Radit laki-laki yang aku kenal beberapa bulan lalu melalui sebuah akun media sosial biru. Kini telah resmi menjadi suamiku, walaupun tidak mudah bagiku untuk mendapatkannya. Restu orang tua yang sama sekali tidak aku dapatkan membuatku nekat melakukan kawin lari dengannya.
Perkenalkan namaku Rahmania, orang-orang biasa memanggilku dengan panggilan Rahma. Aku adalah putri tunggal dari pasangan suami istri yang bernama Hendra dan Santi. Keluarga kami bukanlah keluarga yang penuh dengan kemewahan, bisa makan hari itu saja sudah alhamdulillah.
"Ayah tidak akan merestui pernikahanmu dan Radit!" bentak ayahku saat aku bilang Radit akan datang untuk melamarku.
"Apa alasan Ayah menolak Radit, sedangkan ayah sendiri belum pernah bertemu dengannya," jawabku sambil menoleh ke arah ayahku.
"Kamu tahu tidak jika dia itu usianya 11 tahun lebih tua darimu, keluarganya juga tidak jelas, jangan-jangan dia trafficking,” jelas ayahku dengan nada keras.
"Aku tidak peduli aku harus bisa menikah dengan Radit," jawabku sambil masuk ke dalam kamar.
Keesokan harinya aku diminta Ibu untuk mengemasi seluruh pakaianku. Ibu bilang hari ini aku akan diantar ke rumah paman yang ada di luar kota agar aku bisa melupakan Radit. Hampir 2 minggu aku berada di rumah paman, hingga suatu hari aku berhasil kabur dari rumah itu dengan menggunakan travel yang Radit pesan 2 hari lalu.
"Akhirnya sebentar lagi aku bisa bertemu lagi dengan Radit" batinku sambil tersenyum.
***
"Assalamualaikum Mas," ucapku saat aku sudah sampai di rumah kontrakan Radit di Bali.
"Waalaikumsalam," jawab Radit sambil keluar dari dalam kamar.
"Dari tadi aku hubungi kamu kenapa tidak diangkat Mas," tanyaku kepada Radit sambil masuk ke dalam kamar kosnya.
Saat itu kami sudah tinggal di kamar yang sama walaupun kami belum terikat oleh pernikahan. Radit yang bekerja di sebuah perusahaan konstruksi berusaha meminta izin kepada sang atasan untuk mengambil hari libur. Setelah mendapatkan izin kami pun segera menuju ke sebuah masjid yang tidak jauh dari tempat tinggal kami.
"Apa kamu sudah siap kembali ke agama islam Ra," tanya Radit kepada ku saat kami sudah di dalam masjid.
"Aku sudah siap Mas, " jawabku sambil menatap Radit yang berdiri di hadapanku.
Saat itu aku memang beragama Kristen, aku memutuskan keluar dari islam saat masih duduk di bangku SMA. Aku yang saat itu beragama islam masuk di sebuah SMA Kristen. Mungkin Karena nyaman yang aku rasakan Di sekolah tersebut atau Karena pergaulan aku
memutuskan untuk berpindah Agama.
"Kalau begitu kita masuk dan Kamu akan dituntun oleh seorang ustad untuk masuk Islam," ucap Radit sambil menggandeng tanganku.
Setelah beberapa proses aku jalani di depan para saksi kini aku pun sudah sah sebagai seorang muslim. Kini tiba saatnya aku dan Radit melakukan ijab kabul pernikahan secara agama. Hanya dalam satu kali nafas akupun resmi menyandang status sebagai istri dari Radit.
Dua bulan setelah pernikahan itu aku divonis dokter mengidap kista ovarium, sehingga akan menghambat kehamilan yang telah aku rencanakan. Berbagai pengobatan sudah kami lakukan, termasuk operasi pengangkatan kista. Namun, beberapa tahun kemudian tumbuh benjolan baru di rahim ku. Karena tidak ingin bertambah parah kami pun memeriksakan benjolan tersebut ke rumah sakit.
“Menurut hasil pemeriksaan, Ibu Rahma menderita tumor rahim stadium lanjut, dan kami harus melakukan tindakan operasi untuk melakukan pengangkatan terhadap tumor dan rahim ibu Rahma, " jelas sang dokter sambil menulis resep untukku.
"Apa kami boleh berunding dulu Dok, " tanya Radit kepada sang dokter.
"Boleh Pak, silahkan tapi jangan terlalu lama karena tumor yang ada di dalam rahim Ibu Rahma harus segera ditangani," jawab sang dokter.
Beberapa minggu kemudian aku pun menjalani operasi keduaku sekaligus pengangkatan rahim. Hampir 4 jam aku bertaruh nyawa di meja operasi yang cukup dingin. Aku memang tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius. Namun, aku masih bisa mendengar setiap ucapan para dokter dan perawat yang ada di ruangan itu.
“Kasihan ya, masih muda harus kehilangan rahimnya,” ucap seorang wanita.
“Semoga suaminya masih mau menerima kekurangannya," jawab wanita lainnya.
***
Hampir satu tahun aku menjalani kehidupanku sebagai seorang istri yang cacat karena tidak adanya rahim di dalam perutku. Radit yang saat itu sudah tidak bekerja di perusahaan konstruksi mengajakku pulang ke kota asalnya di Jakarta. Selama di Jakarta aku tinggal dengan kakak iparku dan keluarganya di rumah peninggalan orang tua Radit.
Radit yang saat itu belum bekerja hanya mengandalkan kakak keduanya untuk menyambung hidup kami. suatu hari Radit terlibat perkelahian dengan kakak iparnya, hingga membuat kami dimusuhi oleh keluarga besarnya. Perkelahian antara Radit dan kakak iparnya disebabkan oleh ucapan sang kakak ipar yang mengatakan bahwa Radit hanyalah seorang pengangguran yang tidak berguna.
Suatu pagi saat aku terbangun dari tidurku aku tidak menemukan suamiku di dalam kamar. Saat aku merapikan tempat tidur aku menemukan secarik kertas yang tergeletak diatas bantal suamiku. Ternyata surat itu adalah surat yang sengaja ditinggalkannya untukku.
“Ra, aku pergi ke rumah temanku sebentar ya, kamu dikamar saja sampai aku pulang, nanti aku akan ajak kamu makan," tulis Radit dalam suratnya.
Waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa sudah menunjukkan pukul 3 sore. Namun, Radit belum juga pulang dari rumah temannya, hal itu justru membuatku khawatir akan keadaannya. Berkali-kali aku mencoba menghubungi ponselnya tetap tidak ada jawaban.
"Kita 'kan orang kaya, jadi mau makan apa saja bisa, lihat kita belanja ayam, ikan, daging dan sayuran pasti enak!" terdengar suara kakak iparku berbicara dengan seseorang sambil sedikit berteriak seolah menyindirku.
"Ya Allah tega sekali mereka kepada kami, saat ini kami sedang kelaparan mereka justru memamerkan kemewahannya," batinku sambil menangis.
***
"Assalamualaikum," ucap Radit sambil membuka pintu kamar.
"Waalaikumsalam, akhirnya kamu pulang juga Mas," jawabku sambil menangis.
"Kamu kenapa, apa ada yang menyakitimu," tanya Radit sambil memelukku.
Sambil menangis akupun mulai menceritakan tentang apa yang aku dengar dari percakapan sang kakak. Radit yang saat itu merasa bersalah langsung memelukku dengan erat. Sambil mengusap air mataku Radit perlahan menggenggam tanganku.
"Maafkan aku ya Ra, aku janji sebentar lagi aku akan membahagiakanmu, " ucap Radit sambil menggenggam tanganku.
"Apa karena aku tidak bisa memberimu keturunan jadi mereka membenci kita," tanyaku sambil menangis.
"Tidak, mereka membenci kita bukan karena itu … oh ya apa kamu lapar, " tanya Radit sambil tersenyum.
"Iya, " jawabku ragu.
"Kita makan ke rumah makan yang ada di ujung jalan, " ajak Radit sambil mulai membantuku berdiri.
Saat itu aku memang sulit berjalan, dan mengalami kram hebat di bagian perutku. Kami berpikir jika itu hanya efek dari operasi yang aku jalani satu tahun lalu. Aku yang saat itu penasaran mulai menanyakan tentang ajakan Radit kepadaku.
"Apa kamu ada uang sampai kamu mengajakku makan di rumah makan," tanyaku kepada Radit.
"Kamu lihat ini Ra, jangankan makan, aku juga akan bawa kamu ke rumah sakit, dan kita juga bisa buka usaha dengan uang ini, " ucap Radit sambil mengeluarkan uang ratusan ribu dari dalam tasnya.
“Astagfirullah, itu uang dari mana Mas, " tanya ku penasaran.
"Aku diberikan modal teman kuliahku, dan uang ini totalnya 10 juta," jawab Radit sambil tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah Mas," jawabku sambil menangis.
"Ayo kita makan sekarang lalu ke rumah sakit," Ajak Radit sambil menggandeng ku.
Kami pun berjalan ke rumah makan yang dimaksud Radit, untuk makan siang. Setelah selesai makan kami pun langsung menuju ke sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari tempat tinggal kami. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan dokter mengatakan bahwa tumor yang ada di perutku masih ada, hal itu terjadi karena akar yang tidak bersih sempurna.
Sang dokter pun memintaku untuk segera melakukan operasi pengangkatan tumor dengan segera. Namun, aku yang saat itu sudah dua kali melakukan operasi langsung menolaknya. karena aku sudah ikhlas dengan apa yang akan terjadi kepadaku.
"Aku harus bisa bersahabat dengan diriku dan penyakitku, " batin ku sambil menggenggam tangan Radit.
Sejak saat itu aku dan Radit memulai kehidupan dengan usaha yang baru. Orang tua Radit meninggalkan sebidang tanah untuk anak-anaknya dan tanah itulah yang kami gunakan untuk membuka bengkel las dan untuk menghilangkan kejenuhanku Radit membuka usaha minuman untukku.
Hidup dengan kondisi tumor di rahim serta perut yang semakin membesar membuatku tersiksa, bukan hanya sakit yang tiba-tiba muncul. Namun, ejekan keluarga suamiku juga kerap aku terima. Hingga suatu hari aku memberanikan diri untuk berbicara dengan suamiku mengenai poligami. Memang tidak ada perempuan manapun yang rela dimadu bahkan di khianati oleh orang yang dia sayang, tapi saat ini aku sebagai istri tidak mempunyai pilihan lain selain mengizinkan Radit untuk melakukan poligami.
Namun, permintaanku ditolaknya dengan alasan dia ingin terus merawatku tanpa adanya orang ketiga. Hingga suatu hari Radit memintaku untuk pura-pura hamil di depan keluarganya dan semua orang. Aku yang belum tahu apa yang ada dipikiran Radit langsung menyanggupinya, memang tidak ada yang curiga dengan kebohonganku mungkin karena perutku yang sudah membuncit.
9 bulan berlalu tepat pukul 2 malam Radit membawaku ke suatu tempat yaitu klinik bersalin. Saat aku tiba di tempat tersebut aku melihat seorang wanita yang sedang berjuang untuk melahirkan seorang bayi kecil yang lucu. Radit mengatakan itu adalah anak kami, anak yang akan kami adopsi untuk melengkapi kekurangan di rumah tangga kami. Satu tahun berlalu bayi kecil yang kami beri nama Shafira kini menjadi gadis kecil yang cantik dan lucu. Kebahagiaan kami begitu sempurnah dengan kehadiran malaikat kecil walaupun bukan dari rahimku.