda, Lila inin etemu Yayah". Ujar gadis kecil itu dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang nanti ayah pulang ko, ayah lagi cari uang yang banyak untuk kita, untuk lira sama Ade Varel beli susu". Ujar bundanya sambil tersenyum serta mengusap pucuk kepalanya penuh kasih sayang.
Perasaan sedih yang Nadira rasakan, ketika putri kecilnya menanyakan kapan ayahnya pulang, Nadira mencoba menepis rasa sedih itu, di pikiran Nadira dia tidak boleh terlihat bersedih di hadapan putri nya, dia harus terlihat bahagia di depannya menyembunyikan kesedihannya.
"Sekarang Lira sama Ade Varel tidur yah bunda mau ke minimarket dulu, nanti bunda suruh mba Mita nemenin kalian!!". Tambahnya lagi.
Lira hanya mengangguk mengiyakan ucapan bundanya, Nadira menggiring Lira menuju kamar, untuk menidurkannya dan meletakan Varel yang sudah tidur di gendongannya di samping tempat Lira berbaring.
Setelah menidurkan ke dua anaknya, Nadira keluar menuju ke bawah menghampiri Mita selaku baby sitter yang mengurus kedua anaknya.
"Mit,Mita".Ujar Nadira dengan suara yang lembut.
Dilihatnya Mita yang berjalan dari arah taman menghampiri Nadira.
"Iyah Bu, maaf saya tadi habis dari taman,ada apa yah Bu??".Ujar Mita.
"Saya mau pergi ke minimarket sebentar soalnya bahan makanan udah pada abis semua, persediaan susu buat Lira sama Varel juga udah abis, kamu jagain mereka yah saya cuma sebentar ko,dia lagi tidur di atas!!". Ujar Nadira.
"Iya Bu, tenang aja Mita bakal jagain mereka sampe ibu kembali". Ujarnya sambil tersenyum.
Nadira keluar untuk pergi ke minimarket, berhubung ini hari minggu jadi Nadira tidak bekerja, setiap hari libur Nadira selalu menghabiskan waktu nya bersama anak-anak nya, tapi hari ini Nadira harus pergi ke minimarket jadi dia terpaksa meninggalkan anaknya untuk sebentar.
Karena tidak mungkin untuk Nadira membawa anaknya keluar, karena ini hari libur pasti banyak orang-orang berlalu lalang, karena Nadira sangat menjaga kesehatan anak-anaknya jadi Nadira tidak mengajaknya, mengingat anak-anak nya masih terlalu kecil untuk keluar rumah, pasti banyak virus bertebaran.
Setelah memakan beberapa menit Nadira sampai di minimarket. Nadira masuk ke dalam minimarket, dia mengambil troli belanja untuk mempermudah Nadira membawa belanjaan yang di pilihnya.
Nadira mulai menelusuri setiap lorong minimarket tersebut dan mengambil semua apa yang dia butuhkan, dari kebutuhan gizi untuk anak-anak nya dan untuk dirinya.
Tidak membutuhkan waktu lama Nadira telah selesai belanja, Nadira langsung pulang menuju rumahnya.
Setelah memakan waktu beberapa menit Nadira sampai di rumahnya, dia langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Bi, Bi ijah". Panggil Nadira pada asisten rumah tangga nya.
"Eh, iya Bu".Jawab Bi Ijah sambil berlari kecil menghampiri Nadira.
"Bibi dari mana,,?".Tanya Nadira.
"Itu anu Bu abis bersihin halaman belakang". Ujar bi Ijah.
"Owh, ya udah bi ini tadi saya abis belanja tolong tatain yah bi!!". Ujar Nadira.
"Iyah Bu, bakal saya tatain".Ujar nya.
"Ya udah makasih ya bi". Ujar Nadira lalu pergi dari dapur menuju kamar dimana anak-anak nya tidur.
Setelah dari dapur Nadira menghampiri kamar anaknya, Nadira menarik gagang pintu dan mendorong nya dia pun masuk, dilihatnya anak-anaknya masih tertidur dan juga Mita yang ikut tertidur pulas di dalam kamar.
Nadira pun menghampiri anaknya, mengecup kening mereka serta mengusap pucuk kepalanya dengan hati-hati.
"Eh ibu, udah pulang?". Ujar Mita.
"Maaf Bu, saya ketiduran". Tambahnya lagi.
"Iyah udah baru ajah nyampe terus naroh belanjaan di dapur langsung kesini". Ujar Nadira.
"Gak papa ko Mit kamu tidur aja disini sambil jagain mereka yah saya ke kamar saya dulu!!". Lanjut Nadira.
"Iyah Bu".
Nadira keluar dari kamar anaknya dan menuju ke kamar milik nya, Nadira berdiri di atas balkon matanya menerawang entah kemana pikirannya penuh dengan kekalutan dan kesedihan.
"Mas, kamu dimana?. Kenapa tidak pulang?. Apakah kamu tidak merindukan anak-anak kita?. Lira sangat merindukanmu, dia selalu menanyakan kapan kamu pulang?. Aku tidak tau harus bilang apa padanya, aku tak kuasa melihat air matanya ketika dia menanyakan kepada ku kapan ayahnya pulang, dan Varel kamu belum pernah melihatnya, dia sangat tampan sepertimu mas,setidaknya kamu pulang untuk anak-anak".
Ujar Nadira di dalam hati, dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya dengan deras.
.
.
.
2 tahun sudah saat Nadira menangis di balkon kamarnya, dia selalu berada dalam kesedihan tetapi Nadira terlihat bahagia ketika dia sedang bersama anak-anak nya.
Hari-hari yang telah Nadira lewati bersama anak-anak nya tanpa kehadiran sang suami yang entah pergi kemana.
Kini Nadira sedang bersama dengan anaknya untuk mengisi hari liburnya, kini lira sudah berumur 5 tahun dan Varel sudah berumur 3 tahun.
3 tahun sudah sang suami tidak pernah pulang bahkan tidak pernah menafkahi mereka, Nadira bekerja sendiri untuk menafkahi dirinya dan juga anak-anak nya.
"Lira sama Varel mau akan apa sayang?". Ujar Nadira pada kedua anaknya.
Lira pun dengan antusias mengatakan makanan yang ingin dia makan, begitu juga dengan Varel.
"Bunda, Kaka mau makan sepageti". Ujar Lira.
"Kalo Ade ayam goyeng unda". Ujar Varel.
"Oke, baiklah bunda akan pesankan untuk anak bunda yang cantik dan ganteng ini". Ujar Nadira lalu mencubit pipi tembem kedua anaknya itu.
"Oh iya, kalo kamu Mit mau makan apa sekalian saya pesankan?". Ujar Nadira.
"Tidak usah Bu". Ujar Mita.
"Gak papa, gak usah sungkan bilang ajah!!. Saya udah anggap kamu sebagai adik saya". Ujar Nadira.
"Saya pesan ayam bakar ajah Bu". Ujar Mita di balas anggukan oleh Nadira.
Nadira akhirnya memesan makanannya.
Setelah beberapa menit akhirnya pesanannya datang, mereka memakan makanan yang telah mereka pesan, Lira dan Varel terlihat sangat menikmati makanannya.
Dengan lahap Lira dan Varel melahap makanannya hingga habis tidak tersisa, mereka berdua bersendawa setelah menghabiskan makanannya.
"Anak bunda sudah kenyang yah??. Bilang apa kalo udah bersendawa??". ujar Nadira dengan tersenyum, sambil mengingatkan anaknya dengan kebiasaan yang Nadira terapkan.
"Alhamdulillah". Ucap keduanya.
"Iyah, bunda". Jawab mereka lagi dengan serempak.
Setelah semuanya selesai makan, Nadira dan anak-anak nya serta Mita bergegas untuk pulang, tapi tanpa sengaja Nadira melihat Hendra yang berada di sudut ruangan, yang ada di restoran ini bersama wanita yang aku kenal dan seorang anak perempuan yang umurnya sama dengan Varel.
Mereka sedang duduk, menikmati hidangan yang ada di hadapannya serta bercanda riya' tanpa terlihat beban sedikitpun, sungguh pemandangan yang sangat mengiris hati dan perasaan.
Nadira mengeryit kan keningnya untuk mencerna apa yang telah terjadi di hadapannya itu, sayup-sayup dia mendengan sebutan papah yang anak kecil itu ucapkan pada Hendra dan suara manja dari wanita yang aku kenal itu.
"Bu, ibu tidak apa-apa??"". Tanya Mita.
"Eh, tidak ko, kamu bawa anak-anak pulang dulu ada urusan sebentar yang harus saya selesaikan sekarang!!" Ujar Nadira.
Mita pun membawa Lira dan Varel untuk pulang.
Setelah Nadira menyuruh Mita untuk membawa anak-anak pulang, Nadira langsung menghampiri tempat dimana suaminya yang telah meninggalkannya 3 tahun yang lalu tanpa adanya kepastian.
"Mas, apa maksudnya semua ini hah??". Ujar Nadira penuh penekanan tapi dengan nada halus.
"Nadira?". Ujar Hendra dan Siska dengan kaget atas kehadiran Nadira.
"Iyah ini aku kenapa kalian kaget iya, dengan kehadiran ku hah, apa maksudnya ini semua??". Ujar nya dengan air mata yang sudah menetes.
"Maafkan aku Nadira aku sudah menikah dengan Siska". Ujar Hendra.
"Kenapa kamu tidak bilang?. Kenapa kamu meninggalkan aku dan anak-anak?. Apa salah ku sehingga kamu tega meninggalkan kita?. Setidaknya kamu ingat dengan anak-anak kita". Ujarnya dengan penuh kekesalan dan dengan air mata yang bercucuran.
"Dan untuk kamu Siska, kenapa kamu menghianatiku?. Mengapa?. Ternyata ini, kamu menghilang entah kemana ternya kamu pergi bersama suami dari sahabatmu sendiri,iyah?". Ujar Nadira dengan lemah.
"Kenapa kamu tega ngelakuin ini pada ku Sis,kenapa??". Tambah Nadira.
Siska pun tak bergeming sedikitpun dia hanya bisa menunduk, dengan air mata yang telah terjatuh, tidak berkata sepatah kata pun.
"Maafkan aku Nad". Hanya itu lah yang Siska katakan.
Nadira tak menggubris perkataan dari sahabatnya yang sudah tega mengambil suami bahkan ayah dari anaknya itu.
Nadira memandang wajah lugu, dari anak kecil itu dan memandang kedua orang yang telah mengkhianati nya.
"Jadi ini anak kalian". Ujar Nadira dengan melirik kedua orang yang telah membuat hatinya hancur.
"Untuk kamu mas, setiap hari aku dan anak-anak selalu menunggumu pulang, anak-anak selalu menanyakan kapan ayahnya pulang, dan ternyata ayahnya sudah bahagia tanpa mengingat mereka, sungguh anakku yang malang, bahagia lah dengan keluarga mu ini." Ujar Nadira dengan suara yang terisak lalu berjalan menjauhi mereka.
Tidak berapa lama Nadira berbalik menghampiri mereka, Nadira berjalan menghampiri Hendra dan berbicara.
"Aku ingin cerai dengan mu". Ujar Nadira lalu berlalu dari sana.
Semua orang yang ada di restoran, hanya bisa menyaksikan drama yang terjadi di dalam restoran, banyak orang yang berbisik-bisik, mengatai Siska pelakor,jalang dan sebagainya ada juga yang mengatakan bahwa Hendra seorang suami yang tidak bertanggung jawab,suami yang brengsek, dan ada juga yang menatap iba pada Nadira yang telah di tinggalkan suami nya pergi dengan wanita lain.
Pada saat kejadian itu berlangsung,semua pengunjung yang ada di restoran tersebut menjadi ramai dengan kejadian drama yang memilukan tersebut.
Setelah dari tempat yang sudah menguras perasaan dan hatinya, Nadira pulang ke rumah, Nadira menghampiri kamar kedua putri dan putra nya, dengan air mata yang masih membanjiri kedua pipinya, Nadira melihat kedua anaknya yang sedang tertidur di ciumnya kening kedua anaknya secara bergantian dan mengusap pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Bunda janji akan selalu membuatmu bahagia sayang, walaupun tidak ada kehadiran ayahmu". gumamnya.
"Bunda akan menjadi bunda serta ayah yang baik untuk kalian". Tambahnya lagi.
Dira meninggalkan kamar anaknya untuk menuju kamar miliknya, Nadira mengunci kamar nya, dia meluapkan semua kesedihan dengan menangis.
Orang yang selama ini ia cintai, ia sayangi,ia rindukan, dan ia harapkan kepulangannya, bahkan orang yang sudah menjadi ayah dari anak-anak nya kini telah bersama orang lain dan bahagia, tanpa mengingatnya, bahkan tanpa mengingat anak-anak nya yang merupakan darah dagingnya sendiri.
Sungguh Nadira tak pernah berfikir apa yang ada di dalam jalan pikiran Hendra, yang telah tega meninggalkannya tanpa kepastian,malah pergi menikah dengan sahabatnya sendiri.
Nadira tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya, dia masih memiliki anak-anak nya yang masih membutuhkan kasih sayang nya.
Nadira mencoba untuk ikhlas menerima takdir yang telah Tuhan garis kan untuknya, dia harus tabah menerima semua yang telah terjadi dalam rumah tangganya.
Tidak mudah bagi seorang istri yang harus berpisah dengan sang suami, apa lagi dengan kehadiran buah hati yang berada di tengah-tengah nya, tapi tidak dengan Nadira,dia telah memutuskan untuk bercerai dengan sang suami.
Seminggu sudah kejadian dimana Nadira meluapkan kesedihannya dan ini hari dimana Nadira mengajukan gugatan ke pengadilan.
.
.
.
Hari-hari telah di lewati Nadira dengan penuh ke ikhlaskan menerima jalan hidupnya yang sangat pahit ini.
Ini lah hari dimana Nadira akan menghadiri sidang perceraian nya dengan Hendra sang suami yang akan menjadi mantan suaminya.
Setelah beberapa ajuan-ajuan pertanyaan sang hakim pun telah memutuskan bahwa Nadira dan Hendra telah resmi bercerai.
Setelah semuanya selesai Nadira pulang ke rumah untuk menemui anak-anak nya, bagi Nadira anak-anak adalah nyawanya dan penyemangat di setiap hari-hari nya.
Nadira memutuskan untuk membuka lembaran-lembaran baru dengan sang buah hatinya, melupakan semua yang membuat hatinya terluka.
Hari-hari telah terlewati kini Nadira dan kedua anaknya Lira dan Varel telah melewati hari-hari yang bahagia tanpa seorang ayah yang berada di sampingnya Lira dan Varel tidak pernah menanyakan dimana ayahnya lagi, bagi mereka dia masih mempunyai Bundanya yang sayang kepadanya tanpa harus ada sosok ayah yang telah meninggalkan mereka.
----------SELESAI----------