Suara gaduh dari arah dapur membuat gadis yang sedang berkutat dengan ponsel memutuskan untuk melihatnya. Suara itu seperti benda yang berjatuhan dari tempatnya.
“Lo?” ujar gadis itu setelah melihat ada apa di dapur, ternyata adiknya sedang masak telur dadar.
Melihat peralatan dapur yang berserakan di lantai, membuatnya mengerutkan dahi. “Kenapa begini?” ujarnya lagi.
“Gasnya abis! Lo lupa beli gas? Ga becus banget, sih!” ujar anak laki-laki itu menyolot.
“Gue ini kakak lo, ya! Yang sopan dikit, ke,” gadis itu pun tak kalah tinggi dengan nada bicaranya.
“Kakak? Lo itu anak yang dipungut mami karena mami kasihan sama lo tau gak, sih? Lo bukan kakak gue! Lo bukan bagian dari keluarga gue! Emang mami sayang sama lo? Gak, Ruby Erlania!” laki-laki itu melenggang pergi meninggalkan Ruby yang tengah mematung dengan ucapannya.
Gadis itu Ruby, lebih tepatnya Ruby Erlania.S. Gadis berkulit putih dengan rambut hitam panjang yang digerai, tatapan matanya teduh tapi menusuk dihiasi dengan bulu mata yang lentik menambah kesan cantik padanya.
Dengan membereskan peralatan dapur yang berserakan, Ruby memikirkan ucapan adiknya. Bukan sekali dua kali adik laki-lakinya bilang begitu, dia selalu bilang jika Ruby bukan bagian dari keluarganya.
Apa itu benar, mami? Pertanyaan yang belum terjawab sampai sekarang. Setiap Ruby menanyakan hal itu pada orang tuanya, mereka seolah mengalihkan pembicaraan.
Apapun yang Ruby mau ada di sini karena keluarga ini memiliki kekayaan yang melimpah, tapi tidak dengan kasih sayang layaknya orang tua dengan anak. Melainkan seperti majikan dengan pembantu.
***
“Halo, gaes ... ada berita baru, terbaru dan akurat dijamin duar banget,” ujar gadis yang baru saja datang dengan membawa kamera DSLR di lehernya. “Terutama lo Ruby, lo harus tau berita ini!” ujarnya lagi dengan penuh penekanan di setiap katanya.
“Apaan, sih? Jangan bikin kepo, deh.” Timpal gadis yang sedang mengaduk-aduk es teh manisnya.
Ruby dan ke-empat sahabatnya kini sedang berada di kantin, menghabiskan waktu istirahat dengan sahabat membuatnya lupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya bimbang. Mendengarkan gosip yang katanya sangat mengejutkan yang disampaikan temannya itu.
“Lo serius ada anak baru yang mukanya mirip gue?” tanya Ruby dengan mengangkat sebelah alisnya.
Gadis yang memberikan berita itu menunjukkan kameranya, menampilkan gambar gadis yang cantik dan sangat mirip dengan Ruby, bahkan sebagian temannya ada yang mengira kalau itu memang Ruby.
“Ngga! Gue ga punya kembaran, gue anak sulung!” Ruby pergi meninggalkan keempat sahabatnya, ia menuju kelas di mana sahabatnya menemukan gadis itu.
Deg, tidak bisa dipungkiri jantung Ruby berdetak kencang ketika melihat gadis yang memang sangat mirip dengannya, wajahnya, warna kulitnya, postur tubuhnya. Satu yang berbeda darinya, dia memiliki lesung pipi di sebelah kanan, sedangkan Ruby memiliki lesung di sebelah kiri. Ruby melihat perbedaan itu ketika dia tersenyum dengan lawan bicaranya.
Ternyata keempat sahabatnya membuntuti kemana Ruby pergi, sekarang kelimanya menatap gadis itu dengan tatapan tak suka. “Kita sambut dia dengan pesta,” ucap Ruby tersenyum sinis. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya.
Perilaku Ruby yang sombong dan kejam bukanlah watak aslinya, melainkan ia hanya ingin orang tuanya tahu bahwa dia membutuhkan perhatian seorang ibu.
Berulang kali Ruby melakukan pelanggaran di sekolah, berulang kali kepala sekolah mengundang wali murid, orang tuanya tidak hadir. Jika saja keluarganya bukan yang membantu banyak sekolah ini berdiri, sudah lama Ruby di keluarkan atas perilakunya terhadap siswi lain.
Mana perhatian seorang ibu? Mana perhatian seorang ayah?
Di sekolah Ruby memang terkenal sombong dan angkuhnya. Tetapi ketika di rumah, ia hanya meratapi nasibnya. Dibenci oleh adik, di acuhkan oleh orang tuanya. Sebenarnya aku ini anak kandung mereka bukan, sih? Batinnya berteriak.
***
“Mami, apa aku bukan anak kandungmu? Apa aku punya saudari kembar? Siapa aku sebenarnya?” pertanyaan Ruby menyerang bertubi-tubi pada wanita paruh baya yang ada di hadapannya.
Wanita itu mendengus kesal dengan pertanyaan Ruby padanya. “Oke, mungkin ini saatnya kamu tahu siapa kamu sebenarnya,” ujarnya.
Kelopak mata Ruby sudah berkaca-kaca, siap tak siap ia harus menerima pengakuan dari maminya, apa benar ia bukan anak kandungnya? Apa benar ia hanya dipungut karena mami kasihan padanya?
“Iya, kamu memiliki saudari kembar. Aku bukan ibu kandungmu, tapi aku punya segalanya untukmu. Ibumu membuangmu saat kamu bayi, orang tuamu hanya membutuhkan satu anak dan dia memilih saudarimu itu.” Wanita paruh baya itu meneguk teh hangatnya, tatapan matanya beralih pada Ruby yang tak henti-hentinya menangis. Wanita itu tersenyum menang.
“Ma—mami,” lirih Ruby, ia berkali kali mengusap air matanya.
Sakit, ini yang Ruby rasakan. Ketika kebenaran itu sesuatu yang menyakitkan harusnya dari awal ia tidak mengungkit hal ini. Sekarang Ruby menyesal telah mengetahui jati dirinya, ia adalah anak yang dibuang oleh orang tuanya, dan itu semua karena kelahiran saudari yang wajahnya sama dengannya.
Sekarang tinggallah benci dan dendam yang ada di hatinya. Ruby benci pada orang tua yang melahirkannya, ia juga benci pada seseorang yang menyerupainya.
***
“Ah!” Pekik gadis yang berada di kegelapan ruangan lembab. Tubuhnya terhuyung ke belakang membentur tembok. Seseorang menarik rambutnya kasar, kulit kepalanya perih seperti mau lepas dari tempatnya.
Tenaganya habis untuk sekedar teriak minta tolong. Dia terduduk lemas dan menangis tanpa suara. Darah segar mengalir deras dari pelipisnya ketika seseorang membenturkan kepalanya ke tembok.
“To—tolong, he—hentikan, s—sa—sakit,” dengan tenaga yang tersisa gadis itu meminta agar seseorang mengehentikan aksinya. Dia sudah merasakan sakit, nyeri, dan perih di sekujur tubuhnya.
“Sakit? Lo ga ngerasain sakit yang gue rasain!” seseorang dibalik kegelapan itu berteriak di depan wajahnya, lalu menangis.
Ayunan tangan mendarat di pipi kirinya. Merah, tapi tersamarkan oleh gelap yang mengelilingi ruangan ini.
“Apa salahku?” lirihnya.
“GUE BENCI LO! LO HANCURIN KEBAHAGIAAN GUE! LO AMBIL ORANG TUA GUE! LO AMBIL KASIH SAYANG ORANG TUA GUE! SAMPE MEREKA BUANG GUE KARENA LO! GUE BENCI LO!!” bentak seseorang itu, ada rasa sakit dalam kalimatnya. “GUE GAK SUKA LO ADA DI SINI! KENAPA LO HARUS LAHIR DI RAHIM YANG SAMA? KENAPA LO HARUS LAHIR DENGAN MUKA YANG MIRIP SAMA GUE? DAN KENAPA CUMA LO YANG NGERASAIN KASIH SAYANG MEREKA? SIALAN! LO HARUSNYA MATI!!” Seseorang itu mencekik gadis di hadapannya. Emosinya meluap menjadi-jadi, air matanya turun membasahi pipi, dia benci sosok dihadapannya.
“Ru—Ruby,” ujar gadis itu parau, dia sulit bernapas akibat cekikan di lehernya.
Ruby melepaskan cekikannya, rupanya gadis di depannya itu mengetahui namanya.
“Aku tau kamu Ruby, siapa lagi seseorang yang mirip denganku selain kamu, Ruby Erlania Shaenette. Kita saudari, kamu yang aku cari-cari selama ini, ternyata kamu ada di hadapanku sekarang. Kembalilah orang tua kita merindukanmu,” ujarnya parau dengan napas yang tersengal-sengal.
“Bohong!” Ruby mencengkeram kuat kedua pipi lawan bicaranya. Api kebenciannya belum padam.
“Ti—tidak, aku tidak berbohong. Kami semua mencarimu, kami semua menyayangimu. Namamu mirip denganku, wajah kita juga sama, kita saudari, Ruby.” Gadis itu memegang tangan Ruby, dia ingin memberi penjelasan yang detail kepada saudarinya. Rupanya Ruby salah paham padanya.
Ruby menepis tangan itu dengan kasar. Ada rasa senang dihatinya ketika ia mendengar kalimat 'kami semua menyayangimu', tapi Ruby berusaha agar kokoh pada dendamnya dan tidak tergoyah dengan mudah oleh kalimat manis gadis di hadapannya. “Jangan katakan itu di depanku!” ujarnya.
“Izinkan aku menjelaskan semuanya, Ruby.” Gadis itu memeluk Ruby, “kami semua menyayangimu, percayalah,” lanjutnya.
Jantung Ruby berdegup kencang, air mata perlahan turun tanpa disadarinya. Ia membiarkan tubuhnya dipeluk seseorang yang mirip dengannya.
***
Dua insan yang lahir di hari yang sama di menit yang berbeda, wajah keduanya mirip hanya lesung pipi yang berbeda. Ruby Erlania Shaenette dan Raya Erlania Shaenette, tengah duduk berdua di bangku taman. Keduanya menatap satu sama lain dengan tatapan haru.
Ruby memberi kesempatan pada Raya untuk menjelaskan semuanya. Ternyata ini memang salah paham.
Ruby tidak dibuang, melainkan Ruby diambil paksa oleh rekan kerja ayah yang sudah lama tidak memiliki anak, mereka mengambil salah satu dari mereka untuk membantu keluarga itu memiliki keturunan, itung-itung belajar mengasuh bayi, katanya.
Setiap hari ibu mereka menangisi Ruby, kelahiran keduanya hadiah paling indah yang dimiliki keluarga Shaenette. Shaenette—Ibu Ruby dan Raya. Keluarga yang mengambil Ruby berjanji akan mengembalikan Ruby setelah usianya menginjak 18 tahun.
Tujuh belas tahun berlalu, keluarga Shaenette mencari-cari keberadaan Ruby. Memindahkan Raya dari sekolah satu ke sekolah lain berharap Raya menemukan kembarannya.
Ternyata takdir berpihak pada mereka, Raya berhasil menemukan Ruby saudari kembarnya. Begitupun Ruby, ia telah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Ternyata Maminya yang mengatakan bahwa keluarga Ruby membuangnya itu salah, itu akal-akalan saja agar Ruby membenci keluarganya dan menjadi titik lemah untuk menghancurkan bisnis keluarga Shaenette.
Ruby memeluk Raya, hatinya teriris mendengar cerita Raya, ternyata Raya tidak seperti apa yang ia pikirkan. Raya tulus menyayanginya, air mata keduanya tak bisa dibendung lagi. Mereka berpelukan dengan tangis yang pecah di bawah sinar bulan.
“Maafkan aku, aku menyakitimu, aku menyiksamu,” Ruby sadar atas perlakuannya pada Raya seminggu ini.
Ruby menyambut kedatangan Raya dengan mem-bully-nya, merusak semua yang Raya persiapan di setiap harinya. Menjadikan Raya budak di sekolah. Tapi Ruby tidak turun tangan, ia hanya memerintahkan sahabat-sahabatnya melakukan itu, Ruby hanya mengamati dari kejauhan.
Dan hari ini, akhir dari segalanya. Ruby turun tangan untuk langsung menyiksa Raya, tapi dalam lubuk hatinya Ruby menyayangi Raya.
Tidak ada yang menyayangi Ruby di dunia ini selain Raya, Ruby melihat ketulusan di mata saudarinya. Bahkan sahabatnya juga menemani Ruby karena uang, Ruby memiliki segalanya dan dengan mudah memerintah mereka dengan iming-iming hadiah.
“Tidak apa, aku paham kondisimu. Kamu boleh melampiaskannya padaku,” ucap Raya tulus, “Kembalilah, orang tua kita merindukanmu,” lanjutnya.
“Iya, aku kembali.” Keduanya tersenyum bahagia menampilkan lesung di pipi kanan dan kirinya.
Keduanya berjalan menyusuri jalanan kota, menghabiskan waktu sampai larut malam dengan saudari kembarnya, bulan dan bintang seolah ikut tersenyum bahagia melihat keduanya kembali.
Keduanya saling menggenggam, dengan senyum dan tawa yang tak henti-hentinya keluar dari bibir mereka. Seolah tuli dengan keadaan sekitar dan menghiraukan teriakan orang-orang yang memintanya menepi.
Brak!
Sepasang saudari itu terpental jauh ketika sebuah mobil bermuatan bahan bakar itu menabraknya. Terjadi ledakan di jalan itu, teriakan histeris dari para pemirsa tidak melepaskan tautan tangan keduanya.
“A—ku menyayangimu, Raya. Se—selamat ulang ta—tahun yang ke de—delapan belas.”
“Aku j—juga me—nyayangi—mu, Ruby. Selamat u—ulang tahun y—ang ke delapan b—belas.”
Keduanya menghembuskan napas terakhirnya dengan tangan yang masih saling menggenggam. Besok adalah hari ulang tahun mereka yang ke delapan belas. Sayang sekali umurnya tidak sampai pada hari esok.
Langit malam menjadi saksi bisu kisah kedua saudari yang rumit. Ketika takdir mempertemukan mereka dan membawa mereka ke alam abadi untuk mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya.
Tamat
Pesan : (1)
Jangan jadikan alasan sebelah pihak untuk menuntut pihak lain. Dengarkanlah penjelasan dari kedua belah pihak, agar kamu mendapat kebenaran yang sesungguhnya.
Pesan : (2)
Jangan memandang seseorang itu dari apa yang kamu lihat dan apa yang mereka katakan, lihatlah dia dari semua sudut pandang. Tidak semua orang jahat itu berhati jahat juga, dia hanya butuh seseorang untuk memahami perasaannya.