Hari Senin, 2 Agustus 2022 adalah jadwal dimana Nalita Hawa sang murid baru masuk untuk melaksanakan MOS di sekolahnya.
Duduk sendirian dibangku terdepan, Lita hanya mendengkluk ke bawah melihati berita dunia hari ini lewat Instagramnya.
Satu persatu murid mulai masuk.
Dan juga ini, seperti biasa kakak kelas yang memberi materi MOS.
"Baiklah adik-adik, perkenalkan nama kak Bayu Syaputra dari kelas Xll MIPA 4 yang disini saya akan memandu MOS di kelas kalian," kata kakak OSIS.
Tiba-tiba tidak ada angin maupun hujan Lita menatap lurus mata kakak Bayu itu yang berada tepat di depannya.
Secara tidak sengaja Bayu si kakak kelas itu juga menatap balik Lita dengan tatapan yang tidak biasa.
Syukurlah materi-materi tersampaikan dengan cepat.
Bunyi bel yang terdengar datar dan aneh berbunyi.
"Oo baiklah kalian bisa istirahat,"ucap kak Bayu.
Dan ternyata itu bunyi bel istirahat.
Lita cepat-cepat pergi dari kelasnya, membawa satu novel dan terlihat berjalan sendiri.
Karena terburu-buru berlari mencari tempat istirahat yang pas untuk membaca buku, setelahnya ia tersandung dan terjatuh lah ia bersama bukunya itu.
Tidak sengaja Bayu lewat dan membaca judul novel itu,"Dewasa Cinta dan Bahagia."
Melihat Bayu membaca judul novelnya,Lita langsung ingin mengambil bukunya.
Ddukk...
Terbentuklah kepala mereka melihat Bayu juga ikutan membantu mengambil buku Lita.
"Makasi," kata Lita secara lirih.
"Oo buku itu tentang kehidupan, kamu nggak cari teman ?"
Tak terjawab sudah pertanyaan Bayu.
Dengan wajah polos Lita pergi meninggalkannya.
Inilah disaat matahari sangat merdeka memancarkan penuh sinar dan panasnya, semua murid-murid dihimbau untuk mendatangi lapangan dengan alasan sebuah kegiatan refreshing aja.
Seperti biasa pemikiran Lita, bahwa kegiatan MOS selalu aneh-aneh dan terbuktilah di sekolah barunya
ini.
"Baiklah sekarang kita akan memulai sebuah kegiatannya, lebih tepatnya sih kaya olahraga pemanasan sih, oke kalian duduk luruskan kaki coba pegang ujung kaki kalian !"ujar kakak OSIS.
Batin Lita,"gila apa sih siang-siang begini disuruh pemanasan !"
"Ayo ini aku lihat lo siapa yang nggak bisa," kata Bayu sambil berjalan mengamati satu-persatu adik kelasnya.
Dari belakang Lita terlihat menyerah tidak bisa memegang ujung kakinya.
"Nggak bisa ya?" ujar Bayu sambil tersenyum tipis.
"Hih,"batin Lita.
"1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 Oke sudah, sekarang kalian boleh berdiri !"
Batin Lita,"eh kok aku pusing ya."
Saat berdiri mata Lita berkunang-kunang, seperti energinya terkuras karena kepanasan.
Ditangkaplah dari belakang oleh Bayu, mengangkatnya lalu dibawa ke UKS.
Selang beberapa menit Lita sadar, perlahan membuka matanya, melirik kesamping dan nampaklah laki-laki itu lagi.
"Ha dia lagi?" tanya Lita, dengan suara serak pertanda dia masih lemas.
"Ohh udah sadar," kata Bayu, sambil membawakan minum yang diletakkannya di meja dekat ranjang gadis itu.
"Kenapa terus memperhatikanku ?"
Tersenyum manis Bayu..
"Tenang membuatmu cantik, yang aku tau dari seseorang seperti mu itu jika tersenyum akan membuat orang lain sangat bahagia, dan aku sangat ingin melihatnya," kata Bayu.
"Kalau begitu aku akan mengurangi senyumku,"ucap Lita, dengan datar.
Tersenyum lagi Bayu
"Lihat itu di bawah gelas !"
Langsung mengangkat gelasnya, terlihat ada satu kertas yang terlipat
Tertulis,"di taman alun-alun."
***
Terlihat sesosok pria yang duduk di kursi taman. terlihat kusam karena mendung.
Datang seorang perempuan yang sama dari UKS tadi.
"Kenapa ?" tanya Lita.
"Langsung saja akan ku utarakan. Maukah kamu menjadi kekasihku ?," ucap Bayu sambil menyodorkan seikat bunga.
Degg
Lita tersenyum,"apa kau yakin ?"
"Yakin ta."
Mengambil secara lembut bunga itu, Lita sangat bahagia.
Akhir-akhir ini dia selalu memandang buruk semua laki-laki, tapi melihat bayu itu tetap menembaknya padahal dia sudah bersikap buruk di sekolah tadi, ia menjadi sangat percaya didalam diri Bayu
sepertinya memang benar-benar ada yang namanya tulus.
"Beneran Lita ?"
Serintik demi serintik hujan turun.
"Lita ayo berteduh !" kata Bayu sambil melebarkan jaketnya untuk melindungi Lita dari hujan.
"Bukankah kamu ingin tau bagaimana bahagianya orang yang tenang sepertiku ini ?
"Ha gimana ? Ini kan hujan !"
"Ya ini Bayu, bermain hujan ,"Lita tersenyum sangat lebar sambil berlari-lari.
Benar kata Bayu, itu membuat Bayu sangat bahagia.
Disitulah kejadian sangat menyenangkan, mereka kejar-kejaran, main perosotan, ayunan, dan semua yang ada di taman itu sampai hujan mulai mereda.
"Apa kamu nggak akan sakit nanti?" tanya Bayu, yang sedang menaiki montor membonceng Lita.
"Aku tidak akan sakit saat aku bahagia bayu," jawab Lita, sambil memeluk erat Bayu disituasi gerimis.
"Emm," Bayu tersenyum mendengar jawaban Lita.
***
Dirumah ..
Membuka pintu rumahnya perlahan, melihat banyak barang berserakan, tergeletak ibu di lantai seraya
mengeluarkan setetes demi setetes air mata.
"Ada apa ini bu?"
"Lita ayahmu, "jawab ibu sambil menangis.
Dari belakang suara orang berjalan mendekat.
Oh ternyata itu ayah, ia membawa kayu yang digunakan untuk memukul ibu.
Tidak tinggal diam Lita melerai mereka berdua.
Lagi-lagi aku disibukkan untuk melerai kedua orang tuaku bertengkar, selalu terdengar tuduhan bahwa ayahku selingkuh, inilah traumaku.
"Nak kamu harus berusaha menikah dengan kekasih pilihanmu, jangan sampai dijodohkan seperti ibu,"kata ibuku.
Selama berpacaran, kini aku selalu melarang Bayu bersama atau bahkan berbicara dengan perempuan
lain.
***
Besoknya di sekolah.
Berjalan dengan santai namun perlahan langkahnya mulai terhenti, melihat Bayu berbicara dengan teman akrab perempuannya.
"Eh bayu nanti siang makan bareng yuk aku traktir,"kata teman perempuan Bayu.
Lita yang mendengar percakapan mereka langsung menghampirinya.
"Tidak bisa !" ucap Lita dengan wajah masam.
"Apaan sih emang kamu siapa ?"
"Dia pacar aku Lita, lagian nggak gitu sih emang nanti siang aku ada pelatihan basket jadi nggak bisa,"jawab Bayu.
Lita menatap sangar ke perempuan-perempuan itu lalu pergi.
"Lita kamu marah ya..."
"Biasa aja."
"Tapi kok nada ngomongnya gitu sama Tania tadi ?"
"Ya emang gitu susah kalo punya pacar famous kaya gini !" ucap tegas Lita, beranjak pergi menuju kelasnya.
Di Ruang kelasnya.
"Lita ! kamu nggak bercita-cita ulangan tanpa remidi gitu ?" bentak wali kelas kepada Lita.
"Saya akan belajar lebih giat lagi Bu."
"Halah, berulang kali ibu mendengar ucapan itu, jangan sibuk pacaran terus !"
"Iya Bu."
Terlihat Bayu sudah menjemput Lita didepan kelasnya.
Mengajaknya ke sebuah pameran, Bayu melihati Lita memilih anting-anting lucu.
"Sekarang kamu tampak bahagia Lita, berbeda dengan dulu."
"Aku tidak akan kembali muram jika aku terus bahagia bersama kamu," ucap Lita diikuti senyuman yang
lebar.
"Hiss dari kemarin bikin baper terus."
***
Besoknya terlihat lagi Bayu menunggu didepan kelas Lita.
Lita sudah sangat bersemangat untuk menghampirinya.
"Maaf Bayu lama ya ?"
"Ha ? Enggak, lagian aku nunggu itu si Ririn, pelatih nyuruh kita berangkat gandengan, emm gini kita se ekskul basket, bolehkan aku berangkat bareng gitu?"
.......
"Yaudah sana !"
"Oke aku pergi dulu ya, tapi kamu jangan marah gitu dong."
"Enggak, sana !"
Terpasang ekspresi datar dan khawatir di wajah Lita.
Pacaran sudah berlangsung selama 3 tahun, tepat dihari ini perayakan tidak dilaksanakan karena bertepatan dengan perlombaan basket Bayu.
Hanya dari tempat duduk penonton Lita dapat melihat Bayu.
"Bayu ! Bayu !" seru penonton perempuan yang tertuju pada Bayu.
Mendengar itu Lita langsung menatap tajam penonton perempuannya.
Batin Lita,"kenapa sih Bayu harus famous !"
Kembali melihat perlombaan.
Dari bangku penonton sekelebat Lita melihat Ririn mengelap keringat Bayu saat break. Lagi-lagi ia marah.
Perlombaan selesai, grub Bayu jelas menang saat itu.
Beranjak pergi dari bangku penonton, berjalanlah ia ke pintu keluar bersamaan pendukung ciwi-ciwi grub Bayu saat itu.
"Iii ganteng banget sih Bayu tadi, iyakan ?"
"Iya nih, ga pantes banget jadi pacarnya Lita !"
Mendengar pembicaraan mereka Lita langsung menghampirinya.
"Apa maksud kalian bicara begitu !"
"Kenapa sih marah mulu !"
"Kalo ngomong dijaga ya, siapa yang ga pantes ?"
"Dasar perempuan sampah ! Ngga tau diri, tau pacarnya itu udah kaya idol gitu, ngehargain kek !"
"Kalian tadi juga udah kelewatan ya ngomongnya !"
Salah satu penonton itu mulai sangat emosi hingga kata-kata kotor selalu menyertai setiap omongannya.
Setelah bertengkar dengan penonton itu, entah kenapa Lita menjadi sedih karena omongan penonton itu yang sangat menyakiti hatinya.
Selang beberapa detik keluarlah Bayu bersama Ririn.
"Eh Lita udah nunggu lama ?" tanya Bayu.
"Nggak kok,"jawab Lita sambil melihati Ririn.
Tiba-tiba Ririn tersenyum
"Bayu ingat baju tadi ?" Ririn tertawa terbahak-bahak.
Bayu juga tiba-tiba ikut tertawa,"kok bisa lo kaya gembel gitu."
Lita yang tidak mengerti gurauan mereka menjadi terus terdiam mengiringi jalannya menuju mobil.
"Huu sepi ya,"ucap Bayu sambil menyetir mobilnya.
"Sekarang sama aku nggak seru ya ?"
"Enggak gitu.. tadi teman-teman ku lo pada ngomongin yang ngakak semua."
Melihat luar mobil Lita tampak muram.
Sampailah Lita diantar menuju rumahnya.
Lita turun dari mobil, sebelum mobil Bayu berangkat pergi, Lita mengungkapkan perasaannya saat itu.
"Bayu katakan dengan jujur ! kita sudah 3 tahun pacaran lo, apa kamu masih mencintaiku ? Sungguh Bayu aku tidak baik-baik saja dan itu mengartikan bahwa aku sudah kehilanganmu."
Bayu menatap kosong Lita.
"Bayu, pikirkan baik-baik perasaanmu,"kata Lita, berbalik pulanglah masuk ke rumahnya.
Bayu berlanjut mengemudi mobilnya, tanpa sekelebat pun menoleh ke arah Lita.
Keberangkatan sekolah Lita hari ini menjawab pertanyaannya kemarin, secara sengaja Bayu bergandengan dengan Ririn berdiri didepan Lita.
"Maaf Lita, secara jujur aku sudah menyukai orang lain yaitu Ririn."
Menatap Bayu dengan mata yang berkaca-kaca, pecah sudah hati Lita selama ini ia begitu mencintainya dan begitu menjaganya.
"Semua sia-sia,"kotaku.
Seketika Lita berlari kembali keluar sekolah, berlari sekencang-kencangnya menuju rumah.
Bertemulah ia dengan ibunya.
"Lita kok udah pulang ?"tanya ibu Lita.
"Berkas apa itu Bu ?"
Ibu terlihat gugup, lalu berkata,"maaf Lita, ibu harus mengakhiri rumah tangga ibu dengan ayahmu, dia sudah terbukti berselingkuh."
Dalam hati Lita yang tidak lagi polos itu berkata,"ibu aku trauma, maka itu aku melakukan semua itu pada kekasihku."
Hari itu sangat buruk, harapan, kenangan, semua membekas sampai aku dewasa, aku menjadi gila kerja, sampai lupa umurku sudah 27 tahun.
"Lita, umurmu sudah 27 tahun apa kamu tidak ingin menikah? Cepat ajak pacarmu menikah!"
"Ibu aku benar-benar tidak memikirkan itu."
"Bagaimana kamu bisa berpikir begitu ! Ingat Lita kita di desa, tetangga-tetangga mungkin sekarang sudah serentak ngomongin kamu, semakin tua kamu akan terus dihakimi dan dianggap tidak berguna !"
"Jika itu mau ibu, takdir sudah ingin aku begini terus apa yang harus kulakukan ? ohh apa ibu berpikir akan menjodohkanku?"
"Iya, ibu lebih tidak mau kamu terus dihina Lita ! Sadar lah !"
"Bagaimana ibu bisa sekejam itu ! Apa ibu menyeretku ke lubang yang sama sekarang ?"
Karena cibiran tetangga, ibuku terus mendorongku untuk menikah, mirisnya sekarang aku tidak punya pacar, berujung sedih akhirnya dia memakan omonganya dan terus menjodohkanku.
Seketika muncul sms dari Bayu,"ke kafe ya.."
Harapan lagi, dengan tegas Lita berkata,"ibu jika kali ini dia tidak menyatakan cintanya lagi, Minggu
depan aku mau dijodohkan sesuai permintaan ibu !"
Datang menuju sebuah kafe, dari kejauhan patah kembali setengah hati Lita, melihat Bayu duduk bersama Ririn .
"Eh Lita."
"Langsung saja ya,"Ririn menyodorkan undangan pernikahan untuk Lita.
Lita tersenyum,"selamat ya."
"Sebenarnya kita mengundangmu langsung seperti ini agar hubungan teman antara kita terus berlanjut, ya kan dulu agak berjarak mulu, ya aku sekarang harus akrab denganmu melihat kamu teman
perempuan Bayu dulu."
Terus menunduk kebawah," ohh iya, eh kalian gak pesan minum ? tunggu aku pesanin."
"Eh... Nggak usah nggak papa."
Air mata Lita menetes sambil membaca undangan pernikahan itu.
"Pak ada kertas ?"
Lita kembali membawa minuman.
"Kalian nikmati sisa waktunya, terima kasih undangannya."
Saat Bayu mengangkat minumannya, ternyata ada kertas.
Dibacanya di mobil saat sedang sendirian,"maaf Bayu, terima kasih sudah mengundangku tapi Minggu
depan aku juga sedang ada Persiapan pernikahan, ibuku menjodohkanku."
Sontak Bayu membatin,"kenapa tidak ada hujan hari ini, oh.."
Tiba-tiba hujan mengguyur
Saat itu Lita berjalan kaki untuk kembali pulang, dan sangat tepat memang hujan mengenai dia.
Semakin deras, semakin basah Lita semakin sedih, untuk pertama kalinya dia sangat sedih ketika sedang diguyur oleh hujan kesenangannya.
Sambil terus berjalan ia menangis, merasakan pertama kalinya air mata yang ia keluarkan tersamarkan
oleh hujan.