Dara, dia bukan lagi gadis manja yang suka membuat onar. Semenjak bertemu Juan dan menyimpan perasaan pada pemuda itu, Dara berubah menjadi lebih dewasa. Tapi belum sepenuhnya sifat manja gadis itu hilang, mungkin hanya tersamarkan oleh perasaannya pada Juan yang begitu besar.
Dua bulan berlalu, Dara dan Juan kini sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Juan yang mulanya bersikap kasar pada Dara, berubah menjadi Juan yang lembut dan perhatian. Seperti malam ini, Juan telah mengajak Dara untuk pergi keluar bersamanya. Juan akui, pacaran dengan restu orang tua jauh lebih menyenangkan. Juan tak perlu sembunyi-sembunyi mengajak Dara kemanapun ia mau, dan Juan pun sering menghabiskan waktu dengan keluarga Dara tanpa rasa canggung.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu rumah Dara terdengar, membuat sang empunya tersenyum dan menghampiri sumber suara dengan rasa bahagia.
“Eh, pacar dateng,” ucapnya menyambut kehadiran Juan.
Juan tersenyum tipis lalu mengusap rambut Dara. Jantung Dara tidak terkontrol. Tiap kali skinship dengan Juan, Dara selalu merasakan sengatan listrik menjalar keseluruh tubuhnya. Dara yakin pipinya itu sedang cosplay menjadi tomat sekarang.
“Tante ada Ra?” tanya Juan padanya.
Dara mengangguk, namun sedetik kemudian ia mengernyit heran.
“Mau ngapain nyari Mami? Kamu mau ngajak Mami juga?” tanya Dara. Juan menggeleng, pacarnya itu memang selalu punya pertanyaan dalam kepala cantiknya. Pertanyaan aneh dan di luar akal sehat. Lebih anehnya lagi, Juan sama sekali tidak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu.
“Aku mau minta izin Ra. Masa bawa anak gadis orang malem-malem gini gak izin. Nanti dicoret dari list calon mantu lagi.” jawab Juan membuat Dara akhirnya mengangguk paham.
“Pip pip pip calon mantu. Mami ini calon mantu Mami!” ucap Dara setengah berteriak.
Juan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah setelah Dara persilahkan. Dania-Mama Dara terlihat sedang bersantai. Melihat kedatangan Juan, Dania tersenyum senang. Wanita itu menyambut kedatangan Juan dan mempersilahkan kekasih putrinya untuk duduk sejenak.
“Gak papa Tante, Juan cuma mau minta izin. Mau bawa Dara keluar,” ucap Juan menyampaikan tujuannya.
Dania tersenyum, batinnya terus mengucap syukur karena putrinya mendapat kekasih yang baik. Tanpa pikir panjang Dania mengangguk, memperbolehkan Juan membawa Dara dengan pesan, untuk selalu menjaga putri semata wayang nya itu.
Juan dan Dara segera berangkat setelah mendapat izin dari Dania. Mereka menaiki motor sport milik Juan dan melesat, meninggalkan lingkungan rumah Dara.
Awalnya Juan ingin membawa mobil karena langit begitu gelap, dan angin malam sangat tidak baik untuk kesehatan Dara. Namun Dara menolak, gadis itu ingin berjalan-jalan menggunakan motor Juan. Memang sudah lama Juan tidak menggunakan motornya. Apalagi setelah berpacaran dengan Dara, lelaki itu hanya menggunakan motornya ketika bermain sendirian saja.
Juan dan Dara berhenti di sebuah taman. Dara terlihat antusias melihat area yang dipenuhi rumput sintetis dengan penerangan yang minim itu. Juan senang saja, melihat Dara senang, tak ada lagi alasan untuknya bersedih.
“Jun, liat deh, lucu kan kucing nya. Gemush! Pengen aku pelihara,” sahut Dara melihat seekor kucing putih yang sedang tertidur.
“Ada yang punya Ra,” larang Juan untuk permintaan Dara.
Dara menekuk wajahnya, “Gak ada kalung nya itu. Gak ada yang punya berarti, kita pelihara ya,” bujuk Dara. Juan menghela nafasnya, akhir-akhir ini ia memang susah untuk menolak permintaan Dara.
“Nanti ya, kamu jangan pegang kucing nya dulu. Kita makan dulu gimana?” tawar Juan, dalam hati ia berharap Dara menyetujui sarannya itu.
Dara berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Juan bernafas lega, jika saja sarannya itu di tolak, sudah pasti ia tidak bisa melawan Dara lagi.
“Jun, aku bingung deh,” ucap Dara membuat Juan menoleh cepat padanya.
“Kepala kamu mikirin apalagi hmm?”
“Kok bisa ya, kamu suka sama aku? Padahal dulu kamu keukeuh banget pegen aku ngilang,” tanyanya pada Juan.
Juan membuka jaketnya, lalu memakaikannya pada Dara. “Gak tau, mungkin karena kamu gak pernah mau tinggalin aku,” jawab Juan. Dara mengangguk-anggukkan kepalanya, ia ingat betul saat ia masih berjuang untuk mendapatkan hati seorang Juanda Januarta. Urat malu Dara putus sepertinya pada waktu itu.
“Kalau sekarang aku tinggalin kamu?”
Juan menggeleng tegas, mataya menatap Dara tajam. “Aku bakal cari kamu Ra. Gak akan aku biarin kamu pergi.”
“Kalau kamu yang tinggalin aku gimana?” tanya Dara lagi.
Juan tersenyum, ia membingkai wajah Dara dengan kedua tangannya. Mendekatkan wajah mungil itu padanya. “Kamu boleh hukum aku Ra. Tapi aku janji gak bakal tinggalin kamu,” jawab Juan lalu mengecup puncak kepala Dara, dan memeluk gadis itu erat.
“Bahkan mikir buat ninggalin kamu aja engga aku Ra,” lanjut Juan membuat senyum terukir di wajah Dara.
Ting!
Bunyi notifikasi dari handphone Juan membuat pelukan keduanya terurai. Juan mengeluarkan benda pipih itu, dan melihat ada apa dengan benda tak bernyawanya. Melihat notifikasi tidak penting, Juan kembali memasukan handphonnya ke dalam kantong celananya.
“Siapa Jun?”
Juan menggeleng cepat. “Bukan siapa-siapa,”
Dara menyipitkan matanya, menatap Juan penuh curiga.
“Siapa ya yang bilang kalau pacaran tuh harus terbuka, jangan ada yang ditutup-tutupin,” sindir Dara.
Juan geleng-geleng kepala mendengar sindiran yang dilontarkan Dara. “Iya-iya. Itu tadi ada chat dari Raisa.” Jawabnya.
Dara memanyunkan bibirnya. Untuk apa si Ular itu mengirim pesan pada pacarnya. Ah, Dara bodoh. Dia pasti ingin mengambil Juan darinya.
“Apa katanya?” tanya Dara ketus.
“Kamu cemburu?” tanya Juan dengan senyum jailnya.
Dara memutar bola matanya kesal. “Jawab aja sih Jun. Dia ngomong apa?”
Juan terkekeh, Dara terlihat sangat lucu ketika sedang cemburu. “Dia bilang mau ngomong sama aku.”
“Ngomong apa?”
“Iya itu, dia bilang mau ngomong sama aku Ra.”
“Iya aku tau, tapi mau ngomong apa?” tanya Dara keukeuh.
“Astaga Dara, nih liat, dia mau ngomong sama aku.” Ucap Juan sambil memperlihatkan ponselnya. Terpampanglah pesan dari Raisa, ‘aku mau ngomong Jun, bisa?’
Dara ber-oh-ria ia manggut-manggut mengerti. Juan sedikit kesal melihatnya. Untung sayang.
Karena langit terlihat semakin gelap, Juan akhirnya mengajak Dara untuk pulang saja, dan Dara setuju. Setelah makan dan berkeliling, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah. Yah, Juan benar-benar bisa bernafas lega karena Dara lupa pada keinginannya untuk memelihara kucing, tadi.
Drrttt... Drrttt...
Ponsel Juan bergetar. Mau tak mau Juan menepikan motornya sejenak dan mengangkat panggilan dari ponselnya itu.
“Kenapa” tanya Juan pada sang penelpon.
“...”
“Lo tunggu di situ. Gue kesana sekarang,” ucap Juan, nadanya terdengar sangat khawatir.
Dara menatap Juan ragu, Juan tidak akan meningalkannya sendirian di pinggir jalan kan? Apalagi langit terlihat mendung sekarang. Juan tahu Dara sangat takut dengan hujan.
“Jun, kenapa?” tanya Dara ragu-ragu.
Juan berdecak lalu menatap Dara lekat. “Ra, aku minta maaf, tapi kamu harus pulang sendiri sekarang,” ucap Juan.
Dara menggeleng tegas. Tidak, dia tidak mau ditinggalkan malam-malam seperti ini.
“Gak! Aku gak mau Jun!” ucap Dara, nadanya naik satu oktaf saking takutnya.
“Ra, tenang okey. Kamu gak bakal kenapa-napa. Biar aku pesenin kamu taksi online ya.” Sahut Juan lalu segera memesan sebuah taksi online melalui ponselnya.
“Jun please, ini kenapa sih? Kenapa kamu mau tinggalin aku?” tanya Dara. Suara nya bergetar dan air matanya mulai turun.
“Raisa sendirian Ra, dan dia ngerasa diikutin daritadi. So please ngertiin aku okey. Aku takut dia kenapa-napa.” Ucap Juan memberi penjelasan.
“Jun kamu lebih mentingin dia daripada aku?!”
“Ra, cukup! Jangan egois gini. Kalau ada apa-apa sama Raisa gimana?!”
“Dia pasti bohong Jun. Tolong, jangan tinggalin aku.”
“Dia gak mungkin bohong disituasi kayak gini Ra!” ucap Juan membela.
“Baru beberapa menit Jun! Baru beberapa menit kamu bilang gak akan tinggalin aku! Tapi apa?! Kamu gak mikirin aku sama sekali! Dari dulu yang kamu pikirin cuma mantan kamu itu! Aku emang harus nya gak misahin kamu sama Raisa ya Jun!”
“DARA STOP! DEBAT SAMA KAMU GAK AKAN ADA HABIS NYA!”
“Kalau kamu pergi, kita putus!” ucap Dara final.
“TERSERAH RA! LO EMANG BENER, HARUSNYA LO GAK MASUK KE HIDUP GUE DAN NGACAUIN SEMUANYA! LO ITU CUMA BEBAN!” bentak Juan. Pikirannya sudah kalut, apalagi setelah kata putus keluar dari mulut Dara.
Dara membatu, kata-kata itu sama persis seperti yang diucapkan seseorang yang seharusnya menjadi cinta pertamanya. Hati Dara sungguh sakit, rasanya seperti diremas kuat. Dada nya terasa sesak mendengar pernyataan yang dilontarkan Juan padanya.
Juan akhirnya pergi, meninggalkan Dara sendirian. Tak lama setelah itu, hujan mengguyur kota dengan deras. Dara tetap pada posisi nya, berdiri mematung, membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Dara membiarkan tubuhnya bergetar hebat, selalu begitu memang ketika hujan. Kepala nya berputar, matanya berkunang-kunang. Tapi mau tak mau ia harus pulang.
Kenapa setiap laki-laki dalam hidupnya selalu pergi? Kenapa setiap laki-laki dalam hidupnya selalu menganggapnya beban? Bahkan orang yang seharusnya menjadi cinta pertama Dara saja malu mengakui keberadaan gadis itu. Ya, Dara di benci oleh Papa kandungnya. Tidak, bukan hanya Papa kandungnya, tapi seluruh keluarga dari Sang Papa selalu menatap Dara penuh kebencian.
Sebenarnya apa salah Dara? Dara tidak minta dilahirkan ke dunia yang kejam ini. Dara tidak pernah meminta siapa nanti yang akan menjadi orang tuanya. Dara bahkan tidak meminta dengan siapa dia akan menjatuhkan hatinya. Dara tidak bisa memilih itu semua. Jika Dara bisa, ia akan memilih keluarga yang harmonis daripada keluarga yang kaya raya. Ia akan memilih menjatuhkan hati nya pada lelaki yang benar-benar mencintai dirinya. Bukan seperti sekarang ini.
Langkah demi langkah membawa Dara melintasi jalan. Bajunya sudah basah kuyup, dan air matanya sudah tidak terlihat lagi karena hujan. Pendengarannya tersamarkan. Yang ia bisa rasakan sekarang hanya sakit pada seluruh tubuhnya. Pandangannya perlahan menggelap, diiringi sayup-sayup teriakan histeris dari beberapa orang.
***
Juan memarkirkan motornya, baju nya sudah sangat basah karena guyuran hujan. Matanya meneliti sekeliling, mencari sosok yang harus ia temui. Namun apa yang dilihat Juan, membuat nya marah.
“Maksud lo apa bilang kalau lo sendirian hah?!” cerca Juan tajam saat melihat Raisa sedang bercada ria dengan teman-temannya.
Raisa-mantan Juan, tersentak. Ia langsung berdiri dan meraih lengan Juan, namun Juan segera menghempas nya.
“Jun dengerin aku dulu, tadi aku emang sendirian, terus-”
“Gak usah banyak alesan! Gara-gara lo gue jadi berantem sama Dara! Gara-gara lo gue tinggalin dia dipinggir jalan!” bentak Juan.
Juan merasakan sakit di hatinya. Beribu penyesalan menghinggapi perasannya. Harus nya ia tidak meninggalkan Dara sendirian. Apalagi sekang sudah malam dan-
Hujan.
Dara takut hujan, tubuhnya selalu bergetar ketika mendengar suara hujan. Dara bahkan pernah menangis histeris hanya karena mendengar hujan dan petir.
“Ya bagus dong, kamu jadi tau siapa yang kamu prioritasin.” Jawab Raisa enteng.
Juan mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras dan matanya berkilat marah. Jika saja Raisa ini laki-laki, sudah habis Juan buat babak belur.
“Fuck!” umpat Juan lalu segera pergi. Ia harap Dara nya baik-baik saja. Jika sampai terjadi apa-apa pada Dara, Juan tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja ponselnya menerima banyak sekali notifikasi. Pesan dari orang tuanya, sahabat, dan Dania-Mama Dara. Semua itu membuat hatinya merasa gelisah, ia sangat panik sekarang.
Drrttt... Drrttt...
Panggilan dari Sang Ibunda segera Juan terima. Ia penasaran, tetapi juga takut dan gelisah. Ia tidak suka perasaan ini.
“Kamu dimana Juan?!” teriakan dari Ibunya membuat Juan tersentak.
“Juan di luar Mah, kenapa? Ada apa? Juan harus jemput Dara sekarang.”
“Astaga! Kamu ninggalin Dara Juan? Gak guna kamu jemput dia, Dara di rumah sakit sekarang. Dia kecelakaan!”
Degh!
Jantung Juan berpacu cepat, nafasnya memburu, rasa cemas dan khawatir menyelimutinya dengan cepat.
‘Jangan tinggalin gue Ra. Gue minta maaf. Gue mohon bertahan Ra.’
********
Namun siapa sangka, Dara meninggal dengan na'as.
Tubuhnya penuh dengan luka dan berlumuran darah, ia tertabrak truk yang melaju dengan cepat.
Saat itu Dara yang menggigil karena terguyur oleh hujan, dan mata nya yang berkunang-kunang, serta kepalanya yang pening, membuatnya tak bisa melihat dengan jelas, akibatnya ia tertabrak saat menyebrang jalan.
Saat dibawa kerumah sakit, dia nafasnya berhenti berhembus dan jantungnya berhenti berdetak pada malam itu. Dara dikatakan meninggal karena kehilangan banyak darah.
**********
"Hujan, engkau adalah saksi bisu, yang melihat ku untuk terakhir kalinya ketika aku melihat dunia ini. Juan, kau adalah senja, walau hanya sebentar kau di cakrawala, tapi kau langit yang paling indah bagiku" ~Dara